ABHINAYA

ABHINAYA
7. Berandal-berandal 'Savage'


__ADS_3

Edgar, Novan, dan Raul tiba di Basecamp Savage lebih dulu tanpa Abhian, karena lelaki itu sedang ada urusan katanya. Mereka memasuki ruangan yang sudah dipenuhi anggota Savage yang lain.


"Ketua di mana?" tanya Bayu, salah satu anggota Savage yang seangkatan dengan Abhian dan kawan-kawan.


"Lagi ada urusan sebentar katanya, kita di suruh nunggu dulu," jawab Edgar.


"Bagus deh kalo ketua kembali, gue udah muak liat Savage yang kemaren-kemaren di pimpin orang gak berguna," sindir Bayu, ia menatap remeh ke arah Novan yang sedang menyalakan rokoknya di pojok ruangan.


Novan dulunya salah satu kandidat yang akan menjadi ketua, namun yang memilihnya kalah banyak daripada personel yang memilih Abhian, akhirnya Abhian menjadi ketua dan dia sebagai wakilnya.


Selama di bawah pimpinan Novan, anggota Savage seolah terbelah menjadi dua kubu. Kubu satu merupakan kubu yang tak masalah jika Novan yang menggantikan Abhian untuk sementara, sedangkan kubu kedua merupakan kubu yang tidak setuju dan ingin membiarkan posisi Abhian kosong hingga lelaki itu kembali. Dan, Bayu, berada di kubu kedua.


Mengapa mereka ada yang tidak setuju? Sebab selama Novan memimpin, lelaki itu tidak menyetujui diadakannya balap taruhan dan night ride dengan dalih khawatir kecelakaan yang menimpa ketua mereka terulang kembali. Padahal keduanya merupakan agenda Savage yang biasanya dilakukan setiap minggu sebagai hiburan.


Novan juga membiarkan basecamp mereka dimasuki oleh orang-orang yang tidak menjadi bagian di keanggotaan Savage, seperti pacar anggota lain, misalnya. Padahal basecamp ini sudah seperti rumah bagi anggotanya, tentunya punya privasi yang tak ingin di lihat orang dari luar mereka.


Sindiran itu tepat sasaran, Novan kini membalas tatapan Bayu. Lelaki itu tersenyum miring, "Kalo gue gak berguna, lo apa? Parasit yang numpang nama di Savage?" balas Novan.


Raul yang melihat Novan ingin beranjak dari duduknya menahan lengan lelaki itu, "Udah Van, gak usah di ladenin," ujarnya.


"Untung aja gak kepilih Lo jadi ketua waktu itu, kalo kepilih aduh gak deh gue disini lagi. Udah miskin belagu, udah lo bantuin aja nenek lo jualan sana gak usah sok mau ngatur-ngatur kita di sini!" cibir Bayu.


Mendengar neneknya yang di sebut Bayu, hilang sudah kesabaran Novan, lelaki itu sangat sensitif jika menyangkut keluarganya. Dengan langkah cepat ia menghampiri Bayu, kemudian sebuah kepalan tangan dengan kuat menghantam wajah Bayu. Karena terlalu tiba-tiba, Bayu sampai terhuyung di buat Novan. Tidak terima, Bayu bangkit dan membalas pukulan Novan.


Terjadilah aksi baku hantam di antara mereka berdua. Edgar, Sandi, Raul dan anggota Savage lain yang mencoba meleraikan juga terkena imbas pukulan mereka. Raul memilih menelepon Abhian, agar segera ke basecamp.


Tidak butuh waktu lama, Abhian akhirnya tiba di sana, lelaki itu masuk basecamp dengan helm yang masih melekat di kepalanya. Helm itu lepas lalu ia lempar ke arah dua laki-laki yang sedang adu tinju di sana.


Bayu meringis ketika helm yang di lempar Abhian mengenai punggungnya, "Sialan! Siapa yang lempar helm ke gue, hah?!" teriaknya.


"Gue," sahut Abhian, tatapannya mengarah ke Bayu sedetik kemudian beralih pada Novan. "Lo berdua kenapa kayak gitu? tanyanya.

__ADS_1


Novan melepaskan kerah seragam Bayu yang sebelumnya ia cengkram dengan keras, "Anak ini duluan yang mancing emosi gue!"


Bayu terkekeh, "Padahal gue cuma mengeluarkan pendapat gue, faktanya memang lo gak ada gunanya selama menggantikan Abhi, kok lo jadi sewot? Kan memang lo yang ngelarang semua kegiatan kita dengan alasan khawatir? Lo beneran khawatir atau memang pengecut? kalo takut gak bisa bertanggung jawab dengan apa yang terjadi sama anggota lo jangan sok mau gantiin Abhi!" tutur Bayu, mengeluarkan semua pendapatnya.


"Ya jangan bawa-bawa ekonomi sama keluarga, Bay. Ngasih pendapat boleh-boleh aja tapi jangan sampai keluar batas," sela Edgar, ia tidak bermaksud membela Novan hanya saja bicara Bayu sudah lewat batas di awal.


"Gue sih setuju sama Bayu, kita semua juga berduka atas kecelakaan yang di alami Abhi, tapi bukan berarti semua kegiatan kita di berhentikan. Lagipula Abhian sendiri gak masalah dengan itu," Kini Dicky ikut buka suara.


"Bener tuh, kerena kita gak ikut balap taruhan kemaren kita di cap penakut sama anak-anak Tiger," tambah Zidan.


Tiger merupakan geng motor pimpinan Theo yang menjadi rival Savage. Geng motor tersebut sering menjadi lawan Savage ketika balap taruhan. Dulu, Abhian sering berpartisipasi dalam balap taruhan itu dan sering menang melawan anggota Theo dan Theo sendiri. Uang hadiah hasil balap taruhan biasanya Abhian gunakan untuk mentraktir anggota-anggotanya.


Karena tak terima sering dikalahkan dan selalu merasa tersaingi, geng Tiger sering mengajak anak-anak Savage untuk tawuran. Untuk melihat siapa yang lebih jago, katanya. Namun kadang ajakan itu tak di hiraukan Abhian, bukan karena ia takut kalah. Namun tanpa di tunjukkan, Savage sudah pasti menang melawan mereka jika dilihat dari kekompakannya yang erat. Dan jika mereka ikut tawuran itu, nama geng mereka semakin di cap buruk oleh masyarakat.


Orang-orang selalu menilai mereka sebagai sekelompok berandal yang suka mencari masalah, namun tidak pernah peduli perihal luka apa yang mengubah mereka menjadi berandal-berandal seperti itu.


Abhian memijat pelipisnya, ia tahu kondisi Savage sedang kacau tetapi tak menyangka sekacau ini. "Oke, niat gue ngumpulin kalian disini memang untuk membicarakan masalah itu dengan baik-baik buka dengan otot kayak gini."


...****************...


Karena sudah hampir waktunya cafe tutup, Naya dan Kak Bila yang sedang shift malam mulai bersiap-siap untuk closingan. Mereka membagi tugas agar lebih cepat selesai.


Naya menyapu lantai cafe yang sedikit berdebu, setelah itu ia pel agar keramiknya tampak lebih mengkilat. Sedangkan Kak Bila sedang merekap dan menghitung penjualan hari ini.


Setelah semuanya selesai, Bila memadamkan semua lampu yang ada di dalam ruangan membuat seisinya berubah menjadi gelap. Tak lupa pintunya ia cek kembali apakah sudah benar-benar terkunci sebelum mereka pulang.


"Lo pulangnya naik ojol juga, Nay?" tanya Bila.


Naya menggeleng, "Enggak kak, gue jalan kaki. Rumah gue kan gak terlalu jauh dari sini, sekalian olahraga," jawabnya.


"Udah hampir tengah malem emang berani? Takutnya ada orang jahat loh, Nay," ujar Bila, khawatir gadis perempuan itu pulang sendiri malam-malam begini, jalan kaki pula.

__ADS_1


"Gapapa, jalanannya terang kok banyak lampunya juga. Aman, kak Bila gak usah khawatir," tuturnya, mencoba menepis semua prasangka buruk Bila. "Kalo gitu aku duluan ya, kak," pamit Naya.


"Yaudah, hati-hati di jalan."


Rumah Naya terletak tidak terlalu jauh dari cafe tempatnya bekerja, dan setiap pulang shift malam gadis itu lebih sering berjalan kaki daripada naik ojol, agar lebih hemat katanya.


Kaki Naya terus melangkah, namun pandangan gadis berfokus pada ponsel di genggamannya. Jemari mungilnya dengan lihai mengetikkan balasan pesan dari Zulfa.


Siulan pengendara motor yang melintas di samping Naya membuat gadis itu menoleh ke sumber suara. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, dua orang laki-laki yang sedang berboncengan menatapnya genit. Si lelaki pengemudi memutar balikkan motor nya ke arah Naya.


Lelaki berambut gondrong yang duduk di boncengan turun dan menghampiri Naya, ia langsung menyambar ponsel dari tangan gadis itu.


"Eh?! Hp gue," Naya berusaha mengambil kembali ponselnya, namun tak di beri kesempatan oleh orang itu. Ponsel Naya kemudian ia serahkan pada temannya untuk di cek.


"Hp murah ini, kalo di jual lagi dapatnya dikit. Dompetnya Ja, sekalian," suruh laki-laki yang duduk di atas motor.


Lelaki yang di panggi 'Ja' itu tanpa permisi merampas tas Naya, untungnya dengan sigap di tahan oleh gadis itu.


"Lepas, gak?!" suruhnya pada Naya.


"Ini tas gue, lo yang harusnya lepasin," bantah Naya.


Kesal dengan Naya yang tak kunjung melepaskan tasnya, lelaki berambut gondrong itu mengeluarkan pisau lipat dari sakunya dan ia arahkan di wajah Naya.


"Lepas sekarang!" ucapnya, memperingati.


Melihat pisau di depannya, tak membuat nyali Naya menciut. Ia akan berusaha mempertahankan tasnya yang berisi sedikit uang tunai yang ia tabung.


"Keras kepala sekali anak ini," lelaki itu mulai mengayunkan pisaunya.


Melihat pisau yang menuju ke arahnya, Naya hanya bisa memejamkan matanya seraya merapalkan doa dalam hati agar pisau itu tak melukainya dengan parah.

__ADS_1


Siapapun, tolongin gue, please ....


__ADS_2