Against All Odds

Against All Odds
CH 34 - Harganya 250 Koin Emas


__ADS_3

Ketegangan mencapai puncaknya saat sosok yang selama ini disembunyikan oleh rerumputan itu akhirnya muncul. Leo, dengan pedangnya yang masih tegak, berteriak dengan tegas, mengancam sosok tersebut untuk keluar.


Sosok itu berjalan perlahan, kedua tangannya terangkat dengan hati-hati, dan tersenyum hingga gigi ompongnya terlihat jelas. Pria tua ini berjanggut putih panjang, dan mengenakan armor sederhana yang sudah cukup lusuh, tubuhnya diselimuti jubah coklat berkantong. Di punggungnya, dia membawa sebuah tas besar yang berisi gulungan-gulungan kertas yang bertumpuk hingga menonjol keluar dari tas tersebut.


"Tenanglah, aku hanya seorang pedagang," ucap pria tua itu sambil tertawa kecil. Ekspresinya yang santai dan bersahabat mulai meredakan ketegangan di antara mereka. Leo dan teman-temannya mengendurkan sikap siaga mereka, meskipun tetap waspada.


Pria tua itu dengan santai memperkenalkan dirinya sebagai seorang pedagang keliling yang menjual berbagai barang langka dari berbagai kota dan desa yang telah dia kunjungi. Sebelum Leo dan teman-temannya dapat mengajukan pertanyaan, pria tua itu langsung mengambil gulungan terbesar dari tasnya, membuat mereka tertarik dan penasaran. Dengan cermat, dia menggelar gulungan kertas itu di tanah yang agak tandus di sekitar mereka.


Gulungan itu tergelar sempurna dan seketika mengungkapkan pemandangan yang sungguh mengejutkan. Mereka bisa melihat seperti sebuah miniatur dunia yang hidup berada di atas gulungan kertas tersebut. Di sana terdapat berbagai macam perlengkapan dan peralatan, tak hanya itu, yang lebih mengejutkan adalah banyak sekali binatang, dari makhluk kecil hingga monster-monster aneh yang berjalan di atas gulungan itu. Semua makhluk itu terlihat sangat kecil, namun tampak hidup dan bergerak dengan sendirinya.


Sang pedagang tua itu, dengan bangga menjelaskan bahwa yang ada di dalam gulungan adalah salah satu dari berbagai macam dagangan langka yang dia tawarkan. Dia menyebutnya sebagai "Gulungan Miniatur Dunia Erder." Gulungan tersebut adalah hasil karya seorang penyihir hebat dari Kerajaan Isenfeld yang mampu menciptakan dunia kecil ini di atas kertas. Gulungan ini memiliki segala yang mungkin mereka butuhkan dalam petualangan mereka, termasuk perlengkapan, peralatan, dan bahkan beberapa makhluk yang dapat membantu mereka.


Mata Leo, Alisha, Belladona, Matilda, Barla, dan bahkan Glint, yang tadinya tampak takut, kini penuh dengan kekaguman. Mereka berdiri di dekat gulungan itu, memperhatikan setiap detail yang ada.


Alisha, dengan mata berbinar kagum, berkata, "Leo, coba lihat ini," sambil melambaikan tangannya memanggil Leo yang berdiri di belakangnya. Leo tersenyum, lalu berjongkok di samping Alisha untuk melihat gulungan itu lebih dekat.


"Apakah Anda dari faksi Pandora?" Tanya Belladona kepada pedagang itu.


Pedagang tua itu menggaruk kepalanya dan terkekeh, "Sebenarnya aku tidak terlalu paham dengan faksi-faksi itu, tapi jika kamu bertanya apakah aku bisa memanipulasi ruang untuk membesarkan atau memperkecil objek, tentu saja aku bisa melakukannya."


Glint, adik Barla yang mulai memberanikan diri, bertanya lebih lanjut, "Atau mungkin Anda adalah seorang Celestial?" Glint bertanya sambil sambil merapikan posisi kacamatanya.

__ADS_1


Pedagang tua itu menggeleng, "Tentu tidak, anak muda. Aku lahir dan tumbuh di dunia ini."


Sementara saat mereka tengah disibukkan dengan percakapan mereka, Matilda dengan polosnya tengah asik bermain dengan makhluk mini di atas tangannya. "Wah, imutnya... aku mau sepuluh." ujarnya sambil tertawa kecil, memainkan binatang-binatang tersebut dengan lembut, mengangkat mereka satu per satu ke atas tangannya.


Menyadari hal itu, pedagang tua itu lantas panik. Dia dengan cepat mengeluarkan sebuah tongkat sihir yang tiba-tiba muncul entah dari mana asalnya, dan mengacungkannya ke arah tangan Matilda. Dengan cepat, dia berseru, "Aevistrovi!" Sebuah cahaya hijau menyelimuti binatang-binatang kecil di tangan Matilda, dan mereka melayang kembali ke dalam gulungan itu dengan perlahan.


Matilda merasa menyesal ats perbuatannya, "Oh, maafkan saya, saya tidak bermaksud menyakiti mereka." Matilda juga melirik ke arah Belladona yang memperlihatkan gestur kekecewaan di wajahnya, seperti bersiap mengomeli dirinya setelah semuanya selesai.


"Tidak apa-apa, nak. Ini hanya untuk melindungi makhluk-makhluk kecil itu. Sekarang akan aku tunjukkan kepada kalian, bagaimana sihirku bekerja." kata pedagang itu dengan senyum ompongnya. Dia mengambil kereta kuda yang semula sangat kecil, hampir seperti miniatur, lengkap dengan seekor kuda yang berdiri di depannya. Lalu, pedagang itu meletakkan kereta kuda tersebut agak jauh dari mereka.


Pedagang itu mulai merapalkan mantra dengan bisikan yang lirih, hampir tak terdengar. Cahaya magis mulai terpancar dari tongkat sihirnya, yang terarah ke kereta kuda itu. Keajaiban pun terjadi, ukuran kereta kuda itu mulai membesar secara drastis dalam sekejap. Kereta kuda sederhana yang tadinya hanya seperti sebuah miniatur, sekarang berdiri megah di hadapan mereka dalam ukuran sewajarnya. Kereta itu terbuat dari kayu yang dilengkapi dengan kursi untuk pengemudi dan penumpang. Terdapat juga empat buah roda besi, dan atap dari kulit yang dapat dibuka dan ditutup sesuai kebutuhan.



Leo mendekati cariole itu dengan perlahan, tangannya meraba sisi kayu kereta dan mengelus lembut bulu kuda yang berdiri di depannya. Kuda itu merespon dengan baik, terlihat senang dengan sentuhan Leo, dan mengembuskan nafas pelan sebagai tanda persahabatan.


"Berapa harganya?" tanya Leo tiba-tiba, sedikit terpesona oleh keajaiban yang ada di hadapannya.


Pedagang tua itu terkekeh, merasa senang dengan minat mereka. "Sepertinya kau sudah paham maksudku," kata dia, lalu menepuk pundak Leo dan menjawab, "30."


Leo tersenyum dan langsung merespon, "25."

__ADS_1


Pedagang itu memikirkannya sejenak, lalu akhirnya setuju, "Setuju?" Namun, sebelum keputusan akhir diambil oleh Leo, Alisha mendekati mereka.


"Jadi, berapa harganya?" tanya Alisha dengan nada tegas. Dia terlihat lebih berpengalaman dalam urusan tawar-menawar.


Pedagang itu mengernyit, melihat Alisha yang tampak serius. "Nona, aku menjualnya dengan harga 30 koin emas."


"30? Bagaimana dengan 10?" Suaranya tegas, menunjukkan bahwa dia tak akan berkompromi begitu saja.


Leo menyadari tujuan inti mereka untuk membeli gulungan teleportasi. Dia pun menjitak kepalanya karena hampir melupakan hal tersebut. Tanpa menunggu lebih lama, Leo langsung bertanya kepada pedagang tua itu, menyela proses tawar-menawar antara pedagang itu dengan alisha. "Umm... maaf, apakah anda menjual gulungan teleportasi?"


Pedagang itu menatap Leo sejenak, lalu dengan perlahan mengeluarkan sebuah gulungan dari dalam kantong jubahnya. "Maksudmu ini?" Dia menunjukkan sebuah gulungan yang terbungkus sebuah tabung dari bambu berwarna keemasan. "Apa itu yang dinamakan gulungan teleportasi?" Tanya Leo dengan antusias, sementara Alisha hanya berdiri di sampingnya, juga tertarik dengan arah pembicaraan ini.


"Benar, ini adalah gulungan teleportasi," pria tua itu mulai menjelaskan, tetapi belum sempat menyelesaikan penjelasannya, Leo langsung menyela, "berapa harganya?"


Pria tua itu terkekeh kembali, sepertinya dia menikmati tawar-menawar ini. "Ini bukanlah barang murah, anak muda. Kalian saja masih menawar harga paling murah dari cariole itu."


Leo tetap bersikeras untuk membeli gulungan itu, "berapa? Apakah 100 koin emas?"


Pria tua itu tertawa ringan, "250 koin emas."


Alisha mendengarnya dan langsung terkejut. Teman-temannya yang lain juga terus memperhatikan pembicaraan mereka bertiga dengan seksama, merasa tegang dengan kesepakatan yang akan terjadi.

__ADS_1


__ADS_2