A Special Girl

A Special Girl
Chapter 31


__ADS_3

• Wings of The Angel •


Memasuki pertengahan bulan Desember, salju pun turun. Dia yang berada di dalam gua tentunya merasa kedinginan. Bayangkan saja, hanya memakai gaun. Tidak ada jaket, syal, dan benda-benda tebal nan menghangatkan lainnya yang dulu biasa menemaninya kala di musim ini.


Allena memeluk erat lutut sambil sesekali menggosok telapak tangan untuk menciptakan suhu hangat di tubuhnya.


"Paman, bantu aku..."


"Tunggu sebentar, aku sedang membuat ramuan untukmu!"


"Ramuan apa?"


Jose tidak menjawab. Dia masih berkutat dengan tangan dan mulutnya yang komat kamit, membacakan mantra.


Pertanyaannya diabaikan, Allena mendengkus, mengeluarkan asap dingin dari mulutnya. Jika seperti ini terus, lama-lama dirinya bisa membeku.


Tidak berapa lama Jose menghampiri dengan sebuah botol kecil di genggamannya. "Ini, minumlah! Untuk menghangatkan tubuhmu."


Tangan Allena terulur menerima, lantas memerhatikan lekat-lekat cairan putih di dalam botol tersebut.


"Tidak perlu cemas. Itu aman," tambah Jose.


Allena melirik sekilas pamannya, sebelum meneguk minuman itu hingga habis. Dia memeletkan lidah sembari bergidik agak mual. Rasanya cukup aneh. Perpanduan pahit dan asin. Tetapi setelahnya dia merasa nyaman. Dingin yang semula menusuk tulang perlahan berkurang.


"Oh ya, kapan kau akan mengembalikan sayapku?"


"Secepatnya."


"Aku ingin sekarang," ujar Allena tegas.


"Fisikmu lemah. Istirahatlah dulu." Jose mencoba memberi pengertian.


Dan benar juga apa kata pamannya. Efek dari pembagian ingatan tadi, tubuhnya menjadi lelah disebabkan tenaga yang terkuras banyak. Tapi di sisi lain dia takut, kalau Jose sedang pergi, ada musuh yang menyerang dan dia tidak bisa melarikan diri dengan leluasa. Masa harus lari? Pasti akan terkejar.


"Ya sudah, aku menginginkannya besok."


Jose mengembuskan napas pasrah. "Baiklah."


"Dan kau tetap di sini sampai hari esok tiba, oke?" pinta Allena dengan tatapan penuh permohonan.


Jose tersenyum dan mengangguk pasti.


•••


Tatapan Allena lurus ke satu titik. Sekarang dia mengerti mengapa Albern selalu berusaha mendekatinya. Bukan proses untuk menjalin hubungan perasaan, melainkan karena obsesi ingin memiliki dan mendapatkan keuntungan sendiri dari kekuatan yang dirinya miliki.

__ADS_1


Sakit rasanya ketika mengetahui hati telah menaruhkan cinta kepada seseorang yang memiliki sifat hampir sama dengan Iblis.


Albern musuh terbesarnya!


Ah, tidak. Seorang keturunan makhluk suci tidak boleh memiliki musuh. Tetapi demi melindungi diri, Allena patut menyebut mereka yang menyerang sebagai lawan dan ancaman.


Selain itu Allena juga malu pada dirinya sendiri. Selama hidup di tengah-tengah manusia, dia sering mengumpat dan berbicara tanpa disaring lebih dulu. Allena sanhat berharap Tuhan memberi ampunan atas segala kekhilafannya


"Apa yang sedang kau pikirkan?" Suara Jose membuyarkan lamunan keponakannya.


"Tidak ada," sahut Allena, cepat.


"Jika ada masalah, ceritalah... aku keluargamu dan siap membantu kapan pun kau membutuhkan."


Allena terdiam sesaat, menimbang-nimbang. Hingga keputusannya berakhir jatuh pada penundaan. Pasti. Dia akan menceritakannya setelah suasana hatinya tenang, entah kapan.


"Bisakah kita langsung mulai saja?" ujar Allena mengalihkan pembicaraan. Yang dimaksud menginginkan segera dimulai adalah proses pengembalian sayapnya, karena pagi hari telah menyapa.


"Kau benar-benar tidak sabaran. Persis seperti Ibumu." Jose berdecak tidak habis pikir. "Ya sudah, berbaliklah."


Allena membalikkan badan, memunggungi Jose. Dia teringat akan bayangan wanita yang sempat menghantui mimpi dan alam sadarnya waktu lalu. Setelah mengetahui fakta jika sosok itu adalah ibu kandungnya, Allena sangat berharap Tuhan kembali memberinya kesempatan untuk mengulang pertemuan itu. Dia ingin sekali melakukan adegan apa yang ada di mimpi, bisa berpelukan dengan ibunya.


"Ssshh!" Allena merasakan panas saat Jose menepelkan tangan di punggungnya yang terbuka.


"Tanda lahir melengkung itu, kau tahu?" Jose mengajak bercakap-cakap di kala keponakannya sendiri tengah mati-matian menahan sakit. Allena mengembungkan pipinya dan hanya mampu merespon dengan anggukan. "Sebenarnya bukan tanda lahir. Itu hanya sebuah tato yang kubuat untuk menyembunyikan sayapmu. Dalam artian sayapmu tidak benar-benar hilang, melainkan terkubur dalam tubuhmu sendiri agar terhindar dari incaran makhluk immortal jahat."


Dan rupanya, sayapku...


"Terima kasih, Jose..." lirih Allena dengan napas tercekat karena merasa kinerja paru-parunya melambat.


"Ya, kalau begitu beristirahatlah."


"Tidak perlu. Aku kuat." Allena menggerakkan tangan, menumpu beban tubuhnya.


"Jangan keras kepala ..."


"Eh, itu siapa?" Allena mengerjap beberapa kali, melihat sebuah sosok yang baru saja mengintip ke dalam gua.


"Di mana?"


"Lari keluar!" Allena bangkit dan melangkah tertatih dengan gerakan cepat.


Sesampainya di luar gua, tampak Jose sudah berhasil menangkap pergelangan tangan sosok yang memata-matainya tadi.


"Ah, Allena! Perkenalkan, temanku, Uni. Tenang saja, dia makhluk baik-baik."

__ADS_1


Allena melihat wujudnya dari atas sampai bawah. Seorang gadis, telinganya cukup lebar, berambut seputih uban dengan panjang sepinggang. Serta ... sebuah tanduk di bagian tengah kepala.


Ya Tuhan, makhluk jenis apa lagi yang ditemuinya kali ini?


"Hai." Gadis itu melambai dengan riang.


"Uhm ... Hai juga." Allena membalas kikuk.


"Eh, kita mengobrol di dalam saja. Berlama-lama di sini, kurang aman."


Mereka kembali ke dalam gua oleh ajakan Jose. Makhluk bertanduk itu selalu mencoba menciptakan percakapan panjang dengan Allena. Pada awalnya Allena canggung, namun karena kalimat-kalimat Uni terdengar asyik dan menghibur, dia menjadi nyaman hingga beban pikirannya mulai meringan.


"Oh ya, kau makhluk jenis apa?"


"Unicorn. Berwujud asli seekor kuda." Jose yang menyahut, lantas duduk di sebelah keponakannya, bergabung ke obrolan dua gadis itu. "Apa kau mau mendengarkan kisah malangnya?" tawarnya kepada Allena.


Uni mendecak. Sedikit kesal dengan perilaku pria itu yang seenaknya, apalagi berniat menceritakan dirinya tanpa meminta izin terlebih dulu apakah orang itu bersedia atau tidak. "Jose... biar aku saja. Oh, kebiasaan sekali kau ini!"


"Yeah ... boleh-boleh saja." Allena berujar setuju.


Uni menarik napas dalam-dalam, sebelum memulai ceritanya. Padahal singkat saja. "Sama sepertimu, aku juga disebut makhluk spesial. Bedanya yang mengincarku adalah manusia, kebanyakan dari masyarakat pedesaan yang masih mempercayai mitos atau legenda."


"Mengapa?"


"Tanduk pelangiku." Uni menyentuh sebuah tanduk di kepalanya. "Karena mereka percaya salah satu bagian tubuhku ini dapat menghasilkan obat sekaligus racun yang mematikan."


Allena yang mendengar dengan saksama, mangut-mangut mengerti. "Sayapku ... aku masih belum tahu apa kehebatannya. Paman tahu?"


"Tamengmu. Itu juga yang membuatmu bisa terbang dengan kecepatan melebihi burung tercepat di dunia sekali pun. Intinya, kau harus jaga baik-baik bagian tubuh itu. Jangan sampai makhluk lain mendapatkannya, karena itu bisa menjadi titik kekalahanmu." Jose menjelaskan dengan selaan memakan apel.


"Hebat!" Uni menyengir sembari bertepuk tangan ria.


"Hahaha, kau lebih hebat lagi," cetus Allena, merendah hati.


Uni terkekeh, seketika matanya menggerling ke arah Jose yang asyik menikmati hidangan segar saat suara gigitan yang begitu renyah terdengar menggoda. "Hey, kau makan tidak bagi-bagi, ya..."


"Iya, nih." Allena merengut, lantas merebut semua buah-buahan milik Jose untuk dinikmati berdua bersama teman barunya.


"Jangan semuanya!" Jose berteriak tidak terima.


"Paman sudah makan dari tadi."


"Banyak pula!" imbuh Uni.


"Tapi belum kenyang," sanggah Jose. Mimiknya berubah menyedihkan, membuat siapapun yang melihatnya dijamin merasakan iba.

__ADS_1


•••


__ADS_2