
Abhian merasakan pusing yang hebat dikepalanya. Netranya menyapu sekelilingnya, sambil bertanya-tanya bagaimana dia bisa terbangun di ruangan asing ini.
"Pulas banget lo, tidur. Nih minum dulu," suara itu milik Novan. Lelaki itu meletakkan segelas air putih di atas nakas kayu yang terletak di samping tempat tidur.
Saat ini Abhian sedang berada di rumah Novan, tepatnya lelaki itu bermalam di sana tanpa sadar. Ini kali pertamanya berkunjung ke rumah Novan selama tiga tahun mereka berteman. Bukan karena Abhian tak mau berkunjung, tetapi karena Novan yang sering melarangnya. Alasannya karena rumahnya kecil, ia juga tinggal dengan sang Nenek. Ia segan jika mengundang teman-temannya ke rumah, akan menganggu jam istirahat neneknya.
"Kok gue bisa di rumah, lo, Van?" tanya Abhian, belum ingat hal ceroboh yang dilakukannya semalam.
Novan menarik kursi di depan meja belajarnya. "Lo nggak ingat? Semalam Naya nelfon gue, nyuruh jemput lo yang tepar di depan rumahnya."
Abhian berusaha keras mengingat kejadian semalam, ia menyesal telah meneguk banyak minuman beralkohol itu karena terbawa emosi.
Bunyi notif chat yang masuk di ponselnya menghentikan aktivitas Abhian. Lelaki itu meletakkan gelas bening yang berisi minuman ber-alkohol yang di pesannya lima belas menit yang lalu. Dengan mata yang menyipit, Abhian melihat nama Naya tertera di layarnya.
Ponsel berlogo apel keluaran terbaru itu ia letakkan kembali, ia melanjutkan aktivitasnya. Minuman alkohol itu perlahan merenggut kesadarannya, namun Abhian terus memesan minuman yang sama berulang kali.
Merasa sudah di batas mampunya, Abhian meninggalkan club malam itu dengan setengah sadar. Berniat melupakan fakta menyedihkan yang diterimanya hari ini, lelaki itu memilih club sebagai tempat meluapkan emosinya. Pilihannya jatuh ke tempat yang salah.
Karena kesadarannya tidak sepenuhnya memegang kendali, lelaki itu tadinya ingin menyebutkan alamat basecamp Savage kepada supir taksi online yang di pesannya. Namun yang di sebutnya malah alamat rumah Naya, karena nama Naya terus berputar di kepala Abhian setelah membaca chat dari gadis itu tadi.
Setelah membayar, Abhian turun di depan rumah Naya. Matanya yang sayup-sayup memandang lurus ke arah rumah gadis yang belakangan ini membuatnya hatinya tidak karuan. Abhian menyalakannya ponselnya, lalu melakukan panggilan suara ke nomor gadis itu.
Tak butuh waktu lama, panggilan itu akhirnya terhubung.
"Naya," panggil Abhian, suaranya terdengar parau. Lelaki itu merendahkan posisinya menjadi berjongkok, tangan kekarnya terulur memeluk erat lututnya karena suhu malam ini lumayan dingin.
"Duduk di sini dingin," racau lelaki itu.
Panggilan itu di putuskan sepihak oleh Naya, dan tak lama kemudian sosok gadis itu keluar dari rumah dan menghampirinya. Abhian tidak terlalu mendengar semua ucapan Naya padanya. Kepalanya mulai terasa pusing, sepertinya alkohol di tubuhnya mulai bereaksi.
__ADS_1
Ia melihat Naya berusaha membantunya berdiri, saat itu, dengan semua sisa kesadarannya, Abhian menarik tubuh mungil gadis itu ke dalam pelukannya.
"Maafin gue, Naya. Soal kecelakaan itu ... gue belum bisa membuktikan kalau bukan sepenuhnya kesalahan gue," ujar Abhian, tanpa sadar.
Setelah mengatakan itu, Naya melepas pelukannya dengan paksa. Abhian juga bisa merasakan gadis itu kini mencengkram kuat kedua lengannya.
"Kenapa minta maaf terus sih, kak! Apa maksud ucapan lo barusan? Kesalahan? Kenapa kecelakaan kakak gue lo bilang kesalahan lo?!"
"Memang kesalahan gue, karena ... gue yang nabrak kakak lo, Naya."
Hening.
Tak ada respon lagi, namun suara isak tangis mulai terdengar yang Abhian yakin milik Naya. Mendengar isak tangis dari gadis itu membuatnya merasakan nyeri dihatinya.
Lelaki itu kembali berujar kata maaf, meskipun ahu kata maaf darinya tidak akan ada gunanya. Pasti gadis itu sangat membencinya sekarang. Bisa dilihat dari perilaku Naya yang tadi menepis kasar tangannya saat Abhian hendak mencegah gadis itu pergi.
Naya mencari kontak teman-teman Abhian, dan melihat nama Novan terletak di deretan paling atas log panggilan Abhian. Gadis itupun segera menghubungi Novan agar membawa Abhian pergi dari sini.
"Malam kak, maaf menganggu. Bisa ke rumah gue sekarang? Ada kak Abhian disini. Sepertinya dia mabuk, tolong di jemput ya, nanti gue kirim alamatnya."
Abhian memukul-mukul kepalanya, menyesali kelakuan cerobohnya tadi malam. Andai saja ia tidak mendatangi tempat itu, andai saja ia tidak meluapkan emosinya dengan minuman alkohol itu pasti ia tidak akan melakukan hal ceroboh seperti itu. Ia memang ingin mengaku pada gadis itu, namun bukan dengan cara seperti ini.
"Bodoh banget, lo, Abhian!" makinya, pada diri sendiri.
"Kenapa, bi? Lo ada masalah apa sampai mabuk-mabukan gitu semalam?" tanya Novan. Sebab ini kali pertamanya melihat Abhian sampai mabuk seperti itu. Sebelumnya, sahabatnya itu tidak pernah menyentuh minuman beralkohol, bahkan selalu menolak ketika di tawari anak-anak Savage.
Saat ingin menjawab pertanyaan Novan, Abhian merasa mual tiba-tiba. Lelaki itu berlari memasuki kamar mandi yang letaknya tepat di depan kamar Novan, dan mengeluarkan semua isi perutnya di dalam sana.
Novan menghampiri kamar mandi, ia membuka sedikit pintu kayu itu yang tidak di tutup rapat oleh Abhian. "Gue mau ke pasar dulu, mau bantu nenek gue buka kedainya. Kalau mau pulang jangan dengan baju itu, Bi, soalnya baju lo bau alkohol. Daripada di amuk om Juan mending lo ganti pake baju gue aja dulu, bajunya ambil sendiri ya di lemari gue," katanya, yang di respon acungan jempol dari Abhian.
__ADS_1
Sepeninggalan Novan, Abhian kembali ke kamar lelaki itu. Benar kata Novan, baju yang dikenakan Abhian sangat ini memang bau alkohol, pulang dengan kondisi seperti ini tentu akan mengundang amarah Papanya.
Ia membuka lemari kayu milik Novan, untuk mencari baju yang dapat digunakan Abhian sesuai intrupsinya tadi. Abhian memilih memakai hoodie berwarna navy yang di gantung menggunakan hanger.
Ketika hendak menggantungkan kembali hanger hoodie itu, tangan Abhian tidak sepenuhnya menjangkau gantungan itu, alhasil hangernya terjatuh ke atas laci bawah yang ada di dalam lemari.
Entah mengapa laci yang tidak tertutup dengan rapat itu terlihat menarik dimata Abhian, seolah ada harta karun yang di simpan Novan di dalam sana. Karena penasaran, Abhian menarik laci kayu tersebut membuat beberapa barang di dalamnya terekspos.
Ternyata laci itu tempat penyimpanan topi-topi berbagai warna milik Novan. Abhian melihat satu persatu topi koleksi sahabatnya, melihat tumpukan topi ini, Abhian jadi teringat sosok bertopi motif bintang yang tertangkap cctv warung mba Risma. Topi motif bintang itu milik orang yang memotong rem motor milik Abhian. Bukan berniat ingin mencurigai Novan, ia hanya ingin memastikan saja. Supaya nantinya tidak mencurigai sahabatnya sendiri, Abhian juga yakin Novan tidak mungkin mencelakainya.
Aktivitas Abhian terhenti ketika melihat benda asing di dalam kumpulan topi itu. Benda asing itu adalah kresek, dibukanya kresek yang diikat itu, Abhian melihat ada obat tidur tablet dan cair di dalamnya.
Melihat benda yang ia curigai penyebabnya mengantuk pada saat malam terjadinya kecelakaan itu membuat tangan Abhian mulai gemetar. "Kenapa Novan punya ini?" gumamnya.
"Lo gak suka kopi, Van?" tanya Sandi.
Novan mengangguk. "Gue nggak terlalu suka minuman perkopian," jawabnya.
"Gak seru lo, kalo ngantuk nggak bisa nyegerin mata pake kopi," balas Sandi.
"Nggak masalah, justru bagus dong gue terjauh dari gangguan tidur atau insomnia. Jam tidur gue jadi cukup," Novan terkekeh di akhir kalimatnya.
Percakapan Sandi dan Novan kemarin terputar di kepala Abhian, ia ingat betul Novan mengatakan tidak punya gangguan tidur. Lalu untuk apa lelaki itu menyimpan obat tidur?
Abhian melempar asal plastik itu, ia kembali menggeledah tumpukan topi milik Novan. Lelaki itu terduduk ketika menemukan topi yang cocok dengan yang di carinya, topi bermotif bintang yang tertangkap cctv sama dengan topi bermotif bintang milik Novan.
Lelaki itu memandang topi dan plastik obat tidur itu bergantian, ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang di temukannya di lemari Novan.
"Kenapa ini ada di lemari lo, Van?"
__ADS_1