A Special Girl

A Special Girl
Chapter 29


__ADS_3

• Evil Is Revealed •


"Istirahatlah. Nanti aku kembali lagi."


Itulah kalimat Albern sebelum pergi, meninggalkan gadisnya seorang diri. Entah ada masalah apa, tetapi Allena bisa melihat raut kecemasan pria itu. Meski tidak terlalu mendominasi, tetapi dia dapat merasakannya dengan jelas. Perasaan mengatakan ada sesuatu yang Albern sembunyikan. Inginnya dia tidak percaya, tapi rasa penasaran yang membuncah terus mengganggu hatinya.


"Ah, apa aku cari tahu saja, ya?" Terdiam beberapa detik, akhirnya Allena beranjak dari tempat bersemayamnya dan berjalan pelan-pelan menuju luar kamar.


•••


"Mau apa kau ke sini?" Albern mulai mengeluarkan aura mencekamnya.


Kathrine terkekeh, menertawakan saudaranya yang terlalu serius dan terkesan frontal. "Aku hanya ingin mengingatkanmu saja, barang kali kau lupa. Uhm, tujuan awalmu, Al."


Mereka tengah berada di sebuah ruangan yang terletak di paling belakang bagian kastil. Albern menyuruh Kathrine untuk menunggu di sana karena daerah itu jauh dari kamar Allena. Dia akan selalu berusaha menjauhkan pertemuan kekasih dan adiknya semata-mata demi kedamaian bersama.


"Jika kau ke sini hanya mau mengatakan itu, lebih baik kau pergi!"


"Ouch, galak sekali. Setelah menikah kau lebih banyak berubah, ya. Sepertinya gadis itu berhasil memincutmu sampai kau marah melihat kekunjunganku. Tidak ingin diganggu waktu berduanya, hmm?" Kathrine lagi-lagi tertawa melihat perubahan raut kakaknya yang sekarang tampak malu-malu.


"Pergilah, Kath. Jika kau terlalu lama di sini, kau bisa ketahuan. Kau juga tahu sendiri, hal itu akan menghancurkan segalanya," ujar Albern, mencoba berbicara baik-baik agar wanita itu mengerti akan keadaan saat ini.


Kathrine menyenderkan bokongnya di pinggiran meja sembari melipat tangan di depan dada. "Tidak. Biarkan saja dia tahu, lagi pula kau kan sudah mendapatkan apa yang kau inginkan. Jangan kira aku tidak tahu itu. Sekarang giliran aku yang membuatnya menderita."


Rahang Albern mengeras, kedua tangannya pula terkepal kuat. "Itu tidak akan terjadi!"


Ya. Albern tidak akan membiarkan hubungannya dengan Allena hancur di saat mereka baru saja melakukan persatuan.


Kathrine memainkan rambut merahnya dengan gerakan menggulung sebelum menyeringai jahat. "Sayangnya kau terlambat mencegah."


Albern menatap adiknya tajam, menuntut penjelasan. Perasaannya mulai tidak enak.


Kathrine menggerlingkan mata ke arah pintu dan Albern mengikutinya ke arah belakang. Dia terperangah begitu mendapati sosok kekasihnya berdiri di ambang pintu dengan mata yang sudah berkaca-kaca, menyiratkan kekecewaan.


"Halo!" Kathrine melambaikan tangan sambil melemparkan senyuman bersahabat kepada Allena. "Senang bertemu denganmu lagi."


Allena menggeleng pelan. Jantungnya bergemuruh panas. "Kau ... wanita waktu itu ..." Pandangannya lantas mengalih ke pria di sebelah sang gadis berambut merah. "Albern ..." Habislah kata-kata. Segala pemikiran berputar di kepalanya dan dia masih mencoba mencari kesimpulan yang tepat. Rambutnya diremas dengan frustasi, sebelum sebuah isakan keluar mengiringi rasa sesak di dada. "Jahat!"


"Allena!" Albern bergegas mengejar Allena yang berlalu pergi.


Kathrine juga tidak tinggal diam. Dia ikut serta mencegah kepergian kekasih kakaknya. Bukan karena rasa bersalah, melainkan lebih ke kepentingan diri sendiri. Yeah, dia akan mendapatkan apa yang dimiliki Allena dengan caranya sendiri yang lebih suka terang-terangan.

__ADS_1


"Berhenti!" Albern berhasil meraih pergelangan tangan Allena.


"Menjauh Dariku!"


Pergandengan tangan mereka akhirnya terlepas oleh hentakan kuat tangan Allena.


Allena menatap Albern dengan sorot amarah yang membara dan penuh kebencian. Sosok dirinya yang dulu terkubur kini bangkit kembali.


"Tenangkan dirimu."


"DIAM!" bentak Allena, napasnya begitu memburu. "Tidak usah berpura-pura manis lagi. Bukan hanya kepercayaan, kau juga sudah menghancurkan hatiku!" Dia memukul dadanya beberapa kali dengan buliran bening yang mengalir tanpa henti.


"Maaf..."


Allena mendecih. "Mudah bagimu mengatakan itu, tetapi sulit bagiku untuk menerimanya."


Albern membisu.


"Apa jangan-jangan ini permainannya? Kau sosok yang menulis kata-kata embun di balkon waktu lalu?" selidik Allena.


Albern semakin membeku.


Allena tersentak mundur beberapa langkah, menjauh tatkala Kathrine melayang mendekatinya.


"Kath, Hentikan!" seru Albern.


"Tidak. Sebelum gadis itu kalah. Begitu dia jadi ampas, barulah aku akan membuangnya," bantah Kathrine dengan tangan terulur hendak mencekik leher Allena.


Albern segera bertindak. Dia menarik lengan Kathrine, tetapi wanita itu dengan cepat menghalau.


Allena tersandung langkahnya sendiri sampai membuatnya jatuh terduduk. Tetapi dia masih terus beringsut mundur berusaha menghindari persempitan jarak dari Kathrine. "Jangan..."


Kathrine menyeringai lebar hingga taringnya yang tajam nan panjang terlihat, menambah kesan menyeramkan. Tetapi baru saja jarinya menyentuh kulit leher Allena.


"AAAA!!!" Allena menjerit sembari mencondongkan kedua telapak tangannya ke dua vampir di depannya.


Saat itu pula tubuh Kathrine dan Albern terpental jauh dan terperosok ke lantai.


"Aarghh!" Kathrine mengerang. Tidak hanya pekak di telinga, suara itu juga membuat tubuhnya sakit-sakit.


Allena menurunkan tangannya pelan-pelan dan terdiam beberapa saat, bingung dengan apa yang terjadi.

__ADS_1


Apa ini ulahku?


Tapi, bagaimana bisa?


Sebelum berpikir terlalu jauh, logika segera menyadarkan. Musuh sedang lengah dan inilah kesempatan untuk dia melarikan diri.


Entah apa perasaanku sekarang. Tapi yang pasti aku masih mencintai sekaligus membencimu, Al.


Terima kasih untuk semua ucapan dan sikap manismu. Walaupun itu kepalsuan belaka, tapi cukup membuatku bahagia. Good bye!


Sambil berlari, hati Allena berbicara, berharap Albern benar-benar mendengarnya. Dia tidak tahu kemana arah tujuannya pergi, hanya hutanlah yang kini bisa dia susuri.


Allena muak dengan cinta. Sekali ilusi tetap ilusi. Tidak akan pernah memberikan keuntungan dan hanya akan mendatangkan kesakitan.


Untuk keberkian kali, Albern membuatnya patah hati. Dan kali ini puncaknya.


Pengkhianat!


Dia bersumpah tidak akan kembali lagi pada pelukan pria itu bagaimanapun situasinya.


"Pria Berengsek!" Allena mendudukan bokongnya di bawah pohon, lalu menenggelamkan wajah di lekukan lutut. Pecahnya tangisan memenuhi kekosongan hutan sekitar. Terluaplah segala rasa sakit batin di sana. "Tuhan... tolong aku..." lirihnya hampir tidak bersuara.


Tidak berapa lama bahunya terasa ada yang menyentuh. Sontak dia terperangah dan bangkit menjauh.


"Tenanglah..."


Lagi, ada makhluk aneh. Allena mulai menyalakan alarm waspada. Pasalnya makhluk-makhluk di hutan ini yang mendekat selalu mencoba menyerangnya. Mereka adalah ancaman.


"Mendekatlah, aku ingin membicarakan sesuatu yang penting denganmu."


"Tidak!" tolak Allena mentah-mentah, enggan dibodohi lagi.


"Ikut denganku, kumohon... Percayalah, kau akan aman bersamaku."


"Tidak. Pergilah, aku ingin sendiri!" usirnya. Memang benar, dia sudah tidak percaya dengan siapapun lagi.


Sepertinya sosok bertelinga runcing itu sudah lelah membujuk. Dia sendiri bergerak dengan kecepatan tidak terhingga, Allena tidak sempat menangkapnya. Sosok itu segera meniupkan serbuk berwarna merah keemasan ke wajah Allena sehingga dalam sekejap gadis itu meluruh, tidak sadarkan diri.


"Begini lebih baik." Sosok itu tersenyum tenang. Sebelum membopong Allena dan membawanya ke suatu tempat.


•••

__ADS_1


__ADS_2