
Malam minggu merupakan malam yang digunakan banyak orang untuk menghabiskan waktu bersama orang terkasih mereka, entah pasangan, teman, ataupun keluarga. Namun hal itu tidak berlaku bagi Abhian yang memilih menghabiskan malam minggunya di basecamp Savage seorang diri.
Lelaki itu menghisap rokok yang terjepit di antara jari telunjuk dan jari tengahnya, lalu kepulan asapnya ia keluarkan dengan bebas ke udara.
"Sendirian aja, Bi? Yang lain kemana?" suara milik Sandi yang baru saja tiba memenuhi seisi ruangan.
Abhian mengedikan bahunya, tanda tidak tahu. "Malam mingguan, kali, lo gak malam mingguan juga?" tanyanya.
Sandi meletakkan kresek berwarna hitam miliknya ke atas meja kayu di depan Abhian. "Mau malam mingguan sama siapa? Cewek aja gak punya."
Ponsel Abhian yang juga terletak di atas meja kayu itu berdering, nama Laura tampil di layarnya dan itu tertangkap mata Sandi. "Angkat kali, Bi, telfonnya. Kasian gue liat Laura lo gituin terus," ujar Sandi, melihat Abhian yang tak kunjung menerima panggilan telfon dari sang Mantan.
"Malas, nanti kalo capek nelpon dia berhenti sendiri." Abhian membuang puntung rokoknya yang sudah pendek ke lantai. Lelaki itu mengubah posisinya menjadi berbaring dengan mata terpejam di atas sofa.
"Kalo lo mau tidur itu di rumah sono, Bi," suruh Sandi yang melihat Abhian berbaring di sana.
"Malam Minggu gini bokap gue sama istrinya ada di rumah, gue malas liatnya," jawab Abhian, masih dengan mata yang terpejam.
"Lo belum akur sama nyokap tiri, lo?" tanya Sandi.
Abhian menggeleng, "Belum, dan gak akan. Gue gak sudi anggap dia nyokap gue."
Sandi membuka sekaleng soda yang tadi dia beli di minimarket sebelum datang ke basecamp. "Kalo tante Dewi gimana? Udah ada kabarnya belom?"
Lagi-lagi Abhian menggelengkan kepalanya, "Udah lupa kali dia sama anaknya sendiri, waktu gue kabarin saat gue kecelakaan aja dia gak pernah datang jenguk bahkan pesan gue gak dia bales."
Papa dan Mama Abhian sudah bercerai sejak lima tahun yang lalu, dan hak asuh Abhian jatuh ke tangan Papanya. Sejak perceraian itu, Abhian tak pernah mendengar kabar Mamanya lagi. Ia sempat mencoba menghubungi namun tetap tak mendapat balasan dari Mamanya.
Mendengar cerita Abhian, sandi merasa empati dengan sahabatnya itu. Padahal kehidupan Abhian dulunya sangat sempurna, punya dua orang tua pekerja keras yang membuatnya hidup berkecukupan. Namun kehidupan sempurna itu justru harus berakhir karena keegoisan kedua orang tuannya.
__ADS_1
“Ngomong-ngomong soal kecelakaan, Lo ngerasa ada yang aneh gak sih, Bi?" tanya Sandi yang tiba-tiba teringat dengan kecelakaan Abhian dua tahun lalu yang menurutnya menyimpan keanehan. Mendengar pertanyaan Sandi, mata Abhian yang sebelumnya tertutup kini terbuka.
“Kita sering night ride sama-sama, dan biasanya lancar. Terus kenapa tiba-tiba hari itu lo mengantuk? Gue rasa aneh aja.”
Jika di pikir-pikir kembali, ucapan Sandi ada benarnya. Itu bukan kali pertamanya ikut night ride, tapi kali pertamanya mengantuk ketika berkendara. Abhian juga teringat saat itu remnya tidak berfungsi ketika dia berusaha menghentikan laju motornya.
“Rem gue juga gak berfungsi waktu itu, makanya gue gak bisa berhenti,” ungkap Abhian, membuat Sandi sontak terduduk mendengarnya.
“Serius? Berarti memang ada yang janggal," imbuh Sandi.
"Kenapa gue gak kepikiran sampe situ, ya."
"Mungkin karena saat itu pikiran lo sedang kacau, dan orang yang gak sengaja lo tabrak meninggal. Gue gak bisa bayangin gimana kacaunya lo saat itu," tutur Sandi. "Kalo memang ada yang sengaja lakuin itu, sebaiknya kita cari tahu, Bi," lanjutnya.
Kalo firasat Sandi bener, kayaknya gue harus cari tahu kalo memang ada kejanggalan yang gue lewati, gue gak mau kecelakaan itu selamanya dicap sebagai kecerobohan gu**e. Tapi siapa? Saat itu hanya ada anak-anak Savage di sana, masa iya salah satu dari mereka?---Batin Abhian.
"Terus lo cari tahunya gimana? Kalo anak-anak tahu kan bisa lebih mudah ketemu pelakunya."
"Biar gue cari tahu sendiri aja," ucap Abhian.
...****************...
Naya merebahkan tubuh di atas tempat tidur, matanya menatap lurus ke atas langit-langit kamarnya. Setiap pikirannya sedang kosong seperti ini, bayangan sang Kakak selalu muncul di kepalanya. Rasa sedih dan rindunya yang menyatu, membuat air matanya mengalir tanpa aba-aba.
Kematian memang perpisahan yang paling menyakitkan, sebab sosoknya tak akan bisa kita jumpai lagi di sudut manapun di dunia. Bayangannya mulai terhapus dari ingatan, suaranya pun perlahan ditenggelamkan waktu. Perpisahan semacam ini, tak ada obat penawarnya.
Suara ketukan pintu dari luar kamarnya membuyarkan lamunan Naya, gadis itu dengan cepat menyeka bulir-bulir air mata yang membasahi pipinya
pintu kayu itu terbuka, nampak sosok Citra di baliknya. Wanita itu melangkah masuk ke kamar Naya dengan segelas susu di tangan kanannya.
__ADS_1
Citra duduk disisi ranjang membuat Naya menyamakan posisinya dengan Mamanya yang sedang duduk di sampingnya.
Citra menyerahkan segelas susu putih pada putri bungsunya. "Biar tenaganya terisi lagi," katanya. Ia tahu rutinitas putrinya, setelah bekerja bukannya istirahat gadis itu akan lanjut belajar.
Naya tersenyum lalu menerima segelas susu yang dibuatkan Mamanya. "Makasih, Ma," ucapnya, lalu meneguk susu itu hingga tandas.
Citra menggenggam tangan putrinya, dielusnya dengan lembut tangan mungil itu. "Kalo capek, jangan lupa istirahat ya, Nay. Kamu harus ingat kalo prioritas kamu sekolah, kalo terbeban dengan kerjaan jangan sungkan bilang ke mama karena kerja itu bukan tanggung jawab kamu," ujar Citra. Ia selalu merasa kasihan dengan putrinya yang harus ikut bekerja karena tuntutan ekonomi keluarga mereka.
Naya membalas genggaman tangan Mamanya, gadis menyunggingkan senyumannya. "Iya, Mama gak perlu khawatir. Aku kerja karena kemauan aku sendiri, aku cuma pengen bantu meringankan sedikit beban mama."
"Kakakmu pernah bilang ke mama, dia selalu pengen kita hidup nyaman. Mama minta maaf karena belum mampu buat kamu hidup nyaman, kakakmu juga pasti kecewa sama mama," lirih Citra.
Naya menggeleng kuat, tidak setuju dengan pernyataan Mamanya tadi, "Enggak kok, Kak Nabil justru sedih kalo mama menyalahkan diri sendiri. Kita hidup baik-baik saja seperti ini sudah lebih dari cukup."
"Mama boleh tanya sesuatu?" tanya Citra, ia merasa pertanyaannya ini merupakan hal yang sensitif bagi putrinya.
"Apa itu, ma?"
"Naya masih nyari orang yang nabrak kakak?" Benar saja, pertanyaan itu merupakan hal yang sensitif, bisa dilihat dari perubahan pada raut wajah Naya.
"Iya, masih. Mama pasti mau nyuruh aku berhenti kan? Maaf, ma, Naya belum bisa berhenti sekarang," ujar gadis itu, jika membahas tentang hal ini, ia sudah hafal akan kemana arah pembahasan mereka.
Kecelakaan yang menimpa kakaknya merupakan hal yang belum bisa ia maafkan sepenuhnya, terlebih ketika melihat sikap keluarga pelaku yang memandang sepele nyawa kakaknya. hal itu terkesan sangat tidak adil bagi Naya.
"Mama cuma mau kamu hidup tenang, tanpa perasaan amarah balas dendam yang sangat ingin kamu wujudkan. Kakak mu pasti juga tidak ingin kamu melakukan itu, sayang."
"Balas dendam ku tidak akan merugikan siapapun ma, aku cuma berharap orang itu mendapat hukuman yang setimpal nggak diringankan atau apapun yang sesuai keinginannya." Naya memandang Mamanya, sorot matanya memancarkan rasa benci yang mendalam.
Melihat putrinya yang hendak menangis, membuat Citra tidak tega untuk membahas hal ini lebih lanjut. Sesi deeptalk ibu dan anak itu diakhiri dengan sebuah pelukan, Naya mengusap punggung mamanya itu dengan sayang.
__ADS_1