ABHINAYA

ABHINAYA
22. Keroyokan


__ADS_3



Abhian memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku, tidak terlalu ambil pusing dengan chat Bayu di grup besar Savage tadi. Lelaki itu sedang mampir ke bengkel tempat motornya dikirim untuk di perbaiki.


Motornya berhenti di depan bengkel kecil yang katanya bude Sri milik kenalannya. Cerita yang Abhian dengar, kenalan bude dulunya bekerja di sebuah bengkel motor dan mobil besar. Karena sudah berumur, dia berhenti dari sana dan membuka bengkel kecil-kecilan.


"Permisi," sapa Abhian, pada Pria yang sedang duduk membaca koran di depan bengkel itu.


Pria paruh baya dengan rambut yang hampir memutih seluruhnya menoleh, menatap Abhian dengan tanda tanya.


"Ah, saya kenalannya bude Sri. Yang kemaren kirim motor buat di perbaiki," kata Abhian memperkenalkan dirinya.


Pria itu beranjak mendekati Abhian, "Saya Damar, teman sekolahnya Sri dulu semasa SMA," ujar Pria yang kini Abhian tau bernama Damar.


Pak Damar mengajak Abhian masuk lebih dalam ke bengkelnya. Didalam sana, Abhian bisa melihat hanya ada tiga motor yang diperbaiki pak Damar, termasuk motor miliknya.


"Motor mu ini rusak parah, butuh waktu lumayan lama untuk benar-benar selesai diperbaiki. Kalaupun sudah di perbaiki, tidak bisa seperti dulu lagi," kata Pak Damar, menunjuk motor Abhian.


Sebelum dijelaskan pak Damar, Abhian sudah tau motor itu tidak akan persis seperti dulu walaupun sudah di perbaiki. Namun ia tetap ingin mengirimnya ke bengkel, untuk mencari tahu penyebab remnya rusak.


"Kalo soal remnya, bapak tau apakah memang sengaja dibuat tidak berfungsi?" tanya Abhian.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan itu, pak Damar beralih menatapnya. "Jadi kamu sudah tau kalo ada yang potong kabel rem mu?"


Abhian mengangguk. "Itu baru dugaan saya pak, soalnya saya kecelakaan karena remnya tiba-tiba tidak bisa digunakan saat itu," ungkap Abhian.


"Coba kesini," pak Damar mengajak Abhian mendekat, mereka berdua berjongkok di samping motor Abhian.


"Kamu lihat itu, kabel rem motor mu di putus. Sepertinya ada yang sengaja memotongnya, dilihat dari bentuknya saat terputus," tutur Pak Damar, menunjuk selang rem motor Abhian yang terputus.


Abhian mengikuti arah telunjuk pak Damar, dan benar saja dugaannya, bahwa remnya sengaja dirusak. Tapi siapa? Dan kenapa orang itu melakukan hal membahayakan padanya?


Ponsel Abhian berbunyi, rupanya ada telfon masuk dari Novan. Belum sempat menerima, panggilan itu berhenti dan berubah menjadi spam chat dari Novan menyuruhnya untuk segara ke basecamp.


"Kalau begitu saya pamit ya, pak. Nanti kalau sudah selesai di perbaiki kabari ke bude Sri saja pak, nanti saya datang jemput motornya," ujarnya.


Setelah pamit pada pak Damar karena ada urusan mendadak, motornya pun melaju menuju basecamp dengan perasaan tidak karuan.


Novan dan Raul menuju basecamp Savage bersama, mereka berdua ikut penasaran dengan berita besar yang akan Bayu katakan. Mereka menuju basecamp seperti biasa, tanpa rasa curiga.


Saat masuk ke dalam ruangan basecamp, Raul dan Novan mendapati anggota Savage yang sudah datang sedang berkerumun di satu tempat. Mereka seperti sedang melihat sesuatu di ponsel dalam genggaman Bayu. Keduanya berjalan mendekat, ikut melihat.


"Bay, liat apa kalian?" tanya Novan pada Bayu.


Bayu menginstruksi agar orang-orang yang tadi mengerumuninya menepi, ia menatap Novan lalu Raul. Ponselnya ia angkat di depan wajah Novan lalu beralih pada Raul, di layarnya tampil foto Raul dan Gerry yang kemaren ia ciduk bertemu diam-diam di warung.

__ADS_1


Mata Raul melebar melihat foto dirinya dan Gerry ada pada Bayu, sedangkan Novan beralih menatap Raul seolah meminta lelaki itu menjelaskan soal foto itu padanya.


Novan merampas ponsel Bayu, diperhatikannya kembali foto itu dengan benar. Dua orang di dalam foto itu memang benar Raul dan Gerry. "Apa ini, Ul? Ngapain lo ketemu sama Gerry?" tanyanya ada Raul.


Lelaki itu kini menjadi pusat perhatian semua anggota Savage yang hadir di basecamp Minggu sore ini. Bisa ia lihat banyak tatapan nyalang dan penuh amarah yang mereka layangkan padanya. "Sepertinya kalian salah paham," imbuh Raul.


"Ini berita besar yang gue maksud. Ternyata penghianat yang adu domba kita itu sahabat lo, Van," tuduh Bayu, lelaki itu mengambil kembali ponselnya dari Novan.


"Lo percaya itu, Van? Gue bukan penghujatan, Van!" Raul beralih menatap Novan yang terdiam.


Novan membalas tatapan Raul. "Gue gak mau percaya, ul. Tapi lo ngapain ketemu diam-diam sama Gerry? Lo tau kan si Gerry siapa? Dia anggota Theo!" kata Novan, kini nada bicaranya naik satu oktaf. Karena kecewa melihat Raul tertangkap basah sebagai penghianat mereka.


"Gue sama dia itu se---" Raul menghentikan kalimatnya, hampir saja ia keceplosan. Ia tidak bisa mengatakan fakta pembelaan yang ia punya, karena itu juga akan membahayakan Gerry. "Intinya gue ada urusan pribadi sama dia, bukan soal geng motor kita," lanjut Raul.


"Halah, alesan doang. Kalo udah keciduk ngaku aja kali!" timpal Zidan.


"Gue bukan penghianat ya! Jaga mulut lo, jangan asal tuduh kalo belum tau faktanya," kesal Raul.


"Yaudah apa fakta yang bener? Coba beri tahu kami semua yang ada disini fakta apa yang lo simpan dari kami?" ujar Dicky.


"Udah hajar aja, penghianat ini udah nusuk kita dari belakang!" teriak anggota yang lain.


Mereka mulai menghajar Raul bergiliran, Raul tentu saja tidak tinggal diam. Lelaki itu membalas pukulan yang ia terima, untung saja belum banyak anggota Savage yang  hadir di basecamp. Beberapa saja ia sudah kewalahan menghajarnya bagaimana kalo semuanya hadir?

__ADS_1


Novan yang melihat Raul dikeroyok lebih memilih menelpon Abhian, sebab ia rasa percuma saja ia turun tangan untuk melerai. Anak-anak Savage itu hanya mendengarkan Abhian, selain ketua mereka tidak peduli.


Sayangnya kali ini Abhian datang terlambat, saat sampai sana ia sudah mendapati Raul yang terbaring kesakitan di atas tanah. Lelaki itu menjerit sambil memegang perut nya yang terasa sangat sakit akibat di hantam pukulan berkali-kali.


__ADS_2