Against All Odds

Against All Odds
CH 44 - Kucing?


__ADS_3

Leo mengambil napas dalam-dalam, fokus pada setiap gerakan yang harus dilakukannya untuk bertahan hidup. Dia melihat lusinan zombie ber-armor dan bersenjata lengkap bergerak maju ke arahnya.


"Gila, mereka tidak ada habisnya."


Dia merasa terjebak di tengah lapangan Koloseum, tanpa ada tempat untuk berlindung dari setiap serangan beruntun dari para zombie.


Dalam sekejap mata, Leo bergerak dengan sangat cepat, mengeluarkan pedangnya dan memotong zombie pertama dengan kecepatan yang mengesankan. Dia tahu dia harus cepat, mengambil keuntungan dari kekalahan musuhnya. Dia bergerak dengan lincah, menghindari serangan para zombie dan memotong mereka satu per satu. Dalam beberapa saat, mayat-mayat zombie mulai menumpuk di sekitarnya, memperlihatkan kecepatan dan kebrutalan Leo.


Stam Gro-Ghoric, petinggi Hellanders yang menguji Leo secara langsung di lapangan, mundur beberapa langkah, kagum dengan kecepatan yang diperlihatkan Leo. "Kecepatan ini, tingkat 10? Tidak, padahal kekuatanya sudah tertahan oleh obat dari Dr.Trant, mungkinkah dia berada di tingkat Master?"


Leo tidak menganggap ekspresi mereka sebagai pujian, saat melihat orang-orang di sekitarnya mulai terlihat kagum akan kemampuannya. Tetapi daripada memikirkan itu, dia tahu, dia harus terus berjuang tanpa kenal lelah.


Leo melompat dan memotong zombie yang terlempar di udara akibat serangannya, kemudian menghunuskan pedangnya dengan kecepatan kilat ke dalam tubuh zombi dan membantingnya ke tanah.


Dengan gesit, Leo bergerak maju dan melepaskan satu tendangan kuat, yang seketika menghancurkan kepala zombie didepannya menjadi puing-puing. Leo hampir terlihat seperti 'tornado' mengalir dari satu serangan ke serangan lainnya.


Namun semakin lama waktu berjalan, semakin banyak zombi yang datang. Pedang, tombak, dan kapak besar, ditangan zombie-zombie itu berkilauan dibawah sorotan cahaya lampu di sekitar Koloseum. Mereka mendekat dengan perlahan, membentuk lingkaran di sekitar Leo, dan bersiap untuk menyerang.


Leo melihat dengan geram dan frustrasi pada semua penonton di sekelilingnya. Dia tidak punya pilihan selain bertahan dan melawan gerombolan zombie yang tersebar di sekitarnya.


"Tertahan di dalam Koloseum ini membuatku makin khawatir dengan nasib yang lainnya, apakah mereka juga di tangkap oleh para penjahat ini?"


Namun, saat Leo sibuk berpikir, sebuah zombie tanpa kaki bergerak merangkak, menyeret tubuhnya dan hampir saja mengigit kaki Leo.


Stam berteriak keras, memberitahu Leo tentang bahaya gigitan zombie itu, dan mendesaknya untuk bertempur lebih fokus. Dia tidak ingin barang percobaan Tuannya rusak begitu saja.


Leo mengangkat pedangnya dan menyerang zombie yang mengancamnya. Dia mengayunkan pedangnya dengan cepat dan memotong kepala zombie tersebut.


Dia bergerak ke depan dan mundur, menghindari setiap serangan dari zombie-zombie yang mulai menyerbu.

__ADS_1


Melihat keadaan ini, Lucas hanya tertawa. "Leo Demhian, yang katanya seorang Celestial tingkat 10," katanya sambil menepuk-nepuk pahanya, tertawa gembira. "Kau terlihat konyol, kau bahkan tidak bisa mengalahkan zombie-zombie lembek itu."


Leo merasa amarahnya memuncak mendengar kata-kata Lucas. Tapi, dia tahu saat ini bukan saat yang tepat untuk marah. Dia harus bertahan dan mencari cara untuk dapat bertahan hidup dan keluar dari tempat ini.


Namun, disaat dia mulai menebas satu persatu zombie di hadapannya hingga membuat kepala mereka melayang dan menggelinding di atas tanah Koloseum, sebuah suara terdengar di dalam kepalanya.


"Jangan terus menyerangnya, dasar bodoh!" Suara itu menggema dalam kepalanya. Leo mencoba mencari tahu siapa yang sedang berbicara, dia menghentikan serangan dan menunggu petunjuk selanjutnya.


Leo segera melangkah mundur, membuat jarak dari gerombolan zombie. Dia mencoba memanfaatkan pergerakan zombie yang lambat untuk mencari tahu.


"Siapa disana?"


"Siapa aku?" Suara itu hanya menjawab dengan tertawa.


Suaranya terdengar menggema, berat dan mengerikan, seperti monster yang sedang berbicara kepadanya.


"Bwahahahaha!"


Suara itu meledak dalam tawa yang jauh lebih mengerikan. "Raja Sullivan sudah mati. Kau tidak perlu tahu siapa diriku, kau hanya perlu menerimaku sepenuhnya."


Leo mulai mengerti sosok yang sedang berbicara di benaknya, dia merasa itu adalah suara dari kekuatan Nythorian yang tersimpan di dalam dirinya.


Kemudian dia segera memejamkan matanya. Saat itu, dia merasa seolah-olah ada sesuatu yang aneh yang sedang terjadi pada dirinya. Namun, dia tidak terlalu memikirkannya.


Ketika dia membuka mata, dia mendapati dirinya sedang berdiri di sebuah taman yang biasa dia datangi untuk menunggu kakaknya pulang kerja.


Leo mulai melihat sekelilingnya dan perlahan-lahan menyadari bahwa dia sedang berada di tempat yang sangat familiar baginya.


Dia terkejut saat melihat dirinya yang lain sedang duduk di taman itu sendirian, dirinya yang lain itu terlihat masih berumur 10 tahun.

__ADS_1


Meskipun sendirian, wajahnya penuh semangat seperti menunggu sesuatu yang sangat dia nantikan. Suasana petang mulai gelap, namun semangatnya tidak pudar.


"Leo." Panggil seseorang dengan suara lembut.Suaranya tidak terdengar asing.


Leo kecil menengok ke arah sumber suara itu. Dia segera mengenali wanita itu, wanita itu adalah kakaknya. Erala tersenyum dan memberikan es krim dan sekantong makanan. Leo kecil sangat senang dan mulai memakan es krim itu dengan lahap.


"Kamu, kalau besok sampai kakak melihatmu duduk sendirian di sini, gak akan kakak belikan es krim lagi. Kan kakak udah bilang, kalau kakak mesti pulang, jadi Leo tunggu saja di rumah." Tegur Erala sambil menjewer telinganya.


Leo kecil hanya bisa meringis sambil terus memakan es krimnya. Dia tahu ini bukanlah teguran pertama yang dia dapatkan dari kakaknya.


Leo merasa senang karena dia dapat mengenang kenangan indah bersama dengan kakaknya lagi. Dia seolah melihat rekaman nyata tentang kehidupannya dulu.


Namun, tiba-tiba saja semuanya menghilang.


Leo terkejut dan merasa kebingungan. Dia melihat sekelilingnya, mencoba mencari kemana mereka pergi.


Saat menoleh ke kanan, dia malah melihat seekor pinguin raksasa berdiri di sampingnya. Pinguin itu tidak seperti penguin biasa, tubuhnya berbulu berwarna hitam dan memiliki spiral aneh di matanya, dan juga memiliki tinggi sekitar satu setengah meter.


"Makhluk apa ini?" Batin Leo dengan heran.


"Tidak perlu kaget seperti itu." kata pinguin gemuk itu sambil memakan es krim dengan lahap seperti b4bi.


Leo tidak bisa berkata-kata.


Dia hanya mematung dan mengerjapkan matanya beberapa kali. "Siapa kau?" tanya Leo dengan waspada. Penguin itu dapat berbicara, membuatnya kaget.


"Namaku Kucing!" Jawab Penguin gemuk itu dengan semangat.


"Kucing? Dunia ini sudah gila ya?"

__ADS_1


__ADS_2