
Pagi telah menyapa Menhir Bastion dengan sinar matahari yang perlahan mengisi ruangan. Di sisi lain ruangan yang berada agak terpisah dari api unggun yang telah padam, Alisha, Belladona, dan Matilda masih terlelap dalam tidurnya. Selimut tipis menutupi tubuh mereka, dan wajah mereka mencerminkan ketenangan dalam mimpi mereka yang mungkin penuh dengan petualangan fantastis.
Namun, keheningan pagi itu terganggu oleh suara gaduh yang perlahan menggema di dalam ruangan. Alisha, yang tidur paling dekat dengan sumber suara, akhirnya membuka matanya dengan perlahan. Dia merasa bingung sejenak, mencoba memahami asal-usul kebisingan tersebut.
Alisha memalingkan kepalanya dan segera menyadari bahwa Leo sudah bangun dan sibuk merapikan beberapa kantong berisi bekal dan pedang yang diberikan oleh Gideon sebelum pergi. Meskipun masih agak mengantuk, Alisha tidak bisa menahan rasa penasaran. Ia merapatkan selimut ke tubuhnya dan duduk perlahan, menggosok matanya yang masih berat karena tidur.
"Leo, apa yang sedang kamu lakukan?" tanyanya dengan suara lirih, mencoba tidak mengganggu sahabatnya yang sibuk.
Leo, tanpa berhenti dari aktivitasnya, tersenyum pada Alisha. "Kita semua akan pergi berpetualang, Alisha."
Alisha mengangkat alisnya, masih setengah terlelap. "Ah iya! Sepertinya aku tidur terlalu lama." Lalu bangkit dan segera merapikan selimutnya.
Sementara itu, Matilda yang tidur di dekat Alisha mulai sadar akan kehadiran Leo. Dengan mata masih setengah tertutup, ia mengernyitkan keningnya. "Pergi? Ke mana? Apa semuanya baik-baik saja?"
Belladona, yang sudah mulai terbangun dari tidur, mendengar percakapan itu. Ia menguap dan dengan tenang berkata, "Sepertinya kita akan memulai petualangan pagi ini, Matilda."
Namun, Matilda masih terlalu mengantuk dan merasa rewel. "Apaan sih, Belladona? Masih terlalu pagi untuk berpetualang. Aku masih ingin tidur." Ia melingkarkan tangannya pada selimutnya dengan kuat.
Belladona, yang sudah cukup terjaga, mencubit lembut pipi Matilda untuk membangunkannya. "Hey, Matilda. Apa kamu ingin tidur disini sampai para Mowldark itu datang?"
__ADS_1
Matilda terbangun dengan cepat, menggosok matanya yang merah dan merapikan rambutnya yang kusut. "Baiklah, baiklah. Aku sudah bangun." Dia bergerak untuk merapikan selimutnya dan bergabung dengan Leo dalam menyiapkan segala keperluan untuk perjalanan.
Alisha, yang sebelumnya hanya mendengarkan, penasaran dengan apa yang mereka bicarakan. "Mowldark?"
Belladona menatap Alisha serius. "Mowldark adalah monster kegelapan dengan tiga mulut di wajahnya. Monster yang pernah kalian hadapi saat di hotel."
Alisha memasang wajah serius, matanya terfokus pada kenangan yang penuh emosi. "Ternyata monster waktu itu..." Dia lalu menggigit bibir bawahnya dengan kuat, hampir sampai berdarah, dan meremas erat celananya dengan kedua tangan, mencoba menahan amarah yang mendalam.
Leo melihat ekspresi Alisha yang penuh emosi itu, dia bisa merasakan perasaan Alisha. Ia meletakkan tangannya di bahu Alisha dengan lembut sebagai dukungan.
Belladona mengulurkan tangan untuk menenangkan Alisha. "Aku di sini bersamamu, Alisha. Tidak perlu khawatir."
"Aku juga tidak tahu dengan pasti, permasalahan ini juga baru-baru saja terjadi. Tapi yang aku tahu, portal yang kita lewati kemarin, adalah portal terakhir dari abad kalian, abad ke-21."
Alisha merenung sejenak, matanya terfokus pada lantai. Setelah momen keheningan singkat, dia mengangkat wajahnya dengan senyuman yang penuh tekad. "Ternyata, tidak ada jalan kembali, ya? Tapi apa boleh buat," ucap Alisha, mencerminkan perasan kecewa. Namun, senyumnya semakin menguat ketika Belladona memegang tangannya sebagai bentuk dukungan.
"Kamu adalah bagian dari kami sekarang, Alisha. Kita akan menghadapinya bersama-sama."
Leo, yang sebelumnya sibuk, kini telah merampungkan persiapan. "Baiklah, kita harus bergerak sekarang. Kita tak tahu kapan Mowldark bisa datang lagi."
__ADS_1
Mereka berempat melanjutkan persiapan perjalanan mereka, siap menghadapi apa pun yang menunggu di dunia Erder yang penuh misteri ini.
Sebelum mereka berangkat, Leo dengan tegas menyuruh mereka untuk menutupi pakaian mereka dengan jubah tebal. Bahkan Belladona, yang sebelumnya mungkin merasa tidak perlu, harus tunduk pada peraturan tersebut.
Matilda, yang tidak suka dengan jubah itu, menggerutu pelan. "Ini benar-benar menyebalkan, Tuan Leo Demhian. Kenapa kita harus memakainya? Rasanya seperti kita sedang bersembunyi."
Leo menjawab dengan tegas, "Ini perintah dari Gideon. Kita perlu menutupi diri agar tidak dicurigai oleh pihak kerajaan Thellidia. Gulungan teleportasi tidak akan ada artinya jika kita ditangkap sebelum berhasil mendapatkannya."
Matilda mengerucutkan bibirnya, namun dia tahu dia harus mengikuti perintah.
Leo menjelaskan tujuan mereka sekarang dengan tegas kepada semua anggota kelompok. "Sasaran utama kita adalah untuk membeli sebuah gulungan teleportasi. Gulungan itu adalah kunci untuk melarikan diri dari wilayah kekuasaan Kerajaan Thellidia. Namun, kita perlu ingat, gulungan ini bukanlah barang murah. Setidaknya itu yang dikatakan Pangeran Gideon sebelum dia pergi."
Alisha mengangguk setuju, menunjukkan kesiapan mentalnya untuk perjalanan ini. "Kita akan membutuhkan uang sebanyak mungkin. Jika perlu, kita harus mencari cara untuk mendapatkannya."
Belladona menambahkan, "Selain uang, kita juga bisa mencoba menukar barang-barang berharga atau langka yang kita temui di perjalanan ini, bisa juga dengan berburu monster. Pokoknya kita harus kreatif dalam mencari sumber daya."
Saat semua sudah siap, mereka berempat segera melangkah meninggalkan Menhir Bastion dan keluar dari Dorston Citadel. Cahaya matahari yang hangat menyinari sekitar, menciptakan bayangan panjang di bawah mereka. Mereka merasa semangat dan siap menghadapi petualangan baru ini.
Namun, tanpa mereka sadari, seseorang dengan jubah misterius tengah mengawasi mereka dari salah satu menara Dorston Citadel. Bayangan sosok itu tersembunyi dalam kegelapan, dan tidak satupun dari mereka yang menyadari kehadiran misterius itu. Matilda sibuk merapikan jubah tebalnya, Belladona memeriksa peralatannya, Leo memimpin dengan mata tajamnya yang selalu waspada, dan Alisha tengah merenung, terfokus pada perasaannya yang campur aduk.
__ADS_1
Sosok misterius di menara itu tetap diam, matanya tak lepas dari kelompok tersebut. Mungkin ini adalah awal dari sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang akan membawa mereka pada petualangan yang lebih dalam dan penuh kejutan. Di bawah langit cerah pagi itu, tak satu pun dari mereka tahu apa yang menanti di depan.