
"Hi, selamat datang di novel pertamaku. Karena ini pertamakalinya aku nulis novel, jadi mungkin masih banyak kekurangan, seperti masalah tanda baca, susunan kalimat, plot hole, alur yang lambat, dan sebagainya. Jadi jangan ragu untuk kasih kritik dan saran kalian, thanks a lot."
"Ketika orang lain berkata itu tidak mungkin, itu adalah saat yang tepat untuk membuktikan bahwa mereka salah." - Leo Demhian
...----------------...
Dalam gelapnya malam yang tertutup oleh rintik hujan, tiga sosok polisi berdiri di depan pintu gerbang sebuah hotel yang berlokasi di daerah perbukitan. Lokasinya yang terpencil membuat hotel yang bernama Sky Hotel ini terlihat asing dimata mereka. Cahaya lampu jalan yang redup memantulkan kilau basah di aspal, menciptakan suasana yang misterius di sekitar mereka. Alisha, seorang perwira polisi dengan pengalaman panjang, menatap gedung itu dengan rasa curiga yang mendalam. Di sebelahnya, rekannya bernama Neil, seorang polisi muda yang penuh semangat, merapatkan mantelnya untuk melindungi diri dari rintik hujan yang semakin deras.
Sambil mengangkat walkie-talkie miliknya, Alisha yang berdiri disamping mobil patroli berkata, "Markas Pusat, ini Alisha. Kami akan memasuki Sky Hotel untuk penyelidikan lebih lanjut. Mohon izin."
Suara bergetar dari walkie-talkie memberikan jawaban, "Diterima, Alisha. Pastikan untuk menjaga kewaspadaan dan laporkan segala yang kamu temui di sana."
Alisha mengangguk, meskipun tidak bisa melihat lawan bicaranya. "Kami akan berhati-hati, Markas Pusat." Dengan izin yang diberikan, Alisha mulai mengambil beberapa perlengkapan dari dalam mobil dan kemudian mengunci pintunya.
"Mengapa seseorang akan melaporkan masalah tetangga yang berisik di tempat seperti ini, sih? Bukanya di hotel ada penjaganya ya?" Neil berkomentar sambil mengamati jendela-jendela hotel yang gelap.
"Kasus ini mungkin lebih besar dari yang terlihat. Kamu tahu sendiri kan, pelaporan telepon seperti ini jarang terjadi, apalagi di tempat umum seperti hotel." Alisha menjawab sambil mencoba untuk mencerna situasi.
Leo, seorang polisi dengan aura tegas, menanggapi pembicaraan mereka. "Mungkin ini adalah kasus penculikan atau semacamnya, kita harus segera masuk kedalam." Leo adalah polisi yang memiliki pangkat setara dengan Neil.
Neil mengernyitkan kening dan melirik ke arah Leo. "Ucapanmu ada benarnya juga Leo. Jika tebakanmu benar, mungkin kita dapat kesempatan untuk menemukan petunjuk baru tentang hilangnya kakakmu." Kesunyian di lokasi itu seakan pecah saat Neil berbicara dengan nada yang tinggi.
Alisha, dengan ekspresi seriusnya, mendekati kedua rekannya. "Semua kemungkinan dapat terjadi. Awal mula hilangnya kakak Leo memang kebetulan berada di lokasi yang sama, tapi sekarang yang terpenting adalah untuk menyiapkan semua perlengkapan yang dibutuhkan. Karena kita akan segera masuk."
Leo hanya terdiam saat mendengar perkataan atasannya. Tidak ada perubahan ekspresi di wajahnya. Sekilas dia teringat dengan kakaknya, ingatan itu hanya menimbulkan rasa sakit dan kerinduan yang bercampur dengan emosi.
Leo telah terpisah dengan kakak perempuannya hampir selama 10 tahun, bahkan kasusnya pun sudah seperti dibiarkan begitu saja karena termakan oleh waktu dan tidak adanya kemajuan dalam proses pencarian. Walaupun rasa pesimis yang selalu timbul, Leo tidaklah putus asa, dia tidak mengikhlaskan kepergian kakak tercintanya begitu saja.
Tidak ingin membuang waktu lebih banyak lagi, mereka bertiga segera melangkah mendekati pintu masuk hotel yang seakan mengundang. Lobi hotel ini menyambut mereka dengan suasana yang sederhana dan terlihat seperti hotel pada umumnya. Dindingnya dilapisi dengan panel kayu yang polos, memberikan nuansa alami. Lantai keramik sudah tidak lagi berwarna putih, terlihat seperti sudah digunakan dalam waktu yang cukup lama. Furnitur kayu dengan lapisan pelindung yang telah memudar, menyusun ruang duduk di sepanjang dinding. Terdapat juga beberapa lukisan bertema panorama yang tertanam sempurna di dinding lobi hotel. Penerangan lobi datang dari cahaya lampu yang tersembunyi di balik penutup kayu. Di salah satu sudut, terdapat meja resepsionis berukuran sedang dengan komputer dan tumpukan formulir pendaftaran di atasnya. Karpet tipis berwarna cokelat terletak tepat di bawah pintu masuk, namun sedikit mengalami keausan, mungkin karena banyaknya langkah kaki tamu yang sering berjalan diatasnya.
__ADS_1
Saat sepatu mereka menyentuh lantai keramik, suara langkah mereka bergema di lobi hotel yang sepi. Hanya seperti bangunan kosong, tidak ada satpam ataupun resepsionis di hotel ini. Namun, interior dan benda-benda didalamnya masih tersusun dengan rapi.
Neil menatap sekeliling, merasakan sensasi ketidaknyamanan merayap di belakang lehernya. "Sepi banget, apa disini tidak ada manusia? Seperti tidak ada hawa kehidupan sama sekali."
Alisha mengedarkan mata tajamnya yang melintas di sekitar lobi yang kosong. "Neil, tetaplah waspada. Kita tidak tahu apa yang sedang kita hadapi." Alisha sudah menyadari dari awal, ada yang tidak beres dengan hotel ini.
"Mengerti."
Dengan hati-hati, mereka melanjutkan menjelajahi hotel yang terasa begitu sepi. Hujan terus turun dengan intensitas yang semakin kuat, menghasilkan suara yang kontras dengan keheningan yang mengisi ruangan.
"Kita harus naik," ujar Alisha tegas. "Panggilan telepon itu datang dari salah satu orang di lantai 6."
"Alisha, lebih baik kita pakai liftnya saja, selagi masih berfungsi. Bukannya apa-apa, tapi tangga keatas itu kelihatan licin dan gelap." Ucapan Leo menghentikan langkah Alisha yang akan menaiki sebuah tangga yang gelap.
Alisha mengangguk.
Walaupun Alisha memiliki pangkat yang lebih tinggi, dia menganggap Leo dan Neil sudah seperti sahabatnya. Mereka sudah terbiasa saling memanggil dengan sebutan nama bukan melihat dari pangkat mereka.
Saat pintu lift tertutup, mereka naik dengan perasaan tegang, siap untuk mengungkap kebenaran yang mungkin lebih menakutkan daripada hujan malam yang mengguyur di luar. Dalam lampu lift yang redup, ketiganya berdiri menghadap kearah pintu lift yang sebentar lagi akan terbuka otomatis.
Leo mengangguk tegas. "Aku tidak ingin merepotkan kalian, yang jelas kita harus bekerja sama dan selalu waspada. Siapkan diri kalian untuk apa saja."
Lift berdentang ketika pintu terbuka perlahan, mengungkapkan koridor gelap di depan.
Mereka berdiri sejenak di ambang pintu lift yang terbuka, menghadapi koridor gelap yang misterius. Dindingnya tampak kusam, tergores dan retak, seolah telah melewati masa-masa sulit. Pecahan kaca dan serpihan benda-benda lain berserakan di atas lantai. Cahaya redup dari lampu yang berkedip menyinari lorong yang penuh dengan rintik air yang jatuh dari langit-langit. Bayangan yang tercipta oleh lampu yang tak menentu menciptakan ilusi ancaman yang tak terlihat. Udara disana terasa dingin dan lembab. Suasana yang dihasilkan sangat berbeda, tidak seperti saat mereka berada di lantai dasar.
Neil mengernyitkan dahinya sambil memandangi pemandangan di depannya, lalu ia menggelengkan kepala dengan perlahan. "Nampaknya prediksi kalian benar, ini bukanlah masalah yang remeh."
Sedangkan Alisha menggenggam lengan jaketnya erat-erat, mencoba meredakan detak jantung yang semakin kencang. Firasat buruk yang dirasakannya sedari awal, ternyata benar. "Sepertinya telah terjadi sesuatu yang mengerikan di tempat ini." Ucapnya lirih sambil mengeluarkan sebuah senter dari kantong jaketnya.
Leo menepuk bahu Alisha yang sedang berdiri didepannya."Kita tidak tahu apa yang mungkin ada di sini," ucap Leo dengan suara pelan. "Tapi kita harus terus maju. Terus pertahankan posisi, karena aku rasa berpencar bukanlah pilihan yang tepat."
__ADS_1
Alisha mengangguk, memegang senter dengan erat.
Dengan hati-hati, Leo mengambil langkah pertama ke dalam ruangan gelap itu, senter di satu tangan dan pistol di tangan yang lain. Cahaya senter menerangi koridor yang suram, mengungkapkan dinding yang berantakan dan bayangan-bayangan yang menyeramkan. Tikus dan serangga menjijikkan seakan sedang berpesta berlarian tanpa arah di koridor itu.
Alisha mengikuti di belakangnya, senter yang dia pegang menerangi setiap langkah Leo. Detak jantungnya masih berdetak kencang, tetapi dia tahu dia harus tetap tenang untuk menjaga keadaan agar tetap terkendali. Apalagi dia adalah orang yang sudah seharusnnya memimpin tim dan bertanggung jawab sepenuhnya.
Neil mengikuti mereka dari belakang, pandangannya dipenuhi dengan kewaspadaan ekstra, memeriksa setiap sudut ruangan sekitarnya dengan senter. Dia juga memegang sebuah pistol dan bersiap untuk merespons apapun yang mungkin muncul dihadapan mereka.
Saat mereka berjalan melalui koridor ini, suasana yang menegangkan semakin terasa. Setiap langkah yang mereka ambil memantulkan suara berdecit di lantai yang licin oleh air dan kotoran. Kamar-kamar yang berderet di sepanjang koridor terbuka lebar dan kosong, pintunya banyak yang sudah tidak utuh atau terlepas dari engselnya.
Leo sekilas merasakan ada pergerakan di sudut matanya, pandangannya langsung terarah ke salah satu kamar di samping koridor. 'Kamar 14.'
Hatinya berdegup lebih cepat, dan begitu pergerakan samar itu terlihat di salah satu kamar, insting polisi dalam dirinya langsung terpicu. Dengan langkah perlahan, dia mendekati pintu kamar tersebut, pistol masih dalam genggamannya. Sedangkan cahaya senternya terus menerangi sebagian sudut gelap di kamar itu. Dia menahan napas saat dia melihat bayangan-bayangan di dalam kamar, mencoba untuk memahami situasi, namun sepertinya tidak ada apapun disana.
"Semuanya baik-baik saja di sini," ucap Leo dengan suara lirih, melaporkan temuannya kepada Alisha dan Neil yang menunggu di belakangnya.
Leo merasa lega setelah mengecek kamar dan tidak menemukan hal yang mencurigakan. Namun, saat ia menengok ke belakang, dia hanya melihat Alisha di sampingnya, sedangkan Neil tidak ada.
Alisha juga merasa aneh, karena sedari tadi Neil selalu ada di belakang mereka. Dia menoleh ke sekitar dengan ekspresi cemas. "Neil? Di mana Neil?" Alisha mulai panik.
Leo dan Alisha saling bertukar pandang, perasaan gelisah dan cemas seketika muncul. Mereka menyadari betul bahwa mereka seharusnya tetap bersama agar dapat saling melindungi dari ancaman yang datang.
Alisha memegang senter dengan erat dalam genggaman tangannya, pandangannya penuh kekhawatiran. "Leo, kita tidak boleh berpisah seperti ini. Kita harus segera mencari Neil."
Leo mencoba menghubungi Neil hingga markas pusat melalui walkie-talkie dan juga ponselnya, tapi keduanya sama-sama tidak berfungsi. "Ini tidak mungkin," ucap Leo dengan nada frustasi, mencoba untuk tidak panik.
Alisha menggigit bibirnya, wajahnya penuh kekhawatiran, dia juga telah mencoba hal yang sama."Apapun itu, kita perlu mencari Neil dengan cepat."
Leo mengangguk setuju. Mereka berdua mempercepat langkah mereka, berusaha mengulangi jejak yang sudah mereka tempuh. Koridor yang gelap dan berantakan terasa semakin mencekam, dan ketegangan yang mereka rasakan semakin bertambah.
Setelah beberapa langkah, mereka akhirnya mendengar suara pelan yang berasal dari salah satu pintu kamar yang terbuka. Bisikan suara tersebut seakan-akan menarik perhatian mereka.
__ADS_1
Leo dan Alisha saling memandang, kemudian mengarahkan langkah mereka menuju pintu kamar yang memancarkan suara tersebut. Dengan hati-hati, mereka melangkah mendekati pintu, siap untuk menghadapi apa pun yang mungkin menanti di baliknya. Mereka merasa detak jantung mereka semakin cepat. Dengan napas tegang, mereka akhirnya berdiri di ambang pintu kamar.
Pintu kamar didorong perlahan, mengungkapkan kegelapan di dalamnya. Alisha dan Leo merasakan denyut jantung mereka semakin kencang ketika mereka melihat sosok hitam yang duduk dengan punggung menghadap mereka di tengah kegelapan, tampak seperti sedang sibuk melakukan sesuatu.