Against All Odds

Against All Odds
CH 46 - Sebuah Usaha


__ADS_3

Zombie-zombie itu semakin mendekat, langkah mereka begitu lamban, hampir setiap gerakan mereka terlihat kaku. Wajah para zombie itu terlihat mengerikan. Kulit mereka membusuk, ditutupi dengan lapisan debu dan kotoran. Beberapa di antara mereka memiliki luka parah di wajah mereka, dengan daging yang terbuka dan menggantung. Mata mereka yang kosong hanya menunjukkan kehausan dan keinginan untuk menggigit daging yang segar. Beberapa zombie bahkan memiliki tangan yang hampir terlepas, bergantung hanya oleh seutas otot yang nyaris putus.


Leo bertanya pada Penguin gempal yang telah bergabung dengan dirinya, "Kucing, apa Lucas tidak akan mencurigai kita? Aku baru saja membunuh hampir seratus zombie di hadapan mereka."


"Lucas memang orang yang patut diwaspadai, namun jangan lupa dengan pria besar di sebelah sana." Suara Kucing selalu terdengar seperti monster raksasa, sangat berbeda saat mereka bertemu di dalam ingatan Leo.


Leo melirik ke arah Stam yang juga memperhatikannya. "Maksudmu pria bertopi dengan kacamata bulat itu?"


"Benar, pria berkacamata donat itu juga berbahaya, aku bisa merasakannya."


"Bagaimana dengan orang-orang yang duduk di atas tribun?"


"Kuntilanak yang kau lawan, Banshee. Gadis kecil yang terlihat polos, dan pria tinggi dengan topeng, mereka adalah petinggi-petinggi Hellanders, semuanya patut diwaspadai."


"Dari mana kau tahu semua itu?"


"Sudahlah, jangan banyak bertanya. Kau bereskan beberapa zombie-zombie itu dulu."


Leo mengangguk setuju.


Dengan gerakan yang cepat dan gesit, ia mulai menusuk tubuh zombie-zombie itu dengan pedangnya, menggorok dan memenggal kepala mereka. Tangan Leo bergerak dengan keahlian dan kecepatan tinggi, sehingga gerakan pedangnya mampu membelah daging zombie dengan mudah.


Meskipun pertarungan itu berlangsung sengit, Leo mampu bertahan dengan baik. Kekuatannya yang barusan diberikan oleh Kucing membuat ia lebih siap menghadapi bahaya yang muncul di depannya. Ia bisa melihat gerakan zombie dengan jelas dan mengantisipasi setiap serangannya dengan tepat waktu.


Zombie-zombie itu terus berdatangan, namun Leo tidak merasa terganggu dengan itu. Pedangnya terus bergerak dengan cepat, memotong dan menghabisi gerombolan zombie itu dengan mudah. Meskipun zombie-zombie itu mencoba melancarkan serangan beruntun, ia tetap berhasil menghindari setiap serangan mereka dengan mudah.


Petarungannya begitu intens hingga ia dibanjiri oleh keringat dingin. Ia kemudian mengambil napas dalam-dalam, mengumpulkan kekuatannya yang baru untuk bertarung lebih keras. Ia kembali berdiri tegak, menggenggam pedangnya dengan mantap.

__ADS_1


"Pikiranku yang berlebihan membuatku lebih cepat lelah. Zombie bukan masalah utamanya, tapi aku selalu berpikir mereka akan mengetahui kita, cepat atau lambat."


"Apa kau memikirkan sesuatu Leo?" Tanya Kucing, yang menyadari Leo mulai berhenti menyerang.


"Loh, kau tidak bisa membaca pikiranku lagi?"


"Sekarang aku sudah tidak bisa, karena kekuatan kita sudah sepenuhnya menyatu."


Leo menepuk-nepuk jubahnya yang terkena debu dan kotoran. "Jadi begitu ya, baguslah." Leo tersenyum tipis.


"Tapi kau tidak boleh menyembunyikan sesuatu yang penting dariku Leo!" Pekik Kucing.


Leo mengangguk dan melemparkan senyuman penuh keyakinan. "Aku akan menyelesaikan beberapa zombie lagi sebelum aku menjatuhkan pedangku dan membiarkan mereka memakanku." Sambil menatap tajam ke arah barisan zombie yang mengancam.


"Oi... oi... kau sudah menguasai jurus pemindahan rasa sakit, ya?"


Leo mulai menyerang zombie-zombie itu dengan gerakan yang cepat dan tajam, pedangnya menusuk daging zombie-zombie itu sebelum kemudian membelah mereka menjadi dua. Dia berpura-pura kewalahan dan terjatuh beberapa kali, sambil tetap berusaha melawan zombie dengan susah payah.


"Sekaranglah waktunya, Leo!" Seru Kucing.


Leo mengayunkan pedangnya dengan kecepatan tinggi ke arah zombie. Namun sayangnya, pedangnya malah tepat mengenai armor zombie dan terlempar jauh ke belakang. Leo bergegas untuk mengambil pedangnya, tetapi tiba-tiba saja kakinya dipegang kuat oleh salah satu zombie yang terbaring di tanah.


Leo merasa terjatuh dan tidak bisa bergerak saat ini. Ini adalah kesempatan yang tepat untuk berpura-pura mati. Dia bersandar di tanah, bersiap untuk berpura-pura teriak dengan panik, seakan-akan sedang dalam keadaan genting.


"Arghhh!! Tolong ...! Aku belum menikah!"


Para zombie mulai mengerubunginya segera setelah itu. Mereka menyerbu ke arah Leo dari segala arah, bergerak dengan cepat untuk mencari mangsa. Leo terus berpura-pura menjerit dengan panik, matanya terpejam erat dan keringat dingin membasahi tubuhnya.

__ADS_1


Namun yang terjadi sebaliknya, zombie-zombie itu justru tiba-tiba berhenti dan mulai meninggalkannya dengan perlahan.


"Kenapa, kenapa mereka meninggalkanku?" gumam Leo keheranan.


Ia melihat Lucas di kejauhan, yang tampak mengatur semuanya. Leo merasa rencananya untuk pura-pura mati dan mengecoh Lucas telah gagal.


Lucas bangkit dari duduknya, kemudian melompat, dan mendarat di lapangan Koloseum. Dia berjalan mendekati leo, melewati barisan zombie yang sama sekali tidak berniat menyerangnya.


"Kau sungguh amatir, Leo Demhian. Aku tahu apa yang kau coba lakukan, tapi percayalah, semua trikmu sudah terbaca."


Kucing mencoba menenangkan Leo, "Jangan terlalu memikirkannya, Leo. Lucas adalah sosok yang sangat kuat dan berpengalaman, aku bisa merasakannya. Kau harus berhati-hati."


"Iya, tapi bagaimana bisa ia dapat mengetahui semuanya?" tanya Leo, masih merasa frustrasi.


"Kemungkinan, dia memiliki kekuatan Nythorian seperti yang ada pada kita," jawab Kucing sambil menjelaskan. "Dia bisa mengendalikan pikiran orang lain, termasuk dengan para zombie itu."


"Bukankah, dia juga barusaja melakukan sihir ilusi terhadap mu." Imbuhnya.


Leo terdiam, teringat saat Lucas menebasnya tanpa ampun, walaupun itu hanya berada di dalam pikirannya, namun semuanya terasa begitu nyata.


"Kucing, bagaimana jika kita merubah rencana awal kita? Aku akan langsung menghadapi mereka semua." tanya Leo dengan tatapan serius.


Kucing hanya menjawab dengan santai, "Terserah padamu, Leo. Tapi jangan lupa, kita tidak tahu kekuatan Hellanders sampai di mana. Jangan ambil risiko yang terlalu besar."


"Aku mengerti."


Leo menyeringai kearah Lucas, yang juga terlihat menyambut senyuman jahat Leo itu sebagai sebuah deklarasi perang.

__ADS_1


__ADS_2