Against All Odds

Against All Odds
CH 32 - Kotak Hadiah


__ADS_3

Barla, wanita berbadan atletis dan berkulit coklat, yang juga berkerja di Tavern Desa Kabut, mengarahkan Leo dan teman-temannya ke rumah kakeknya, Tuan Balfam. Barla tahu bahwa mereka akan segera pergi ke sebuah misi berbahaya untuk menghadapi Desa Goblin, dan dia ingin memastikan mereka mendapatkan bantuan yang diperlukan.


Saat mereka tiba di rumah Tuan Balfam, suasana ramai dan berisik langsung terasa. Para pekerja dan beberapa dwarf yang terlihat sangat akrab dengan Tuan Balfam sedang sibuk bekerja di bengkelnya, memukul besi dengan penuh semangat. Mereka berbicara dengan riang.


Dwarf adalah makhluk menyerupai manusia, namun lebih pendek dan gemuk dengan rambut yang biasanya tebal dan sedikit ikal berwarna cokelat, hitam, atau abu-abu. Mereka memiliki tangan yang kuat dan berotot, cocok untuk pekerjaan fisik yang membutuhkan kekuatan dan keterampilan. Meskipun tinggi badan mereka lebih pendek dari rata-rata makhluk di dunia Erder, dwarf dikenal sebagai ras yang paling bekerja keras dalam bidangnya.


Salah satu ciri khas dwarf adalah penggunaan helm dengan lampu di atasnya. Helm ini tidak hanya berfungsi sebagai perlindungan kepala, tetapi juga sebagai sumber cahaya yang sangat berguna dalam pekerjaan mereka di tambang atau dalam kondisi gelap lainnya. Lampu di atas helm ini memancarkan cahaya kuning yang khas dan membantu dwarf agar dapat bekerja dengan lebih efisien.


"Selamat datang, anak-anak muda. Saya sudah mendengar tentang misi yang akan kalian hadapi. Sangat berbahaya, tapi saya yakin kalian bisa menghadapinya." Tuan Balfam menyambut kehadiran mereka dengan tangan terbuka.


Leo mengangguk tegas. "Tentu saja, Tuan Balfam. Kami telah berlatih keras, kurang lebih satu bulan."


Tuan Balfam mengangguk. "Bagus, bagus. Sekarang, ayo masuklah, mari kita lihat apa yang bisa saya bantu."


Begitu mereka memasuki rumahnya, suasana berubah drastis. Mereka berada di sebuah bengkel yang dipenuhi dengan barang-barang aneh dan suara berisik para pekerja yang sedang sibuk mengerjakan berbagai proyek besi. Suara palu yang dipukulkan ke besi, mesin yang berderit, dan cairan logam panas yang memancur mengisi ruangan.


Bengkel ini terlihat seperti gudang raksasa yang penuh dengan berbagai macam perkakas, alat, dan material. Berbagai pedang dan armor tergantung di dinding, mengkilap menunjukkan hasil kerja keras para pekerja disini. Terdapat juga meja kerja yang dipenuhi dengan sketsa, desain, cetakan besi yang masih panas, hingga gentong kayu yang berisi bir.


Pekerja yang bekerja di sini terdiri dari berbagai tingkatan, mulai dari pandai besi berpengalaman hingga pemula yang sedang belajar. Mereka terlihat serius dalam pekerjaan mereka.


Balfam memperkenalkan mereka kepada beberapa pekerjanya yang ramah. Ruangan ini adalah tempat di mana segala macam perlengkapan seperti senjata dan armor dibuat dan diperbaiki.

__ADS_1


Mereka berdiri di tengah bengkel yang penuh dengan senjata dan perlengkapan yang menggantung di dinding. Belladona nampak sangat terpesona oleh senjata-senjata tersebut. Matilda, dengan ekspresi polosnya, hanya menatap dengan tanpa ada rasa ketertarikan sedikitpun.


"Kenapa semua ini tidak digunakan saat melawan Mowldark, Tuan Balfam?" tanya Alisha sambil menunjuk pada beberapa pedang yang terlihat sangat tajam.


Tuan Balfam tersenyum sambil mengambil sebilah pedang dari dinding. "Ah, itu karena senjata-senjata ini baru saja selesai dibuat dalam sebulan terakhir setelah penyerangan Mowldark. Kami butuh waktu untuk memperbaiki perlengkapan kami dan mempersiapkan alat-alat baru untuk menghadapi segala ancaman yang muncul. Senjata-senjata ini adalah hasil kerja keras semua pekerja di sini."


"Mereka terlihat luar biasa. Anda sedang mempersiapkan segalanya untuk melindungi desa, Tuan Balfam." Belladona terus melihat senjata-senjata itu dengan penuh minat.


Tuan Balfam mengangguk. "Kami selalu berusaha yang terbaik untuk melindungi Desa Kabut dan penduduknya. Tapi tetap saja, semoga semua ini tidak perlu digunakan dalam waktu dekat."


Saat mereka masih sibuk melihat-lihat sekeliling, beberapa dwarf yang gemuk dan berotot menghampiri mereka sambil membawa beberapa kotak.


Dwarf-dwarf itu meletakkan empat kotak di atas meja di tengah ruangan.


Belladona dengan antusiasme yang tinggi segera membuka kotak yang bertuliskan namanya. Ketika ia melihat isinya, matanya berbinar dan wajahnya mulai berseri-seri. Di dalam kotak itu terdapat sebuah Kalung Mana dengan berlian biru yang berkilauan.


"Woah.. Demi Dewa, lihat ini!" serunya dengan senang. "Kalung Mana ini pasti akan sangat berguna dalam menghemat pengeluaran manaku. Terima kasih, Tuan Balfam!"


Matilda juga membuka kotaknya dan terkejut melihat sepasang sepatu dan sarung tangan yang ada di dalamnya. "Apa ini untukku?" tanyanya heran.


Tuan Balfam mengangguk. "Iya, Matilda. Sepatu ini akan membuatmu lebih lincah dalam pertempuran, dan sarung tangan itu akan membantumu mengatur kekuatan pukulanmu dengan lebih baik."

__ADS_1


"Terimakasih, Tuan Balfam." Jawab Matilda dengan membungkukkan badannya.


Tuan Balfam tersenyum melihat tingkah Leo dan Alisha yang sedikit sungkan untuk membuka kotak mereka yang lebih besar dari yang lain. Dia mencoba menahan tawa saat keduanya malah terlibat dalam permainan batu, gunting, kertas untuk menentukan siapa yang akan membuka kotak terlebih dahulu.


Leo dan Alisha melemparkan batu, gunting, kertas dengan serius, seakan ini adalah pertandingan penting. Mereka sama-sama tidak ingin membuka kotaknya terlebih dahulu, dan persaingan mereka begitu konyol sehingga para dwarf yang menyaksikan tak bisa menahan senyuman mereka.


Setelah beberapa putaran, akhirnya Leo keluar sebagai pemenang. Dia tersenyum penuh kemenangan sambil menghadap Alisha. Alisha, yang kalah, hanya bisa menggelengkan kepala dengan tertawa, Lalu membuka kotaknya.


"Hah, inikan?"


Alisha terkejut melihat hadiah yang ada di dalam kotak. Tuan Balfam menjelaskan, bahwa pada saat Mowldark menyerang, dia menemukan benda itu tergeletak di tanah. Karena rasa penasaran, dia mencoba mempelajari cara kerja benda ini.


Alisha memandangi pistolnya yang kini telah terisi penuh dengan peluru. Dia menggenggam dengan lembut pistol itu, memandangi setiap detailnya. Di dalam kotaknya juga terdapat banyak magasin yang sudah tersusun rapi, lengkap dengan peluru didalamnya.


"Tuan Balfam, apakah Anda yang membuat semua peluru dan magasin ini?" tanya Alisha dengan penuh kekaguman.


Tuan Balfam hanya mengangguk dengan sedikit sombong. "Saya memang terampil dalam bidang ini. Semoga ini dapat membantu kamu dan teman-temanmu."


"Terima kasih banyak, Tuan Balfam. Anda sungguh jenius!" Alisha tersenyum penuh rasa terima kasih.


Sementara itu, Leo menatap dengan penuh kekaguman benda yang ada di dalam kotaknya, matanya mulai berkaca-kaca. Dalam hatinya, ia merasa tak bisa mempercayai apa yang sedang ia lihat sekarang. Dengan suara lirih, ia bertanya, "Dari mana Anda bisa menemukan benda ini, Tuan Balfam?"

__ADS_1


__ADS_2