ABHINAYA

ABHINAYA
14. 'Dia' bagian dari mereka (1)


__ADS_3

Saat ini Abhian dan Novan sedang berdiri di depan ruang BK, menunggu Raul, Sandi, dan Edgar yang tadi pagi di panggil Bu Fitri ke ruang BK karena kedapatan polisi saat tawuran kemaren sore. Sementara di dalam ruangan sana, Ketiga lelaki itu sedang diomeli habis-habisan oleh Bu Fitri.


"Kalian itu sudah kelas dua belas, aktif belajar sekitar 6 bulanan saja, sisanya ujian. Jadi mending waktunya dipakai untuk fokus belajar, jangan di buang untuk ikut tawuran seperti kemaren. Gak ada faedahnya nak, yang kalian dapat cuma lebam-lebam saja kan," tutur Bu Fitri, menatap satu persatu murid badung di hadapannya.


"Iya, Bu. Tapi bukan kami duluan yang mulai," imbuh Sandi.


"Betul, Bu, gak akan ada api kalo gak ada asap," tambah Raul.


"Kebalik, monyet!" timpal Edgar, mengoreksi ucapan Raul.


Bu Fitri memperbaiki posisi kacamatanya yang bertengger di hidung, kini ia beralih menatap Edgar. "Kamu Edgar, ibu tau nilai akademik mu bagus. Tapi nilai sikap juga berpengaruh nak, jika ketahuan guru-guru lain kamu terlibat tawuran mereka bisa kasih nilai jelek untuk sikapmu," ujarnya.


Mendengar itu membuat Edgar hanya menundukkan kepalanya, "Iya, Bu, maaf."


"Lain kali jangan di ulang ya, kalo ada laporan kalian terlibat tawuran lagi bisa-bisa kalian gak di luluskan dari sini. Untung saja kalian tidak dipenjarakan sama polisi-polisi itu." Bu Fitri menghela napas. "Yasudah, kalian boleh kembali ke kelas," suruh guru itu.


Mereka bertiga bertukar pandang, tidak percaya dengan situasi asing ini. Biasanya ketika diundang menjadi tamu di ruang BK akan keluar membawa buah tangan berupa hukuman. Namun berbeda dengan saat ini, mereka diperbolehkan keluar tanpa itu.


"Beneran Bu? Hukumannya gimana, gak jadi?" tanya Sandi.


"Kalian mau di hukum?"


"Eng-gak gitu Bu, tapi tumben aja nih gak kasih hukuman. Ibu ngambek ya sama kita?" goda Sandi, Bu Fitri sampai geleng-geleng kepala mendengarnya.


"Tadinya mood ibu lagi bagus, tapi pada mau di hukum ternyata," Bu Fitri menjeda kalimatnya, sedang berfikir hukuman apa yang bagus ia berikan kepada mereka bertiga. "Kalian bertiga bersihkan toilet saja sana, kebetulan toilet kalian udah seminggu belum di bersihkan soalnya tukang bersih-bersihnya lagi gak masuk karena sakit," perintahnya.


"Yaampun, Bu, ada yang lebih mendingan lagi gak hukumannya?" tawar Raul.


"Gak ada tawar menawar, tadi yang minta kalian sendiri kan."


Edgar mencubit perut Sandi, "Lo sih, pake di ingetin segala hukumannya."


"Gue nanya doang weh tadi, astaga serba salah mulu jadi gue," keluh Sandi.


Mereka bertiga pamit pada Bu Fitri untuk segera menjalankan hukuman yang diberikan, walaupun dengan berat hati akan tetap mereka kerjakan.

__ADS_1


Begitu keluar dari ruang BK, Abhian dan Novan segera menghampiri mereka.


"Gimana? Sedep gak di omelin Bu Fitri?" tanya Novan.


"Sedep pala lo, mana ada di omelin enak, jingan!" sinis Sandi, Abhian dan Novan kompak terkekeh mendengarnya.


"Siapa suruh kemaren di suruh kabur pada lelet lo pada," tambah Novan.


"Dapat hukuman gak? kalian di suruh ngapain?" kini Abhian yang bertanya.


"Sebenarnya tadi Bu Fitri gak beri hukuman, tapi karena si Sandi noh ungkit-ungkit tentang itu jadinya kita bertiga di suruh bersihin wc," keluh Raul.


Abhian manggut-manggut, "Yaudah selamat membersihkan, kita berdua pamit," ledeknya, merangkul Novan untuk pergi dari sana. Namun suara seseorang membuat langkah Abhian terhenti, begitupun dengan keempat temannya yang ikut menatap gadis itu.


"Kak Abhian," panggil Naya.


Abhian menghampiri gadis itu, "Ada apa?"


"Boleh bicara sebentar gak?" tanya Naya, gadis itu berusaha untuk tidak terlihat gugup di depan Abhian dan teman-temannya.


Abhian menoleh ke arah empat temannya, memberi kode agar mereka meninggalkannya berdua dengan Naya. Keempat lelaki itu langsung paham dengan kode Abhian, mereka pergi dari sana untuk memberi ruang pada Abhian dan Naya. Mereka tidak lupa pamit pada Naya, namun tak di respon gadis itu.


"Sebelumnya, ayo obati itu dulu." Naya menunjuk kening Abhian yang terluka, wajah lebamnya juga terlihat seperti belum diobati.


"Oh, gak usah ini gak pa--," Belum menyelesaikan kalimatnya, tangan Abhian sudah lebih dulu di tarik Naya.


Tidak jauh dari sana, keempat teman Abhian tidak sepenuhnya meninggalkan mereka berdua. Mereka diam-diam memperhatikan interaksi Abhian dengan cewek yang belum mereka tahu namanya.


"Tuh, kan. Bener kata gue, Abhian ngincer cewek itu," cetus Sandi, yang merasa antusias karena dugaannya benar.


"Oh cewek itu yang lo maksud waktu itu, cantik sih, tapi sayang udah di incar si Abhi," keluh Raul.


Edgar berdecak, "Sok tau lo, emang Abhian udah bilang kalo dia ngincer cewe itu? Siapa tau kenalannya doang," balas Edgar.


Raul memicingkan matanya, menatap Edgar dengan curiga. "Kok lo yang marah? naksir juga ya lo sama cewek itu?" godanya yang langsung dibalas tabokan oleh Edgar.

__ADS_1


Sedang Novan, lelaki itu hanya diam mendengar ocehan teman-temannya.


...****************...


Naya membawa Abhian ke UKS, untuk mengobati luka lelaki itu. Abhian ia suruh duduk di salah satu brankar yang ada didalam sana, sedangkan Naya mencari kotak p3k untuk digunakannya.


Setelah ia temukan barulah gadis itu menyusul Abhian dan duduk di brankar yang sama. Posisi mereka saat ini sedang berhadapan, supaya Naya dapat bergerak dengan mudah ketika mengobati.


Tangan Naya bergerak, hendak menyentuh kening Abhian untuk mensterilkan luka goresannya terlebih dahulu namun ditahan oleh lelaki itu.


"Gue sendiri aja," sela Abhian, ingin mengambil alih kapas steril dari tangan Naya.


Gadis itu menolak. "Gue aja kak, biar cepet selesai," imbuhnya, membuat Abhian terpaksa setuju.


Naya mengikis jarak, ia menggeser duduknya lebih dekat dengan Abhian agar tangannya bisa menjangkau wajah lelaki itu.


Saking dekatnya jarak mereka saat ini, Abhian dapat mencium aroma parfum gadis itu. Maniknya beralih menatap wajah Naya yang sedang mengobatinya dengan serius. Berjarak terlalu dekat dengan gadis itu membuat Abhian gugup, bahkan peluh mulai membanjiri pelipisnya sekarang.


Cantik.


Satu kata itu yang terlintas di kepalanya saat meneliti pahatan wajah gadis didepannya. Abhian mengerjapkan matanya, mencoba menepis pikirannya barusan.


"Kenapa lo ikut tawuran sampai babak belur begini, kak?" tanya Naya, membuat Abhian menatap gadis itu bingung.


"Tau darimana gue tawuran?" tanya Abhian, karena ia belum mengatakan pada Naya bahwa ia babak belur seperti ini akibat tawuran.


"Gue liat lo kemaren, ikut tawuran sama anak-anak geng motor itu," Naya berhenti sejenak, ia membalas tatapan Abhian. "Polisi itu, gue juga yang lapor," ungkapnya.


"Kenapa? Temen-temen gue ada yang ketangkap karena polisi itu," tukas Abhian, sedikit kesal mendengar pengakuan Naya. Pasalnya karena kedatangan polisi secara tiba-tiba sore itu membuat mereka terlalu panik untuk kabur. Alhasil ada beberapa anggota Savage yang tertangkap oleh mereka, seperti Edgar, Sandi, dan Raul yang sampai masuk ruang BK tadi.


"Ya terus gue biarin aja lo di pukul habis-habisan sama mereka? Lo pernah bantu gue waktu hampir di begal malam itu, jadi gue merasa harus melakukan hal yang sama buat, lo," jelas gadis itu.


"Oke, sekarang kita udah impas, jadi lo gak perlu merasa harus melakukan hal itu lagi ke gue," pinta Abhian.


"Gue juga gak berniat bantu mereka kalo gak ada Lo di sana kak, asal Lo tau aja gue benci sama anak-anak geng motor kayak mereka," tutur Naya.

__ADS_1


"Lo bagian dari mereka juga?" tanya Naya, berhasil membuat Abhian membeku.


Bersambung ...


__ADS_2