
• Pretend to Have a Lover •
Allena membanting pintu ruangan dosen, menyentak Geby dan Ray yang sedang bermesraan. Tanpa rasa bersalah dia menghampiri Geby dan menariknya keluar ruangan. Ray terpaku.
Geby melepaskan diri dari seretan tangan Allena. Mereka berhenti di dekat taman kampus. Dia memegangi lengannya yang memerah karena genggaman Allena. Ini kali pertamanya ditarik Allena dan tidak menyangka cekalan temannya itu kuat sekali,seperti pria. "Al, kau gila, ya? Tadi itu memalukan sekali... Ray sampai tidak berkutik sedikit pun. Bagaimana kalau dia menjauhiku, heh? Pokoknya kau harus bertanggung jawab!"
"Jika dia benar-benar mencintaimu, itu tidak akan terjadi. Percaya saja. Lagi pula aku tidak memergoki kalian saat sedang bercumbu. Itu masih baik."
"Tetap saja tidak sopan."
"Oke, aku minta maaf soal yang tadi. Sekarang, aku perlu bantuanmu."
"Jika mau meminta tolong, kau bisa mengirim pesan atau meneleponku dulu, kan?"
"Tapi ... ah, sudahlah. Caraku menemuimu langsung lebih efektif. Intinya sekarang kau harus membantuku!"
Geby mengembuskan napas pelan, pasrah. "Ya sudah, apa yang harus kubantu?"
Allena celingak-celinguk, memastikan keadaan benar-benar aman, sebelum membisikkan sesuatu ke temannya.
Pupil Geby membesar, tidak percaya dengan apa yang didengarnya. "Apa kau yakin?" Allena langsung membalas dengan anggukan kecil. "Ini sungguh bukan dirimu, Al."
"Yeah, tapi aku harus melakukannya ... untuk menghindari seseorang."
•••
Geby bersama Allena menyusuri lorong-lorong kampus, melihat beberapa pria yang menurut penilaian umum tampan dan macho.
"Itu namanya Jammy Hersmoft. Kudengar dia baru putus dengan kekasihnya yang seorang model itu. Dia pemilik Bravo, gym yang letaknya tidak jauh dari butik Ibumu itu lho. Jika kau menjadi kekasihnya, kau bisa berkunjung ke sana tanpa mengeluarkan uang sepeser pun."
"Hidupku tidak semiskin itu ya, sampai memanfaatkan orang lain demi sesuatu yang gratis. Ssstt ... dan jangan membahas soal kekasih dengan nada keras."
"Aku sudah berbisik, Allena... memangnya aku harus sepelan apa lagi? Mau aku bergumam dalam hati?" Geby berkacak pinggang, menatap sebal temannya.
"Itu juga tidak boleh," larang Allena.
__ADS_1
Geby mendengkus sambil menatap Allena aneh.
Mereka melanjutkan langkah lagi. Selang beberapa detik Geby kembali mengangkat tangannya, menunjuk sesosok pria. "Nah, kalau itu... kau mau? Dia Stefan Tope, sang pencinta alam. Lihat lengannya. Berotot gitu, hobinya saja mendaki gunung..." ujarnya membanggakan.
Allena menanggapi dengan malas.
Geby yang sejak tadi mendampingi Allena, mendapat respon hanya oh saja, mulai menggeram. "Kau memintaku untuk membantumu mencarikan kekasih. Tapi sedari tadi tiap aku menunjukkan pria padamu, kau selalu bersikap tidak minat. Sebenarnya maumu itu apa, Al?"
"Aku hanya mau memiliki kekasih yang bisa diajak kompromi. Semua yang kau tunjukkan tadi adalah tipe pria egois."
"Bagaimana kau tahu itu, kalau dekat atau sekadar saling sapa saja belum pernah?" sinis Geby.
"Aku melihatnya."
"Melihat apa?"
"Uhm ... semacam aura," sahut Allena, hati-hati. Dia juga belum memastikan benar atau tidaknya. Tapi, tidak ada salahnya dirinya berjaga-jaga agar terhindar dari perangkap bermain pria karena terkadang feeling itu benar.
"Omong kosong! Jika bantuanku tidak berguna sama sekali, lebih baik kau cari saja sendiri." Geby menghentakkan kaki, merajuk, sebelum kemudian berlari meninggalkan Allena.
BRUKK!!!
Bahu keduanya beradu.
"Eh, maaf..." Allena memutar separuh tubuhnya ke belakang.
"Aku juga minta maaf."
Tetapi setelah melihat gerangan yang ditabraknya, Allena berpikir dua kali akan niatnya untuk mengejar Geby.
Pria itu, berkacamata dan berpenampilan sederhana. Di pelukannya terdapat beberapa buku yang cukup tebal.
Nerdboy!
Allena tersenyum miring. Segala pemikiran baik mulai bermunculan di kepalanya. Meski sedikit ilfeel untuk berdekatan, tapi demi tujuan awalnya dengan berat hati dia akan tetap melakukannya. "Sepertinya kau cocok denganku."
__ADS_1
"Apa?" Pria itu tampak terkejut, sekaligus risih oleh tatapan menilai dari gadis di depannya.
•••
Hampir semua penghuni kampus memusatkan atensinya pada sepasang sosok yang tengah melangkah beriringan di sepanjang pinggir lapangan indoor sana. Allena bersama Robert-korban tabrakannya tadi.
"Benarkah itu Allena Johnson?" Seorang mahasiswa mengerjap dan mengucek matanya beberapa kali, kurang yakin dengan penglihatannya.
"Yeap. Itu memang dia," sahut gadis yang lewat dengan nada malas dan tidak suka. "Orang yang dari dulu gemar mencari perhatian." Dia merupakan salah satu haters Allena.
"Apa yang gadis itu pikirkan? Berjalan di samping Robert. Masih baik aku daripada si pecundang itu!"
"Benar. Gadis cantik sepertinya lebih cocok didampingi pria bertubuh tegap, bukan penunduk kepala."
Sekilas Allena mendengar percakapan beberapa pria menyinyir hubungannya dengan Robert. Sepertinya Robert pun begitu, karena Allena melihat pria itu semakin menundukkan kepala seolah sadar diri akan penampilannya.
"Maaf... sudah melibatkanmu. Tapi setelah semuanya selesai akan kuusahakan membalas kebaikanmu," bisik Allena.
Di tengah lapangan sana, Albern menghentikan kegiatan men-drable bola basketnya di mana kala menangkap sosok miliknya tengah bergandengan tangan begitu mesranya dengan seorang pria asing.
Allena mengacak-acak rambut Robert dengan tawa yang menyertai. "Hm, begini kau terlihat lebih ... hot."
Peluh yang tadinya biasa saja, kini terasa mendidih di tubuhnya, terutama bagian kepala. Albern melemparkan bola basket di tangannya hingga mencetak point, sukses memasukannya ke ring dengan tatapan tidak teralihkan dari wajah berseri Allena.
"Rupanya gadis itu mulai nakal lagi..." Albern memiringkan sudut bibirnya, tersenyum takjub terdominasi kesal. Seberusaha mungkin tubuhnya bersikap tenang, meski matanya tetap tidak bisa berbohong menyimpan kobaran amarah.
"Tidak bisa dibiarkan. Seorang Primadona tidak pantas bersanding dengan cupu itu!"
"Benar."
"Bagaimana kalau kita beratas saja si Robert?" Beberapa teman setim basketnya ikut berdiskusi.
"Simpan dan gunakan saja tenaga kalian untuk hal-hal yang lebih baik. Pria itu, serahkan saja padaku." Albern berkata sombong sambil melipat tangannya di depan dada.
•••
__ADS_1
TBC