ABHINAYA

ABHINAYA
29. Good luck, ya!


__ADS_3

Saat ini Naya sedang berdiri di parkiran, menunggu seseorang yang katanya ingin bertemu sebelum ia berangkat ke lokasi lomba nanti. Gadis itu menatap sneakers putih yang ia kenakan hari ini, sepatu itu sudah berusia 1 tahun dan merupakan hadiah terakhir yang Nabil berikan padanya.


Gadis itu mendongakkan kepalanya ketika mendengar seseorang memanggil namanya. Sudut bibirnya tertarik, membentuk seulas senyuman ketika melihat orang itu berjalan mendekatinya.


"Nanti berangkat jam berapa?" tanya Abhian, ketika sudah sampai di depan Naya.


Ya, orang yang ia tunggu adalah Abhian. Katanya lelaki itu ingin bertemu Naya sebentar, untuk mengucapkan semangat secara langsung kepada gadis itu.


"Kayaknya jam setengah delapan, soalnya lombanya dimulai jam sembilan," jawab gadis itu.


Abhian mangut-mangut saja, ia meneliti penampilan Naya yang terlihat berbeda hari ini. Biasanya gadis itu selalu mengikat rambutnya ketika sekolah, namun hari ini surai hitam itu ia biarkan terurai. Wajahnya pun sama, gadis itu selalu tampil polos. Namun hari ini, tampak ada polesan make up tipis di wajahnya.


"Cantik," ujarnya.


Naya tertegun mendengar pernyataan Abhian yang sangat tiba-tiba, hanya satu kata namun mampu menerbangkan kupu-kupu di dalam perutnya.


Tangan kanan gadis itu terulur memegang wajahnya. "Beneran? Gak menor?" tanyanya.


Abhian mengangguk pelan. "Tumben dandan."


"Pengen tampil lebih rapi aja hari ini, makanya dandan dikit biar ga burik-burik banget," tutur Naya, sambil tersenyum canggung.


"Lo tiap hari cantik, meskipun gak dandan."


Sebenarnya Naya sedang salting sekarang, tetapi ia berusaha seolah tidak terpengaruh oleh ucapan Abhian. Ternyata manusia batu ini jago gombal juga.


"Frilting mulu, udah sering gitu ya ke cewek," imbuh Naya.


"Nggak juga, lo yang kedua," balas Abhian dengan jujur.

__ADS_1


Mendengar itu, Naya hanya tersenyum masam. Menyukai Abhian ibarat sedang menaiki wahana rollercoaster, kadang di buat melambung tinggi kadang dibuat jatuh. Naya tau pasti orang pertama yang dimaksud Abhian adalah mantannya, Laura. Mau cemburu pun rasanya Naya tidak pantas, memangnya siapa dia? Jadi pacar saja belum resmi.


"Oh, gitu," respon gadis itu, singkat. Membuat Abhian tertawa melihatnya.


"Lo cemburu?"


"Nggak, Yauda kalo gak ada yang mau diomongin lagi gue mau balik ke lab. Sepuluh menit lagi mereka udah mau berangkat," elak gadis itu, ia membalikkan badan hendak beranjak dari sana namun lengannya dengan cepat dicekal Abhian.


Lelaki itu menyerahkan sebatang coklat yang tadi sempat ia beli untuk Naya. "Buat lo, semangat lombanya," kata Abhian, menyemangati. Ia tidak bisa menonton Naya dan Edgar saat lomba karena ia harus kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran, makanya ia berikan saja coklat ini sebagai penyemangat gadis itu.


Naya menerima coklat itu, lalu beralih menatap Abhian dengan terharu. Rasa cemburunya tadi seolah hilang begitu saja terbawa angin. "Makasih," ucapnya.


"Good luck, ya!"


...****************...


Naya, Edgar, dan Aleesha baru bisa bernapas lega ketika sesi debat mereka telah selesai. Mosi mereka tadi mendebatkan perihal 'Tawuran antar pelajar terjadi karena karakter anak yang kasar' dan mereka terpilih menjadi posisi tim kontra. Sedangkan lawannya adalah tim debat dari SMA Tunas Bangsa, yang menempati posisi tim pro. Edgar yang menguasai tentang mosi ini tentu saja menyampaikan argumennya dengan tenang.


"Kira-kira kita bisa bawa pulang juara gak ya, pak?" tanya Aleesha yang sudah mulai overthinking. Mereka memang sudah tampil semaksimal mungkin, namun tim lain juga tidak kalah hebatnya dari mereka.


"Bisa, kalian harus yakin. Di posisi berapapun kalian nanti, kalian tetap hebat," jawab pak Fadil, mencoba menenangkan.


"Pengumumannya masih dua jam lagi, kalian makan saja dulu biar tenaganya tetap ada," suruh pak Fadli.


Beliau sudah menyiapkan 3 nasi kotak beserta air mineral untuk ketiga muridnya. Naya, Edgar, dan Aleesha pun duduk dan mulai melahap makanan mereka.


Edgar yang duduk di sebelah Naya memperhatikan gadis itu yang sedang melahap makanannya. "Good job, Nay. Lo keren hari ini," katanya, membuat Naya menoleh.


"Lo juga kak," balas gadis itu dengan mulut yang sedang penuh dengan makanan, ia mengacungkan jempol kirinya pada Edgar.

__ADS_1


Melihat respon Naya membuat Edgar tersenyum tipis, sangat tipis hingga tak di sadari Naya. Hari ini gadis itu tampak lebih ramah padanya dibanding hari-hari biasanya. Kini Edgar paham mengapa Abhian sampai jatuh hati pada gadis itu, because she is very attractive.


Tidak hanya cantik, ia juga pandai dan punya pengetahuan yang luas. Edgar akui, gadis itu memang keren. Edgar berpikir seperti ini bukan berarti ia ikut menyukai orang yang sama dengan sahabatnya. Ia hanya sekedar kagum, dan tak berani untuk lebih.


Setelah dua jam menunggu, tiba lah mereka di puncak kegiatan, yaitu pengumuman juara 1,2, dan 3 kompetesi debat SMP-SMA tingkat provinsi.


Aleesha menggenggam tangan Naya erat, gadis keturunan arab itu sedang gugup setengah mati. Naya pun sama, namun bedanya ia terlihat sangat tenang.


MC mulai mengumumkan tim yang memperoleh juara harapan, dan tim dari SMA Nusantara tidak mendapatkan posisi di juara harapan. Mereka mulai gelisah, tetapi mencoba untuk tetap optimis bahwa hasil tidak akan mengkhianati usaha mereka.


"Baik, saatnya beralih ke pengumuman tiga besar juara untuk lomba debat kategori SMA. Juara ketiga, diraih oleh tim debat dari SMA Tunas Bangsa, selamat!!" ujar MC berkacamata itu, ia mengundang tim SMA Tunas Bangsa dan guru pendamping mereka untuk naik ke panggung.


Posisi ketiga sudah terisi oleh tim dari SMA Tunas Bangsa, tim lawan mereka tadi. Itu artinya harapan Edgar dan tim untuk memperoleh juara sisa berada di posisi dua dan tiga.


Ketiga murid pak Fadli itu terus merapalkan doa dalam hati, berharap mereka bisa membawa pulang posisi Juara untuk sekolah mereka.


"Sekarang untuk posisi kedua di raih oleh ...," MC menggantungkan kalimatnya sebentar. "Selamat kepada tim debat dari SMA Nusantara!!" lanjutnya, diringi tepuk tangan dari penonton dan pak Fadli yang melompat-lompat saking senangnya.


Naya dan Aleesha langsung berpelukan mendengar nama sekolah mereka disebut. Naya mengusap lembut pundak Aleesha yang bergetar, gadis itu sedang menangis terharu sekarang.


Kini giliran mereka yang di undang ke atas panggung, ketiganya naik di dikuti oleh pak Fadli sebagai guru pendamping mereka.


Mereka tidak hentinya menyunggingkan senyuman, bahkan Edgar yang jarang tersenyum itu kini sedang tersenyum dengan lebar. Mereka sangat bersyukur sebab untuk berada di posisi dua ini bukan hal yang mudah, mengingat lawan yang berpartisipasi adalah orang-orang yang hebat juga.


Naya menatap barisan orang-orang yang menonton. Dulunya, saat ia pertama kali mengikuti lomba debat dan menang, Nabil berada di barisan penonton tersenyum dan mengacungkan dua jempolnya untuk Naya. Namun sekarang, Naya tidak bisa melihat sosok itu lagi menyorakinya dengan semangat.


Ponsel di genggaman Naya berbunyi, ia mengintip sebuah chat yang terlihat di lockscreennya.


Liat ke arah jam dua.

__ADS_1


Naya mengalihkan pandangan sesuai intruksi si pengirim pesan, dan netranya menangkap Abhian dan ketiga temannya yang sedang menyoraki tim mereka. Abhian mengacungkan kedua jempolnya pada Naya, membuat gadis itu kembali tersenyum.


Aku pikir setelah gak ada kamu, kak, aku gak bisa melihat seseorang mengacungkan dua jempolnya dengan bangga untukku. Rupanya aku salah, ada dia disana. Berdiri di antara ratusan manusia untuk menyemangati ku, persis seperti yang kamu lakukan dulu.


__ADS_2