
Raul menepikan motornya di salah satu warung makan pinggir jalan. Lelaki itu mengedarkan padangan, memastikan tak ada orang yang ia kenal mengikutinya kesini. Setelah Abhian yang kena gosip karena paparazi seseorang membuat Raul jadi was-was. Setelah di rasa sudah aman, barulah ia masuk ke warung itu.
Disisi lain, Bayu berusaha menyalakan kembali motornya yang mogok. Motornya itu sudah sering mogok, entah apa yang menjadi penyebabnya namun Bayu tidak segera men-Servicenya.
"Ah, motor sialan. Nyusahin aja lo sialan!" maki Bayu pada motornya. Dilihat ke sekelilingnya, Bayu tidak menemukan bengkel motor atau apapun yang dekat dari posisinya. Terpaksa motor itu ia dorong sampai nantinya bertemu bengkel.
Saat tengah mendorong motornya, seroang bapak-bapak yang kebetulan melewati Bayu berhenti. "Mogok dek?" tanya bapak bertubuh gempal itu.
Bayu yang sedang gerah dan capek karena mendorong motor di siang bolong begini, langsung emosi mendengar pernyataan basa-basi bapak itu.
"Ya menurut bapak gimana setelah liat saya dorong motor begini?"
"Pasti mogok, kan? Mogoknya kenapa dek?"
Bayu mengusap wajahnya kasar. "Kalo saya tau penyebabnya gak mungkin motornya cuma saya dorong," kesalnya.
Bapak itu turun dari motornya untuk mengecek motor Bayu, sedangkan cowok itu membiarkan saja motornya di periksa. Ia yang lelah mendorong motor tadi memilih duduk di pinggir trotoar dengan kaki yang di selonjorkan.
"Bapak orang bengkel?" tanya Bayu, yang di jawab anggukan kepala oleh bapak itu.
"Iya, makanya tadi saya tanya mogoknya kenapa. Soalnya kasian kalo kamu dorong, bengkel dari daerah ini masih jauh," jawab bapak itu.
Mendengar jawaban bapak itu, Bayu jadi merasa bersalah telah memakai dan menjawab dengan emosi saat bapak itu bertanya dengannya.
Bayu berdiri, hendak pergi membeli air mineral untuknya dan bapak itu di kios yang terletak di seberang jalan. Baru saja hendak menyebrang, matanya menangkap dua orang yang tidak asing baru saja keluar dari warung makan yang berada di samping kios itu.
Bayu reflek berjongkok, ia menggeser badannya bersembunyi di balik badan bapak tadi agar tak ketahuan Raul dan Gerry. Ya, dua orang itu adalah Raul, sahabat Abhian dan Gerry, orang kepercayaan Theo anak Tiger.
__ADS_1
"Kamu ngapain ngumpet dek?" tanya Bapak itu ketika mendapati Bayu bersembunyi di belakangnya.
Lelaki itu meletakkan telunjuknya di depan bibir, mengisyaratkan bapak itu agar diam. Ia menurunkan resleting jaketnya untuk mengambil ponsel yang ia simpan di saku seragamnya. Ponsel itu ia arahkan ke arah Raul dan Gerry untuk memotret momen mencurigakan itu.
Bagaimana tidak mencurigakan? Sedang apa anggota Savage dan Tiger yang biasanya berseteru bertemu diam-diam seperti mereka berdua. Keduanya juga tidak tampak layaknya musuh pada umumnya, terlihat dari cara mereka mengobrol yang sangat akrab. Jika sudah begitu hanya ada dua kemungkinan, Raul yang berkhianat dari Savage atau sebaliknya Gerry yang berkhianat dari Tiger.
Bayu memandang hasil jepretannya, nantinya foto itu akan ia kirim ke grup besar anggota Savage.
...****************...
Abhian menatap pintu kayu di depannya dengan ragu, tangannya yang sudah ia angkat namun tak kunjung mengetuk.
Lelaki itu menarik napas dalam lalu menghembuskannya dengan pelan. Tangannya akhirnya tergerak mengetuk pintu tersebut.
"Masuk," intrupsi seseorang dari dalam. Karena telah di izinkan untuk masuk, Abhian memutar knop pintu itu lalu melangkah masuk ke dalam ruangan serba putih dengan aroma obat yang dominan.
"Sudah lama kamu tidak datang, gimana kondisimu? Sudah makin membaik?" Kalimat tanya itu langsung menyambut Abhian.
Ditanya seperti itu, Abhian menganggukkan kepala pelan sebagai respon. "Selama ini baik-baik saja, dok. Tapi seminggu terakhir, kilas kecelakaan itu kembali menghantui saya," ungkapnya.
Sebenarnya setelah satu tahun, bayang-bayang kecelakaan itu jarang menghantuinya. Namun seminggu belakangan ini, tepatnya setelah bertemu Naya, bayang-bayang kecelakaan itu kembali mengganggunya.
Abhian mengidap Post Traumatic Stress Disorder atau PTSD. Ini merupakan masalah mental yang terjadi karena seseorang mengalami peristiwa traumatis. Dalam kasus Abhian, kecelakaan satu tahun lalu-lah yang menjadi penyebab dia didiagnosa PTSD ini.
Selalu mendapat tekanan oleh Juan dan keluarganya, serta rasa bersalah terhadap korban yang ia tabrak, membuat Abhian mengalami stress yang berkepanjangan. Ia jadi susah tidur, sering bermimpi buruk dan selalu terbayang-bayang oleh kecelakaan tersebut.
Trauma itu menjadikan Abhian yang awalnya suka mengendarai motor dan kegiatan bersama geng Savage berubah menjadi kehilangan minat. Ia bahkan hampir ingin meninggalkan geng yang dipimpinnya itu.
__ADS_1
Namun bersama dokter Ricard yang mendampinginya, Abhian pelan-pelan berusaha untuk sembuh dari traumanya. Ia kembali berani mengendarai motor dan beraktivitas seperti biasanya. Rasa tanggung jawab-lah yang mengurungkan niatnya untuk meninggalkan geng motor yang sudah ia anggap keluarga itu.
Ya, dokter itu yang saat ini ia kunjungi, namanya dr. Richard. Dokter spesialis kejiwaan di rumah sakit Pelita Harapan.
Dokter Richard mengombinasikan dua cara pengobatan untuk Abhian. Cara yang pertama yaitu membantu Abhian mengenali pola pikirnya, supaya Abhian tidak terus menyimpulkan bahwa kecelakaan ini adalah kesalahan dirinya sendiri. Cara yang kedua yaitu mendekatkan Abhian kembali pada hal-hal yang dia takuti, seperti mengendarai motor dan hal lainnya yang biasa ia lakukan bersama teman geng motornya. Dan ya, cara itu ampuh di terapkan pada Abhian.
"Apa ada sesuatu yang memancing ingatan itu muncul lagi?" tanya dokter Richard.
"Saya ikut balapan lagi setelah sekian lama nggak ikut, saat lawan saya nyalip motor, disitu motor saya hampir hilang keseimbangan dan tiba-tiba bayangan kecelakaan itu muncul di kepala saya, dok."
Dokter Richard mangut-mangut mendengar penjelasan Abhian. "Selain itu? Ada lagi?"
Sebenarnya ada, Naya. Munculnya gadis itu di sekolah yang sama dengan Abhian, dan permintaan bantuan gadis itu membuat Abhian sering kepikiran.
"Tidak ada, dok," jawab Abhian. Ia tidak berniat berbohong pada dokternya, hanya saja ia belum berani memberitahu soal Naya.
"Obatmu bagaimana? Masing sering kau minum?" tanya dokter itu lagi.
Obat yang Abhian minum saat selesai balapan malam itu adalah obat anti kecemasan yang diresepkan dokter Richard padanya.
"Jarang, saya minum hanya kalau rasa takut saya saat trauma itu muncul, dok. Obatnya sisa sedikit, saya minta lagi, ya, dok," jawab Abhian.
Dokter Richard pun menuliskan sesuatu di atas kertas kecil, lalu menyerahkannya pada Abhian. "Ini sudah saya resepkan, setelah dari sini langsung tebus ke apotik, ya."
Abhian pun pamit sebelum meninggalkan dokter Richard. Namun sesampainya di pintu, suara dokter Richard kembali membuat langkahnya terhenti.
"Kalau ada sesuatu, jangan sungkan cerita ke saya. Saya tagih cerita kamu di sesi konsultasi berikutnya," ujar dokter itu.
__ADS_1
Abhian hanya mengangguk seraya tersenyum pada dokter Richard. Dalam hatinya, lelaki itu merasakan sedih yang menjalar. Langkahnya pelan sambil berandai, jika sikap Papa kepadanya sama seperti dokter Richard, mungkin Abhian tidak akan serapuh ini. Ya, dia memang terlihat kuat dari luar, namun hatinya sudah rapuh. Bukan hanya sejak kecelakaan itu, namun sudah rapuh sejak lama ketika dua manusia yang ia sayang berpisah.