
• Geby Notice •
Pagi harinya, Albern mengunjungi sebuah kastil pencakar langit di tengah hutan terdalam-tempat yang sudah ditinggalinya selama ratusan tahun. Begitu sampai di pertengahan ruangan, dia langsung berlari dan merebut gelas berisi cairan merah dari genggaman gadis yang tengah duduk santai di kursi singgah sana itu.
Dengan sorot tajam yang mengarah pada gadis di depannya, Albern meremas gelas tersebut hingga hancur tak bersisa.
"Hey, saudaraku... kau kembali lagi! Tapi sayangnya, kedatanganmu yang tiba-tiba mengusik ketenanganku." Gadis tersebut geleng-geleng kepala, kecewa.
"Sudah kubilang jangan ikut campur urusanku!" seru Albern dengan rahang yang sudah mengeras.
"Aku hanya mengawasi sebentar, apa itu salah?"
"Yeah, karena kau troublemaker. Apapun yang kau lakukan hanya akan merusak segalanya."
"Kau meragukan kemampuanku lagi. Kurang jelas apa, coba? Semalam saja aku ahli dalam penyamaran. Gadis itu buktinya tidak mengenaliku."
"Tentu saja dia tidak mengenalimu, karena kau belum pernah menemuinya. Dan ya, kumohon jangan berdandan lagi. Bukannya cantik, kau lebih mirip badut karnaval. Rasanya mataku sakit begitu melihat itu," ucap Albern dengan nada mencemoh.
"Tega sekali kau... merendahkan harga diri adikmu sendiri!"
Albern bergerak menuju kursi kebesaran, tanpa menghiraukan segala umpatan yang keluar dari bibir saudarinya tersebut. Jangan beranggapan dulu kalau tempat ini adalah istana vampir. Pernyataannya adalah bukan, melainkan milik klan terdahulu. Hanya saja sebagian besar klan itu sudah punah. Jadi, Albern beserta sang adik memanfaatkannya sebagai sarang untuk bersemayam.
Kalau bukan karena dia sudah mengetahui wajah jahatku, aku juga tidak sudi melakukan hal menjijikan itu!
Tentunya kalimat yang terbaca itu membuat Albern mengalihkan matanya kembali pada sosok berambut merah di kejauhan sana. Tangannya mulai mengepal kuat, sehingga buku-buku jarinya yang pucat bertambah pucat, seolah tidak ada aliran darah di dalamnya.
"Kathrine..." geramnya, tertahan.
"Oops!" Kathrine merutuki hatinya yang berbicara ceplas-ceplos, dan meringis ngeri saat melihat perubahan raut kakaknya yang menyeramkan.
"Jangan bilang kau sudah pernah menyerangnya?"
"Lilisen yang menyerang! Aku hanya ikut menonton saja." Kathrine meralat sekaligus membela diri. Tidak sampai lima detik, gadis itu telah terlempar jauh, membentur tembok dengan leher berada dalam genggaman tangan Albern.
"Persetan dengan persaudaraan kita. Jika sesuatu yang buruk sampai terjadi padanya. Aku tidak akan segan-segan mengirimmu ke neraka!"
•••
Allena memandang pantulan dirinya di cermin kamar mandi sambil sesekali menghirup rambutnya yang beraroma vanilla. Rasa pelukan Albern masih tertinggal di beberapa bagian tubuh--maksudnya rambut, membuat adegan semalam terputar kembali di memori pikirannya.
__ADS_1
Allena mengacak-acak rambutnya, tidak mengerti dengan cara berpikirnya sendiri. Dia berjalan sempoyongan menuju bathtub dan menenggelamkan diri di air hangat. Busa-busa lembut mulai menggerayangi tubuhnya.
Sepuluh menit berendam, Allena pun bangkit dan melilitkan handuk ke tubuhnya-kain lembut yang hanya dapat menutupi sampai sebatas paha bagian bawah dan dada saja. Allena memutar kenop pintu dan terlonjak jatuh kala melihat sosok pria semalam berdiri tegap menghadap ke arahnya.
"Apa yang kau lakukan di sini!?" Allena tak habis pikir dengan ulah pria itu. Berani-beraninya masuk ke area kamar tanpa seizin pemiliknya.
"Semalam kau bilang ada kuliah, lalu mengapa jam segini kau baru bangun?" Albern balik bertanya dengan topik lain. Tak luput matanya jelajatan ke tubuh Allena.
Melihat hal tersebut, Allena segera bangkit dan menyilangkan tangan di depan dada, bermaksud melindungi tubuhnya dari gangguan pria mesum itu. Dia beringsut ke samping, melewati Albern dan berlari menuju lemari pakaian. "Pergi! Aku mau berpakaian dulu!" usirnya dengan pandangan waswas.
Albern yang mengerti akhirnya bergerak menuju pintu kamar dan berseru. "Baiklah, aku tunggu di luar!"
Selang beberapa menit, Allena pun keluar dengan mengenakan tank top krem dan luaran cardigan abu-abu. Sementara bawahan, seperti biasa melekat jeans berwarna biru navy. Bukan hanya cantik, penampilan casual juga yang membuatnya menarik di mata pria.
"Aku tidak berbohong. Hari ini memang ada kelas, tapi bagian siang." Allena berucap saat melihat sorot mengintimidasi dari mata Albern.
"Dan kau mencoba untuk membodohiku dengan kata-kata semalam. Tapi untungnya, tidak berhasil."
"Ya, karena semalam aku lelah dan ingin cepat-cepat pulang. Ah, sudahlah, lupakan saja soal itu!" Allena berjalan melewati Albern dan menuruni anak tangga sambil sesekali menengok kanan - kiri, mencari keberadaan ibunya. Sepi. Dapat ditebak dengan pasti di mana wanita paruh baya itu tengah berada. Apalagi jika bukan tempat bisnisnya?
Begitu berada di luar rumah, Albern langsung berlari membukakan pintu mobil untuk Allena. "Masuklah!"
"Tidak akan kuizinkan. Lagi pula tempat tujuan kita sama. Jadi, pergi bersama saja agar efektif biaya."
"Aku menghargai atas sikap perhatianmu itu. Tapi kau perlu tahu di mana batasanmu. Ini sudah keterlaluan, kau hanya orang asing yang singgah di kehidupanku. Dan tentu saja tidak ada hak sedikit pun untukmu melarangku melakukan apapun sesukaku!" seru Allena, emosi, karena merasa perilaku Albern mulai berani membatasi kebebasan hidupnya.
Seperkian detik bisu, bibir Albern menyunggingkan senyuman yang lagi-lagi misterius. "Baiklah kalau begitu. Untuk beberapa jam kau boleh bebas. Tapi, setelah itu ... jangan harap."
Sebelum Allena berpikir untuk menangkap maksud dari kalimat tersebut, Albern telah lebih dulu masuk mobil dan tancap gas. Pergi meninggalkannya dengan seribu tanya yang menggerogoti kepala dalamnya.
•••
Di kampus, Allena kembali dipertemukan dengan Bryan. Sejenak saling sapa, mereka pun masuk ke kelas dan mulai membahas skripsi. Di sela-sela topik itu, pembicaraan Bryan mulai menjurus ke sesuatu yang sudah menyangkut privasi.
"Aku sempat lihat kemarin kau jalan dengan salah seorang mahasiswa kelas bisnis. Jika tidak salah namanya... Albern? Benar, kan?"
"Ya."
"Hm, apa kalian mempunyai hubungan spesial?" Ternyata pria itu masih belum puas mengorek urusan pribadi Allena.
__ADS_1
"Itu bukan urusan Anda, Mr. Shamus. Sudahlah, kalau tidak ada urusan kampus yang mau dibahas lagi, aku akan duduk. Sudah pegal." Allena yang mulai jengah, cepat-cepat mengemas map dan beberapa kertas lain yang merupakan catatan penting untuk skripsinya.
"Kau boleh duduk di pangkuanku, kalau mau."
Meski baru dua langkah, Allena dapat menangkap jelas kalimat Bryan barusan. Namun, karena tidak ingin ambil pusing, dia tetap melanjutkan langkah santainya menuju bangku. Pura-pura tidak mendengar.
Di mimpimu saja!
Seperti biasa, jika sedang bosan. Geby membalikkan badan dan memulai pembicaraan dengan nada berbisik kepada teman baiknya. "Bagaimana kencanmu dengan Albern?"
Allena yang sedang bertopang dagu, sontak menegakkan tubuh dengan pupil membesar. "Kau... tahu itu darimana?"
"Sebenarnya waktu kau mengobrol berdua dengan Albern di toilet, aku sedang ada di dalam bilik, buang air besar."
"Berarti kau juga mendengar mantra aneh itu? Dan jangan-jangan kau juga sudah tahu siapa pria itu sebenarnya?"
Geby bingung kelimpungan mendengar pertanyaan Allena. "Maksudmu apa? Mantra apa?" Dia terkekeh kemudian. "Jika yang kau maksud siapa Albern sebenarnya, aku sudah memberitahumu sedari dulu. Albern itu seorang DJ, candunya wanita, dan salah satu mahasiswa di Universitas ini, kau juga tahu itu--Oh ya, satu lagi yang harus kau tahu ... dia juga sempat menjadi model pakaian dalam lho! Hihihi, betapa seksinya..."
Membayangkan kalimat terakhir Geby, Allena bergidik geli sendiri. Ah, hampir saja lupa tujuan awal. Dia kembali bertanya, memastikan. "Hanya itu? Tidak ada lagi?"
Geby mengangguk dan mengeleng pelan. Heran dengan raut kepanikan temannya itu. Dia pun mulai menyipitkan mata, curiga. Sepertinya ada yang sedang Allena sembunyikan. "Ada apa?"
Tatapan mengintimidasi Geby tentunya membuat Allena cepat sadar dengan sikap yang baru saja ditunjukkan dirinya. "Dia itu ssebenarnya ... uhm... menjengkelkan!" Dia akhirnya berhasil mengelak, meski sedikit gelagapan.
"Oh begitu..."
"Hey, kalian berdua!"
Seruan tersebut langsung membuat Geby dan Allena meluruskan pandangan ke depan kelas. Telah terlihat Bryan dengan tangan bersidekap dada dan bibir miring, menggeleng-geleng kecil.
"Enak sekali mengobrol, seolah dunia ini milik kalian berdua. Sementara teman sekelas lain sedang bersikeras menimba ilmu untuk mencapai impian," sindir Bryan dengan sorot tajam.
"Maaf, Sir." Geby dan Allena meminta maaf. Malu juga, karena kini mereka menjadi pusat perhatian murid sekelas.
"Jika sampai kalian terpergok sedang mengabaikan penjelasanku lagi. Aku tidak akan segan-segan memberi kalian nilai rendah. Ingat itu!" Bryan memberi peringatan sembari mengulurkan jari telunjuknya ke arah dua mahasiswi yang terciduk di bangku belakang sana. Lebih tepatnya kepada gadis berambut bergelombang.
Allena menunduk sambil mencibir, sehingga membuat beberapa helaian rambutnya menutupi wajah.
Semua ini karenamu, Geby!
__ADS_1
•••