ABHINAYA

ABHINAYA
35. Maaf, Naya.


__ADS_3

Naya menoleh ke arah Abhian yang sedang fokus menyetir. Sejak setelah bertemu Mamanya, lelaki itu lebih banyak diam. Seperti saat ini, Naya sudah banyak kali mengajaknya bicara, namun Abhian membalas seadanya saja.


"Kak, lo baik-baik aja, kan?" tanya Naya, mungkin sudah genap sepuluh kali.


Abhian hanya mengangguk singkat. "Maaf ya, Nay. Kayaknya hari ini perginya di tunda dulu, udah malam juga. Gue bakal ajak lo lain kali," ujar Abhian, akhirnya lelaki itu bicara lumayan panjang pada Naya.


Saat ini mereka sedang di perjalanan menuju rumah Naya, untuk mengantarnya pulang. Naya setuju saja, mungkin Abhian kecapean atau sedang banyak pikiran karena pertemuan tak terduga itu.


Karena jarak rumah Naya tidak jauh, hanya butuh 10 menit, sampailah mereka di depan rumah gadis itu.


Setelah membuka seatbeltnya, Naya tidak segera turun. Ia menatap Abhian. "Jangan di terlalu di pikirkan sendiri kak, kalau udah siap cerita datang aja ke gue. Gue bakal dengerin cerita lo, jangan lama-lama bikin gue khawatir," ujarnya.


Abhian merespon dengan senyum simpul. Tangan kirinya terulur mengusap lembut pucuk rambut Naya. "Oke, makasih udah khawatir," balasnya.


Setelah Naya turun, mobil Abhian perlahan mulai melaju meninggalkan kediamannya. Gadis itu masih setia berdiri di depan pagar, menatap mobil Abhian yang mulai menjauh dari penglihatannya.


Sedangkan Abhian menaikan kecepatannya, mobil itu melaju membela jalanan kota Bandung yang hari ini lumayan lenggang.


Lelaki itu menurunkan kaca jendelanya, membiarkan angin malam masuk dan memenuhi seisi mobil. Ia mengusap kasar matanya yang mulai mengabur karena tumpukan air di pelupuknya. Biarlah sekarang kalian menyebutnya cengeng, Abhian belum puas mengeluarkan semua rasa kecewanya.


Tiba di lampu lalu lintas yang sudah berubah merah, Abhian menurunkan kecepatannya. Lelaki itu memukul stir dengan kasar, beberapa kali pukulan itu meleset dan mengenai klakson. Membuat pengendara lain yang juga sedang menunggu lampu merah menatap heran ke arah mobil Abhian.


Bunyi notifikasi menghentikan aksi Abhian memukul stir, ia bergerak mengecek siapa yang mengirimkannya pesan.


'Bian, pulang jam berapa? Bapak lagi ada di rumah, katanya cuma sebentar buat merayakan ulang tahun, Bian. Jangan lama ya, pulangnya.'


Pesan itu berasal dari Bude Sri, Abhian makin terisak setelah membacanya.


Meskipun watak Papanya yang keras, ternyata beliau masih punya rasa peduli pada putranya. Abhian jadi merasa bersalah, mengatakan banyak kalimat kasar pada papanya.


Yang membuat hati lelaki itu sangat teriris saat ini yaitu, mengetahui fakta bahwa keluarganya benar-benar telah terpisah. Papa dan Mamanya telah memiliki pasangan dan membentuk  keluarga baru. Keluarga yang  membuat mereka nyaman dan bahagia. Abhian seolah merasa benar-benar sendirian di dunia ini.


Bunyi klakson pengendara lain yang dilayangkan pada Abhian membuat lelaki itu tersadar. Ia melajukan kembali mobilnya, namun bukan ke arah pulang. Melainkan ke tempat yang akan meredakan suara-suara  riuh di kepalanya.


...***********...


Sesampainya di rumah, Naya segera membersihkan diri terlebih dahulu. Setelah selesai membersihkan diri, ia berniat memindahkan bunga yang di berikan Abhian tadi untuk di taruh di dalam vas. 


Naya belum pernah menerima bunga dari seseorang, ini kali pertamanya. Jadi, ia tidak tahu banyak tentang bunga, itu sebabnya ia tidak tahu nama bunga yang diberikan Abhian padanya. Namun bunga ini sangat cantik, dan Naya sangat berterima kasih.


"Gue bahkan nggak sempat ucapkan selamat ulang tahun ke dia," monolognya, mengelus kelopak bunga itu dengan lembut. Karena mengobrol banyak dengan mama Abhian, Naya jadi lupa belum memberi ucapan selamat ulang tahun pada Abhian.


Gadis itu beranjak menaiki tempat tidur, lalu duduk dengan punggung yang tersandar pada dinding. Di ambilnya benda pipih itu, berniat menanyakan kabar Abhian. Apakah lelaki itu sampai di rumah dengan selamat.


Sepuluh menit menunggu, tak kunjung menerima balasan dari Abhian. Pikirnya mungkin lelaki itu masih di jalan, atau mungkin sudah tertidur karena capek.

__ADS_1


Naya meninggalkan ruang obrolan chatnya bersama Abhian, lalu beralih ke aplikasi belanja online untuk membelikan Abhian hadiah.


"Bagusnya beli apa ya buat hadiah?" gumamnya, dengan jari yang sibuk men-scroll katalog yang menampilkan banyak barang yang di jual dalam aplikasi tersebut.


Gadis itu berpikir keras, kira-kira barang apa yang bermanfaat ataupun yang dapat digunakan Abhian. Sepuluh menit berpikir, satu barang akhirnya singgah di kepalanya.


"Apa gue beliin jaket aja kali, ya?"


Mengetahui Abhian anak geng motor, Naya rasa jaket merupakan stelan wajib untuknya ketika mengendarai motor. Gadis itu pun mulai memilah-milih jaket mana yang kiranya akan cocok dengan Abhian.


Naya mengetikkan Leather Jacket di kolom pencarian lalu keluarlah  berbagai merek dan harga. Matanya membulat ketika melihat ada jaket yang dijual dengan harga hampir dua jutaan, ya tentu saja karena berasal dari barang brand besar. Gadis itu tau ada harga pasti ada kualitas, sayangnya ia belum bisa membelikan lelaki itu jaket semahal itu.


Pilihannya jatuh pada Leather Jacket warna hitam yang di jual Dengan harga Rp. 365.000, harga yang masih bisa dijangkaunya. Dengan segera ia check out dan  melakukan pembayaran melalui mobile banking, dan selesai, tinggal menunggu jaketnya dikirim.



Mungkin jaket yang di beli Naya bukan jaket yang berasal dari brand besar, namun ia berharap semoga Abhian menyukainya.


Setelah selesai dengan urusan hadiah, Naya meletakkan kembali ponselnya ke atas meja belajar. Baru saja akan menuju alam mimpi, dering ponselnya kembali menyadarkan gadis itu. Dengan malam ia meraba ponselnya untuk mengetahui siapa yang menelpon malam-malam begini.


Saat nama Abhian yang ia lihat tertera di layar, gadis itu spontan mengubah posisinya menjadi duduk. Di gesernya tombol berwarna hijau, setelah itu suara Abhian mulai terdengar dari sebrang sana.


"Naya."


"Ada apa kak? Kenapa nelpon malam-malam begini?"


"Duduk disini dingin," racau lelaki itu.


Alis Naya mengernyit, tidak paham maksud ucapan Abhian. "Dingin? Lo dimana kak? Belum sampai rumah?"


"Ah .... ini di .... kayaknya di depan rumah lo."


Mendengar itu membuat Naya melompat dari tempat tidur. Ia membuka lemari, mencari cardigan untuk menutupi piyama. Kali jenjangnya dengan cepat mengayun keluar rumah, memastikan apakah Abhian benar-benar di depan rumahnya sekarang.


Gadis itu membuka gembok yang mengunci pagarnya, di depan pagar itu, ada Abhian yang terduduk disana.


Kepala lelaki itu mendongak, menatap Naya yang kini sudah berdiri di depannya. Naya bisa melihat dengan jelas kedua pipi Abhian memerah.


Gadis itu meraih lengan Abhian, untuk membatu lelaki itu berdiri. "Jangan duduk di situ kak, kotor," tuturnya lembut.


Abhian manut, dengan badan yang sempoyongan, ia berusaha berdiri dengan bantuan Naya. Setelah berhasil berdiri, ia langsung menarik tubuh mungil Naya ke dalam dekapannya. Sedangkan Naya, gadis itu terkejut dengan Abhian yang  tiba-tiba memeluknya.


Dalam dekapan Abhian, bau alkohol  terdeteksi di indra penciuman Naya. Kini ia tahu ternyata lelaki itu tengah mabuk sekarang.


"Maafin, gue, Naya." Abhian kembali meracau.

__ADS_1


"Maafin, gue."


"Gue, pengecut."


Naya tidak tahu apa yang membuat lelaki itu terus mengucapkan kata maaf padanya. Tangannya terulur, mengusap punggung Abhian dengan lembut. Tanpa di beri tahu, Naya sudah bisa menebak pertemuan dengan Mamanya tadi siang pasti menjadi alasan lelaki itu mabuk-mabukan malam ini.


Namun ia tetap kecewa pada Abhian karena memilih minuman itu sebagai pelampiasan emosinya.


"Maaf, Naya, Maaf."


Naya menghela napas pelan, masih dengan posisi berpelukan, ia kembali membuka suara. "Kenapa lo minta maaf terus? Memangnya ada salah apa sama gue?" tanyanya.


Pelukan Abhian terasa semakin erat.


"Maafin gue, Naya. Soal kecelakaan itu, gue belum bisa membuktikan .... kalau bukan sepenuhnya kesalahan gue," ujar Abhian, masih di bawah pengaruh alkoholnya.


Tangan Naya yang semula sedang mengusap lembut punggung Abhian mendadak berhenti. Gadis itu masih mencoba mencerna kalimat Abhian barusan.


Naya mengurai pelukan mereka dengan paksa, kedua tangannya mencengkram kedua lengan Abhian. "Lo barusan bilang apa kak? Maksud lo apa?"


"Maaf, maaf." Abhian kembali meracau kan kata maaf.


Pertanyaannya belum terjawab, Naya kembali mengguncangkan tubuh Abhian. Berharap lelaki itu sadar dari mabuknya sekarang. "Kenapa minta maaf terus sih kak! Apa maksud ucapan lo barusan? Kesalahan? Kenapa kecelakaan kakak gue lo bilang kesalahan lo?!" kesal Naya, nada bicaranya mulai meninggi sekarang.


"Memang kesalahan gue, karena .... nabrak kakak lo, Naya."


Kedua tangan Naya yang tadi mencengkram lengan Abhian terlepas begitu saja, seolah kehilangan tenaga. Badannya terasa lemas seketika, dan matanya mulai memanas karena pengakuan Abhian barusan.


Karena pengaruh alkohol, tanpa sadar Abhian mengakui kesalahan yang selama ini dia sembunyikan pada Naya.


"Maafin gue, Naya."


Runtuh sudah pertahanan Naya sekarang, ia terisak karena sangat kecewa dengan pengakuan Abhian malam ini. Gadis itu menutup mulutnya menggunakan telapak tangan, agar isak tangisnya tak terdengar oleh Mamanya yang mungkin sudah terlelap di dalam rumah.


Abhian hendak mendekati Naya yang sedang menangis, namun karena tubuhnya tidak dibawah kendali penuhnya, lelaki itu kembali terperosok ke atas tanah.


"Maaf, Naya. Gue memang brengsek, gue bodoh, gue pengecut,"  kelakar Abhian.


Gadis itu berniat tak menghiraukan semua kata maaf dari Abhian, kakinya mulai mengayun hendak meninggalkan Abhian yang terduduk kembali di tanah. Namun belum cukup lima langkah, gadis itu berhenti. Ia berbalik badan, menatap nanar kearah Abhian. Meskipun diselimuti rasa kecewa saat ini, masih ada sedikit rasa empati yang tersisa untuk lelaki itu.


"Gue kecewa kak, tapi kenapa rasanya gue nggak bisa benci sama lo."


...****************...


❗Picture by Pinterest❗

__ADS_1


__ADS_2