ABHINAYA

ABHINAYA
11. Balapan


__ADS_3

Seperti hari-hari biasanya, Naya datang ke sekolah sangat pagi. Berangkat pagi sudah menjadi kebiasaanya sejak duduk di bangku sekolah dasar.


Saat masuk gerbang, ia melihat pak Darmo yang sedang duduk santai di pos jaganya. Pak Darmo merupakan satpam di SMA Nusantara yang katanya sudah mengabdi hampir sepuluh tahun disana.


Naya jadi teringat niatnya masuk sekolah ini, yaitu mencari informasi tentang geng motor bernama Savage itu. Ia berniat bertanya pada pak Darmo, mungkin saja pak Darmo punya informasi tentang geng motor itu.


Gadis itu menghampiri pos jaga pak Darmo. “Pagi, bapak,” sapa Naya.


“Pagi nak, ada apa ya?” tanya pak Darmo.


Naya memperkenalkan dirinya terlebih dulu, setelah itu barulah ia katakan tujuannya menemui pak Darmo. "Saya mau tanya sesuatu boleh gak pak?"


Pak Darmo mengangguk sambil kembali meyeruput kopi panasnya, “Mau tanya apa?”


“Saya denger bapak udah lama ya jadi satpam disini? Bapak pernah denger tentang geng Savage, kayak anak-anak geng motor gitu?” tanya Naya.


Pak Darmo mengusap jenggotnya terlihat sedang berfikir, “Oh iya saya tau sedikit, tapi ada apa ya nak? kenapa tanya geng motor itu?”


“Saya cuma penasaran aja pak, bapak tau anggotanya siapa aja?” Naya bertanya lagi.


Lelaki paruh baya itu menggelengkan kepala. “Aduh, kalo soal itu saya kurang tahu nak. Soalnya anak-anak geng motor itu kumpulnya di luar sekolah. Saya Cuma pernah sekali lerai mereka pas kedapatan tawuran deket sekolah, kejadian itu udah dua tahun yang lalu jadi saya gak terlalu ingat wajah anak-anak yang terlibat, ” tutur Pak Darmo. “Kalo kamu mau cari tahu tentang itu mending tanya kakak-kakak kelasmu, geng motor seperti itu biasanya terkenal di mereka, mereka pasti lebih tahu banyak daripada saya,” tambahnya.


Naya mengangguk mengerti, “Baik, makasih ya bapak.” Setelah mengucapkan itu, Naya pamit lalu pergi menuju kelasnya.


Di sepanjang koridor ia terus terpikir ucapan pak Darmo tadi yang menyuruhnya bertanya pada kakak kelasnya, tapi kepada siapa Naya bisa bertanya? Ia tidak punya banyak kenalan, terutama kakak kelas.


Tunggu dulu, ia kenal satu. Sosok Abhian terlintas dipikirannya, lelaki itu merupakan satu-satunya kakak kelas yang Naya kenal. Namun jika rumor yang di katakan Rara soal Abhian dan teman-temannya yang tergabung di sebuah geng motor benar, apakah tidak masalah jika Naya bertanya langsung padanya?

__ADS_1


Ah, Naya jadi bingung. Kapan-kapan jika ada kesempatan yang pas, ia akan memberanikan diri untuk bertanya.


...****************...


“Malam ini yang turun siapa?’ tanya Abhian pada anak-anak Savage yang lain. Saat ini mereka sedang berkumpul di basecamp untuk bersiap ikut balap taruhan malam ini.


“Belum ada yang menawarkan diri, soalnya dari anak Tiger yang turun malam ini si Theo,” jawab Novan yang duduk di sebelahnya.


“Kalo gitu gue aja,” cetus sang ketua.


"Serius, lo? Kondisi lo udah sembuh total emangnya?” sahut Edgar, khawatir jika Abhian hanya memaksakan diri untuk ikut.


Abhian mengangguk yakin, “Kondisi gue udah membaik, itung-itung ini sebagai pemanasan. Udah lama gue gak turun balap,” ujarnya.


Setelah selesai memutuskan personel yang akan turun, barulah mereka menuju lokasi diadakannya balap taruhan. Balapan ini akan di mulai saat tengah malam, ketika jalanan yang menjadi rute balap mereka sudah sepi dari pengendara lain.


“Good luck ya, jangan sedih kalo kalah dari gue. Secara lo kan udah lama nggak ikut jadi bakal gue maklumi kalo permainan lo hari ini buruk,” ucap Theo diakhiri dengan kekehan remeh darinya.


Abhian ikut tertawa mendengar ucapan Theo yang sangat percaya diri menurutnya, “Memangnya lo bisa ngalahin gue? bukannya selama ini lo yang kalah kalo lawan gue?" balas Abhian.


Theo ingin kembali membalas ucapan Abhian, namun harus ia tunda karena balapan mereka akan di mulai. Ketika aba-aba mulai terdengar, kedua lelaki itu kompak menarik gas motor mereka. Suara teriakan penonton meramaikan aksi balap liar mereka malam ini.


Di awal, motor Abhian yang memimpin. Lelaki itu berusaha mempertahankan kecepatan motornya agar tak bisa di susul oleh Theo. Namun saat tiba di pembelokan, motor Theo dengan kecepatan tinggi mendahuluinya. Theo juga dengan sengaja menyenggol Abhian, membuat motornya hampir hilang keseimbangan.


Telinga Abhian berdengung hebat ketika melihat motor Theo yang tiba-tiba menyalipnya, bayangan kecelakaan dua tahun lalu melintas sedetik dikepalanya. Lelaki itu mengatur napasnya yang memburu, ia pikir sudah benar-benar sembuh. Nyatanya trauma kecelakaan itu masih meghantuinya.


Abhian berusaha untuk tetap fokus, ia menambah kecepatannya untuk menyusul motor Theo. Melihat garis finish sudah tidak jauh dari posisinya, Abhian menarik penuh gas motornya dan berhasil mendahului Theo. Motornya lebih dulu menginjak garis finish, membuat anggota Savage bersorak riang atas kemenangan ketua mereka malam ini.

__ADS_1


Bukannya melakukan selebrasi setelah menang, Abhian turun dari motor dengan tergesa-gesa lalu menjauh dari kerumunan itu karena dadanya yang terasa sesak. Edgar yang lebih dulu menyadari kondisi Abhian ikut menyusul langkah lelaki itu.


“Lo ngak papa, Bi? tanyanya pada Abhian, sedangkan lelaki itu hanya mengangguk sebagai jawaban.


Abhian menurunkan resleting pada kantong jaketnya, lalu mengeluarkan obat tablet yang terkemas di dalam Blister pack. Ia mengambil satu, lalu menelannya tanpa air. Edgar yang melihat itu terdiam, ia pikir Abhian sudah benar-benar sembuh setelah lama pergi berobat, namun tampaknya sahabatnya itu belum pulih seutuhnya.


“Kunci motor lo, mana?” Abhian mengadahkan tangannya di depan Edgar, meminta lelaki itu segera memberikan kunci motor miliknya. Edgar segera merogoh saku celananya, setelah ketemu, kunci motornya ia serahkan pada Abhian.


Obat yang Abhian minum akhirnya bereaksi, degup jantungnya perlahan kembali normal. “Gue mau balik duluan, motor lo gue bawa dulu, ya. Nanti lo pake motor gue,” ujarnya, ia sengaja meminjam motor Edgar karena motor miliknya berada di tengah kerumunan.


“Lo beneran nggak papa?” tanya Edgar sekali lagi, pasalnya wajah Abhian masih terlihat sangat pucat.


“Iya, gue Cuma kecapean aja. Oh iya, hadiahnya lo aja yang bawa dulu,” pintanya, ia menepuk pundak Edgar sebelum benar-benar membawa motor lelaki itu pergi dari sana.


Disisi lain, Theo yang tiba di finish setelah Abhian tentu saja kesal, ia membuka helmya dengan kasar. Padahal tadi sedikit lagi motornya menginjak garis finish lebih dulu, tetapi lagi-lagi di gagalkan Abhian dengan cara yang sama yaitu menyalip motornya ketika garis finish sudah di depan mata mereka.


“Argh, sialan!” teriaknya, kesal.


Gerry yang baru saja menghampirinya dibuat geleng-geleng kepala melihat tingkah Theo yang memaki-maki diri sendiri. “Udah kali, bos, lo lagi nggak hoki aja malam ini,” ujarnya.


Theo yang sedang kesal semakin emosi ketika mendengar pernyataan Gerry, ia menarik kuat depan hoodie yang dikenakan Gerry.“Jadi maksud lo, tiap usaha gue lawan dia kalah dengan hoki dia gitu?!” marah Theo.


“Ma … maksud gue bukan gitu.”


“Trus maksud lo ap-,” kalimat Theo terhenti ketika mendengar suara Kevin.


“Bos, bos, coba liat deh si Abhian,” Kevin menunjuk Abhian dan Edgar yang memencar dari kerumunan. Namun yang menjadi sorotan mereka anak Tigar yaitu saat melihat Abhian mengeluarkan obat dan meminumnya dengan wajah yang pucat.

__ADS_1


Theo mendorong tubuh Gerry dengan kasar, “Sok jagoan, nyatanya penyakitan. Tunggu aja, Abhian, gue balas lo,” gumamnya, seraya tersenyum miring.


__ADS_2