ABHINAYA

ABHINAYA
15. 'Dia' bagian dari mereka (2)


__ADS_3

"Oke, sekarang anggap aja kita impas. Lain kali, lo gak perlu merasa harus bantu gue jika ada di situasi seperti itu,” harap Abhian. Bukan karena tidak merasa berterimakasih atas bantuan Naya, hanya saja membantunya terlalu beresiko untuk gadis itu.


Seperti soal polisi itu, disana bukan hanya anggota Savage saja, namun ada anggota Tiger juga yang terlibat. Jika mereka tahu Naya orang yang mengirim polisi itu, gadis itu bisa menjadi incaran mereka kapan saja.


“Gue juga gak berniat bantu anak-anak geng motor itu kalo gak ada lo disana kak, asal lo tau aja kak, gue benci anak geng motor seperti mereka,” tutur Naya. Abhian orang pertama yang ia beritahu tentang itu.


Ia menatap lurus manik kecoklatan Abhian, “Lo bagian dari mereka juga?” tanya gadis itu, berhasil membuat Abhian membeku ditempatnya.


Abhian diam, menimbang perihal jawaban yang akan ia berikan atas pertanyaan Naya. Haruskah ia jujur atau berbohong padanya?


“Kenapa lo benci mereka?” bukannya menjawab, Abhian malah balik bertanya. Setidaknya ia harus tau alasan Naya membenci geng motor yang dipimpinnya, sebelum ceroboh memberikan jawabannya.


Naya memundurkan posisinya yang semual dekat dengan Abhian. “Mereka penyebab kakak gue meninggal,’ ungkap gadis itu. Mendegar itu hati Abhian seperti teriris rasanya, ia tahu akan kemanah arah ceritanya Naya. Lelaki itu berusaha menguatkan hati, mendengar Naya bercerita tentang kesalahan yang dibuatnya.


“Kakak gue meninggal karena tabrakan dengan salah satu dari mereka, dan lo tau apa yang buat gue sebenci itu sama mereka?” Naya menahan kalimatnya, gadis itu berusaha untuk tidak menangis didepan Abhian. “Permintaan maaf keluarga anak itu hanya diwakilkan pengacara mereka dengan alasan orang tuanya sedang ada urusan bisnis, seolah nyawa kakak gue bukan hal yang lebih penting dari bisnis mereka,”ungkap gadis itu.


“Mereka dengan tidak tahu diri meminta jalur berdamai supaya hukuman anak itu diringankan, bujukan mereka berhasil sampai akhirnya Mama gue setuju dengan itu tapi gue enggak,” lanjutnya.


Abhian terdiam, mencerna kalimat yang keluar dari bibir Naya. Selama ini Abhian mengira, hal itu diurus langsung oleh papanya dengan cara baik-baik sehingga perjanjian damai itu dapat mengurangi hukuman Abhian. Nyatanya, hanya hasil bujukan dari pengacaranya, Abhian kecewa mendengar fakta itu.


Naya melihat Abhian yang hanya diam mendengarkannya. “Sorry, gue jadi curhat kak.” Abhian hanya mengangguk untuk merespon.


“Pertanyaan gue belum lo jawab.” Tangan gadis itu merogoh kotak p3k, mencari plester untuk menutupi goresan di kening Abhian.


“Pertanyaan yang mana?”

__ADS_1


Naya mendekat kembali, ia menempelkan plester itu pada kening Abhian, lalu beralih menatap kakak kelasnya itu. “Lo bagian dari mereka juga?” Naya mengulang pertanyaannya, setelah melihat Abhian teman-temannya kemaren ia jadi yakin bahwa lelaki itu tau sesuatu tentang geng motor bernama Savage itu, atau mungkin ia bagian dari mereka.


“Iya, tapi gue sekedar anggota biasa disan,a” jawab Abhian, ia tidak bisa mengelak karena gadis itu melihatnya sendiri Abhian yang terlibat tawuran. Namun lelaki itu berbohong, ia bukan sekedar anggota biasa disana.


Naya merasa sedikit kecewa dengan jawaban Abhian, meskipun sudah menduga lelaki itu bagian mereka, Naya tetap berharap dugaannya salah sebab ia tak ingin membenci Abhian.


Melihat Naya yang tidak merespon jawabannya, Abhian kembali membuka suara. “Jadi, sekarang lo benci juga sama gue?" Lelaki itu bertanya dengan hati-hati.


“Enggak, asal lo mau bantu gue kak,” tawar Naya, ia akan mengecualikan Abhian asal lelaki itu membantunya.


Alis Abhian mengerut. “Bantuan apa?”


“Bantu gue cari tahu siapa orang yang nabrak kakak gue, boleh ya?” pinta Naya.


“Gue anggota disana Nay, berarti orang itu temen gue. Bocorin informasi ke lo sama aja kayak gue nusuk mereka dari belakang," tolak Abhian, sebenarnya itu hanya alasannya. Bagaimana ia bisa membantu gadis itu sementara orang yang sebenarnya dicari sudah di depan matanya.


Abhian tetap menolak. “Kalo gue ketahuan bantu lo, gue bisa di anggap penghianat, Naya.”


“Gue gak akan bocorin informasi dari lo ke siapa-siapa, kak, gue simpan untuk gue sendiri. Gue cuma pengen tahu siapa orangnya, itu aja kak gue janji." Naya menunjukkan jari kelingkingnya pada Abhian sebagai simbol berjanji.


Abhian tetap pada pendiriannya, menolak tawaran gadis itu. Namun Naya tidak menyerah begitu saja, gadis itu terus berusaha membujuk Abhian, agar kakak kelasnya itu mau membantu.


Karena kasian melihat Naya yang terus berusaha mengubah keputusannya tadi, runtuh sudah pendirian Abhian. “Oke, beri waktu gue berpikir untuk mempertimbangkan bantuan yang lo minta,” finalnya.


Senyum kini terbit di bibir mungil Naya, “Makasih kak.”

__ADS_1


Abhian menatap gadis itu dengan penuh rasa bersalah, harusnya ia tetap menolak permintaan gadis itu. Jika sudah seperti ini harus bagaimana dia? Pura-pura membantu gadis itu? Abhian mengutuk dirinya dalam hati, dia masih saja menjadi pengecut seperti satu tahun yang lalu.


...****...


“Laura!!!” teriak Silvi, sahabat Laura yang baru saja memasuki kelas dengan langkah terburu-buru.


Laura yang sedang mengoleskan liptint di bibirnya sampai terkejut di buatnya “Ada apa sih, Vi, kayak orang abis liat setan aja,” kesal gadis itu.


Silvi mengatur napasnya lebih dulu, sebelum memberi tahu Laura apa yang dilihatnya saat kembali dari kantin. “Gue liat Abhian,” katanya.


“Kenapa dia?” tanya Laura.


“Tadi gue liat dia di uks berdua, sama cewek kayaknya adek kelas,” ujar Silvi, berhasil menarik atensi Laura.


Gadis cantik itu kini merubah posisi duduknya menghadap sahabatnya itu. “Serius lo, kapan?”


Silvi pun menceritakan semua yang dilihatnya pada Laura. Saat pulang dari kantin gadis itu melewati ruang uks, melalui jendela netranya menangkap Abhian yang sedang diobati oleh cewek yang tak ia kenal. Silvi juga berniat menguping obrolan mereka, namun suara keduanya sangat kecil sehingga tak sampai ke telinga Silvi.


“Mungkin anak pmr kali, Vi. Trus Abhian minta tolong obati lukanya,” sanggah Laura, mencoba berpikir positif.


“Masa sih? Kalo Cuma sekedar minta tolong obati gak sampai ngobrol panjang lebar juga kali. Abhian juga natap cewek itu beda, gak kayak pas natap lo,” cetus Silvi, membuat Laura terdiam.


“Apa mungkin cewek itu alasan dibalik sikap Abhian yang cuek ke lo? Kayaknya dia gak mau balikan sama lo karena dia udah naksir cewek itu,” lanjut Silvi.


Gadis dengan rambut sebahu itu gemas karena Laura tak kunjung meresponnya. “Kok lo diem aja sih, Ra. Lo gak masalah Abhian move on dari lo? Sementara lo gak pernah bisa lupain dia?” kompor Silvi.

__ADS_1


Laura mengepalkan kedua tangannya diatas meja. “Gue udah nunggu Abhian tiga tahun, lo pikir gue bakal diem aja?” Lauran menatap Silvi.


“Abhian gak boleh move on, dia masih cowok gue, dan akan selalu begitu,” kata gadis itu


__ADS_2