ABHINAYA

ABHINAYA
28. Gamon?


__ADS_3

Abhian duduk didepan meja komputernya, berniat mencari tahu sesuatu. Jari-jari panjangnya dengan cepat mengetikan sesuatu di atas keyboard.


Obat tidur reaksi cepat.


Ia menekan tombol enter, lalu muncul-lah berbagai macam merek obat tidur berbentuk tablet maupun cair di layar komputernya. Lelaki itu menekan artikel yang menjelaskan tentang obat tidur berbentuk cair, kemudian membaca cara menggunakannya hingga waktu kapan obat itu bereaksi.


“Bereaksi sekitar dua puluh menit sampai sejam,” gumam lelaki itu, membaca tulisan didalam artikel tersebut. “Kalo memang ada yang sengaja kasih obat ini ke gue, apa alasan dia?” lanjutnya, bertanya pada diri sendiri.


Abhian jadi teringat saat hendak night ride malam itu ia hanya sempat minum kopi dan air mineral saja. Jika orang itu hendak memberikannya obat tidur tetes, maka pilihannya pasti jatuh pada air mineral karena kopi mengandung kafein yang membuat obat tidur sulit bereaksi.


Memorinya ia putar kembali pada hari dimana mereka hendak melakukan night ride malam itu. Abhian tiba di basecamp lebih dulu sebelum anggota yang lain, kemudian disusul Edgar lalu Sandi dan Novan disaat yang bersamaan. Setelahnya, barulah satu-persatu anggota Savage mulai berdatangan. Kondisinya saat diluar basecamp ramai dengan anggota yang lain, jika memang ada yang mau memutuskan kabel remnya dan memberikan obat tidur pasti sudah ketahuan yang lain.


Yang jadi pertanyaannya, siapa yang tega melakukan itu padanya? Mengapa dia ingin mencelakai Abhian?


Suara ketukan pintu kamarnya membuat Abhian tersadar.


“Bian, makan dulu. Makan malamnya udah siap," teriak bude Sri dari luar kamarnya.


“Iya, Bude,” balas Abhian. Sebelum turun, lelaki itu menutup semua artikel yang tadi ia buka lalu menonaktifkan komputernya. Setelahnya barulah ia bergegas turun, menuju ruang makan.


Saat sampai disana, Abhian melihat Papanya sudah duduk manis di depan meja makan, melahap makanannya bersama istri mudanya. Abhian ingin kembali ke kamar, mengurungkan niatnya untuk makan. Ia akan kembali jika mereka berdua sudah selesai makan. Namun panggilan dari Juan menghentikan langkahnya.

__ADS_1


“Makan dulu sini, sekalian papa mau bicara,” kata pria itu.


Mau tidak mau Abhian menurut saja, lagipula ia juga sudah sangat lapar. Lelaki itu menarik salah satu kursi disana, lalu mendudukinya. Bude Sri dengan sigap menyendokkan nasi dan beberapa lauk untuk Abhian.


“Bagaimana sekolahmu? Lancar?” tanya Juan. Abhian hanya mengangguk sebagai respon.


“Setelah lulus, rencananya mau lanjut di kampus mana kamu?” tanyanya lagi.


"Belum kepikiran," jawab Abhian, tangannya mulai menyendokkan sesuap nasi dan potongan ayam ke dalam mulut.


Juan meletakkan sendok dan garpunya, ia beralih menatap putra tunggalnya itu. "Pikirkan dari sekarang, jangan geng motor itu terus kamu urusin," ujarnya.


Jangan karena Abhian yang terlihat bebas, kerjanya balapan dan tawuran membuat kalian mengira lelaki itu tidak memikirkan masa depannya. Abhian juga punya cita-cita, dia juga khawatir tentang bagaimana dengan masa depannya nanti.


Lelaki itu sebenarnya berminat di bidang teknologi dan komputer, ia ingin masuk kuliah di jurusan IT. Namun sejak masuk SMA, Juan sudah memintanya untuk masuk jurusan IPS agar nantinya tidak perlu linjur lagi. Karena Juan ingin Abhian masuk jurusan Akuntansi atau manejemen supaya nantinya bisa meneruskan perusahaannya.


Abhian jadi bingung harus pilih yang mana, makanya sekarang ia ikut arusnya saja. Lagipula tidak ada yang tau pasti masa depan akan seperti apa, mana tahu ternyata ajalnya yang datang lebih dulu.


"Kalau sudah tahu, pertimbangkan memang keputusanmu dari sekarang. Papa harap keputusanmu tidak mengecewakan papa," tutur Juan.


...****************...

__ADS_1


Besok merupakan hari-H kompetisi debat tingkat SMA dilaksanakan. Naya hari ini izin tidak masuk kerja, karena ingin istirahat dengan cukup agar besok tubuhnya fit ketika mengikuti kompetisi.


Setelah selesai membaca kembali materinya, Naya tidak segera tidur. Gadis itu masih menyempatkan diri membalas chat grup dari kedua sahabatnya. Memberi tahu bahwa ia berhasil memberi tahu Abhian tentang perasaannya.





Membaca chat dari Zulfa membuat Naya ikut kepikiran, bagaimana jika benar Abhian belum move on dari masa lalunya?


Gadis itu menggeleng pelan, menepis pikiran-pikiran negatif dari kepalanya. Abhian telah memberi tahu perasaannya, lelaki itu juga menyuruhnya menunggu. Naya, akan menunggu sesuai permintaan Abhian.


Gadis itu kembali mengetikkan balasan chat di grupnya.



Naya meletakkan ponselnya disamping bantal, ia menarik selimutnya bersiap untuk tidur. Gadis itu menunggu rasa kantuknya datang sambil menatap langit-langit kamar.


Ia berusaha untuk tidak kepikiran tentang Abhian yang masih gamon, namun tetap saja kepikiran. Ia juga jadi teringat DM instagram seseorang yang me-replay snap instagramnya. Kata orang itu, ia tidak boleh terlalu baper dengan Abhian. Memangnya kenapa? Apakah ada hal yang dia belum tahu tentang kakak kelas yang sudah mengisi ruang hatinya itu? Kalau memang ada, Naya berharap semesta segera mengirim jawaban untuknya.

__ADS_1


__ADS_2