
"Itu saja materi dari saya hari ini, jangan lupa tugasnya dikumpulkan ke ruangan saya besok," ujar Pak Fadli, menutup pembelajaran Bahasa Indonesia yang ia bawakan hari ini.
Guru muda itu hendak beranjak keluar kelas 10 IPA 3, namun langkahnya terhenti ketika mengingat sesuatu. "Oh iya, Tanaya, sebentar setelah istirahat kamu ke lab bahasa, ya. Kita mau bahasa lomba bulan depan," katanya pada Naya.
Naya mengangguk dengan sopan. "Baik, bapak," jawab gadis itu.
Setelah kepergian Pak Fadli, kelas yang semula hening berubah jadi bising dalam beberapa detik. Mereka berbincang sembari menunggu guru mata pelajaran berikutnya tiba di kelas, termasuk Naya dan kedua temannya.
"Lomba apa yang di maksud pak Fadli, Nay?" tanya Rara.
Naya yang sedang memainkan ponselnya mendongakkan kepala menatap Rara yang menjadi lawan bicaranya. "Lomba debat bahasa Indonesia, katanya nanti gue se tim sama kelas sebelas dan duabelas," jawabnya, Rara manggut-manggut sebagai respon.
"Loh, kelas duabelas masih bisa ikut lomba ya? Bukannya udah gak lama lagi mereka ujian?" Kini giliran Zulfa yang bertanya.
"Mungkin partisipasi terakhir mereka," imbuh Naya.
Obrolan mereka berdua harus terhenti karena Bu Fitri sudah tiba di dalam kelas. Seisi kelas mendadak diam, ketika guru BK itu berdiri di depan mereka. Bu Fitri memang bukan guru killer, tapi status guru BK yang disandangnya membuatnya di segani banyak siswa. Beliau orang yang dinamis, dengan slogan andalan 'Ada waktunya untuk fokus dan ada juga waktunya untuk bermain, jangan sampai tertukar,' itu katanya. Seisi kelas memperhatikan materi pendidikan kewarganegaraan yang dibawakan guru itu dengan tentram.
...****************...
Naya memutar knop pintu lab bahasa yang sebelumnya tertutup rapat, gadis itu mengintip di balik pintu dan belum menemukan siapapun di dalam sana. Padahal ini masih jam istirahat, namun karena Naya masih merasa kenyang ia memilih langsung menuju lab bahasa. Menunggu pak Fadli dan kakak-kakak kelasnya tiba disana.
Gadis itu membuka novel yang sengaja di bawanya dari kelas, lalu mulai membacanya. Saking asiknya dengan dunia fiksi didalam novel itu Naya jadi tidak memperhatikan sekelilingnya.
Selain pandai dalam hal public speaking ketika debat, Naya juga menyukai hal-hal berbau sastra.Ia sudah mengemari buku-buku sastra sejak duduk di bangku kelas 6 SD. Saat itu ia juga mencoba menulis beberapa cerpen dan puisi, lalu ia kirim untuk di terbitkan di koran harian. Namun sekarang, menulis tidak terlalu ia tekuni, hanya dijadikan sebatas hobi saja.
Mendengar pintu lab itu terbuka, Naya yang tadinya fokus membaca mengalihkan pandangan ke arah pintu. Disana, lelaki dengan lesung di kedua pipinya berdiri di sebelah pintu, ikut memandangnya.
Gadis itu terkejut melihat kehadiran teman Abhian, fakta bahwa ia melihatnya disana berarti teman Abhian itu akan se-tim dengannya saat lomba debat nanti. Naya pikir, anak geng motor seperti mereka hanya sibuk tawuran dan ugal-ugalan dijalan. Ternyata salah satu dari mereka ada yang berprestasi juga.
__ADS_1
"H--hai," sapa Edgar canggung.
Edgar menutup kembali pintu lab, ia berjalan mendekati Naya yang duduk disalah satu kursi di dalam sana, lelaki itu memilih duduk di depannya.
"Lo dipilih lomba debat juga?" tanya Edgar mencoba basa-basi agar suasananya tidak canggung, namun pertanyaannya hanya dibalas anggukan kepala singkat dari Naya.
Gadis itu kembali membaca bukunya, tak menghiraukan keberadaan Edgar di sana. Sedangkan Edgar terus memperhatikan Naya, dikepalanya lelaki itu bertanya-tanya mengapa sifat ramah Naya yang biasa ia lihat ketika bersama Abhian berubah dingin ketika dengannya.
Sepuluh menit diselimuti keheningan, akhirnya pak Fadli dan Aleesha, siswi kelas sebelas itu tiba di sana. Sebelumnya mereka dipersilahkan oleh Pak Fadli untuk memperkenalkan dirinya pada satu sama lain, setelahnya barulah mulai membahas materi yang akan menjadi mosi perdebatan mereka saat lomba nanti.
...****************...
Abhian memanjat tembok belakang sekolahnya, lelaki itu berniat membolos karena ingin menjenguk Raul yang absen hari ini. Sebelumnya ia sudah izin pulang duluan pada guru yang berjaga, namun tidak diizinkan. Alhasil, lelaki itu nekat memanjat tembok belakang sekolah yang tidak terlalu tinggi itu.
"Salam sama Raul, ya, Bi. Bilangin nanti gue nyusul kesana setelah pulang," tutur Sandi, yang sedang menjaga situasi agar Abhian bisa bolos dengan lancar.
"Gue juga," sahut Novan.
Lelaki itu mendarat dengan selamat, ia segera berlari menjauh dari sana sebelum ketahuan penjaga sekolah. Ia memesan ojek online dan menunggu di pinggi jalan. Jika kalian bertanya dimana motornya, jawabannya tentu saja di dalam sekolah. Kalo saja diberikan izin oleh guru jaga, Abhian pasti sudah sampai di kos Raul dengan motornya.
Sesampainya di kos Raul, Abhian mengetuk pintunya berkali-kali sampai pintu itu di buka oleh si tuan rumah. Ditangannya ada sebuah kresek plastik berwarna hitam berisi makanan yang tadi sempat ia singgah beli ketika menuju kesini.
Abhian terus mengetuk, namun tak ada tanda-tanda Raul akan membukakan pintu untuknya. Ia mengintip melalui jendela, untuk melihat situasi di dalam kos Raul. Jendela tanpa horden yang menutupi itu mengekspos ruangan kos Raul yang sepi, bahkan motornya yang biasa ia simpan di dalam tidak ada di sana. Sepertinya Raul sedang tidak ada di kos.
Lelaki itu mengeluarkan ponsel dari dalam saku, berniat menelpon sahabatnya itu. Namun sampai di percobaan ketiga, panggilannya juga tak kunjung di terima Raul.
Ia menatap nanar pintu kos Raul. Niatnya datang ke sini untuk mengecek kondisi sahabatnya setelah dikeroyok kemaren pupus. Selain itu, Abhian juga ingin mendengar cerita dari sudut pandang Raul, ada hubungan apa dia dan Gerry sampai bertemu diam-diam seperti itu. Abhian ingin meluruskan kesalahpahaman ini.
Karena si tuan rumah sedang di luar, Abhian memilih menuju basecamp saja.
__ADS_1
Sebagai ketua dan sahabat Raul, Abhian tidak akan tinggal diam mendengar berita itu berlalu-lalang di telinganya. Selagi belum ada konfirmasi berita itu benar dari Raul sebagai pihak yang bersangkutan, ia akan mencoba terus percaya bahwa bukan Raul pelakunya.
"Gue harap bukan lo pelakunya, ul."
...***********...
Seorang gadis dengan rambut tergerai dengan santai memasuki basecamp Tiger. Di dalam sana, banyak anggota Tiger yang melayangkan tatapan dengan makna yang berbeda-beda. Ada yang menatapnya dengan kagum akan kecantikannya, ada juga yang menatapnya dengan sinis.
Gadis itu menghampiri Theo yang berbaring di sofa panjang dengan mata yang terpejam.
"Bangun," suruhnya pada leader Tiger itu.
Theo membuka sebelah matanya, mengintip siapa sosok di balik suara merdu itu. Sudut bibirnya terangkat ketika mengetahui sosok itu ternyata orang yang di taksirnya tiga tahun lamanya.
"Kenapa, cantik?" tanyanya genit pada Laura.
Ya, gadis itu adalah Laura. Mantan Abhian. Sebelum berpacaran dengan Abhian, Theo lebih dulu naksir pada Laura. Sayang seribu sayang, Theo yang tak masuk di kriterianya. Gadis itu lebih menyukai sosok yang keren dan tentunya tampan seperti Abhian. Itulah yang menjadi salah satu penyebab Theo sangat membenci leader angkatan kedua Savage, Abhian Maheswara.
"Gue mau dengar soal kejadian yang menimpa Abhian dan gengnya satu tahun yang lalu. Meskipun lo rival mereka, lo pasti tau sesuatu kan?" Laura duduk di sofa yang sama dengan Theo.
Meskipun saat itu ia masih menjadi pacar Abhian, lelaki itu tak memberi tahu alasan mengapa Abhian tiba-tiba izin tidak masuk sekolah. Ia berkali-kali bertanya alasannya pada Abhian dan teman-teman geng lelaki itu, namum mereka semua memberi jawaban yang sama, bahwa lelaki itu tidak masuk karena sedang berobat.
"Kenapa lo tanya sama gue? Memangnya pacar yang lo bangga-banggakan itu nggak kasih tau hal se-penting itu ke lo?" sindir Theo.
Laura menggeleng lemah, ia benci mengakui ini ke Theo, namun harus ia lakukan karena benar-benar penasaran apa yang membuat Abhian tiba-tiba memutuskannya saat itu.
"Gue udah putus sama dia, pasti karena kejadian satu tahun lalu. Makanya gue pengen cari tahu soal itu."
Theo hanya mangut-mangut, namun dalam hatinya ia bersorak senang. Akhirnya saat yang dia tunggu tiba juga, gadis pujaannya akhirnya putus dengan sang kekasih.
__ADS_1
Leader Tiger itu mulai menceritakan semuanya pada Laura, gadis itu mendengarkan semuanya dengan baik. Ekspresinya berubah ketika mendengar pengakuan yang sangat mengejutkan dari Theo.
Ternyata Theo tau, siapa pelaku yang berniat mencelakai Abhian malam itu.