
“Sudah lama kamu gak kesini lagi, gimana kondisimu makin membaik?” tanya dokter Richard, dokter spesialis kejiwaan yang selama ini menangani Abhian mengatasi traumanya.
Abhian menganggukkan kepalanya pelan, “Iya dok, kemaren saya ikut temen Night Ride lagi, kegiatan yang selama ini paling saya hindari. Awalnya, rasa cemas itu kembali melanda, namun karena saya coba lawan dengan pikiran positif, rasa cemas itu hilang,” jelasnya.
Mendengar kabar baik itu dari pasiennya tentu saja membuat dokter Richard tersenyum, ia lega mengetahui Abhian pelan-pelan mau berusaha untuk sembuh. “Itu perkembangan yang luar biasa, kalau dibiasakan pelan-pelan rasa takutmu atas kejadian itu akan mereda,” ujar dokter Richard. Dokter berumur 40 tahunan itu menuliskan sesuatu di atas catatan konsul milik Abhian.
“Dok,” panggil Abhian, mengambil alih atensi dokter Richard yang semula fokus menulis.
“Ya?”
Abhian menarik napas, menimbang-nimbang apakah tidak masalah ia menceritakan masalah pribadinya dengan Naya pada dokter Richard. Ia hanya ingin mendengar pendapat dari orang dewasa, dan yang memungkinkan untuk memberi pendapat yang bijak hanya dokter ini.
“Akhir-akhir ini, saya dekat dengan keluarga korban. Dia nggak tau kalau saya pelaku yang menabrak kakaknya. Dan baru-baru ini, dia bilang kalau dia punya perasaan sama saya, menurut dokter, saya harus gimana?” Abhian menceritakan semua yang belakangan ini menganggu pikirannya.
Dokter Richard berpikir sejenak, “Kamunya gimana?”
“Ya?”
“Kamu punya perasaan yang sama tidak dengan dia?” tanya dokter Richard.
Kalau ditanya tentang perasaannya untuk gadis itu, tentu saja Abhian punya perasaan yang sama. Mungkin awalnya dia memang sekedar simpati dan ingin menebus rasa bersalahnya dengan menepati janji yang di buat di depan makam kakak itu. Namun perasaan lain tumbuh tanpa memberinya aba-aba, ia ingin melindungi gadis itu lebih lama lagi.
“Saga … punya rasa yang sama juga,” jawab Abhian.
Mendengar itu, dokter Richard mengulum senyum, ikut gemas mendengar kisah cinta anak muda ini. “Kalau begitu jujur sama dia, kalau kamu pelaku yang menabrak kakanya. Jujur kalau kamu selama ini juga terluka karena rasa bersalah pada korban,” sarannya.
“Tapi bagaimana kalau dia malah benci sama saya, dok?”
“Itu sudah resikonya, tapi setidaknya dia mendengar itu dari kamu, dan tau kalau selama ini kamu juga sama menderitanya. Segera jujur padanya sebelum hubungannya kalian semakin jauh, supaya nantinya dia tidak membecimu semakin dalam juga,” tutur dokter Richard.
__ADS_1
Ucapan dokter Richard benar, jika Abhian tidak segera jujur mereka berdua akan semakin terluka nantinya.
“Baik, dok, terima kasih atas sarannya.”
Dokter Richard menyerahkan kertas kecil yang berisikan resep obat yang akan dia berikan pada Abhian, “Ini resep obatmu, jangan lupa serahkan ke apotek rumah sakit, ya. Dosisnya sudah saya kurangi daripada yang biasanya kamu minum, semangat untuk sembuh, ya. Saya harap, jika kita bertemu lagi, kamu sudah berhenti jadi pasien saya.”
Abhian tersenyum, setelahnya ia pamit pada dokter Richard untuk menukar catatan resep itu ke apotek rumah sakit.
*******************
“Naya cepat sayang, keburu hujan ini,” teriak Citra dari teras rumah.
Langit sore ini berwana kelabu, hawanya pun terasa sejuk ketika menyentuh kulit. Ini merupakan pertanda bahwa sebentar lagi akan jatuh tetesan air dari langit.
Setelah selesai mengganti seragam sekolahnya, Naya keluar dengan setelan yang lebih rapi karena akan mengunjungi teman ibunya ke rumah sakit. Gadis itu tak lupa mengunci pintu terlebih dahulu, lalu menyusul mamanya yang sudah berjalan ke mobil online pesanan mereka yang sudah menunggu di depan pagar.
Rumah sakit yang menjadi tempat kakaknya mengehmbuskan napas terakhirnya.
Ketika masuk, Citra langsung menghampiri meja resepsionis untuk menanyakan di ruangan mana temannya di rawat. Naya yang sedang menunggu memilih mengedarkan pandangan, melihat-lihat lobby rumah sakit. Saat sedang melihat-lihat, matanya tidak sengaja menangkap seseorang yang tidak asing baginya sedang berjalan keluar rumah sakit.
“Ayo Nay, temen mama ada di ruangan anggrek,” ajak Citra setelah menemukan ruangan temannya. Melihat putrinya yang tidak merespon, citra mengikuti kemana arah pandangan gadis itu.
“Siapa itu nak? teman mu?” tanya Citra.
Naya mengangguk, ia menyerahkan kresek yang berisi kue-kue yang tadi ia pegang pada Mamanya. “Mama duluan aja, nanti Naya nyusul mau samperin teman dulu,” pamitnya, lalu segera menyusul langkah Abhian.
Seseorang yang tidak asing yang ia lihat adalah Abhian.
Disisi lain, langkah Abhian yang hendak menuju motornya di parkiran harus terhenti karena diluar sana hujan turun dengan sangat lebat. Lelaki itu tidak bawa payung ataupun jas hujan karena tidak mengira akan turun hujan.
__ADS_1
Lelaki itu berdiri di samping pintu masuk rumah sakit, menunggu hujan reda.
“Kak Abhian?”
Mendengar suara seseorang menyebut namanya, membuat Abhian memalingkan pandangan menatap si pemilik suara. Ia kaget sesaat ketika mendapati Naya yang baru saja keluar dari dalam rumah sakit. Lelaki itu segera menghampiri Naya yang juga sedang berjalan menuju posisinya.
“Lo ngapain di sini? Lo sakit?” tanya Abhian, ia memutari tubuh Naya mengecek apakah gadis itu terluka. Tidak menemukan luka di tubuh gadis itu, Abhian beralih mengecek suhu badan Naya. Ia meletakkan telapak tangannya ke dahi gadis itu.
Naya menggenggam tangan lelaki itu, lalu menurunkannya dari keningnya. “Gue nggak sakit, ke sini karena temenin mama mau jenguk temennya yang lagi sakit,” jelasnya, membuat Abhian mangut-mangut mengerti.
Gadis itu beralih menatap kresek bening berisi beberapa obat-obatan yang sedang di bawa Abhian. “Kayaknya disini yang lagi lo yang lagi sakit, lo sakit apa kak?” tanyanya.
Lelaki itu belum pernah memberitahunya jika sedang mengidap penyakit. Naya hanya pernah dengar dari Rara, bahwa Abhian pernah lama tidak masuk sekolah karena berobat keluar negeri. Namun gadis itu tidak berani bertanya, sebab Abhian juga tidak pernah membahas itu ketika bersamanya. Karena ini momennya pas, sekalian saja gadis itu bertanya.
“Ah, ini …,” Abhian mengangkat kresek itu. “Cuma beberapa vitamin aja, sakit gue gak parah kok,” bohongnya.
Naya tentu saja tidak percaya, ia ingin bertanya lagi tetapi ia urungkan ketika melihat ekspresi lelaki itu tidak nyaman ketika membahas soal itu. “Gue tau lo lagi bohong kak, obat-obat itu nggak terlihat seperti vitamin,” imbuh Naya. Dapat terbaca jelas kebohongan Abhian, jika dilihat dari raut wajahnya saat ini.
“Gue nggak mau maksa lo untuk kasih tau gue sekarang soal penyakit yang lo derita, tapi nanti kalau lo udah siap, cerita ke gue ya supaya gue nggak khawatir,” lanjut gadis itu.
Abhian terdiam, ia tidak tahu harus merespon Naya seperti apa. Ia juga tidak berniat untuk menutupi trauma yang di deritanya, ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk memberi tahu semuanya kepada gadis itu. Tapi, kapan waktu yang tepat itu?
“Maaf, ya, Nay.” Hanya tiga kata itu yang bisa Abhian lontarkan saat ini.
Tangan Naya terulur menepuk pundak kanan kekar Abhian, seolah menyemangati lelaki itu. “Apapun penyakit yang lo derita, semoga cepat sembuh ya, kak.”
Mendengar itu, Abhian merasa terharu dan bersalah di waktu yang sama.
Kalau lo tau gue orang yang lo benci selama ini, apa lo tetap berharap gue sembuh, Nay?
__ADS_1