
Langkah-langkah mereka terdengar terburu-buru, dan napas mereka tersengal saat mereka berempat berlari menuju pusat desa yang kini tampak dalam kekacauan.
"Leo, sebenarnya siapa yang menyerang kita?" tanya Alisha yang sedang berlari di sampingnya.
Leo tetap terdiam, wajahnya tegang, dan rahangnya terkunci dalam emosi yang mendalam. Dia tidak menjawab, tetapi ekspresinya sudah memberikan petunjuk tentang sumber ketidaknyamanannya.
Sementara itu, Belladona merasakan adanya kehadiran musuh yang semakin mendekat. Pengalaman dan kemampuan sihirnya memungkinkannya untuk merasakan hawa kegelapan yang tak biasa ini. Pikirannya berlari, mencoba mengidentifikasi ancaman yang mereka hadapi. 'Tidak salah lagi, hawa kegelapan ini...'
Setelah mereka sampai di pusat desa, tepatnya di alun-alun desa, pemandangan yang mereka lihat membuat kepanikan nyata ada di hadapan mereka. Warga desa mulai berhamburan, berlarian kesana kemari, berusaha menyelamatkan diri dari ancaman yang mendekat. Sekelompok pria terlihat saling berdesakan, berebut perlengkapan yang tampak seperti senjata-senjata sederhana, seperti tombak kayu dan pedang-pedang pendek. Bahkan banyak di antara mereka hanya bersenjatakan garpu tanah yang biasa mereka gunakan untuk berkebun.
Seorang pria tua yang berdiri di atas gerobak memberikan arahan dengan suara lantang, "Kumpulkan para wanita dan anak-anak ke Balai Desa!"
"Glint! Letakkan peti berikutnya di sana!" Lanjut Balfam Gulgar, kepala desa yang tampil sebagai pemimpin yang selalu penuh semangat, terlepas dari situasi apa pun.
Pria tua yang biasa dipanggil Tuan Balf itu memiliki kulit yang coklat, kepala botak mengkilap, dan dihiasi oleh brewok putih yang tebal. Tubuhnya yang berotot menunjukkan kekuatan yang masih dimilikinya di usia senjanya.
Sementara itu, Glint, cucunya yang berambut seperti mangkuk dan berkacamata tebal, berjalan dengan malu-malu sambil membawa sebuah kotak peti yang berisi tumpukan busur panah. Walaupun peti tersebut sebetulnya tidak terlalu berat, tubuh Glint bergetar dan keringatnya bercucuran. Mungkin dia merasa terbebani oleh tanggung jawabnya yang baru dalam situasi genting ini.
"Eh, Glint, kamu kok letoy banget, kamu itu cowok, masa bawa barang seberat ini aja capek," ejekan tajam itu datang dari kakak perempuannya, Barla.
Beda sekali dengan Glint, Barla memiliki sifat yang mirip dengan kakek mereka, dan bahkan penampilannya pun hampir sama. Tubuh atletis berkulit coklat, semangat yang membara, dan rambut putih panjang yang dikuncir setengah. Barla dengan mudahnya membawa dua peti sekaligus, dengan menatap penuh percaya diri kearah adiknya yang tampak kelelahan.
__ADS_1
Glint hanya mengernyitkan dahi, tidak ingin terpancing oleh ejekan kakaknya. Sebagai gantinya, dia berusaha lebih keras untuk membawa peti itu dengan benar, walaupun lensa kacanya mulai berembun dan kaki kurusnya terus bergetar.
"Biar aku beri pelajaran pada mereka!" Ujar salah seorang pemuda di depan Leo.
"Kamu benar, lihat saja jika para goblin itu sampai berani menginjak kebun kita lagi."
Leo mulai mencerna kata "goblin" yang diucapkan oleh beberapa pemuda yang sedang berkumpul untuk mengambil senjata. Pikirannya mulai menyusun teka-teki tentang siapa yang menyerang mereka. Dari ucapan para pemuda ini, terdengar jelas bahwa serangan semacam ini bukanlah kejadian baru. Meskipun situasinya genting, Leo tidak bisa tidak mengagumi rasa percaya diri yang dimiliki oleh penduduk desa ini.
Sementara goblin sendiri adalah, makhluk kecil yang berkulit hijau, berdiri setinggi sekitar setengah manusia dewasa, atau setinggi anak kecil. Mereka memiliki wajah jelek dengan mata kuning kecil yang selalu waspada. Hidung mereka mancung kebawah seperti timun, dan mulutnya yang selalu meringis mengungkapkan taring yang tajam. Telinga goblin cenderung lancip mirip seperti telinga Elf.
Tubuh goblin dipenuhi dengan otot yang kecil namun kuat, memungkinkan mereka untuk meloncat dan bergerak dengan cepat meskipun ukuran tubuhnya kecil. Tangan mereka memiliki jari-jari yang cukup panjang dan cekatan, cocok untuk merampas barang-barang berharga, termasuk hasil perkebunan di desa ini. Kakinya pendek dan berujung seperti kaki kaki ayam, memungkinkan mereka untuk berlari dengan gesit saat kami mengusirnya.
"Jadi mereka memang sudah biasa menyerang desa ya?" tanya Leo setelah mendengar penjelasan singkat dari dua pemuda di depannya.
"Benar, itu yang kami ketahui tentang mereka. Mereka selalu datang dan mencuri hasil kebun kami, bahkan ternak kami juga jadi korbannya," jawab salah satu pemuda.
Leo memainkan dagunya, banyak pertanyaan bermunculan di benaknya saat ini.
"Anu... apa kalian orang baru di desa ini?"
"Benar," jawab Leo singkat.
__ADS_1
"Oh jika begitu, maafkan kami atas keributan yang terjadi. Lebih baik kalian segera berkumpul di balai desa saat kami mengusir makhluk hijau itu," imbuh salah satu pemuda.
Belladona berjalan mendekati Leo dan berbisik di antara jubah dan telinganya, "Aku rasa yang datang bukanlah goblin, aku punya firasat buruk."
Leo mengagguk, "Kami akan tetap di sini."
"Tapi itu hanya-," ucap pemuda tersebut dengan cemas.
Leo mengangkat tangan kanannya sedada, "Kami akan membalas kebaikan kalian karena sudah menerima kami di sini, jadi biarkan kami membantu."
Pemuda itu merasa senang dengan pernyataan Leo. Suasana di desa terasa semakin gelap dengan ancaman yang semakin mendekat. Para pemuda mulai bersiap menghadapinya, dan Leo bersama teman-temannya siap membantu melindungi desa ini.
Namun, disaat mereka tengah bersiap, suara terompet panjang terdengar, seperti tanda bahaya besar. Tuan Balf, pemimpin desa, berteriak ke arah pria yang meniup terompet dari menara. "Woy! Kenapa meniup terompet tanda bahaya? Katanya hanya goblin?"
Pria di atas menara gemetar dan tidak bisa berbicara sepatah kata pun. Tuan Balf mengetahui apa yang dimaksud pria itu dan menundukkan pandangannya.
Barla yang berdiri di samping Tuan Balf bertanya penasaran karena melihat wajah kakeknya yang tidak biasa. "Apa maksudnya, Kek? Siapa yang datang jika bukan goblin?" Sambil menarik-narik lengan berotot kakeknya.
Tuan Balf mengangkat pandangannya dengan tegas, menatap sekumpulan warga di depannya, termasuk kelompok Leo. Dia menarik napas dalam-dalam sebelum mengeluarkan kata-kata yang menegangkan,
"Mowldark, sudah datang."
__ADS_1