ABHINAYA

ABHINAYA
13. Rumah yang kehilangan perannya


__ADS_3

Polisi sampai dilokasi tawuran setelah menerima laporan lewat telpon. Remaja-remaja yang awalnya saling adu tinju kini berhamburan kabur sebelum tertangkap oleh mereka.


Begitu pula dengan Abhian dan anggotanya, mereka bergegas kabur dengan motor ketika melihat polisi baru sampai di sana. Sayangnya beberapa anggota Savage ada yang tertangkap, termasuk tiga temannya, Edgar, Sandi, dan Raul. melihat itu Abhian ingin mengampiri ketiga temannya, namun mereka memberi kode menyuruh Abhian segera pergi dari sana.


Motor lelaki itu berhenti di halaman rumahnya, ia berniat mengobati luka lebamnya di rumah saja. Abhian tiba disana dengan kondisi yang kacau balau.


Ia berjalan dengan sempoyongan menuju dapur, menemui bude untuk meminta wanita itu mengobatinya. Namun saat sampai di ruang tengah, ia malah bertemu papanya, Juan, yang sedang duduk diatas sofa memangku kaki sambil bermain ponsel. Di sebelahnya ada Ratna, istri mudanya. Kehadiran Abhian disana membuat keduanya beralih menatap lelaki itu.


"Dari mana kamu babak belur begitu? Tawuran?" tanya Juan, nada bicaranya terdengar sangat dingin.


Abhian tak menghiraukan papanya, lelaki itu melanjutkan langkah menuju dapur. Namun lagi-lagi suara sang Papa membuatnya berhenti.


"Kamu ini gak ada kapok-kapoknya, baru saja sembuh sudah cari masalah lagi. Kamu mau ada yang meninggal lagi karena ulahmu itu, hah? " kesal Juan. "Pokoknya kalo kamu berulah lagi, mau tidak mau kamu papa kirim sekolah ke luar negeri. Setidaknya dengan kamu sekolah di sana lebih baik daripada bikin malu papa disini," tambahnya.


Ratna ikut membuka suara. "Sepertinya anakmu tidak punya rasa bersalah setelah membuat orang lain meninggal," ujarnya.


"Anak itu mirip sekali dengan ibunya, keras kepala," timpal Juan.

__ADS_1


Tangan Abhian mengepal dengan kuat, menahan emosinya saat mendengar perkataan Juan dan Ratna. Meski ia merasa kecewa dengan Mamanya, Abhian tidak pernah membenci wanita itu. Ia tak masalah dicaci maki, tapi tak terima jika Mamanya yang kena.


Lelaki itu awalnya berniat mengabaikan, tubuhnya sudah sangat lelah, ia ingin segera beristirahat. Namun tampaknya Papanya itu ingin sekali berdebat dengannya sekarang.


Abhian berdecak, tatapannya lurus ke arah Juan lalu beralih ke arah Ratna. "Papa salah, aku lebih mirip papa daripada mama, bisa dilihat dari sifat brengsek yang papa turunin ke aku. Aku benci sama diri aku sendiri, karena lebih mirip sama papa," bantahnya.


Mendengar kata-kata kasar itu keluar dari mulut putra tunggalnya habis sudah kesabaran Juan.


"Lihat anak ini, tidak ada sopannya berbicara dengan orang tua! Karena bergaul dengan anak-anak motor itu kamu jadi tertular sikap kurang ajar mereka," marah Juan, jari telunjuknya mengarah pada Abhian.


Tawa Abhian menggelegar. "Papa butuh kaca sepertinya, supaya sadar kalau aku jadi begini karena ulah papa, ulah kalian semua!"


"Papa pikir aku selama ini diam karena merasa baik-baik saja soal perceraian kalian? Enggak pa! Anak mana yang mau melihat orang tuanya berpisah? Aku juga begitu!" Mata Abhian mulai berkaca-kaca, lelaki itu sekuat tenaga menahan agar air matanya tidak tumpah di depan Papanya. Mumpung sudah begini, sekalian saja ia keluarkan semua rasa sakit yang mengganjal dihatinya selama ini.


"Tapi aku gak mau egois, gak mau liat mama tiap hari makan hati karena papa yang masa bodoh dengan keluarganya sendiri. Papa pikir tanggung jawab ayah itu hanya sekedar mencari nafkah? Enggak pa! Peran Ayah itu mendidik, dan jadi pemimpin. Tapi papa gak mencontohkan seperti apa pemimpin yang baik itu!" lanjut Abhian.


"Papa gak pernah introspeksi diri, selalu merasa paling benar. Dan asal papa tau, ucapan yang keluar dari mulut papa itu mampu menikam orang lain, papa pernah mikir gak sebelum berbicara? Makanya aku biarin mama pisah dari papa, karena aku gak mau mama terus menghabiskan sepanjang hidupnya tinggal dengan orang egois kayak papa!"

__ADS_1


Juan menatap wajah putranya yang sangat mirip dengan mantan istrinya, pria itu menyimak kata demi kata yang ditujukan padanya. Ia dan istrinya pertamanya Dewi sudah bercerai lima tahun yang lalu ketika Abhian masih duduk di bangku menengah pertama. Mereka memilih berpisah karena terus berselisih paham, Juan juga beberapa kali bertindak kasar pada Dewi.


Abhian yang sudah muak dengan perdebatan itu menyarankan mamanya untuk bercerai saja. Ya, ide itu dari Abhian, anak itu rela merasakan sakitnya melihat orang tuanya berpisah agar mamanya bisa hidup dengan nyaman. Namun Abhian sangat kecewa dengan Juan yang bukannya introspeksi diri setelah bercerai, papanya itu malah mencari istri baru. Abhian yang belum pulih semakin terluka di buatnya.


Rumahnya rusak, rumahnya telah kehilangan perannya. Rumahnya hanya sekedar bangunan untuk di huni, bukan tempat ternyaman untuknya pulang.


Setelah puas mengeluarkan semua unek-uneknya, Abhian berbalik badan membatalkan niatnya bertemu Bude untuk di obati. Dengan langkah besar, lelaki itu menaiki satu persatu anak tangga menuju kamarnya di lantai dua. Meninggalkan Juan yang membeku di posisinya setelah mendengar pernyataan putranya.


...****************...


Naya menutup buku tulisnya setelah selesai mengerjakan tugas matematika yang akan dikumpulkan besok. Gadis itu merenggangkan otot-otot tangannya yang terasa pegal karena menulis banyak rumus-rumus tadi.


Dilihatnya jam beker berwarna biru yang terletak diatas meja belajarnya, sudah menunjukkan pukul setengah satu dini hari. Naya segera memasukkan buku-buku yang akan ia bawa ke dalam tas.


Setelah cuci muka dan membersihkan badannya, gadis itu menjatuhkan diri ke atas tempat tidur. Menarik selimut, lalu memejamkan matanya.


Sudah lima belas menit matanya terpejam, namun ia belum kunjung tertidur. Gadis itu membuka kembali matanya, ia jadi teringat Abhian yang terlibat tawuran sore tadi. "Kabar kak Abhian gimana, ya?" gumamnya.

__ADS_1


Naya jadi khawatir ketika mengingat wajah Abhian yang babak belur tadi, ia ingin bertanya langsung kabar cowok itu tetapi tidak punya nomor Abhian di ponselnya.


"Semoga dia baik-baik aja," ujarnya dengan suara serak, dan setelahnya gadis itu mulai mengantuk dan akhirnya menuju alam mimpinya.


__ADS_2