ABHINAYA

ABHINAYA
33. Mama dan Jagoan Kecilnya (1)


__ADS_3

Senyum terus terukir di bibir Abhian, lelaki itu menyetir mobilnya dengan penuh semangat menuju cafe tempat Naya bekerja. Ia jadi salah tingkah sendiri menyebut Naya sebagai miliknya tadi.


Lelaki itu memutuskan akan bersenang-senang di hari spesialnya  ini, melupakan sejenak semua beban yang bersarang di hatinya. Ia melirik sekilas ke arah kursi di samping kemudi, di sana ada buket bunga yang sengaja dibelinya untuk Naya saat hendak menuju basecamp tadi.


Mobil merek Honda HRV 2023 berwarna merah itu berhenti di parkiran yang tersedia di samping Dandelion Cafe, setelah melepas seat belt nya, Abhian turun dengan membawa buket bunga di tangannya.


Abhian tidak segera masuk, ia mengintip sejenak apakah Naya ada di dalam sana melalui jendela besar cafe tersebut. Senyumnya makin merekah ketika melihat sosok yang di carinya berdiri di dalam, sedang melayani kostumer.


Melihat seseorang yang familiar berdiri di depan cafe, Agnes langsung peka ketika mata orang itu tertuju pada Naya. "Nay," panggil Agnes, ia menyenggol lengan Naya menggunakan sikunya.


"Kenapa kak?"


Agnes menunjuk area luar cafe menggunakan dagunya, membuat Naya mengikuti arah pandangnya. Lelaki itu kini menjadi pusat perhatian keduanya, dia melambaikan tangan dengan canggung ke arah Naya dan Kak Agnes.


"Kayaknya jemputan mu udah sampai tuh, Nay," kata kak Agnes, dengan senyum menggoda.


Naya hanya merespon dengan senyuman, hari ini memang dia ada janji temu dengan Abhian. Itu sebabnya ia ambil izin untuk pulang lebih awal, sebab lelaki itu bilang akan membawanya ketempat yang jauh dengan view yang bagus hari ini.


Gadis itu mengeluarkan ponsel dari saku jeansnya, mengetikkan sebuah pesan pada Abhian untuk menunggunya mengganti pakaian terlebih dahulu. 


"Aku pamit dulu ya kak, mau date," pamitnya pada Agnes, dengan kekehan di akhir. Agnes mencibir sebagai respon, namun ikut gemas dengan dua anak remaja itu. Ia akui, memang kisah cinta di masa SMA itu benar-benar indah. Agnes yang sudah menduduki bangku kuliah rasanya ingin kembali ke masa SMA lagi.


Setelah selesai mengganti pakaiannya, kini Naya menghampiri Abhian di luar cafe dengan stelan yang lebih rapi.


Bucket bunga yang tadi di bawa nya ia serahkan pada Naya, sedang gadis itu menerimanya dengan raut bingung. "Ini buat aku?" tanyanya.


"Iya, tadi di jalan liat orang jual bunga cantik ini gue jadi ke-ingat lo. Dan kalau di pikir-pikir gue belum kasih hadiah lo, setelah menang lomba kemaren. Makanya gue beli aja buat lo," jawab Abhian, tatapannya terfokus pada gadis yang tingginya hanya sebatas dagunya saja.


Naya mengulum senyum, mungkin pipinya sudah merah merona sekarang. Perilaku, tindakan, bahkan ucapan sederhana Abhian mampu membuat rasa sukanya pada lelaki itu makin bertambah setiap harinya.


"Nggak mungkin cuma karena itu, apa hari ini ada yang spesial?" tanya Naya, lagi.

__ADS_1


"Hari ini, gue ulang tahun," ungkap Abhian dengan senyum di bibirnya, senyum yang jarang sekali ia perlihatkan kepada orang lain. Terkhusus Naya.


Mendengar itu, raut wajah Naya yang semula sumringah menjadi datar seketika. "Ulang tahun lo hari ini? Kenapa nggak bilang dari semalam. Kalo gue tau, gue nyiapin kado juga buat lo," keluh gadis itu.


Abhian memang belum pernah memberi tahu Naya soal hari-hari spesial-nya, termasuk hari dimana ia lahir di dunia. Sebab selama beberapa tahun terakhir, hari ini tak pernah di rayakan untuknya. Jadi menurutnya, tidak perlu di umbar, toh tidak ada yang akan merayakannya. Namun saat ini, sepertinya berbeda. Ia lupa, ada Naya. Gadis yang baru-baru ini menyatakan perasaan padanya.


Mungkin rasanya ia tidak pantas untuk menyukai Naya, karena telah berbohong sesuatu hal yang sangat penting dari gadis itu. Tapi Abhian mengakui, perasaanya pada Naya merupakan hal yang nyata.


"Nggak papa kok, gue ngg--,"


"Aduh!"


Kalimat Abhian harus terhenti karena suara itu. Mereka berdua kompak menoleh ke sumber suara, ternyata berasal dari seorang anak kecil laki-laki yang sedang terjatuh di dekat posisi mereka.


Abhian berjalan mendekati anak laki-laki itu yang masih setia di posisinya saat terjatuh, yaitu tengkurap. Ia berinisiatif membantu anak itu berdiri. Diangkatnya tubuh mungil mungil itu, lalu di tepuk-tepuknya bagian depan baju anak itu yang sedikit kotor karena tanah yang menempel.


Anak itu hanya memerhatikan Abhian, tidak berontak ataupun menangis. Ia membiarkan saja Abhian membantunya.


Kini Abhian berjongkok agar tingginya setara dengan anak itu. Tangannya terulur, mengusap dengan lembut pucuk kepalanya. "Anak pintar," imbuhnya.


Naya ikut berjongkok di sebelah Abhian. "Mama kamu kemana, sayang?" tanyanya, karena tidak melihat ada orang dewasa yang mendampingi anak itu.


Disini banyak kendaraan yang berlalu-lalang, berkeliaran tanpa pengawasan orang tuanya akan sangat membahayakan anak itu.


"Mama di sana." Anak itu menunjuk minimarket yang terletak di sebrang cafe tempat Naya bekerja.


"Mamanya lagi belanja kayaknya, kak." Naya mengikuti telunjuk anak itu tadi. "Mau kita anterin ke mamanya atau tunggu di sini aja? Soalnya kalo di tinggal sendiri bahaya," lanjutnya, meminta pendapat Abhian.


"Kita anter--,"


"Aksa!!"

__ADS_1


Lagi-lagi, suara orang lain menyela kalimat Abhian. Mereka berdua dan anak kecil itu kompak menoleh ke pemilik suara. Seorang wanita berlari kecil menuju ke arah mereka.


Tangan Abhian yang tadinya menggenggam lengan anak itu terlepas, seolah kekuatannya hilang. Ia mengerjapkan matanya berulang kali, ingin tahu apakah yang dilihatnya ada nyata atau ilusi semata.


Abhian menundukkan kepalanya saat wanita itu tiba di depannya, wanita itu menarik anak kecil itu ke dalam dekapannya. "Aksa, sayang. Mama bilang kan tunggu sebentar, kenapa malah kabur sih," tegurnya lembut pada anak itu.


"Aksa bosen, mau jalan-jalan," bela anak itu, cara bicaranya sudah sangat lancar di banding anak seusianya.


Anak kecil bernama Aksa itu, menggandeng tangan kekar Abhian, lalu memintanya untuk membawanya pergi jalan-jalan. Di pikirannya saat ini, hanya kakak baik hati itu yang akan membantunya pergi jalan-jalan, seperti ketika menolongnya saat terjatuh tadi.


"Kakak, ayo ajak aku jalan-jalan. Aku bosen tunggu mama belanja," ajak anak berusia sekitar lima tahun itu. 


"Maaf, ya, nak. Aksanya lagi tantrum ini," ujar wanita itu. Ia melihat kedua remaja di depannya yang hanya mengangguk pelan. Atensinya kini terfokus pada remaja laki-laki yang juga sedang berjongkok, ia merasa tidak asing dengan wajah remaja itu.


"Bian?" panggilnya, membuat Abhian membatu.


Naya hanya diam memperhatikan interaksi keduanya. Dilihat dari raut wajah Abhian dan wanita itu, mereka seperti saling kenal.


Tangan wanita itu tergerak memegang bahu kekar Abhian. "Beneran Bian, kan?" tanyanya sekali lagi, memastikan ia tidak salah orang.


Abhian mendongak, menatap lawan bicaranya. Naya dapat melihat mata lelaki itu memerah, seperti sedang menahan tangis.


"Iya, ma. Ini aku." Abhian menatap lurus ke arah wanita itu. Wanita yang melahirkannya 19 tahun lalu di hari ini. Wanita itu bernama Dewi, mama kandung Abhian yang sudah lama tidak ia lihat wujudnya.


Dewi melepas pelukannya dari Aksa, berganti menarik tubuh Abhian ke dalam dekapannya. Punggung wanita itu bergetar, pertanda tengah menangis sekarang.


"Mama kangen kamu, nak."


Abhian mengusap lembut punggung mamanya, tapi ia tidak menangis. Sekuat tenaga ia menahan air mata itu agar tidak jatuh.


"Maafin mama, Bian."

__ADS_1


__ADS_2