
Gideon terbaring di kasur yang terletak di ujung penjara. Dia meronta dan mengerang kesakitan setelah Dr.Trant menyuntikkan sebuah cairan melalui lehernya. Dia menjerit dengan keras, kain yang membungkam mulutnya hingga terlepas, sesekali terlihat seperti kilatan petir keemasan yang terpancar dari tubuhnya yang terus meronta. Kilatan itu begitu kuat sehingga memecahkan lampu gantung di ruangan itu.
Sedangkan Dr.Trant, profesor gila itu, malah tersenyum bahagia seakan-akan eksperimennya telah berhasil.
"Fantastis! Fantastis!" gumam Dr.Trant sambil mengamati reaksi Gideon dengan seksama. "Ini jauh melampaui dari yang aku bayangkan. Aku yakin ini akan berhasil."
Leo tidak bisa membantu Gideon karena dia juga dalam posisi yang sama, bahkan setelah ini adalah gilirannya untuk menerima siksaan yang sama.
Gideon terus meronta dan menjerit kesakitan selama beberapa menit, sampai akhirnya dia terkulai lemas di kasurnya. Dr.Trant kemudian menghampirinya dan memeriksa kondisinya dengan seksama.
"Baiklah, ini sudah cukup untuk hari ini," ucap Dr.Trant sambil tersenyum puas. "Sekarang kita tunggu reaksinya besok pagi. Semoga aku masih dapat melihatmu bernapas."
Leo merasa ngeri saat melihat senyum puas di wajah Dr.Trant. Dia tahu bahwa profesor gila itu tidak akan berhenti sampai dia mencapai tujuannya. Leo merasa khawatir dengan nasib Gideon dan dirinya sendiri.
Dia tahu bahwa dia harus mencari cara untuk keluar dari penjara ini dan menyelamatkan Gideon dari eksperimen yang mengerikan ini. Namun, dia tidak tahu harus mulai dari mana. Tubuhnya juga terlalu lemas untuk melepaskan diri, dan kekuatannya seakan telah menghilang.
"Tunggu... tolong, kau tidak perlu melakukan ini... ."
__ADS_1
Takut bukan main, saat profesor gila itu berbalik dan berjalan kearah Leo. Dia berjalan dengan seringai diwajahnya, meninggalkan Gideon yang terbaring lemas tak sadarkan diri. Leo sekuat tenaga mencoba untuk kabur. Dia juga sadar, jika yang akan dilakukan Dr.Trant sudah bukan hal yang baru lagi baginya.
"Tunggu, tunggu, jangan lakukan, aku mohon padamu." Ucap Leo dengan suara gemetar, berharap bisa meyakinkan Dr.Trant untuk tidak melakukan apapun.
Tetapi Dr.Trant tidak bergeming. Dia berjalan dengan santainya dan berhenti di samping Leo. Beberapa jarum suntik diambilnya dan diisi dengan cairan berwarna hijau dari sebuah gelas.
Dr.Trant mengangkat jarum suntik dengan hati-hati dan menyentil ujung jarum itu dengan jarinya, memastikan bahwa jarum tersebut dalam keadaan steril sebelum digunakan untuk menyuntikkan cairan ke dalam tubuh Leo.
Leo merasa semakin takut ketika melihat Dr.Trant mengarahkan jarum suntik ke arahnya. "Jangan!" teriak Leo dengan suara keras, karena tidak ada penghalang apapun di mulutnya.
Penolakan yang terus-menerus dari Leo membuat Dr.Trant merasa kesal dan mengambil segenggam kain, lalu memasukkannya ke mulut Leo. Dalam waktu bersamaan, dia mulai menyuntikkan cairan itu tepat di bagian leher Leo. Sebelum Dr.Trant bisa menekan tuas pada jarum suntiknya, Leo meronta dan berteriak, sehingga darah segar keluar dari lehernya yang sedang disuntik. Tak hanya itu, jarum suntik itu juga jatuh ke lantai.
Dok! Dok!
Ketukan pintu penjara mengganggu ketenangan Dr.Trant dan membuatnya kesal. Dia berjalan menghampiri pintu untuk membukanya, dan di balik pintu itu terlihat sosok yang sangat dihormati oleh Profesor gila itu. Entah karena rasa hormat atau ketakutan, dia tampak sangat patuh pada sosok yang berdiri di balik pintu.
Saat pintu terbuka, masuklah seorang pria berbadan tinggi dan besar, lebih tepatnya tinggi dan gemuk. Pria itu mengenakan setelan jas hitam dengan hiasan mawar di dadanya, serta memakai topi jenis breton. Wajahnya tertutup masker besi, hanya menyisakan matanya yang memakai kacamata bulat berwarna hitam.
__ADS_1
Tanpa basa-basi, pria besar itu menunjuk Leo dan berkata, "Bawa orang ini ke Koloseum!"
Setelah perintah itu diucapkan, dua orang pria berpakaian serba hitam seperti ninja langsung menyeret Leo keluar dari penjara menuju lorong gelap yang panjang. Leo merasa takut dan bingung, tetapi juga lega karena akhirnya bisa keluar dari penjara dan meninggalkan Dr.Trant yang gila itu.
Ditarik oleh dua pria yang menggenggam tangannya dengan erat, Leo merasa kakinya terseret di lantai dingin penjara. Kedua tangannya ditarik ke sisi kanan dan kirinya, menjadikannya seperti seorang narapidana yang dihukum berjalan ke eksekusi.
Lorong ini gelap dan hampa, hanya beberapa lampu redup yang terpasang di dinding, menciptakan bayangan menakutkan di seluruh lorong. Leo merasa dingin yang menusuk tulang, dan rasa lapar yang menyiksa tubuhnya, karena selama ini dia tidak diberikan cukup makanan dan minuman. Matanya yang cekung dan wajahnya yang pucat mencerminkan kondisinya yang sangat lemah.
Leo pasrah pada takdirnya, meskipun ada keinginan keras untuk bertarung dan melarikan diri, namun kondisinya yang sangat lemah membuatnya hampir tak berdaya. Dalam kegelapan yang mengelilinginya, dia hanya bisa berdoa agar ada cahaya di ujung lorong yang menuntunnya ke nasib yang lebih baik.
Sepertinya doa akan kebebasan belum terkabul. Leo merasa kecewa dan putus asa ketika dia dilempar begitu saja di sebuah lapangan yang luas.
"Apakah ini, yang disebut Koloseum?"
Dia perlahan berdiri dan melihat di sekelilingnya, di mana puluhan orang sudah berdiri di sebuah tribun penonton. Lokasi tempat yang masih berada di ruangan bawah tanah menyulitkan Leo untuk dapat mengidentifikasi siapa saja yang sedang menatap ke arahnya. Bahkan, dia juga tidak tahu apakah mereka manusia atau bukan.
Yang dia tahu hanyalah, sosok yang kini berdiri sendirian dan berada tepat di depan barisan orang-orang itu. Dia tidak lain adalah Lucas, orang br*ngs*k yang mendatanginya waktu di penjara.
__ADS_1
Senyuman sombong dari orang itu seakan menggambarkan hal apa saja yang mungkin akan dia lakukan untuk Leo. Yang jelas, itu semua tidak akan menyenangkan.