
Kaki jenjang milik Naya menaiki satu persatu anak tangga yang membawanya menuju rooftop, semalam ia menghubungi Abhian untuk menagih jawaban lelaki itu. Abhian meminta untuk bertemu di rooftop saja, ketika jam istirahat.
Naya mendekati Abhian yang sedang berdiri sambil memandang ke bawah, lapangan utama itu sedang ramai dengan siswa yang menghabiskan jam istirahat mereka dengan bermain futsal. Di kedua telinga Abhian ada earphone yang menyumbat, mungkin dengan volume yang besar karena nadanya masih dapat terdengar oleh telinga Naya.
Merasa seseorang berdiri di sampingnya, Abhian melepas sebelah earphonenya.
Gadis di sampingnya ikut melihat ke bawah sana. "Jadi gimana? Mau nggak bantu gue?" tanya Naya, ia beralih menatap Abhian penuh harap.
Abhian tak segera merespon, ia menarik napas panjang lalu menghembuskannya. Asal kalian tau, tiap kali bertemu atau bahkan hanya melihat Naya, tubuh Abhian mendadak gugup. Bukan gugup karena perasaan suka, melainkan karena rasa bersalah.
Ia memutar badannya kini menghadap Naya. "Oke, gue bakal bantu, tapi sekedar bantu sebisa gue aja," tuturnya dengan kedua tangan yang sudah mengepal.
Ya, lagi-lagi Abhian memilih menjadi pengecut. Bersembunyi dari rasa bersalah yang terus ia elu-elukan.
"Kalo pun gue tau siapa orangnya, sorry gue gak bisa beru tahu lo secara langsung siapa dia. Bagaimana pun itu privasinya, " Abhian menatap gadis yang tinggi badannya berbeda beberapa senti dibawahnya. "Gue bantu dengan informasi, sisanya lo sendiri yang nebak siapa orangnya," lanjutnya.
Gadis itu berfikir sejenak, setelahnya mengangguk setuju. Naya rasa tidak enak jika terlalu memaksa Abhian untuk membantu nya. "Oke, kalo gitu, boleh beri tahu gue informasi tentang Savage? Geng motor seperti apa mereka?"
"Savage bukan sembarang geng motor seperti yang lo pikirkan, mereka sangat tertutup soal informasi internal. Bahkan sekolah gak boleh sampai tahu soal informasi kita," jelasnya.
Bukan geng motor sembarangan katanya? Naya tertawa dalam hati mendengar itu. Baginya semua geng motor sama saja, selalu ingin dibilang sok jago dan mengganggu.
"Kenapa gak boleh?" tanya Naya.
"Ya kalo sekolah tau kita pasti di undang ke BK, sama kayak soal tawuran kemaren. Dan juga setiap geng motor pasti punya rival. Makanya mereka sangat menjaga privasi supaya rivalnya gak pakai kelemahan yang mereka punya untuk alat menyerang."
"Trus apa hubungannya dengan kecelakaan Kakak gue? Itu kecerobohan anggota mereka bukan kelemahan kan?"
Memang bukan kelemahan, tapi bukan juga kecerobohan gue, Naya. Gue bakal cari tahu kebenaran dibalik kecelakaan itu, baru gue bisa beri tahu lo jawabannya.--- jawab Abhian dalam hati.
"Soal itu gue juga belum tau, mungkin ada alasan lain." Abhian mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Soal orang yang nabrak kakak gue, lo beneran tau siapa dia?" Pertanyaan Naya itu mendapat respon anggukan kepala dari Abhian. Tentu saja tau, pecundang itu sedang berdiri di depanmu, Naya!
"Seperti apa dia? Bagaimana kehidupannya?"
Abhian mengadah, menatap langit biru siang ini yang lenggang dari awan. Lelaki itu tengah berpikir bagaimana ia mendeskripsikan dirinya sendiri pada Naya.
"Sepertinya dia sangat berpengaruh, dia punya posisi penting dalam struktur geng motor kami. Mungkin itu sebabnya, kecelakaannya yang melibatkan kakak lo di selesaikan dalam diam." Abhian menarik napas sejenak, sebelum melanjutkan kalimatnya. "Kalau soal kehidupannya? Gue nggak terlalu tau," tambah Abhian, kalimat terakhir itu berasal dari hatinya. Dia juga tidak tahu hidup seperti apa yang sedang dijalaninya saat ini.
Naya benar-benar tidak habis pikir mendengar informasi dari Abhian, memangnya kenapa kalo orang itu posisinya penting? Sepenting apapun dia harusnya tetap tanggung jawab atas kesalahannya, kan?
__ADS_1
"Itu aja indo dari gue hari ini," imbuh Abhian, ingin menyudahi pembahasan mereka.
"Oh Yaudah, makasih kak, makasih infonya. Malam ini lo ada kesibukan gak?" tanya Naya, Abhian hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Kalo gak ada mampir ke cafe tempat gue kerja ya, gue traktir kopi karena lo udah mau bantu," lanjut gadis itu.
"Gak perlu, gue bantu lo juga karena lo paksa," sindir Abhian.
Naya mencebikkan bibirnya, lelaki itu bisa menyindir juga ternyata. "Ya makanya karena gue gak enak udah maksa lo, gue pengen traktir lo kopi," katanya.
"Lo selalu kayak gitu ya?" tanya Abhian tiba-tiba.
"Gimana?"
"Suka merasa gak enak sama orang lain, padahal orang lain belum tentu merasakan hal yang sama ke lo."
Naya mengangkat kepalanya, menatap Abhian. Dia seperti itu karena nasihat yang selalu di berikan Kakaknya, bahwa setiap bantuan itu berharga. Kecil ataupun besar, banyak ataupun sedikit, patut untuk dihargai dan jika mampu bisa diberi balasan. Seperti itulah etikanya.
"Gue cuma pengen menghargai apa yang udah gue dapetin dari orang lain, dengan cara balas perbuatan mereka. Kalo mereka gak melakukan hal yang sama ke gue, ya, gapapa."
Pernyataan Naya membuat rasa bersalah Abhian pada gadis itu makin bertambah.
Bel pertanda istirahat telah selesai, berbunyi, Naya pamit untuk turun lebih dulu karena setelah ini ia ada kuis mata pelajaran sejarah.
...****************...
Abhian menghentikan motornya di depan cafe tempat Naya bekerja, tentu untuk menerima niat baik gadis itu yang katanya ingin mentraktirnya malam ini.
Ia memasuki cafe bergaya vintage itu, di dalam sana ada lumayan banyak pelanggan yang datang. Abhian mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Naya. Ternyata gadis itu sedang melayani kostumer yang ingin memesan.
Abhian berdiri di belakang seorang kostumer perempuan, ia dengan tertib mengantri untuk gilirannya memesan.
"Mau pesan apa, kak?" Naya beralih melayani kostumer selanjutnya, matanya berbinar saat melihat Abhian-lah yang berdiri di depannya. Gadis itu berteriak dalam hati, ia pikir Abhian tidak akan datang, tapi lihatlah lelaki itu disini sekarang.
"Menurut lo yang enak yang mana?" tanya Abhian, bingung harus memesan apa.
"Kopi atau non kopi?"
"Kopi," jawab Abhian cepat.
"Hot Macchiato, gimana?" usul Naya, dibalas anggukan kepala oleh Abhian. Kalo gadis itu yang rekomendasi sudah pasti enak.
__ADS_1
"Long Macchiato atau Short Macchiato?" tanya Naya lagi.
"Yang short aja."
"Oke, silahkan duduk dulu kak."
Setelah dipersilahkan duduk oleh Naya, Abhian mencari kursi yang masih kosong di dalam cafe itu. Pilihannya jatuh pada kursi yang terletak disudut dekat dengan jendela.
Tidak lama menunggu, Naya tiba membawa kopi pesanan Abhian. Gadis itu juga meletakkan red velvet cake di atas meja Abhan. "Bonus cake dari gue, silahkan dinikmati," katanya.
Naya ingin beranjak dari situ, namun pertanyaan Abhian menahannya. "Lo selesai kerja jam berapa?"
"Jam setengah sebelas, kenapa memangnya?" balas Naya.
"Nanya doang, btw makasih traktirannya," ujar Abhian, mulai meminum Macchiato miliknya.
Mendengar itu membuat Naya mengulum senyum, padahal hanya sekedar ucapan terima kasih namun entah mengapa hatinya bersorak senang.
Gadis itu kembali bekerja, membiarkan Abhian. Lelaki itu tidak lama duduk disana, setelah menghabiskan kopi dan cake-nya ia pamit pulang pada Naya.
Setelah closingan, Naya pamit pulang lebih dulu pada kak Agnes yang masih mengobrol dengan temannya di dalam cafe.
Diluar, netra Naya mendapati Abhian yang berada di sebrang cafe. Lelaki itu duduk di atas motornya, hendak menyalakan rokok yang sudah ia taruh di mulutnya.
Saat iris mereka bertabrakan, Abhian mengurungkan niatnya merokok. Rokok dan koreknya langsung ia masukkan kembali ke dalam saku. Lelaki itu melambaikan tangan pada Naya.
Naya menyebrangi jalanan yang sudah tidak terlalu ramai untuk menuju posisi Abhian. "Lo kenapa masih disini, kak?" tanya Naya, pikirnya Abhian sudah pulang dari tadi.
"Nunggu lo, mau anter pulang," jawabnya santai. Sedangkan Naya, mengerjapkan matanya tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan. Menunggunya? Jadi ia sudah menunggu Naya selama tiga jam disini hanya untuk mengantarnya pulang?
"Kenapa?"
"Gue gak enak udah di traktir, jadi sebagai balasannya gue antar pulang aja," jawab Abhian, meniru gaya bicara Naya yang selalu merasa tidak enak dalam hal apapun. Sedangkan Naya? Gadis itu hanya tertawa, sampai deretan gigi putihnya terlihat.
Sebenarnya ia menunggu untuk mengantar Naya pulang karena merasa khawatir jika gadis itu pulang sendirian lagi. Sebab tidak menutup kemungkinan, preman-preman hari itu datang lagi menganggu Naya. Lagipula ia sudah berjanji akan melindungi gadis itu, dia mungkin sedang bersembunyi seperti pengecut, namun akan berusaha bertanggung jawab pada janji yang di buatnya.
Abhian naik ke atas motor, lalu memakai helm fullface miliknya. Ia menurunkan footstep motornya yang akan digunakan Naya sebagai pijakan.
"Gue gak bawa helm dua, rumah lo deket jadi gak papa kan gak pake helm?"
"Iya," respon Naya.
__ADS_1
"Ayo, naik," suruh Abhian. Naya pun naik ke atas motor lelaki itu menggunakan bahu Abhian sebagai tumpuannya. Setelahnya, motor Abhian mulai melaju menuju kediaman Naya.
Saking asiknya mengobrol, Abhian dan Naya tidak sadar ada seseorang yang memotret mereka dari sebrang jalan. Orang itu tersenyum sinis memandang hasil jepretannya, ia tak sabar memberi tahu sahabatnya secara langsung di sekolah besok.