
Karena tidak enak badan setelah ikut balapan semalam, Abhian memilih untuk tidak masuk sekolah hari ini. Terbukti sudah hampir pukul setengah sepuluh, lelaki itu masih berguling di atas tempat tidurnya.
Tangannya meraih benda pilih yang ia letakkan diatas meja kecil disamping tempat tidur. Abhian melihat banyak chat yang masuk, namun yang ia buka hanya chat dari Edgar.
Karena perutnya sudah keroncongan, lelaki itu bangkit dan berniat pergi ke dapur mencari amunisi untuk perutnya. Kakinya mengayun menuruni satu persatu anak tangga yang membawanya menuju dapur yang terletak di lantai satu.
Abhian mengedarkan pandangannya, tak menemukan Papa dan Mama tirinya disana. Mungkin sudah berangkat kerja, pikirnya.
"Bian udah bangun? Mau makan apa nak?" tanya bude Sri, ketika sadar dengan kehadiran Abhian di dapur. Beliau merupakan asisten rumah tangga yang sudah bekerja di keluarga Juan sejak Abhian berumur 3 tahun. Panggilan 'Bian' untuknya hanya digunakan oleh Dewi, mama kandungnya dan bude Sri. Lelaki itu bersyukur masih ada bude Sri yang perhatian padanya di rumah ini. Wanita pertengahan 50 tahun itu merupakan pengganti peran Ibu untuknya.
Abhian menghampiri bude Sri yang sedang memasak sesuatu di atas kompor. "Apa aja bude, aku gak pilih pilih kalo bude yang masak," ujarnya.
Bude Sri tersenyum, ia menepuk pundak kiri Abhian dengan lembut. "Kondisi mu gimana? Katanya kurang sehat, udah enakan?" tanya bude Sri yang hanya di balas anggukan kepala oleh Abhian.
"Papa udah berangkat kerja?" tanya Abhian, karena tidak melihat sosok Juan di rumah.
"Iya, udah berangkat tadi pagi sama ibu Ratna," jawab Bude. Ratna merupakan ibu tiri Abhian.
Karena di suruh bude untuk menunggu sampai makanannya siap, Abhian memilih menonton siaran televisi di ruang keluarga.
...****************...
Seperti chat Edgar tadi pagi, Theo dan anggota Tiger yang lain sudah bersiap menantikan kehadiran Savage yang akan menjadi lawan tawuran mereka sore ini.
Abhian dan anggota Savage yang lain tiba di sana tepat waktu. Berbeda dengan teman-temannya yang masih menggunakan seragam sekolah, Abhian datang hanya dengan menggunakan jaket kulit berwarna hitam kesayangannya.
__ADS_1
Theo melipat tangannya di depan dada. "Gue pikir kalian gak bakal datang setelah ajakan tawuran kalian sampai di telinga kami," ujarnya.
Anggota Savage saling tukar pandangan, bingung dengan pernyataan Theo barusan. Ajakan dari mereka katanya? Bukankah Tiger yang lebih duluan mengajak mereka tawuran.
"Maksud lo, apa? Bukannya lo duluan yang forward chat itu ke anggota gue?" tanya Abhian.
"Iya memang itu chat dari gue, tapi anggota lo duluan ngeremehin Tiger karena kalah balapan semalam," jawab Theo, lelaki itu mendekat ke arah Abhian. "Lo pikir cuma karena memang balapan itu lo udah merasa paling jago gitu?" Theo meludah, dan itu mengenai jaket Abhian.
Semua anggota Savage yang melihat itu ingin segera menghajar Theo, namun diberi kode dari Abhian untuk menahan emosi itu sebentar.
Abhian melepas jaketnya yang terkena ludah Theo. "Ahh, sialan. Jaket mahal ini harus gue buang jadinya," cibir lelaki itu, membuang asal jaketnya ke tanah.
Sedetik kemudian, sebuah kepalan tangannya dengan kuat menghantam hidung mancung milik Theo. Darah segar mengalir dari hidungnya, Theo sampai mimisan karena tinju Abhian.
Disitulah permulaan tawuran, tinju mereka saling beradu di bawah jingganya langit sore hari itu.
...****************...
"Iya," jawab si Kostumer.
"Totalnya 53 ribu, kak." Kostumer perempuan itu menyerahkan selembar uang berwarna merah pada Naya.
"Kembalinya 47 ribu ya kak, ini pesanannya." Naya menyerahkan uang kembali dan hot matcha pesanan milik kostumernya.
"Kamu mau makan apa malam ini Nay? Gue traktir," ujar Kak Agnes yang entah sejak kapan berdiri di sebelah Naya.
"Gue sih terserah yang mau traktir aja," jawab Naya.
Kak Agnes berpikir keras mengenai makanan apa yang akan mereka pesan, "Bakso gimana? Mau gak?"
__ADS_1
"Boleh," jawab Naya antusias, Bakso merupakan salah satu makanan kesukaan gadis itu.
"Penjual bakso yang enak dimana ya? Lo ada rekomendasi gak?"
Pertanyaan itu membuatnya teringat pada Abang penjual bakso yang berada di dekat sekolahnya. Ia dan Zulfa beberapa kali makan bakso di sana setelah pulang sekolah, dan rasanya lumayan enak harganya juga murah.
"Ada satu, deket sekolahan gue," ucap Naya.
"Ada di aplikasi pesan makan online gak?"
Naya menggeleng, "Kayaknya gak ada deh, gue aja yang pergi beli sini," usul Naya.
"Capek Nay, mending pesen online aja," ujar Agnes.
"Gapapa gue aja, sekalian cari angin sebelum sift malam."
Agnes pun mengalah, ia menyerahkan uang bakso dan kunci motornya pada Naya. Gadis itu memakai kardigan rajut warna pink miliknya lalu pamit pada Agnes.
Sayangnya saat tiba di sana, penjual bakso itu sudah tutup, mungkin abangnya hanya berjualan sampai sore saja. Naya kembali ke cafe dengan berat hati.
Ketika ingin melewati lapangan bola, Naya melihat kerumunan remaja berseragam putih abu-abu saling adu tinju di sana.
Dari perawakan mereka, dan motor-motor yang terparkir di sekitar lapangan, gadis itu bisa dengan cepat menarik kesimpulan mereka adalah kumpulan anak geng motor. Tidak ada yang berniat meleraikan mereka, pengendara lain yang lewat hanya sekedar melihat lalu pergi begitu saja.
Naya juga berniat mengabaikan, kejadian kecelakaan yang menimpa kakaknya membuat Naya membenci hal-hal berbau geng motor. Namun matanya menangkap seseorang yang tidak asing sedang ikut terlibat di sana.
"Kak Abhian," gumam Naya, saat melihat Abhian dengan ganasnya memukul lawannya. Muka lelaki itu sudah penuh dengan lebam.
Gadis itu ikut meringis ketika melihat Abhian tersungkur ke tanah karena tendangan tiba-tiba dari lawannya. Lawan lelaki itu melayangkan banyak pukulan pada Abhian, namun lelaki itu mencoba menahannya.
__ADS_1
Naya sebenarnya tidak ingin membantu merelai tawuran dua geng motor itu, namun melihat Abhian yang sudah babak belur membuatnya merasa tidak tega. Mengingat dulu Abhian pernah menolongnya saat hampir di begal, rasanya tidak enak jika Naya tidak melakukan hal yang sama untuk Abhian.
Ia mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya, menelpon nomor darurat polisi yang ia punya. "Sore pak, saya mau melaporkan ada aksi tawuran di lapangan bola dekat SMA Nusantara. Yang terlibat anak-anak SMA pak."