ABHINAYA

ABHINAYA
32. Hari Ulang Tahun


__ADS_3

Seseorang dengan langkah besar memasuki basecamp Tiger dengan kedua tangan yang terkepal. Orang itu menggunakan masker dan topi yang menutupi wajahnya, membuat beberapa anggota Tiger yang ada disana dibuat menerka-nerka siapa sosok tersebut.


Orang itu menghampiri Theo yang sedang asik minum-minum di tengah ruangan bersama beberapa anggotanya. Kandungan alkohol dalam minuman tersebut kini membuatnya setengah sadar.


Ia melirik sekilas ke arah Gerry, lalu kembali memusatkan atensi pada Theo. Di tariknya kerah baju Theo, membuat leader Tiger itu terpaksa berdiri. "Kenapa lo beri tahu rahasia kita sama Laura? Lo lupa perjanjian kita yang belum selesai?!" bentaknya.


Theo yang sedang setengah sadar pasrah saja di tarik seperti itu. Namun anggota Tiger yang tidak terima ketua mereka diperlakukan seperti itu hendak menyerang lelaki bermasker itu, namun di tahan oleh kode dari Theo.


Theo melepaskan cengkraman kuat orang itu dari kerahnya, lalu berjalan dengan sempoyongan membawa orang itu masuk ke salah satu kamar yang tersedia di basecamp mereka. Disana sedang ramai anggota Tiger, sedangkan perjanjian mereka adalah hal yang sangat rahasia.


"Sorry, bro. Gue gak bisa nolak apapun yang di minta Laura, lo kan tau gue udah suka dia udah lama bahkan sebelum dia jadian sama Abhian."


"Persetan dengan kebucinan Lo itu, sekarang apa rencana lo? Laura udah ngancam gue buat misahin Abhian dengan adik kelas yang dekat dengannya, gue harus fokus itu dulu," ujar orang itu.


"Adik kelas? Jadi sekarang Abhian punya cewek baru?" Theo mendongakkan kepala menatap lawan bicaranya.


Dia memang tahu Laura dan musuhnya Abhian sudah lama putus, namun tidak tahu alasan mereka putus. Theo mengira mungkin karena Abhian terpukul dengan kecelakaan yang dia dan orang itu rencanakan. Ya, Theo terlibat dalam rencana kecelakaan itu. Tapi dia tidak bergerak sendiri, orang yang berdiri di depannya saat ini-lah yang mengusulkan rencana itu.


Orang itu mengangguk sebagai jawaban, membuat Theo mengumpat. "Dia mutusin Laura gue gitu aja, trus sekarang punya cewek baru? Sialan memang!"


"Sekarang rencana lo gimana? Udah setahun lebih sejak rencana kecelakaan itu gagal, kita belum bergerak lagi!" Orang itu melepas maskernya dengan kasar, karena tidak ada siapapun di dalam ruangan itu selain mereka berdua ia rasa aman saja membuka maskernya.


Theo tidak segera merespon, ia berpikir sejenak.


Kecelakaan satu tahun yang lalu merupakan ulah mereka, dan Abhian yang menjadi target. Awalnya, tjuan rencana itu hanya membuat Abhian terlihat kecelakaan tunggal, yang dapat membuatnya trauma dan berhenti dari geng motor yang dipimpinnya. Namun karena ada pengendara lain yang melintas, membuat rencana awal mereka berantakan. Harusnya Abhian yang terluka parah, namun malah orang itu yang parah hingga meninggal dunia.


Abhian memang sempat ingin berhenti bergabung di geng motor, namun itu tidak lama, sebab lelaki itu kembali bergabung. Jelas saja rencana mereka gagal total.


"Seberapa penting cewek itu buat Abhian?" tanya Theo tiba-tiba. Meskipun tengah mabuk saat ini, otaknya dengan mudah menemukan sebuah ide.


"Gue gak yakin tapi mungkin sangat penting, cewek itu adik dari orang yang dia tabrak. Dan dia bilang ke kita-kita, kalau dia janji sama kakaknya buat jaga cewek itu untuk menebus rasa bersalahnya."


Senyum miring terbit di wajah Theo mendengar itu, sangat dramatis pikirnya. "Ayo gunakan cewek itu buat balas dendam sama Abhian, sekalian lo lakuin perintah Laura buat ngejauhin dia dari Abhian," usulnya.


"Caranya?"


Theo bergerak mendekat, ia mendekatkan bibirnya ke telinga orang itu hendak membisikkan rencananya.


"Gila lo? Kalau caranya kayak gitu dia bisa tahu siapa gue!" protesnya tidak terima.

__ADS_1


Theo menjitak kepala orang itu. "Lo bodoh? Lo kan bisa pakai masker sama topi buat nutupin muka lo!"


"Tapi dia bisa bisa kenal suara gue!"


"Yaudah kalo gitu lo gak usah bicara, cukup mantau gue sama anggota gue buat balesin dendam lo ke dia."


Orang itu mengusap wajahnya kasar, mau tidak mau ia harus ikut rencana Theo karena ia tidak punya rencana lain.


"Oke, gue setuju."


...****************...


Ini hari sabtu, namun karena ada kerjaan yang belum selesai, Juan harus menggunakan hari weekendnya untuk bekerja. Dengan setelan yang rapi, ia berjalan menuju meja makan mengisi amunisi untuk perutnya sebelum berangkat kerja. 


Di meja makan itu hanya ada dia sendiri. Jika kalian bertanya di mana Ratna, istri mudanya itu jika weekend akan bangun lebih siang, Abhian pun sama, mungkin putranya itu masih terlelap.


Juan melihat ada kue ulang tahun dengan krim coklat polos yang menyelimuti, tanpa tulisan diatasnya. Ia menoleh pada bude Sri yang sedang sibuk menyeduhkan kopi untuknya.



"Ada yang ulang tahun, bude?" tanyanya pada asisten rumah tangga itu.


Mendengar pertanyaan itu, membuat bude Sri merasakan nyeri di hatinya. Jika Abhian yang mendengar itu, pasti anak itu lebih sakit daripada dia. Bagaimana bisa seorang Ayah melupakan hari ulang tahun putranya? Ah, tapi lupa hal manusiawi bukan?


Kepala Juan mengangguk, mendengar jawaban itu. Ia memang tidak sadar hari ini ulang tahun Abhian, mungkin karena terlalu sibuk dengan kerjaan.


Bude Sri meletakkan kopi yang ia buat untuk Juan di samping piring makan lelaki itu. "Apa bapak tidak mau merayakan ulang tahun Bian? Dirayakan malam ini dengan kecil-kecilan saya rasa juga tidak masalah pak," usulnya.


Pria itu mendengar usulan bude Sri seraya menyesap kopi hitamnya. "Tidak bisa bude, kayaknya saya akan lembur malam ini. Ada banyak kerjaan yang menumpuk di kantor," balas Juan.


"Pulang sebentar saja tidak bisa pak? Kasian Bian, sudah lama ulang tahunnya tidak dirayakan." Bude Sri masih berusaha membujuk Juan.


Juan menggeleng. "Tidak bisa, lagipula Abhian sudah besar. Tidak perlu perayaan ulang tahun, kalau gitu saya pamit mau ke kantor," putusnya, lalu beranjak meninggalkan bude Sri yang terdiam di samping meja makan.


"Kalau saja Bu Dewi masih tinggal disini, ulang tahun Bian pasti dia rayakan," gumam bude Sri.


Disisi lain, tangan Abhian tergerak menggenggam kuat pegangan tangga. Hari ini ia tidak bangun siang seperti biasanya saat weekend, sebab ada janji bersama teman-temannya dan Naya.  Saat hendak turun sarapan, ia tidak sengaja mendengar perbincangan bude Sri dengan Papanya.


Abhian juga tidak butuh dan berharap di buatkan perayaan, hanya saja, pernyataan Juan tadi tetap saja menggores sedikit kekecewaan di hatinya.

__ADS_1


...****************...


Abhian masuk ke dam basecamp dengan kedua tangan yang penuh dengan makanan dan minuman yang sengaja dibelinya. Di tangan kanannya ada empat kotak pizza, sedangkan di tangan kirinya ada minuman kopi dan non kopi, sisanya masih di dalam mobil.


Hari ini ia sengaja tidak mengendarai motor, karena untuk membawa banyak makanan mobil lebih berguna. Mobil itu punya Juan yang baru saja dibeli papanya itu 3 bulan yang lalu. Mumpung pemiliknya sedang tidak ada di rumah, Abhian pakai saja.


"Ada apa nih? Nyuruh kita kumpul pagi-pagi dengan makanan sebanyak ini?" tanya Sandi, terkejut melihat banyak kotak pizza di depannya.


Edgar menggeplak belakang kepala Sandi, kesal dengan sahabatnya satu itu yang lupa atau pura-pura lupa. "Hari ini ulang tahu Abhian, goblok! Masa ulang tahun teman sendiri lo lupa?!"


"Ya sorry, ulang tahun sendiri aja gus lupa," rengeknya, mengelus belakang kepala yang nyeri karena ulah Edgar.


Novan, Abhian, dan anggota lainnya geleng-geleng kepala melihat tingkah Sandi.


"Silakan makan guys, karena hari ini gue ultah gue traktir ini semua buat kalian." Abhian mempersilahkan semua anggota Savage untuk menyantap pizza yang dibelinya.


Semua anggota Savage hadir di basecamp, kecuali Raul. Namun Abhian sudah mengirim satu kotak pizza untuk Raul. Dia masih dianggap penghianat dan blacklist dari daftar anggota Savage karena masalah pertemuan dengan Gerry. Raul bukannya tidak mau buka suara, namun Abhian yang menahannya. Ia menyarankan Raul untuk tetap diam sampai ia menemukan pelaku sebenarnya. Sayangnya, sampai sekarang belum ada kemajuan atas sesuatu yang ia sedang selidiki.


"Makasih ya, br---," Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Novan tersedak saat sedang mengunyah pizza.


Abhian dengan sigap mencarikan minuman untuk Novan. "Lo mau minumnya yang kopi atau non kopi?" tanya Abhian.


"Ja--ngan ko--pi," jawab Novan susah payah. Abhian pun langsung menyerahkan minuman rasa taro padanya.


Sandi yang melihat itu jadi ingin bertanya. "Lo gak suka kopi, Van?"


Novan mengangguk. "Gue nggak terlalu suka minuman perkopian," jawabnya.


"Gak seru lo, kalo ngantuk nggak bisa nyegerin mata pake kopi," balas Sandi.


"Nggak masalah, justru bagus dong gue terjauh dari gangguan tidur atau insomnia. Jam tidur gue jadi cukup," Novan terkekeh di akhir kalimatnya.


"Bener juga."


Abhian beranjak dari duduknya. "Lanjutin aja makannya, gue pamit ya, ada janji temu lagi soalnya," pamitnya.


"Mau ketemu siapa, Bi?" Itu suara Sandi, top 3 manusia yang sangat kepo dengan urusan orang lain.


"Ketemu cewek gue." Setelah mengucapkan itu, Abhian melenggang pergi meninggalkan basecamp yang kini gaduh karena menyorakinya. Mereka semua mengerti siapa yang di maksud Abhian. Tentu saja, Naya.

__ADS_1


...****************...


❗Picture by pinterest❗


__ADS_2