ABHINAYA

ABHINAYA
8. Pertemuan yang di rencanakan semesta


__ADS_3

Setelah menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi pada anggotanya, kini atmosfer di dalam basecamp Savage kembali menghangat. Kedua kubu yang awalnya tak sepaham kini melebur jadi satu. Sebagai ketua, Abhian berharap kekompakan mereka kembali terjalin sebagaimana sebelumnya.


Abhian membuang asal puntung rokoknya yang sudah pendek ke lantai, lelaki itu bangkit dari duduknya berniat pulang setelah sebatang rokok itu habis ia hisap. Dipakainya kembali hoodie berwarna hitam yang sebelumnya ia simpan asal di kursi. Setelah itu ia menghampiri keempat kawan dekatnya yang sedang asik main kartu Uno di sudut ruangan.


“Gue balik duluan,” pamitnya.


Novan yang sedang mengkocok kartu, menghentikan aktivitasnya, “Tumben jam segini udah mau pulang, ada apa, bi?” tanyanya.


“Udah di suruh balik sama bapak Juan?” Sandi ikut bertanya.


“Kagak, pengen aja. Besok gue kesini lagi,” jawab Abhian, tanpa mendengar balasan lagi dari mereka, lelaki itu melenggang pergi dari sana.


Motor Abhian melaju di jalanan kota Bandung yang lenggang dari kemacetan, kaca helm fullfacenya sengaja ia biarkan terbuka agar hembusan angin masuk menyentuh wajahnya. Jalanan rumahnya ternyata searah dengan Café tempat Naya bekerja. Abhian berniat melihat gadis itu sebentar sebelum pulang.


Dari sebrang jalan, ia mendapati Naya yang sedang menutup Café sambil berbincang dengan perempuan yang tidak Abhian kenal. Setelahnya, gadis itu berjalan meninggalkan Café.


“Mau kemana dia malam-malam begini?” tanya Abhian entah pada siapa.


Entah karena penasaran atau khawatir, Abhian meninggalkan motornya sebentar lalu mengikuti Naya berjalan kaki. Lelaki itu mengekori Naya dari jarak 50 meter agar tak ketahuan gadis itu.


"Jalan tuh liat kedepan, malah main ponsel anak itu. Jatoh baru tahu,” monolognya, gemas sendiri melihat Naya yang berjalan sambil bermain ponsel.


Dua orang laki-laki berpenampilan seperti preman yang berboncengan, melintasi Abhian lalu Naya dengan mulut yang mengelurkan bunyi siulan. Dari kejauhan, Abhian melihat mereka memutar arah motornya menuju Naya.


Lelaki berperawakan preman berambut gondrong terikat yang duduk di bocengan turun dan menghampiri Naya, lalu tanpa aba-aba merampas ponsel dari genggaman gadis itu.


Abhian melihat Naya mencoba meraih kembali ponselnya, namun tak di beri kesempatan lelaki itu. Ponsel Naya ia serahkan pada temannya yang duduk santai di motor untuk di cek, mungkin.


“Hp murah ini, kalo di jual lagi dikit dapatnya. Dompetnya, Ja, sekalian,” perintahnya pada lelaki gondrong yang di panggil ‘Ja’ itu.


Tanpa permisi ia menarik tas Naya berniat menggeledah isinya untuk menemukan dompet gadis itu, untungnya dengan sigap di tahan oleh Naya.

__ADS_1


Interaksi mereka tidak luput dari mata Abhian, sampai ia melihat lelaki gondrong itu mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya. Mata Abhian membulat ketika mengetahui benda itu adalah pisau lipat. Abhian mulai berlari menuju mereka, sebelum lelaki itu melukai Naya.


Tangan lelaki itu di tahan Abhian tepat sebelum pisaunya menyentuh tubuh Naya. Abhian memutar paksa tangan itu dan menguncinya di belakang punggung membuat pisau dalam genggaman lelaki itu terlepas.


Merasa pisau itu tak kunjung menyentuhnya, Naya membuka matanya. Ia mendapati seseorang yang tengah membelakanginya.


Lelaki gondrong itu mengerang kesakitan, “Siapa lagi bocah ini, lepasin tangan gue!".


“Balikin dulu, ponselnya,” suruh Abhian.


Lelaki bertato yang tadi hanya duduk di atas motor, kini turun hendak membantu temannya. Ia berniat menyerang Abhian dengan sebuah pukulan, namun dengan gesit di hindari Abhian.


Naya kaget ketika melihat wajah Abhian yang tidak asing di baginya. Ia ingat sekali lelaki yang membantunya ini merupakan kakak kelas yang tadi pagi berpapasan dengannya di koridor sekolah.


“Mau berlagak jadi pahlawan rupanya bocah ini,” ujar lelaki itu.


Lelaki gondrong yang tangannya sedang di kunci Abhian menyikut perut Abhian dengan kuat membuat Abhian termundur dan lelaki itu lepas darinya.


Satu tendangan Abhian pada perut ia berikan kepada lelaki gondrong itu berhasil membuatnya terperosok ke tanah. Abhian beralih pada lelaki satunya, lalu melayangkan tinju berulang kali padanya.


Naya mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, mencari adakah benda yang dapat ia gunakan untuk melawan kedua preman itu untuk membantu Abhian. Namun hasilnya nihil, gadis itu memutar otak untuk mencari cara lain.


Lelaki gondrong hendak kembali menyerang Abhian dari belakang, Naya yang melihat pergerakannya sontak menendang bagian bawah milik lelaki itu dan membuatnya terjatuh kembali sambil mengerang kesakitan. Abhian yang melihat itu mengacung dua jempol dengan tatapan seolah berkata 'kerja bagus' pada Naya.


Abhian mengambil kembali ponsel Naya yang disimpan di saku preman itu, setelah itu ia menarik tangan Naya untuk segera pergi dari sana sebelum kedua preman ini kembali menyerang mereka. Mereka berdua lari, meninggalkan dua preman yang sedang terbaring menahan sakit di sana.


...****************...


Naya menormalkan kembali napasnya yang ngos-ngosan karena berlari, netranya menangkap tangan Abhian yang sedang menggenggam tangannya erat. Sadar dengan arah pandangan Naya, Abhian reflek melepas tangan gadis itu.


"Ini, punya lo," Abhian menyerahkan ponsel yang tadi ia ambil pada Naya.

__ADS_1


"Makasih ya kak, maaf karena nolongin gue lo jadi kena pukul sama mereka," ucap Naya, merasa tidak enak hati.


"It's ok, lain kali jangan jalan sendirian tengah malam begini," balasnya.


Abhian beralih melihat rumah di depannya, ia pernah berdiri di depan rumah ini dua tahun yang lalu. Rumah Naya masih terlihat sama, bahkan warna catnya masih sama.


"Rumah lo di sini?" tanya Abhian, basa-basi padahal ia sudah tahu gadis itu tinggal di sini.


Naya mengangguk, "Iya."


"Yaudah masuk sana, gue mau balik," pamit Abhian.


"Lo baliknya gimana? Jalan kaki juga?"


"Naik motor, tadi motornya gue tinggal," jawab Abhian.


"Kalo mereka ketemu lo lagi gimana?"


"Aman kok, lo liat sendiri tadi gue ngalahin mereka berdua," ujarnya dengan percaya diri, Naya sampai terkekeh di buatnya.


Abhian hendak beranjak namun lengannya di tahan oleh Naya. Lelaki itu menatap Naya seolah berkata 'ada apa?'


"Kita belum kenalan," ujar gadis itu, ia menjulurkan tangannya di depan Abhian. "Tanaya, panggil aja Naya," lanjutnya memperkenalkan diri.


Abhian menatap uluran tangan Naya di depannya dengan ragu, bolehkah dia menerima uluran tangan ini mengingat bagaimana perbuatannya pada saudara gadis itu.


"Pegel loh kayak gini," keluh Naya, karena uluran tangannya tak kunjung di terima Abhian.


Uluran tangan itu di raih oleh Abhian, "Abhian, Abhian Maheswara," balasnya.


Senyum seketika terbit di bibir mungil Naya, Abhian menatap gadis itu lalu beralih menatap tautan tangan mereka.

__ADS_1


Entah apa yang sedang direncakan semesta perihal pertemuan kita, mari anggap ini sebagai kesempatan kedua untuk aku memenuhi janji itu. ---- Abhian Maheswara.


__ADS_2