ABHINAYA

ABHINAYA
19. Naya vs Laura


__ADS_3

Karena tidak bisa tidur, Abhian meminta tolong pada bude Sri untuk membuatkannya susu hangat. Wanita itu tentu dengan senang hati menerima permintaan Abhian, pasalnya anak itu sudah jarang berada di rumah.


Sambil menunggu, Abhian membuka pintu yang menghubungkan dapur dengan garasi rumahnya. Tak lupa saklar lampunya ia tekan, agar garasi yang temaram itu mendapat penerangan.


Kakinya melangkah mendekati motor yang ditutup mengunakan cover berbahan plastik. Dengan sekali hentakan, cover itu terbuka membuat motor Kawasaki Ninja FL 250 terekspos.


Kondisi motor yang Abhian miliki saat duduk di bangku kelas sepuluh itu tidak terlihat baik, bahkan bisa di bilang hancur parah. Setelah kecelakaan, motor itu tak sempat Abhian bawa ke bengkel, karena ia sibuk mengobati cedera dan menjalani hukumannya.


Baru sadar kecelakaannya memilik keanehan yang ia lewatkan, Abhian berniat mencari tahu kebenarannya secara diam-diam. Dimulai dari keanehan pada rem motornya yang tidak berfungsi dengan baik hari itu, ia berniat mengirim ke bengkel untuk di cari tahu penyebab remnya itu rusak.


"Ini, Bian, susu pesananmu," Bude Sri menghampiri Abhian yang terdiam di garasi memandang motornya.


Abhian mengambil alih segelas susu yang bude Sri berikan padanya. "Makasih, bude," kata Abhian.


Bude Sri hanya tersenyum, ia mengikuti arah pandang Abhian yang tertuju pada motor lamanya. "Motornya mau diapakan sama Bian?" tanya wanita itu.


"Mau aku bawa ke bengkel, siapa tahu masih bisa di perbaiki," jawab Abhian, ia belum ingin memberi tahu bude Sri tentang misteri kecelakaannya.


"Oh, iya. Bude punya kenalan orang bengkel. Kalo mau nanti bude hubungi suruh datang kesini buat bawa motor Bian diperbaiki ke bengkelnya," usul Bude Sri.


Abhian mengangguk antusias. "Boleh, bude. Kalo gitu soal ini Bian serahin ke bude, ya," balasnya.


"Ya, sudah, bude tinggal tidur ya. Kamu jangan kemaleman tidurnya, besok kan berangkat sekolah," tutur Bude Sri.


Abhian mengangkat tangannya di sebelah alis, seolah memberi hormat pada bude Sri. "Siap!" katanya.


...****************...


Gosip Abhian dan Naya sudah sampai di telinga Laura. Gadis itu tidak masuk sekolah kemaren, makanya ia baru ingin menghampiri Naya hari ini.

__ADS_1


Semalam ia tidak lupa menghubungi Abhian, tentu saja untuk meminta penjelasan dari lelaki itu. Namun Abhian mengabaikan semua chat dan telpon darinya, membuat Laura menyimpulkan semua karena Naya.


Dia dan Silvi menghampiri tiga orang adik kelasnya yang sedang makan sembari berbincang di meja kantin paling pojok. Matanya menatap salah satu dari mereka dengan tajam, seolah ingin menerkam orang itu saat ini juga.


Gadis dengan rambut diurai itu menarik tangan Naya dengan paksa, membuat gadis itu sampai berdiri.


"Ada apa sih kak?" tanya Naya pada kakak kelasnya itu, tidak ada angin tidak ada hujan Laura tiba-tiba menariknya dengan kasar


"Gue udah minta secara baik-baik sama lo, buat menjauh dari Abhian. Tapi liat kelakuan lo, bukannya menjauh yang ada semakin caper ke cowok orang," tuduh Laura, tangannya mencengkram lengan Naya dengan kuat.


Merasakan nyeri di lengannya karena ulah Laura, gadis itu menghentakkan tangannya agar terlepas tadi cekalan kakak kelas galak ini. Murid-murid di sekitar kantin yang menyaksikan perdebatan mereka mulai saling bisik-bisik saat mendengar pernyataan Laura.


Naya mendengar banyak tuduhan yang dilayangkan kan kepadanya, seperti, 'Ternyata bener dia yang caper', 'Kalah jauh sama Laura', 'Tipe kak Abhian jadi aneh banget," dan lain sebagainya.


"Gue gak caper ya, lagipula kakak cuma mantannya kenapa masih ikut campur soal siapapun yang dekat dengan kak Abhian?," bela Naya, tidak ingin hanya dirinya yang di salahkan disini. Naya juga tau posisinya, ia tidak mungkin mendekati bahkan meminta bantuan pada Abhian jika lelaki itu sedang menjalin hubungan dengan orang lain.


Kesal dengan ucapan Naya barusan, Laura mengambil gelas berisi jus jeruk milik teman Naya lalu menyiram jus itu ke seragam Naya. Zulfa dan Rara yang melihat itu terkejut dengan perilaku Laura yang sudah kelewatan.


Naya tertawa remeh, ia bukan gadis yang lemah. Disiram dan dicaci maki seperti ini tidak membuat mentalnya jatuh. "Cinta? Itu udah bukan cinta namanya kak, tapi obsesi," tutur Naya.


"Gak usah sok tau, lo!" Laura menarik rambut Naya membuat gadis itu menjerit karena sakit di bagian kepala. Tidak terima di perlakukan seperti itu, Naya balas menarik rambut Laura. Aksi tarik manarik rambut itu membuat mereka kini menjadi pusat perhatian banyak orang.


"Lepasin anjing, dasar cewek gatal!" teriak Laura.


"Lo dulu lah yang lepas, benar-benar cewek gila lo, kak!" balas Naya.


Abhian dan keempat temannya baru saja tiba di kantin, kelimanya kaget melihat Laura dan Naya sedang ribut di tengah sana.


"Kenapa mereka berantem gitu?" tanya Novan pada salah satu adik kelas disana.

__ADS_1


"Itu kak, tadi kak Laura ngelabrak Naya setelah denger gosip dia pacar baru kak Abhian. Mereka sempat adu mulut trus berakhir jambak-jambakan gitu," jawab adik kelas itu.


Setelah mendengar itu, Abhian segera berjalan membelah kerumunan yang hanya sekedar menonton, tak ada yang berani meleraikan.


"Lepas!" perintah Abhian pada kedua gadis itu.


"Gak! Cewek gatel ini harus di kasih pelajaran!" tolak Laura, ia semakin menarik kasar rambut Naya.


Merasakan kuku Laura menggores kulit kepalanya, Naya meringis kesakitan. "Dia duluan yang lepas, baru gue lepas!"


Tangan Abhian masing-masing menarik lengan kedua gadis itu, berusaha membuat mereka berhenti saling jambak.


"Lepas, Ra! Gak malu apa di liatin banyak orang?!" hardik Abhian, membuat Laura terpaksa melepaskan tangannya dari rambut Naya. Saking kuatnya tarikannya, beberapa helai rambut Naya tersisa di tangannya.


"Kok Lo cuma marah sama gue sih, Bi?! Lo beneran pacar cewek ini? Makanya Lo bela dia?"


"Gue gak bela siapa-siapa disini, lagian kalian gak malu ribut di depan umum kayak gini?"


"Ya itu karena, lo! Coba Lo balas chat sama angkat telpon gue, gue gak bakal nyamperin cewe gatel ini!"


"Stop panggil dia begitu, dia punya nama, Ra."


Laura tertegun mendengar ucapan Abhian, sorot mata lelaki memancarkan rasa kecewa padanya. Abhian di depannya saat ini, seperti bukan Abhian yang ia kenal dua tahun lalu. Ini kali pertamanya ditatap seperti itu oleh mantan pacarnya ini.


"Kita udah selesai, Ra. Gue udah sering ucapin itu ke, lo. Tapi kenapa lo belum berhenti berharap ke gue?" Abhian menatap lurus ke arah Laura.


Mata Laura mulai berkaca-kaca, ia menahan agar bulir-bulir itu tidak jatuh di depan Abhian dan banyak orang. "Karena gue masih yakin lo sama gue bisa balikkan lagi."


Abhian menggeleng. "Gak, masa kita udah habis. Jadi gue minta tolong sama lo buat berhenti berharap itu ke gue, jangan lagi ikut campur soal masalah pribadi gue."

__ADS_1


Setelah menyelesaikan kalimatnya, Abhian menarik tangan Naya dan membawanya pergi dari sana. Meninggalkan Laura yang masih diam ditempatnya, menatap kepergian dua orang itu dengar raut kecewa.


"Apa hebatnya sih dia? Sampai Lo lebih bela dia daripada gue yang udah kenal lo lebih lama dibanding dia?" gumam Laura.


__ADS_2