
Karena ini hari minggu, jadwal Naya shift pagi hari ini. Café itu buka jam delapan pagi, tetapi Naya sudah tiba disana satu jam sebelumnya. Gadis itu mempersiapkan semuanya sebelum opening, ia mengecek persedian, lalu membersihkan lantai dan jendela café yang sedikit berdebu. Terakhir, ia membalik tulisan yang menempel di pintu yang awalnya bertuliskan 'close' ia balik menjadi 'open'. Lima menit kemudian kak Bila yang merupakan partner shift pagi ini tiba disana.
Seorang cewek baru saja memasuki cafe, dia pelanggan pertama mereka hari ini. Crop top yang dikenakan cewek itu membuat bagian perutnya terekspos, ia berjalan mendekat menghampiri Naya untuk memesan.
“Selamat datang, kak. Mau pesan menu apa?” tanya Naya, ia terkejut ketika melihat kostumer yang berdiri di depannya memilik wajah yang tidak asing.
Cewek itu tersenyum dan membalas tatapan Naya yang seolah mengenalinya. “Kenal gue?” tanyanya.
Naya mengangguk membalas pertanyaan itu. Siapa yang tidak kenal Laura, selebgram SMA Nusantara yang memiliki paras cantik. "Iya, siapa yang gak kenal, kak Laura kak selebgram,” ujar Naya. Dan mantan kak Abhian---lanjutnya membatin.
Laura hanya tersenyum mendengarnya, ia membaca menu terlebih dulu, sebelum menyampaikan pesanannya pada Naya.
Sebenarnya Laura datang ke Cafe ini bukan kebetulan ataupun karena ingin mencicipi minuman yang mereka jual disini. Ia datang karena terus terganggu dengan perkataan Silvi kemaren. Ia segera menyuruh sahabatnya itu untuk mencari tahu informasi tentang adik kelas yang Silvi lihat bersama Abhian, Silvi yang sudah mirip Intel dadakan tentu saja mudah mencari tahu nama Naya dan informasi tentangnya.
Silvi pun memberitahu informasi yang didapatnya pada Laura, salah satunya soal Naya yang bekerja setiap hari di cafe ini. Laura pun datang seorang diri, untuk bertanya secara langsung pada Naya. Perlu di garis bawahi, Laura datang karena ingin bertanya, bukan melabrak. Melabrak bukan levelnya, katanya.
“Pesan Blue ocean sodanya satu, di take away ya," ucapnya, menyebutkan minuman pesanannya.
“Blue Ocean soda satu,ada tambahan kak?” tanya Naya, memastikan pesanan Laura.
Laura menggeleng, “Itu aja,” balasnya.
Naya menyebut nominal pesanan, lalu Laura menyerahkan selembar uang berwarna merah pada Naya. Gadis itu hendak memberi kembalian pada Laura namun ditolak, “kembaliannya buat lo aja. Tip dari gue," katanya, dengan nada remeh.
Pegawai seperti Naya sudah biasa mendapat uang tip dari kostumer, namun entah kenapa gadis itu merasa tersinggung kali ini.
Setelah menerima pesanannya, Laura tidak langsung pergi dari sana. “Gue denger kemaren ada yang liat lo berduaan dengan Abhian di uks, kalian ngapain?” tanyanya to the point.
Naya sedikit terkejut mendengar pertanyaan Laura. Darimana Laura tahu soal itu, perasaan kemaren tidak ada siapapun di dalam UKS. “Buat ngobatin luka kak Abhian,” Naya tidak menyangkal, lagipula dia hanya berbincang dan mengobati Abhian di dalam sana, bukan melakukan hal lain.
“Kenapa harus lo, Abhian yang suruh emangnya?”
Gadis itu menggeleng, “Nggak, kak, gue sendiri yang mau obati, dan ada urusan juga dengan kak Abhian,” tuturnya.
Laura tertawa sinis. “Urusan apa memangnya?”
“Maaf kak, gue gak bisa kasih tau lo soal itu,” balas Naya.
“Gue gak peduli soal urusan kalian, tapi gue minta secara baik-baik sama lo untuk jauhi Abhian,” pinta Laura.
Naya menolak, ia tidak bisa menjauhi lelaki itu sekarang karena ia perlu mendengar jawaban Abhian yang sedang mempertimbangkan bantuan yang ia minta. “Maaf kak, gue gak bisa.”
__ADS_1
Mendengar penolakan Naya, kesabaran Laura mulai menipis. Ia menatap adik kelasnya dengan tatapan menusuk. “Kenapa gak bisa? Lo suka sama Abhian? Jangan gatel deh dek, tipe Abhian bukan cewek modelan lo,” hardik Laura, tadinya dia tidak ingin mencari ribut, namun gadis ini memancing emosinya.
“Bukan gitu kak, gue ada urusan sama kak Abhian jadi gak bisa jauhi dia sekarang sesuai permintaan lo,” bela Naya.
“Abhian pacar gue, jadi gue berhak dong ngelarang siapa aja yang gatel ke pacar gue,” kata laura.
“Bukannya udah mantan ya, kak? Cerita yang beredar sih gitu, jadi maaf, kakak gak berhak ngelarang gue," balas Naya, teringat informasi yang ia dengar dari Rara.
“Nyebelin banget sih lo.” Tangan Laura hendak menjambak rambut Naya, namun suara kak Bila membuatnya berhenti.
Bila yang melihat perdebatan dua remaja itu, memilih melerai. “Mohon maaf, jangan buat keributan disini. Silahkan keluar, mau keluar sendiri atau mau saya seret?” ucap Bila pada Laura.
Naya mengembalikan uang tip dari Laura. Uang itu ia masukkan ke dalam kresek yang tadi berisi minuman pesanan Laura. “Makasih tipnya kak, tapi gue gak bisa ambil.”
Ngeri dengan tatapan Bila sudah mirip macan yang siap menerkam mangsanya, Laura memilih mengalah. Ia membalikkan badan, dan segera pergi keluar cafe itu.
Sesampainya di luar, Laura menghentakkan kedua kakinya kesal, “Liat aja nanti cewek nyebelin, lo salah udah bantah perintah gue!”
...****************...
Sejak setelah berdebat hebat dengan papanya, Abhian jadi jarang di rumah. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya bersama teman-temannya di basecamp Savage, tak menghiraukan Juan yang tak suka jika Abhian bergaul dengan anak-anak geng motor itu. Ini hidup Abhian, jadi ia tentukan pilihannya sendiri. Lingkungan pergaulannya memang liat, tapi lelaki itu masih tau batasan.
"Woy!" tegur Novan, mengguncang bahu Abhian.
"Apa?" respon Abhian.
"Katanya nyuruh anak-anak ngumpul, kok lo malah ngelamun," tuturnya.
Abhian menepuk jidatnya, lupa jika tadi ia meminta semua anggota Savage untuk berkumpul. Anggota Savage yang lain duduk menyebar di ruangan itu, namun perhatian mereka fokus pada Abhian seorang.
Leader Savage itu pun langsung membuka obrolan. "Kamaren siapa yang terima ajakan tawuran anak Tiger?" tanya Abhian, membuat Novan mengacungkan tangannya. "Yang ngirim siapa, Van?"
Novan mengedikan bahu. "Gak tau, ada nomor stranger yang forward chat itu ke gue. Jadi langsung gue forward ke Edgar," jawabnya.
"Waktu di lapangan, si Theo bilang kita duluan yang meremehkan mereka. Siapa yang chat gitu ke Theo?" tanya Abhian, kini melempar pandangan kepada semua anak Savage, namun tak ada satupun yang mengaku.
"Gue gak permasalahkan kalo kalian mau ngejek si Theo, soalnya dia memang pantas di ejek. Cuma jangan sembunyi-sembunyi kayak gini, kalo kalian kenapa-kenapa kita gak bisa bantu karena gak tau. untung aja soal kemaren si Theo balasnya dengan ngajak kita semua tawuran, tapi kalo dia cari tau orang yang ngejek dia sendiri gimana? Kalian tau kan Theo itu orangnya nekat dan sadis, kalian bisa di habisin sendiri sama dia," ungkap Abhian.
"Bener kata Abhi, jadi ngaku aja siapa yang chat gitu ke Theo," tambah Novan.
"Kayaknya diantara kita gak ada yang chat Theo deh, soalnya kayak buat apa gitu? Lo menang malam itu udah cukup buat mental si Theo jatuh kan?" imbuh Bayu.
__ADS_1
"Kalo kata gue sih kayaknya memang ada yang chat deh, sengaja biar si Theo mikirnya anak Savage yang remehin dia," Raul mengatakan pendapatnya yang berbeda dari teman-temannya. "Atau gak ini memang di rencanakan, soalnya gak mungkin Theo se-baperan itu perkara di ejek doang sampe ngajak tawuran," lanjutnya.
Sandi setuju dengan pernyataan Raul. "Ada benernya juga, berarti ada yang pengen adu domba kita," tuturnya.
Jika memang benar ada seseorang yang mencoba mengadu domba, sebagai ketua Abhian harus cari tau. Ia bahkan belum mencari tau tentang kejanggalan kecelakaannya, kini masalah baru muncul.
"Apapun itu, kalo memang ulah salah satu dari kalian, jangan sungkan bilang ke gue. Daripada masalah itu makin besar kedepannya, lebih baik kita bicarakan baik-baik." pinta Abhian.
Karena hari ini tidak mendapat jawaban, Abhian membolehkan anggota yang lain pulang kerumah masing-masing. Namun dia dan keempat temannya masih ingin stay nongkrong di basecamp.
"Gue mau minta pendapat kalian," ujar Abhian, tiba-tiba. Membuat keempat keempat temannya menghentikan aktivitas masing-masing. Edgar yang berniat bermain game pun, batal login dibuatnya.
"Apa tuh?" tanya Sandi, sudah sangat penasaran.
"Ingat nggak sama cewe yang ketemu gue di depan ruang BK waktu itu?" tanya Abhian membuat keempatnya kompak mengangguk.
Abhian sebenarnya tak ingin memberi tahu sahabatnya siapa Naya, namun permintaan gadis itu terus membuatnya bingung. "Dia adik orang yang terlibat kecelakaan sama gue, satu tahun yang lalu," ungkapnya.
Mendengar itu keempatnya kompak menampilkan raut wajah kaget, sandi bahkan sampai menutup mulutnya menggunakan tangan.
"Wah, dunia memang sempit," imbuh Raul.
"Trus gimana? Dia tahu lo yang nabrak kakaknya?" kini Novan yang bertanya.
Kepala Abhian menggeleng sebagai respon. "Dia nggak tahu, tapi sepertinya dia tahu kalo orang yang nabrak kakaknya anak geng motor. Dia juga minta bantuan gue, buat cari orang yang nabrak kakaknya."
"Kenapa dia minta bantuan lo?" Edgar ikut bertanya.
"Karena dia tahu kita gabung sama geng motor, dia liat kita tawuran sore itu." Abhian mengusap wajahnya kasar. "Menurut kalian, gue harus gimana sekarang?"
"Ngaku aja, Bi. Biar gak makin repot kedepannya," saran Edgar.
Sayangnya saran itu tidak bisa Abhian lakukan, ia masih punya janji untuk menjaga gadis itu yang belum ia tepati. Jika Abhian mengaku sekarang, Naya pasti akan segera menjauhinya.
"Kalo gue ngaku sekarang, dia pasti jauhi gue. Gue udah janji di depan makam kakaknya buat jaga adiknya, itu cara gue nebus rasa bersalah gue."
"Kalau gitu pura-pura bantu aja, mungkin ini terkesan kayak manfaatin situasi tapi dengan begitu lo jadi punya waktu lebih lama buat nepatin janji yang lo buat," usul Novan.
Raul dan Sandi menyutujui. "Bener, Bi. Dengan begitu lo bisa mengulur waktu dia buat cari tahu tentang lo," tambah Sandi.
Abhian mengacak rambutnya frustasi, bingung saran siapa yang akan ia ikuti.
__ADS_1