
Kaki jenjang milik Naya mengayun menuju ruang kelas barunya yang letaknya paling pojok, ia membuka pintu kelas bertuliskan 10 IPA 3 itu. Mungkin karena masih sangat pagi, belum ada satupun manusia yang ia temukan di dalam sana.
Gadis itu memilih bangku pojok deretan kedua dari depan, duduk di sana membuatnya leluasa melihat pemandangan ke luar lapangan utama karena bersebelahan langsung dengan jendela.
Karena waktu mata pelajaran pertama masih lumayan lama, gadis itu memutuskan untuk tidur sebentar. Tragedi nyaris di begal semalam membuatnya tidak bisa tidur, alhasil rasa kantuk itu baru datang pagi ini. Tangannya ia lipat ke atas meja, lalu wajahnya ia tenggelamkan di balik lipatan itu. Kelihatanya tidak nyaman tidur dengan posisi seperti itu, namun belum semenit berlalu, gadis itu sudah tertidur lelap.
Satu-persatu penghuni kelasnya mulai berdatangan, termasuk Zulfa yang melihat kehadiran Naya dengan mata berbinar. Mereka berada di kelas yang sama lagi.
Zulfa duduk di bangku yang berada di sebelah Naya, ia hanya duduk tenang tanpa berniat membangunkan Naya.
Tiga tahun berteman dengan gadis itu membuat Zulfa hafal bagaimana kehidupan Naya. Kadang ia merasa sedih melihat sahabatnya ini menjalani hidup yang sangat padat tanpa memberikan waktu untuk dirinya sendiri. Sekolah diiringi dengan bekerja merupakan hal yang melelahkan, bahkan Naya sampai tidak punya cukup waktu untuk tidur. Hebatnya gadis itu minim mengeluh, ia selalu terlihat ceria, dan nilainya selalu bagus, hal itu lah yang Zulfa kagumi dari sosok Tanaya Anindita.
Bel pertama menggema di sudut sekolah, pertanda waktu mata pelajaran pertama akan segera di mulai. Zulfa menggoyangkan tubuh Naya pelan, berusaha membangunkan gadis itu.
Gadis itu mengucek matanya, “Loh, kita sekelas, Fa?” tanyanya dengan suara serak khas orang baru bangun tidur, ia kaget melihat kehadiran Zulfa di kelasnya.
“Iya dong, kenapa? lo bosen sekelas sama gue?"
“Kalo boleh jujur sih iya, gumoh gue sekelas sama lo tiga tahun,” canda Naya, membuat gadis di sebelahnya memanyunkan bibirnya, kesal.
“Nyebelin, lo” balas Zulfa.
“Permisi,” sapa seseorang membuat kedua gadis itu kompak menoleh ke sumber suara. “Gue duduk di sini boleh?” tanyanya, menunjuk kursi kosong yang terletak di depan Naya.
“Silahkan, belum ada yang nempatin kayaknya,” sambut Naya.
Gadis berkacamata itu tersenyum, lalu duduk di sana. Ia memutar badannya, menghadap Naya dan Zulfa yang duduk di bangku belakangnya. “Gue Rara, salam kenal,” ujarnya, memperkenalkan diri.
__ADS_1
“Gue Zulfa, dia Naya, salam kenal juga,” balas Zulfa.
“Gue boleh gabung sama kalian gak? Gue beli kenal siapapun di kelas ini,” tuturnya, malu-malu.
“Boleh banget, jangan sungkan sama kita,” balas Naya, memperbolehkan. Lebih banyak personil lebih seru bukan?
Mereka bertiga berbincang banyak hal, Rara yang baru saja bergabung tidak merasa canggung sebab dua gadis itu menyambutnya dengan ramah. Obrolan mereka harus terjeda karena guru mata pelajaran pertama sudah tiba dikelas. Seisi kelas menyimak materi dengan tenang di hari pertama mereka resmi menjadi siswa-siswi SMA Nusantara.
...****************...
Lima lelaki berparas tampan baru saja memasuki area kantin. Di dalam sana banyak tatapan memuja kaum hawa yang dilayangkan kepada mereka, terutama para siswi kelas sepuluh yang baru pertama kali melihat wujud mereka. Mereka adalah Abhian, Edgar, Novan, Raul, sandi, mereka menempati salah satu meja kosong di tengah kantin.
“Dekel banyak yang cantik-cantik euy,” celetuk Raul, yang sejak masuk kantin tidak berhenti tebar pesona.
“Kayak mau aja mereka sama lo, muka lo kan pas-pasan,” sarkas Sandi.
Mendengar itu membuat Raul menghujani Sandi dengan umpatan, “Asal lo tau, cewek itu gak selalu tertarik sama yang ganteng. Mereka biasanya menilai dari cara lo nge-treat dia dengan baik atau nggak, cukup dengan dia seorang atau nggak, ganteng itu nomer tiga,” tuturnya.
Dua perempuan datang menghampiri meja mereka, lalu tanpa permisi ikut bergabung. Salah satu dari mereka ingin duduk di sebelah Abhian, ia bahkan menyuruh Novan yang sedang duduk di sebelah lelaki itu untuk pindah. Sedangkan temannya memilih duduk di sebelah Edgar.
“Kok gak ngabarin gue kalo lo udah masuk sekolah lagi?” tanya gadis itu, ia menatap Abhian dengan manja.
“Untuk hal apa gue kasih tau lo?” tukas Abhian, kesal.
Gadis itu merasa sedikit kecewa dengan respon Abhian, “Gue kan pacar, lo. Wajar dong kalo pengen tau.”
“Mantan, Ra, Lo sama gue udah selesai.” Abhian menekan tiap katanya.
__ADS_1
Mereka semua yang satu meja dengan Abhian dan cewek bernama Laura itu meringis mendengar pernyataan Abhian. Mereka merasa kasian pada Laura yang terus menerima penolakan dari sang mantan.
Laura Maharani, gadis berparas cantik itu merupakan seorang selebgram yang memiliki banyak penggemar. Sifatnya yang sangat friendly membuatnya dengan mudah bergaul dengan orang lain. Ia tumbuh di keluarga yang serba kecukupan. Bisa di bilang gadis itu wujud dari definisi sempurna.
Ia dulunya sangat menyukai Abhian, mungkin rasa itu masih bertahan sampai sekarang. Saat kelas sepuluh ia dan Abhian sempat menjalin hubungan, namun diputuskan secara sepihak oleh Abhian dengan alasan lelaki itu ingin fokus berobat setelah kecelakaan yang menimpannya. Laura selalu berusaha mengembalikan hubungannya dengan Abhian, namun lelaki itu seperti tidak tertarik lagi padanya.
Novan berdehem, mencoba mencairkan suasana, “Mending pesen makanan yuk guys, canggung gini bikin laper,” ajaknya yang disetujui oleh yang lain.
Di sisi lain, Naya, Zulfa, dan teman baru mereka, Rara, duduk tidak jauh dari meja Abhian dan kawan-kawan. Sama seperti yang lain, ketiganya juga menatap kagum melihat paras tampan lima laki-laki itu.
“Mereka siapa ya? Kayaknya terkenal soalnya langsung jadi sorotan seisi kantin,” tanya Zulfa.
Rara yang tadi sedang meminum jus jeruknya mengubah posisi duduknya, mecari posisi yang paling nyaman untuk memulai gosipnya, “Mereka memang udah jadi sorotan, sejak kelas sepuluh,” katanya, memulai pembicaraan.
“Tau dari mana, Ra?” kini Naya yang bertanya.
“Kakak gue alumni sini, mereka adik kelasnya waktu itu. Kakak gue banyak cerita ke gue karena dia salah satu penggemar mereka,” kalimatnya terjeda karena sedang menyeruput jus jeruk miliknya.
“Yang dari tadi tebar pesona itu nama Kak Raul, yang gue tau sih dia ceweknya banyak, playboy. Terus yang di kanan kak Raul namanya Kak Sandi, orangnya friendly dan sebelas dua belas dengan kak Raul, plus genit. Yang di kirinya kak Novan kalo gak salah, dia yang paling keren sih menurutku, gak banyak tingkah dan orangnya berprestasi. Dia atlet Taekwondo. Nah, yang ada lesung pipinya itu kak Edgar, katanya yang paling cuek diantara mereka, tapi ada juga yang bilang dia diam-diam perhatian. Yang terakhir, katanya yang paling ganteng tapi bagi aku gantengan kak Novan. Namanya kak Abhian, informasi tentang dia gak banyak yang kakaku beri tahu, soalnya waktu itu dia keluar negeri berobat jadi jarang masuk sekolah,” ujar Rara, menjelaskan kelima lelaki itu.
Zulfa bertepuk tangan mendengar penjelasan Rara. Jika di lihat dari penampilannya, gadis itu tampak seperti gadis pendiam yang selalu nyaman dengan dunianya sendiri. Nyatanya, gadis itu punya banyak informasi. Diam-diam menghanyutkan.
"Oh iya, waktu kakakku masih sekolah disini, katanya ada rumor kalau kelimanya ikut bergabung dengan geng motor di luar sekolah. Tapi sampai sekarang belum kejelasan rumor itu bener atau enggak," tambah Rara.
Naya beralih menatap Abhian, ia sudah tahu nama lelaki itu sebelum di jelaskan Rara. Namun rumor yang baru saja dia dengar, sedikit menganggu pikirannya. Bagaimana jika benar Abhian anak geng motor?
“Kalo cewek di sebelahnya? Siapa?” tanya Naya menujuk cewek yang duduk bersampingan dengan Abhian.
__ADS_1
“Kalo gak salah, dia mantan kak Abhian, namanya Laura. Katanya sih bakal balikan soalnya kak Laura masih ada rasa,” jawab Rara, membuat Naya menganggukan kepala mengerti.
Wajar sih, orang keren kayak kamu gak mungkin gak ada yang naksir. ----Batin Naya.