ABHINAYA

ABHINAYA
34. Mama dan Jagoan Kecilnya (2)


__ADS_3

"Mama kangen kamu, nak."


Abhian mengusap lembut punggung mamanya, tapi ia tidak menangis. Sekuat tenaga ia menahan air mata itu agar tidak jatuh.


"Maafin mama, Bian."


Abhian bergeming, tidak menanggapi ucapan sang Ibu. Jauh di lubuk hatinya, ia juga rindu sosok wanita itu. Namun ia tidak bisa mengelak dari rasa kecewanya, karena Dewi yang menghilang tanpa kabar.


Dewi mengurai pelukannya, di tatapnya lamat-lamat wajah putranya. Penampilan Abhian sudah banyak berubah. Dulunya, putranya itu memiliki badan yang kurus, tetapi sekarang sudah lebih berisi. Tingginya pun bertambah, Abhian benar-benar sudah tumbuh sejauh ini tanpanya.


Mereka berdua tidak jadi melanjutkan perjalanan karena Dewi ingin mengajak Abhian mengobrol lebih lama. Naya pun setuju saja, dan akhirnya keduanya kembali ke Dandelion cafe. Berbincang santai seraya minum kopi.


Naya ikut duduk dengan Abhian dan ibunya. Meskipun tidak tau masalah apa yang terjadi antara ibu dan anak itu, hawa canggung dapat dirasakannya saat mereka bersama.


Awalnya, hening yang menguasai meja mereka. Hanya suara kartun tontonan Aksa yang terdengar.


"Namamu siapa, nak?" tanya Dewi pada Naya, membuka obrolan.


"Saya Tanaya tante, adik kelasnya kak Abhian di sekolah," jawab Naya, memperkenalkan diri. Ia jadi sedikit gugup di tanya Mama Abhian. Andai tau akan bertemu, ia akan mengenakan pakaian yang lebih rapi daripada saat ini. Ah, memangnya siapa dia? Kenapa berusaha keras ingin disukai Mama Abhian. Toh jadi pacar saja belum resmi.


Dewi melirik sekilas ke arah bucket bunga yang berada di pangkuan Naya. "Kamu pacarnya ya?" tanyanya, lagi.


Naya sontak menggeleng. "Bukan tante, kami cuma temenan kok," ujarnya.


Mendengar jawaban klasik itu, membuat Dewi mengulum senyum. Mengiyakan saja jawaban Naya, meskipun tau mereka pasti lebih dari seorang teman. Apalagi melihat Abhian memberikan bucket kepada seorang gadis, sebagai seorang ibu, Dewi sangat tau pasti putranya memiliki perasaan pada gadis itu.


Dewi beralih menatap Abhian, yang sejak tadi hanya diam. Lelaki itu tengah memperhatikan Aksa yang sedang menonton. Merasa belum memperkenalkan Aksa pada Abhian, Dewi kembali membuka suara.


"Namanya Aksara, umurnya 3 jalan 4 tahun," ucap Dewi, mengusap lembut rambut Aksa.


Abhian tersenyum simpul mendengarnya, ia beralih membalas tatapan mamanya. "Dia pasti mirip papanya, nggak ada mirip mama sama soalnya," tuturnya, bercanda. Membuat Dewi terkekeh.

__ADS_1


Melihat tatapan ibu dan anak itu, membuat Naya menyimpulkan ada banyak hal yang harus mereka obrolkan. Naya berinisiatif memberikan mereka berdua ruang, untuk mengobrol empat mata.


"Aksa mau beli Ice Cream, nggak?" tawarnya pada Azka yang duduk dihadapannya.


Anak kecil itu mengangguk antusias. "Mau Ice Cream!"


"Aku izin bawa Aksa jajan ice cream yang tante, silahkan di lanjut aja ngobrolnya," izinnya, pada Dewi. Naya menatap Abhian sekilas, memberi kode melalui mata agar Abhian santai saja mengobrol dengan mamanya.


Sepeninggalan Naya dan Aksa, ibu dan anak itu sempat hanyut dalam hening. Lagi-lagi Dewi yang mencarikannya dengan membuka obrolan lebih dulu.


"Gimana sekolahmu? Sudah kelas dua belas kan? Lancar aja?" tanya Dewi.


Abhian mengangguk, namun atensinya masih terfokus pada mug didepannya. Tangan Dewi terulur menggenggam tangan kanan Abhian, membuat putranya itu akhirnya mau menatapnya.


"Maafin mama, nggak ngabarin kamu selama ini. Bukannya mama nggak mau hubungi kamu, tapi mama takut ganggu waktu kamu."


"Kenapa nggak ngabarin kalau mama udah menikah lagi?" Akhirnya Abhian berani menyuarakan pertanyaan yang sejak tadi mondar-mandir di kepalanya. Mendengar Aksa yang sudah berumur hampir 4 tahun, berarti Mamanya itu sudah lama menikah lagi.


"Mama ingin kabari, tapi lagi-lagi rasa takut yang mama rasakan. Papamu baru saja menikah setelah perceraian kami. Jika mama memberi kabar bahwa mama juga akan menikah lagi setahun setelahnya, mama takut kabar itu hanya jadi beban pikiranmu," jelas Dewi, suaranya gemetar karena menahan tangis.


Tangan kiri yang ia letakkan di atas paha terkepal, rasa nyeri mulai menusuk dadanya. Selama ini, ia hanya menyalahkan keputusan Papanya yang menikah lagi tanpa tahu mamanya pun melakukan hal yang sama. Ia bukannya kecewa atas keputusan mamanya yang ingin memulai kebahagiaan baru dengan keluarga barunya. Hanya saja, berita sepenting itu terlewatkan oleh Abhian.


Melihat mamanya yang mulai terisak, runtuh sudah pertahanan Abhian. Air mata lelaki itu mulai turun membanjiri pipinya. Lelaki yang jarang sekali menangis, yang jarang sekali menunjukkan rasa sedihnya. Kini terisak bersama dengan sang Ibu.


"Mama ber-utang banyak maaf sama kamu, nak. Salah satunya, maaf karena mama tidak datang menjengukmu saat kecelakaan itu menimpamu. Maaf karena mama tidak menemanimu di fase saat kamu berjuang untuk sembuh, maaf karena tidak bisa menjadi pendukung mu ketika stress pasca kecelakaan itu menyerangmu."


Abhian hanya terisak, tidak sanggup untuk merespon semua pernyataan mamanya.


"Selama ini mama hanya berdoa atas kesembuhan mu, berdoa supaya hukumannya tidak memberatkanmu. Dan mama sangat bersyukur semua doa mama sudah terjawab ketika melihatmu lagi hari ini."


Dewi beranjak dari duduknya, berpindah posisi duduk di kursi Naya tadi yang berada di samping Abhian. Ia mendekap tubuh putranya itu, mengelus punggungnya dengan sayang.

__ADS_1


"Sekali lagi maaf mama baru muncul hari ini, tujuan mama memang ingin datang di hari ulang tahun mu."


Ia tidak akan memaksa Abhian untuk memaafkannya, hak itu sepenuhnya punya Abhian. Mau tidak dimaafkan pun, Dewi tidak akan mempermasalahkannya. Ia cukup sadar diri, ia bukan ibu yang baik untuk Abhian.


"Selamat ulang tahun, Bian. Terimakasih sudah jadi anak mama, terimakasih sudah berkorban untuk membahagiakan mama. Semoga kamu selalu dilindungi dan di kelilingi oleh orang-orang baik."


Naya yang baru saja selesai membelikan ice cream untuk Aksa, terdiam di depan kaca besar cafe. Netranya menangkap Abhian yang tengah terisak di depan Mamanya di dalam sana. Abhian yang biasanya  ganas saat memukul lawannya kini sedang menangis tersedu-sedu, membuat hati Naya ikut merasakan nyeri. Gadis itu mengusap air matanya yang entah sejak kapan ikut mengalir.


Dia belum terlalu banyak mengenal Abhian dan keluarganya. Namun siapa sangka ternyata lelaki itu punya kehidupan yang menyakitkan juga. Abhian selalu berkata akan menjadi teman untuk Naya berbagi luka, tanpa peduli bahwa dia yang paling terluka di antara mereka.


...*********...


Karena asik mengobrol, tidak terasa waktu sudah menjelang sore saja. Dewi pamit pulang lebih dulu, karena Aksa sudah rewel, mungkin karena anak itu sudah lelah bermain seharian.


"Pamit dulu sana, sama kakak-kakak ini," suruh Dewi pada Aksa.


Aksa pun menurut, kaki kecilnya berlari untuk memeluk kaki Naya. Gadis itu menyambut pelukan Aksa dengan senang hati, ia bahkan berjongkok untuk memeluk tubuh mungil Aksa.


"Makasi, eskimnya kak Nana," ujar anak itu. Nana adalah panggilan Aksa untuk Naya, dan baru diresmikan bocah itu hari ini.


"Sama-sama, Aksa."


Kini bocah itu beralih pada Abhian, membuat lelaki itu ikut berjongkok seperti Naya. Ia menepuk lembut pucuk rambut Aksa.


"Jangan nakal ya, denger kata mama. Harus jadi anak pinter, biar nanti kalau ketemu lagi, kak Bian janji  bakal bawakan Aksa mainan," pesan Abhian, pada jagoan kecil itu. Ia memang belum sepenuhnya menerima kehadiran Aksa sebagai adik satu Ibu dengannya. Namun anak itu tidak punya salah padanya, Abhian akan berusaha menyayangi Aksa seperti adik kandungnya sendiri.


Aksa menyengir lebar mendengar kata mainan yang di janjikan Abhian. "Janji, ya?" Anak itu mengangkat jari kelingkingnya di depan Abhian.


Abhian tersenyum, lalu ikut menautkan jadi kelingkingnya pada kelingking kecil Aksa. "Janji!" katanya.


Karena sekarang sudah tinggal di daerah Garut, setelah dari sini Dewi akan langsung kembali meninggalkan kota Bandung dan Abhian.

__ADS_1


"Naya, tante titip Abhian, ya. Kalau dia masih sering tawuran sama balapan, lapor aja ke tante. Biar tante yang omelin," pesan Dewi pada Naya, ia sudah tahu kebiasaan baru Abhian yang bergabung dengan anak geng motor. Meskipun masih tidak setuju, karena khawatir putranya akan terluka.


Naya merespon dengan senyuman, sedangkan Abhian, lelaki itu diam kembali.


__ADS_2