
Lomba debat antar SMA akan dilaksanakan seminggu lagi, Naya dan tim telah berusaha mempersiapkan diri mereka supaya nantinya bisa mendapat hasil yang baik saat hari-H lomba. Bisa dilihat dengan Naya yang menggunakan jam istirahatnya untuk pergi ke perpustakaan, untuk melengkapi catatan yang nantinya bisa ia gunakan saat debat berlangsung.
Tiba-tiba seseorang meletakkan air mineral di mejanya, membuat Naya yang tadinya fokus menulis kini beralih menatap orang tersebut. Ia mendapati Edgar yang menatapnya dengan ekspresi datar.
Akhir-akhir ini ia jadi sering bertemu dengan Edgar karena lelaki itu se-tim dengannya. Ternyata benar kata Rara, Edgar merupakan orang yang terlihat cuek namun cukup perhatian. Lelaki itu juga pandai di public speaking, pembawaannya yang tenang ketika menyampaikan argumen tidak bisa dipungkiri membuat lelaki itu terlihat sangat keren.
Namun, fakta Edgar adalah anak geng motor yang dibencinya membuat Naya tidak nyaman berada di dekat lelaki itu. Naya hanya berusaha untuk bersikap profesional, ia harus menghilangkan perasaan pribadinya untuk saat ini karena mereka berada di tim yang sama.
“Lagi nulis apa, Nay?” tanya Edgar. Tadinya setelah dari kantin, ia berniat singgah ke perpustakaan untuk membaca beberapa materi, matanya dengan tidak sengaja menemukan Naya membuatnya menghampiri gadis itu.
Naya menunjukkan catatannya menggunakan dagu. “Ada beberapa materi yang gue rasa kurang, jadinya gue mau lengkapi sekarang,” jawab gadis itu, tanpa menatap lawan bicaranya.
“Boleh gue liat?” Edgar duduk di depannya.
Gadis itu menyerahkan catatannya pada Edgar, dan melihat lelaki itu fokus membaca catatannya. Pandangan Naya beralih pada sebotol air mineral yang Edgar berikan untuknya.
Kelas dua belas
Naya jadi teringat clue yang dikatakan Abhian padanya, ia kembali menatap Edgar di depannya. Lelaki itu juga seangkatan dengan orang yang telah menabrak kakaknya.
“Gue boleh tanya sesuatu gak, kak?” tanya Naya, membuat Edgar berhenti membaca.
“Tanya apa?”
Gadis itu tak segera bersuara, ia berpikir sejenak. Apakah tidak masalah ia menceritakan kecelakaan kakaknya pada lelaki itu seperti ia menceritakannya pada Abhian?
“Lo pernah dengar gak soal anak geng motor yang terlibat kecelakaan? Katanya anggota geng motor itu sekolah disini ya?” tanya Naya, terlihat jelas perubahan raut pada wajah Edgar.
Sedangkan Edgar terkejut mendengarnya. Kenapa tidak? Bagaimana Naya tahu soal kecelakaan yang menimpa Abhian, apakah Abhian sendiri yang memberi tahu gadis itu mengingat mereka teman dekat sekarang.
__ADS_1
“Oh iya? Lo denger dari mana? gue baru denger berita itu,” sanggah Edgar.
Mendengar jawaban lelaki itu membuat Naya tertawa dalam hati, jelas sekali lelaki itu tengah berbohong saat ini. lagipula berharap apa Naya setelah bertanya dengan anggota geng motor itu. Mereka punya persaudaraan yang tinggi dalam hal merahasiakan kesalahan teman mereka. Termasuk Abhian yang membantunya setengah-setengah disaat lelaki itu sudah tau siapa orang yang dicarinya.
Naya mengambil kembali buku catatannya dari Edgar, gadis itu pamit ingin kembali ke kelasnya tanpa membalas ucapan Edgar. Ia tak senang lama-lama berduaan dengan lelaki itu. Sedangkan Edgar masih di posisinya, memandang punggung Naya yang perlahan mulai menghilang. Ia beralih menatap air mineral yang awalnya ia berikan untuk gadis itu, tak tersentuh sama sekali.
...****************...
Edgar menghampiri Abhian yang sedang tidur di kursi belakang, lelaki itu menyatukan dua kursi untuk meluruskan badannya sedangkan tasnya ia jadikan bantal. Edgar mengambil buku yang menutupi wajah Abhian, membuat lelaki itu terganggu dari tidurnya.
“Kenapa, gar? Jam istirahat udah selesai?” tanyanya dengan suara serak dan mata merah, dia benar-benar tidur ternyata.
“Belum, lo kenapa gak ikut ke kantin tadi?” tanya Edgar lagi karena tadi ia hanya bertemu Sandi, Raul dan Novan di kantin.
Meskipun masih di tuduh sebagai penghianat oleh anak-anak Savage, Raul memberanikan diri untuk masuk sekolah mengingat dia sudah kelas dua belas. Abhian juga memaksanya untuk masuk sekolah, lelaki itu tidak akan membiarkan Raul di keroyok lagi oleh anggotanya yang lain.
Edgar jadi inget pertanyaan Naya barusan, yang tahu soal kecelakaan Abhian dua tahun lalu. “Bi, tadi gue ketemu cewe lo di perpus,” ujar Edgar.
“Siapa? Naya?” tanya Abhian.
“Iyalah, cewek lo bukan cuma dia memangnya?”
“Gue bukan pacarnya,” sanggah Abhian, dia memang tidak ada hubungan lebih dengan Naya selain membantu gadis itu.
Edgar menggeleng tidak percaya. “Kalo Naya denger lo ngomong kayak gitu, dia bisa sakit hati tau. Kalian udah nge-date terus apa kalo bukan pacaran, hts kah?” timpalnya.
“Terserah deh, ngapain lo ketemu dia?”
“Gue kan se-tim lomba debat nanti, ya gue mau tanya materi lah,” Edgar membuka botol air mineral yang tadi tidak di terima Naya, daripada mubazir mending dia ambil lagi untuk diminum.
__ADS_1
Abhian mangut-mangut, Edgar sudah cerita pada teman-temannya bahwa ia dipilih untuk ikut lomba debat mewakili sekolahnya. Lomba ini merupakan partisipasi terakhirnya sebelum ujian. Ia juga bercerita bahwa satu tim dengan cewek yang dekat dengan Abhian.
“By the way, lo udah cerita ke dia tentang kecelakaan lo dua tahun lalu?” tanya Edgar, membuat Abhian terduduk seketika.
“Maksud lo?"
“Dia tiba-tiba tanya ke gue soal rumor kecelakaan dua tahun lalu, ya gue pikirnya lo udah cerita ke dia.”
Abhian menggeleng kuat. “Trus lo jawabnya gimana?”
“Ya gue bilang gak tahu, soalnya gue rasa aneh aja. Kalo memang dia tahu rumor itu dari lo, buat apa dia nanya ke gue lagi, kan?” balas Edgar, membuat Abhian menghela napas lega.
Di satu sisi ia lega, bahwa Edgar tidak keceplosan memberi tahu informasi kecelakaan itu pada Naya. Namun disisi lain, ia khawatir karena Naya tahu Edgar anak geng motor, pasti gadis itu tahu Edgar yang berbohong padanya.
Abhian membuang napas dengan kasar. Makin dekat dengan Naya, kian bertambah juga rasa bersalah dan perasaannya. Niat awal ingin dekat dengan gadis itu agar bisa melindunginya, satu hal tumbuh di luar kendalinya. Dia jatuh cinta, pada gadis itu.
"Gue pengecut gar, harusnya gue langsung mengaku aja saat itu. Bukannya sembunyi dan pura-pura mau bantu dia, sekarang gue terjebak sama perasaan gue sendiri," ujar Abhian.
Edgar mengerti maksud ucapan Abhian, memang perasaan cinta bisa saja tumbuh kapan dan pada siapa saja. Itu hal yang manusiawi, namun pada kisah Abhian dan Naya, takdir mereka terlalu sakit.
"Mending Lo ngaku lebih cepat, Bi. Kalo dia cari tahu sendiri atau dengar itu dari orang lain, dia pasti lebih sakit hati," sarannya.
"Gimana kalo setelah gue ngaku dia malah menjauh, gar? Gue bahkan belum sepenuhnya ngelindungi dia."
"Terus mau sampai kapan Lo bohongi Naya, Bi? Kalo dia ternyata punya rasa juga sama lo, itu bakal nyakitin dia," tutur Edgar.
"Sebelum semuanya terlambat, gue harap lo punya keberanian buat ngaku pada gadis itu," tambahnya.
Ucapan Edgar ada benarnya, meskipun peluangnya kecil untuk dimaafkan, setidaknya pengakuannya terlontar dari mulutnya sendiri bukan mulut orang lain. Abhian juga tidak bisa mengendalikan semua yang tahu tentang kecelakaannya untuk terus tutup mulut.
__ADS_1