
Setelah membersihkan badannya, Naya berlajan menuju lemari, mencari piyama yang akan ia kenakan. Selesai dengan urusan piyama, ia beranjak menuju meja belajar yang sekaligus ia gunakan sebagai meja rias. Gadis itu memakaikan beberapa skincare night miliknya ke wajahnya.
Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur dengan posisi tengkurap, diambilnya benda pipih yang semula ia letakkan di atas kasur. Naya membuka aplikasi WhatsAppnya, lalu mencari nomor Abhian, sudah lama ia tidak menagih clue lagi dari lelaki itu. Jari mungil milik Naya dengan lihai mengetik sebuah chat untuk Abhian.
Naya terduduk membaca pesan Abhian, hanya satu kata namun mampu membuat jantungnya mulai berdegup dengan kencang. Entah karena terkejut atau salting, karena tiba-tiba di ajak kencan oleh kakak kelasnya itu. Naya kembali mengetik chat balasan untuk Abhian.
Naya melempar asal ponselnya setelah chat mereka berakhir, gadis itu menenggelamkan wajahnya ke bantal. Kedua kakinya ia hentakkan bergantian di atas kasur, ia berusaha untuk tidak berteriak. Karena dia sedang sangat salting sekarang.
Selimutnya ia tarik sampai menutupi setengah badannya, ia mulai memejamkan matanya agar malam cepat berlalu. Ia tidak sabar, bertemu Abhian besok.
...****************...
Meskipun ada janji hari ini dengan Abhian, Naya tetap menggunakan outfit simple seperti biasanya. Ia tak ingin terlihat mencolok, takut jika Abhian sadar jika Naya senang pergi date dengannya.
Gadis itu menggunakan atasan inner berwarna putih, lalu dibalut cardigan tosca bermotif. Bawahannya, Naya memakai celana loose jeans dan sneakers putih sebagai alas kakinya. Gadis itu memoleskan liptint peach red ke bibir ranumnya. Ia memastikan sekali lagi penampilannya didepan cermin panjang yang tersedia di ruang ganti karyawan. Setelah dirasa sudah rapi semua, barulah gadis itu keluar, menunggu Abhian datang menjemputnya.
Naya pikir ia akan menunggu, nyatanya Abhian sudah berdiri di depan café menunggunya lebih dulu. Lelaki itu memakai celana jeans, kaos oblong berwarna hitam yang dibalut dengan varsity jacket berwarna senada yang menampilkan kesan badboy padanya. Abhian menyerahkan helm yang ia bawa pada Naya. Setelah gadis itu naik ke atas motornya, Abhian mulai melajukan motornya.
__ADS_1
“Kita mau kemana, kak?” tanya Naya, sedikit berteriak agar suaranya dapat di dengar Abhian.
Lelaki itu tidak segera menjawab, ia hanya menyuruh Naya untuk berpegangan lebih erat. “Pegangan aja, ntar lo terbang,” teriak Abhian.
Kedua tangan Naya memegang jacket Abhian sebagai pegangan. Abhian berdecak, tangan kirinya merai tangan kanan Naya dan melingkarkan tangan gadis itu di perutnya. “Pegangan itu kayak gini,” imbuhnya.
Abhian melirik Naya melalui kaca spion, gadis itu terdiam menatap tangannya yang tampak seperti memeluk Abhian dari belakang. Lelaki itu terkekeh pelan melihat pipi Naya yang memerah, sedangkan gadis dibelakangnya sibuk menormalkan degup jantungnya yang lagi-lagi berpacu dengan cepat.
Motor Abhian terparkir di depan gerbang masuk, Naya turun dari motor dengan semangat saat tau kemana lelaki itu membawanya. Lampion park. Setelah membeli tiket masuk, barulah kedua manusia itu di perbolehkan masuk ke sana.
Naya menyapu pandangan ke sekelilingnya, mata gadis itu berbinar melihat berbagai macam lampion warna-warni dengan bentuk yang berbeda. Ada berbentuk dua angsa, bunga, kelinci, dan lain sebagainya. Ia berjalan mendekati pohon yang terhias lampion berbentuk kupu-kupu, sangat cantik.
Dan pilihannya jatuh pada lampion park ini.
Lelaki itu mengikuti kemanapun langkah Naya, sampai akhirnya gadis itu berhenti didepan sebuah pohon yang terhias lampion berbentuk kupu-kupu. Abhian berdiri di samping Naya, meneliti wajah gadis itu dari samping. Naya menoleh kesamping kanan, ia mendapati Abhian yang sedang diam-diam menatapnya. Iris mereka saling bertabrakan, keduanya bertatapan cukup lama.
Melihat manik Naya yang menatapnya dengan teduh membuat Abhian tidak ingin berpaling. Awalnya Abhian hanya berniat melindungi gadis itu, namun belakang ini perasaan aneh mulai muncul tiap kali menatap gadis itu. Perasaannya berubah ia ingin melindungi gadis itu selamanya, Abhian jadi ingin egois untuk memilik Naya. Namun disatu sisi ia khawatir, Naya akan membencinya.
Abhian mengalihkan pandangannya lebih dulu, ia kembali memperhatikan lampion kupu-kupu tadi. Naya yang tersadar juga ikut memandang kearah yang sama.
“Cantik ya kak, disini. Gue gak tahu loh kalo ada tempat kayak gini,” ujar Naya, bibir gadis itu tak hentinya menyunggingkan senyuman.
__ADS_1
Abhian mengangguk setuju. “Iya, cantik,” balasnya, menatap ke arah Naya sekilas. “Lo gak mau foto?” tanya Abhian.
“Mau!!!” jawab gadis itu cepat.
Abhian mengulum senyum, gemas melihat Naya yang terlihat seperti anak kecil sekarang. “Yaudah berdiri di sana, gue fotoin,” suruh Abhian.
“Bentar kak, aku ambil ponsel dulu.” Gadis itu merogoh tasnya, mencari benda pipih yang akan digunakan untuk memotretnya.
Namun suara Abhian menghentikannya. “Pake ponsel gue aja dulu,” kata lelaki itu.
Gadis itupun menurut, dan berdiri di depan pohon dengan lampion kupu-kupu tadi. Ia mulai tersenyum manis saat Abhian memberikan aba-aba akan memotretnya.
Setelah beberapa kali mengambil gambar, ia berlari kecil ke posisi Abhian untuk mengecek hasil fotonya.
“Giliran lo, sini gue fotoin,” kata Naya. Abhian menggeleng untuk menolak, lelaki itu tidak terlalu suka mengambil foto.
“Sayang lo, udah jauh-jauh kesini gak ambil foto,” gadis itu mendorong tubuh Abhian yang lebih tinggi darinya ke tempatnya ambil foto tadi. “Nah, sekarang tinggal senyum,” suruh Naya, membuat Abhian menampilkan senyuman sesuai permintaan gadis itu.
“Nah kalo senyum gini kan ganteng,” gumam Naya, tanpa sadar bahwa ucapannya masih bisa didengar Abhian.
...****************...
❗Pict by pinterest❗
__ADS_1