ABHINAYA

ABHINAYA
20. Bisa salah paham


__ADS_3

Naya hanya diam ketika dibawa pergi oleh Abhian keluar dari area kantin. Abhian membawanya ke dalam kelasnya, 12 IPS 2. Kelas itu sedang kosong karena ini masih jam istirahat.


Lelaki itu mengambil jaket kulit berwarna hitam yang semula terletak di senderan kursi, jaket kesayangannya itu ia berikan pada Naya.


"Pakai ini, buat nutupin seragam lo," suruhnya.


Naya beralih menatap seragamnya yang sudah penuh noda jus jeruk di bagian depan. "Gak usah kak, gak enak diliatin orang lain kalo gue pake itu. Nanti orang-orang makin salah paham," tolak Naya, tak ingin menambah gosip baru tentang hubungannya dengan Abhian.


"Terus lo gak masalah di liat orang dengan penampilan lo yang berantakan kayak gini?" Abhian memakaikan jaket itu ke badan Naya, agar menutupi seragam gadis itu yang kotor. Ia beralih menatap Naya. "Berhenti merasa gak enak sama orang lain, Naya, karena mereka bahkan gak pernah merasa begitu ke lo. Lo denger sendiri kan, mereka dengan terang-terangan bergosip di depan lo?"


Tangan Naya bergerak merapikan jaket Abhian yang terbalut di badannya. Ia medongak, menatap Abhian yang lebih tinggi darinya. "Kenapa lo bantuin gue, kak?" tanyanya. Ia penasaran kenapa Abhian selalu membantunya padahal ia belum terlalu kenal pada Naya. Lelaki itu selalu tepat waktu layaknya superhero ketika dia membutuhkan bantuan.


Mendengar pertanyaan itu tiba-tiba dilayangkan padanya, membuat Abhian gelagapan mencari jawaban yang pas untuk gadis itu. "Karena gue merasa harus melakukan itu," jawab Abhian asal. Sebenarnya ia membantu Naya karena sudah berjanji pada Almarhum kakak gadis itu untuk berusaha semampunya melindungi adiknya.


"Ya kenapa lo harus merasa begitu? Beri gue alasan yang masuk akal," tutur Naya.


"Bantu orang lain harus ada alasan memangnya?" tanya Abhian yang langsung dibalas anggukan kepala oleh Naya. "Kenapa harus ada alasannya?" tanya lelaki itu lagi.


"Biar gue gak salah paham," jawab Naya.


Lama menunggu Abhian yang tak kunjung meresponnya, Naya berniat kembali ke kelasnya saja. Namun sebelum itu, lengannya dengan cepat di tahan Abhian.

__ADS_1


"Karena lo butuh gue," jawab Abhian.


Naya menyatukan alisnya bingung dengan jawaban lelaki ini. "Gue butuh lo? Kenapa lo sampai berpikir begitu?"


"Tapi gue bener, kan? Lo udah gak punya sosok kakak yang bisa melindungi lo dan jadi tempat Lo bergantung. Lo memang gak pernah bilang, tapi gue tau lo pasti butuh seseorang seperti itu, kan? Sorot mata lo udah menggambarkan semuanya."


Gadis itu terdiam, ucapan Abhian tidak sepenuhnya salah. Naya juga butuh seseorang untuk tempatnya mengeluarkan keluh kesahnya. Ia tak mau membagi itu dengan mamanya, karena tidak ingin wanita itu jadi khawatir dengannya. Ia ingin membagi dengan teman-temannya, namun Naya selalu merasa tidak enak karena kedua sahabatnya itu pasti punya masalahnya sendiri.


Semua orang pasti punya masalah dalam hidupnya, jadi ia tak ingin ceritanya menjadi beban bagi orang lain.


"Kalo lo butuh seseorang untuk berbagi luka, jangan sungkan bilang ke gue. Gue memang gak pandai merespon, tapi gue bisa jadi pendengar yang baik untuk semua cerita lo," tutur Abhian.


Hati Naya tersentuh mendengar tuturan Abhian, ia mendongak menatap lelaki itu. "Kalo lo kayak gini, gue beneran bisa salah paham kak," balas gadis itu.


Bel pulang sekolah merupakan bel yang paling dinanti oleh semua murid SMA Nusantara. Sebab ketika bel itu berbunyi, selesai sudah kegiatan belajar mereka seharian dan waktunya pulang kerumah masing-masing.


Abhian masih stay di atas motornya, menunggu seseorang yang belum juga lewat di parkiran. Disana Abhian tidak sendiri, ada Edgar yang menemaninya. Sedangkan ketiga temannya yang lain sudah pulang lebih dulu.


"Nungguin siapa sih, Bi?" tanya Edgar, yang melihat Abhian tak henti celingak-celinguk seperti sedang mencari sesuatu.


"Lo sendiri ngapain masih di sini? Gak balik?" bukannya menjawab pertanyaan Edgar, lelaki itu malah balik bertanya.

__ADS_1


"Gue nungguin lo lah, kampret! Tadi pagi di kelas katanya pulang sekolah mau ke rumah gue main PS," tukas Edgar.


Mulut Abhian membulat, lelaki itu ber-oh ria. "Gak jadi, nanti aja pas malem minggu," balasnya.


"Gak bisa gue, malam minggu mau nge-date sama mami dan adek gue," tolak Edgar, ia mulai memakai helm miliknya.


Mendengar itu membuat Abhian mendengus kesal. Edgar juga anak broken home, tapi ia tinggal bersama seorang Mama yang tak pernah membiarkan anak-anaknya tumbuh dengan kesepian. Kadang, Abhian sangat iri pada Edgar karena tingga bersama Mamanya yang sangat perhatian. Kalo saja Abhian juga tinggal bersama Mamanya, Abhian pasti bisa merasakan hal yang sama dengan Edgar.


Abhian membuyarkan lamunannya, agar tidak berlarut memikirkan soal itu. Akhirnya yang ditunggu-tunggu muncul juga, ia melambaikan tangan pada Naya dan di balas senyuman oleh gadis itu.


Terlihat Naya sedang pamit dengan kedua sahabatnya, Abhian juga bisa mendengar bahwa gadis itu tengah di ledeki sekarang.


Naya menghampiri Abhian yang sudah duduk di atas motor. Saat jam istirahat tadi, Abhian menawarkan tumpangan pada Naya. awalnya gadis itu menolak, karena terus dipaksa Abhian akhirnya Naya terima saja.


Lelaki itu menyodorkan helm untuk di pakai Naya. Helm itu ia suruh Sandi yang cari, entah dari siapa Sandi mendapatkannya Abhian tidak peduli.


"Maaf ya lama, tadi gue piket dulu," kata Naya, saat menerima helm dari Abhian. Lelaki itu hanya mengangguk sebagai respon, ia juga mulai memakai helm miliknya.


Interaksi mereka tidak luput dari mata Edgar, dia yang tadinya hendak beranjak dari situ berhenti ketika tahu ternyata gadis itu yang di tunggu Abhian.


Merasa di perhatikan, Naya beralih menatap Edgar. Karena tahu Abhian anak geng motor, Naya jadi tahu teman Abhian itu pasti anak geng motor juga. Ekspresi Naya berubah seketika saat melihat Edgar, ia yang tadinya full senyum sama Abhian jadi full sinis pada Edgar. Dia benci anak geng motor, terkecuali Abhian.

__ADS_1


Edgar yang sadar dengan perubahan ekspresi Naya, jadi berhenti memperhatikan gadis itu. "Gue duluan," pamitnya pada Abhian, yang dibalas jempol oleh Abhian.


Edgar tidak seperti teman Abhian yang lain, yang selalu kepo secara terang-terangan ketika melihat Abhian bersama Naya. Edgar lebih memilih diam, meskipun kepala kini di penuhi banyak tanda tanya tentang gadis yang sedang dekat dengan Abhian itu.


__ADS_2