A Special Girl

A Special Girl
Chapter 13


__ADS_3

• Obstacles •


Sekarang Allena telah berhadapan dengan pintu abu yang dimaksud ayahnya, juga sebuah kunci perak di genggamannya. Dia melukiskan huruf A di permukaan pintu dengan jari telunjuknya. Entah sudah berapa tahun pintu tersebut terbengkalai. Saking jarangnya dibersihkan, ketebalan debunya dua senti. Opini perkiraan saja.


Melihat luarnya seperti ini, Allena bisa menyimpulkan dalamnya juga tidak jauh berbeda. Tidak ingin mengundur-undur waktu lagi, dia pun memasukkan ujung kunci itu ke lubang pintu, kemudian memutarnya ke arah kanan.


Ceklek.


Begitu pintu terbuka, Allena masuk dengan dijalari perasaan waswas.


Semua penjuru dipenuhi oleh rak tinggi berisi tumpukan buku. Allena memang penyuka buku. Tapi, jika banyak-banyak tentu saja membosankan. Tidak ada hal yang menarik. Dia pikir akan terjadi sesuatu yang mengejutkan, seperti penemuan benda pusaka atau makhluk aneh yang terkurung seperti dalam novel fantasi yang pernah dibacanya. Maklumi, korban khayalan.


Allena menghela napas berat. Dirinya tidak boleh berdiam lama-lama. Yang pertama kali harus dilakukannya adalah mencari buku The History of The Landlord dan membacanya hingga habis-seperti apa yang disyaratkan ayahnya.


Allena menelusuri tiap sudut ruangan itu, baru sebentar kakinya mengayun-ayun, harus kembali terhenti tatkala menangkap sebuah penampakan benda yang sepertinya tidak asing di antara barisan buku kumuh. Dia pun mengambil botol kaca itu dan memerhatikan cairan bening yang mengisinya.


Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Allena mengingatnya. Cairan bening itu adalah cairan yang sama persis seperti yang ayahnya tumpahkan pada sosok-sosok penyerang waktu lalu.


"Prolipsi?" gumam Allena, bertanya pada diri sendiri, saat membaca tulisan di bagian tutup botol tersebut.


"Allena! Kau dimana, darling?"


Allena bergeming. Dalam benak muncul pertanyaan, apakah itu benar-benar suara ibunya atau hanya perasaannya saja?


Tapi mana mungkin wanita itu ada di sini. Sedangkan waktu lalu, Melly bilang sendiri jika dirinya akan meninggalkan rumah selama dua minggu. Dan sekarang? Seminggu pun belum tergapai.


Namun Allena langsung merubah pemikirannya begitu mendengar seruan sang ibu lagi yang semakin jelas di telinganya.


"Astaga!"


Panik. Akibatnya, Allena hampir menjatuhkan botol kaca itu. Jika saja refleksinya untuk menyatukan kedua isi tangan sebagai alat penangkapan tidak muncul, entah apa yang terjadi selanjutnya. Meski ibunya termasuk pemilik rumah, wanita itu tetap tidak boleh tahu jika putrinya memasuki ruangan ini. Seperti apa yang dikatakan ayahnya.

__ADS_1


"Allena," panggil Travis seraya meraih lengan putrinya yang hendak berlalu pergi.


Allena pun menoleh dengan tatapan bertanya.


"Jangan bilang pada Ibumu kalau kau telah memasuki ruangan itu. Ah, bukan hanya Ibumu. Tetapi orang lain juga. Intinya rahasiakan."


"Tapi, mengapa?"


Travis tersenyum tipis sebelum menyahut lagi. "Ada banyak orang yang mengincar informasi berharga dariku. Dan yang berhak tahu hanya kau seorang."


Allena semakin pusing dibuatnya. Dia tidak bisa menangkap maksud dari kata informasi berharga itu. Hingga sesaat kemudian, matanya memincing curiga kepada Travis.


Tidak perlu waktu lama untuk Allena mengetahui arti gerak-gerik ayahnya. Dia tahu pasti, pria itu tengah menyembunyikan rahasia. Entah apa, tapi sepertinya sesuatu yang cukup besar.


"Ya sudah, kau pulanglah. Hari sudah mulai gelap. Jangan membuat Ibumu khawatir."


"Ibu sedang keluar kota."


"Oh begitu? Hm, ada bagusnya. Tapi kau juga harus berhati-hati tinggal di rumah seorang diri. Ada banyak orang di luar sana yang memanfaatkan kesunyian untuk berbuat jahat."


Allena memasukkan botol kaca ke dalam saku celana santainya lalu berlari meninggalkan ruangan sesegera mungkin.


Baru saja kunci itu diputar-merapatkan pintu seperti semula. Suara disertai hembusan napas di tengkuk, membuat Allena terlonjak kaget dan spontan memutarkan badannya.


"Ibu?"


Tubuh yang semula tercondong ke depan, kembali Melly posisikan tegak. Tidak lupa, tangannya terlipat di depan dada.


"Ternyata kau di sini. Ibu sudah memanggilmu berkali-kali, tapi tetap tidak ada sahutan. Ibu pikir kau sudah tidur, tapi saat diperiksa di kamarmu? Tidak ada."


"Maaf... aku tidak mendengarnya. Omong-omong, Ibu pulang mengapa tidak memberitahuku? Ibu juga sudah berbohong, katanya akan berada di Miami selama dua minggu." Allena mengalihkan pembicaraan dengan wajah sedikit ditekuk, agak sebal. Sedangkan hatinya tengah cemas, berharap ibunya tidak curiga dan menanyakan yang aneh-aneh mengenai alasan dirinya berdiri di mari.

__ADS_1


"Meeting kedua diundur menjadi Kamis depan. Daripada bosan lama-lama di sana ..." Melly mengedikkan bahu. "Ya sudah Ibu pulang lebih dulu. Lusa nanti, baru ke sana lagi."


Allena memangut-mangutkan kepalanya, tanda mengerti. Sejujurnya dalam hati dia kecewa dengan kepulangan ibunya yang terlalu cepat dan mendadak. Bukan berarti tidak suka, namun karena kegiatan keluar-masuk pintu itu. Jika ada ibunya di rumah, Allena jadi tidak bisa memasuki pintu itu dengan leluasa. Bisa dibilang Melly menghambat ruang kebebasan.


"Oh ya, apa besok kau ada acara?" tanya Melly, membuat Allena mendongak menatapnya.


"Memangnya kenapa?"


"Jawab saja, ada atau tidak?"


Diam beberapa detik, Allena pun mengangguk. "Ada."


"Acara apa?" tanya Melly cepat dengan raut semangat yang menyelimuti wajahnya.


Hal itu membuat Allena mengernyit. Ada apa dengan ibunya?


"Jalan. Bersama ... teman," sahut Allena, terdominasi sedikit keraguan.


"Pria atau wanita?"


Allena menatap ibunya lekat-lekat. Jadi, ceritanya tengah diinterogasi, nih?


"Allena, cepat jawab..." desak Melly seraya menggoncang-goncangkan bahu putrinya yang tengah merenung.


"Ibu... sudahlah. Ini waktunya tidur." Allena pura-pura menguap besar, lalu cengengesan. "Maaf, aku mengantuk. Ya sudah, aku pergi ke kamar dulu..."


"Tapi ..."


"Selamat malam!" sela Allena sembari melenggang pergi, menaiki tangga dengan langkah sengaja dilesukan supaya adegannya tidak terlalu dipaksakan alias terlihat meyakinkan.


Melly menatap punggung putrinya dengan tatapan menyelidik. Dilihat dari respon tubuh Allena, jelas gadis itu tengah menyembunyikan sesuatu. Dia menghela napas lelah. Baru juga pulang, Sudah diberi beban pikiran saja. Dia memijit pelipisnya, berharap dengan itu pening bisa berkurang.

__ADS_1


•••


TBC...


__ADS_2