
Karena kelas 10 masih melaksanakan MPLS, seluruh murid kelas 11 dan 12 jadi mendapat jam kosong sampai waktu pulang sekolah. Abhian dan teman-temannya yang tidak betah berlama-lama di dalam kelas memilih nongkrong di kantin sampai bel pulang sekolah berbunyi nanti.
"Bi, pulang sekolah langsung ke basecamp kan?" tanya Novan pada Abhian yang sibuk bermain game online di ponselnya bersama Edgar.
Novan telah menceritakan semuanya, tentang bagaimana kondisi internal Savage tadi pagi pada Abhian, dan rencananya sepulang sekolah nanti mereka akan ke basecamp untuk membahasa masalah itu dengan anggota Savage yang lain. Mereka juga sekaligus merayakan kedatangan Abhian yang kini kembali sebagai ketua mereka.
"Iya, nanti kalian duluan aja, gue nyusul soalnya ada urusan sebentar," jawab Abhian dengan tatapan yang masih fokus ke layar ponselnya.
"Urusan apa tuh?" kepo Sandi, bukan Sandi namanya kalo tidak kepo.
"Mau tau aja urusan orang," balas Edgar. Sandi dan Edgar itu seperti kucing dan tikus yang tidak pernah akur, selalu saja berdebat tentang hal-hal sepele seperti saat ini.
"Gue kan juga orang, berarti wajar dong kalo gue pengen tau," Sandi tak ingin kalah.
Raul yang sedang mengupas kulit kuaci memasukan kulit itu ke dalam mulut Sandi, supaya manusia itu diam. "Berisik banget lambemu!"
Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi, membuat Abhian segera menghentikan aktivitas bermain game online padahal pertandingan di dalam game itu belum selesai. Lelaki itu pamit lalu melenggang begitu saja meninggalkan keempat temannya di sana.
"Si Abhi kebiasaan banget kalo maen game suka di tinggal, padahal dikit lagi win anjir," gerutu Edgar yang kesal karena Abhian pergi begitu saja.
Melihat punggung Abhian yang menghilang di belokan pintu kantin membuat Sandi teringat pada gadis yang mereka liat tadi pagi.
"Eh, jangan jangan urusannya sama cewe tadi kali ya?" tebak Sandi, membuat Novan dan Raul menatapnya bingung.
"Cewek? Siapa?" tanya Novan, tidak tahu cewek mana yang di maksud oleh Sandi. Novan dan Raul jelas tidak tahu karena mereka berdua masuk sekolah telat pagi tadi.
"Tadi pagi Abhian natap cewek yang lewat depan kita. Mana lama banget natapnya, kayak terpesona gitu," Sandi mulai bercerita, jika keluar dari mulut lelaki itu ceritanya pasti akan ia lebih-lebihkan.
"Cantik, gak San?" kini Raul yang bertanya, lelaki buaya darat itu sedang berencana mencari mangsa barunya.
__ADS_1
"Kagak tau gue, soalnya gue sama Edgar cuma liat punggungnya pas udah jauh," jawab Sandi, kembali memasukan kuaci ke dalam mulutnya.
"Jadi penasaran gue, kalo cantik gue deketin deh," ujar Raul dengan sangat percaya diri.
Sandi memukul pelan kedua pipi Raul, seolah sedang menyadarkan orang yang pingsan, "Sadar, ul, sadar. Saingan lo Abhian, bro! Baru intro lo udah pasti kalah."
Novan dan Edgar terkekeh mendengar interaksi dua manusia absurd itu.
...****************...
Setelah di laksanakan selama tiga hari berturut-turut, akhirnya selesai lah kegiatan MPLS siswa-siswi baru SMA Nusantara. Mereka semua di suruh menuliskan pesan dan kesan selama kegiatan, setelah menulis itu baru lah di perbolehkan untuk pulang.
Setelah kesan pesannya selesai ia tulis, Naya pamit pada Zulfa untuk pulang duluan sebab gadis itu harus masuk kerja 20 menit lagi.
Melihat tidak ada kendaraan umum yang berlalu lalang di depan gerbang sekolahnya, Naya berinisiatif untuk memesan ojek online saja. Tak butuh waktu lama, ojek online pesanannya pun tiba. Jarak dari sekolahnya ke cafe lumayan jauh, gadis itu jadi telat 15 menit dari jam masuknya.
"Kak Agnes, aduh maafin gue ya kak Lo jadi telat pulangnya," Naya menyatukan kedua tangannya seperti orang sedang memohon. Tak lupa ekspresinya ia buat seimut mungkin di mata Agnes agar perempuan itu tidak marah padanya. Agnes yang sedang mencuci gelas-gelas kotor itu terhenti aktivitasnya di buat Naya.
"Tumben telat lo, pulang sekolah rebahan dulu ya lo? tuduh Agnes, kembali melanjutkan aktivitasnya yang tertunda karena Naya.
"Suuzon sekali, hari ini hari terakhir MPLS di sekolah gue jadinya pulangnya agak telat dari hari-hari sebelumnya," bela Naya. Gadis itu ingin mengambil alih gelas cucian dari Agnes, "Sini kak, gue aja yang lanjutin."
Agnes sempat menolak namun Naya tetap ingin mengambil alih, akhirnya gelas cucian itu ia serahkan pada Naya, "Yaudah gue balik duluan ya, kayaknya Bila hari ini masuknya juga telat soalnya tadi dia ngabarin gue kalo ada kelas yang di ganti," tutur Agnes.
Oh iya, Nabila atau yang kerap di panggil Bila juga rekan kerja Naya, dia seorang mahasiswi pendidikan matematika di Universitas yang sama dengan Agnes. Di Cafe tempat Naya berkerja memang mempunyai karyawan yang rata-rata masih berstatus pelajar, Naya satu-satunya karyawan yang masih duduk di bangku SMA.
Agnes pun menuju ruang ganti untuk mengganti seragam karyawan yang masih menempel di tubuhnya, "Oh iya satu lagi, jangan lupa ganti seragam Nay. Lo mau melayani pelanggan pake seragam sekolah?" ucapnya ketika melihat Naya yang masih terbalut seragam sekolahnya.
"Iya iya, abis ini di ganti kok," respon Naya, setelah mendengar itu Agnes pun menghilang dibalik pintu ruang ganti.
__ADS_1
Setelah selesai dengan gelas-gelas cuciannya, Naya menyusul pergi ke ruang ganti untuk mengganti seragam terlebih dahulu sebelum lanjut bekerja.
Naya sudah dua tahun bekerja di cafe ini, tepatnya setelah kepergian Nabil. Kakaknya itu dulunya merupakan sosok yang menjadi tulang punggung di keluarganya. Setelah kepergian kakaknya, Citra, mama Naya kini yang mengambil alih peran itu. Citra hanya seorang guru honorer di sebuah paud, tentu saja gajinya pas-pasan untuk di pakai sebagai biaya hidup. Melihat itu membuat Naya ingin kerja untuk meringankan sedikit beban mamanya. Setidaknya untuk biaya sekolah, Naya tidak khawatir karena beasiswa. Gajinya bisa ia berikan setengahnya kepada Mamanya dan setengahnya lagi untuk dirinya. Sehingga jika menginginkan sesuatu, Naya tidak lagi memintanya pada Citra.
Pemilik cafe ini merupakan salah satu teman dekat Nabil semasa kuliah dulu, namanya Hayyan. Mungkin karena tahu bagaimana kondisi ekonomi keluarga Naya, teman kakaknya itu menawarkan posisi di sini untuk Naya bekerja. Itu sebabnya cafe ini menjadi satu-satunya tempat yang menerima pegawai yang masih berstatus pelajar seperti Naya.
Meskipun sering merasa lelah karena harus lanjut bekerja setelah pulang sekolah, Naya tak pernah mengeluh. Gadis itu justru sangat bersyukur karena dengan bekerja disini, ia bisa punya penghasilan sendiri.
Hari-harinya yang selalu padat membuatnya tidak lama berlarut-larut dalam kesedihan.
...****************...
Abhian menghentikan motornya di depan sebuah cafe, ia membaca nama cafe itu pada tulisan besar yang menempel di atas pintunya, Dandelion Cafe. Sebelumya ia sengaja mengikuti Naya yang pulang dengan ojek online tadi. Tebakan Sandi benar, inilah urusan yang Abhian maksud.
Jendela kaca besar cafe itu mengekspos ruangan di dalamnya, membuat mata Abhian dengan mudah menemukan sosok Naya dari luar cafe. Naya terlihat sedang membersihkan salah satu meja dengan telaten di dalam sana. Melihat seragam yang di pakai gadis itu bertuliskan nama cafe ini, Abhian bisa langsung tau bahwa Naya sedang bekerja di sini.
Pandangan Abhian tidak lepas dari sosok Naya yang menjadi objeknya, netranya mengikuti tiap pergerakan gadis itu. Abhian jadi penasaran tentang bagaimana kehidupan Naya 2 tahun belakangan ini. Ia jadi ingin tahu semuanya tentang gadis itu, agar ia bisa membantu sesuai janjinya pada kakak Naya dulu.
Ponsel Abhian berdering, nama Raul tampilan di layarnya. Abhian menekan tombol hijau lalu mendekatkan ponsel itu ke telinganya.
"Kenapa?" tanya Abhian.
"Novan sama Bayu berantem, bi. Buruan ke basecamp sekarang!". ujar Raul dari sebrang sana, nada suaranya terdengar panik.
"Otw," setelah mengucapkan satu kata itu, panggilan diputuskan secara pihak oleh Abhian. Ia kembali ke motornya yang terparkir di pinggir jalan, setelah itu motornya pun melaju menuju basecamp.
...****************...
Haloo!!
__ADS_1
Setelah membaca jgn lupa like dan komen ya ...
Terima kasih~~