
Kereta kuda yang disebut cariole itu melaju pelan melewati jalanan berbatu, memasuki hutan yang rimbun saat matahari semakin merunduk di ufuk barat. Pepohonan menjulang tinggi menghadang cahaya senja yang tersisa, membentuk rimbunnya kanopi hijau yang tebal.
Saat cariole memasuki hutan itu, suasana semakin terasa gelap dan tenang. Suara jangkrik mulai bersahutan di sekitar mereka, menciptakan orkestra alam yang merdu. Kunang-kunang yang bercahaya mulai bermunculan, menambah keindahan pemandangan malam.
Mereka merasa nyaman di dalam cariole ini, terlebih saat hari mulai merayap menuju gelap, setidaknya mereka tidak perlu berjalan kaki untuk melewati hutan ini. Belladona dengan cekatan menyalakan lampu minyak yang menggantung di sisi luar cariole. Meskipun masih ada sedikit kegelapan di bagian dalam, lampu tersebut sudah cukup untuk memberikan cahaya yang memadai. Namun, jika lampu minyak itu ditaruh di dalam cariole, wajah mereka pasti akan tertutup oleh asap hitam yang keluar dari lampu itu. Sementara kegelapan semakin melahap sekeliling mereka dengan sempurna, cariole mereka menjadi satu-satunya cahaya yang bergerak.
Di dalam cariole atau kereta kuda, Belladona memanfaatkan tongkat sihirnya untuk memberikan cahaya tambahan, menjadikannya sebagai sumber cahaya yang jauh lebih bersahabat dibandingkan harus memasukkan lampu minyak. Barla sedang sibuk memeriksa dua buah peta. Peta pertama memuat informasi tentang lokasi desa goblin, sementara peta yang lain mengenai keberadaan Medusa.
Disampingnya Alisha sedang berkonsentrasi membersihkan pistol yang dia bawa, memastikan senjatanya dalam kondisi prima. Matilda, di sisi lain, tampak bengong menatap jalanan didepan yang mulai tenggelam dalam kegelapan yang merayap perlahan.
Sedangkan Leo dan Glint nampak tengah asyik berbincang di kursi pengemudi, mungkin berbagi cerita atau sekadar mengobrol untuk mengusir keheningan yang menyelimuti kariol mereka. Leo jelas bertanya banyak hal tentang dunia Erder yang masih terasa baru baginya, walaupun dia telah menyimpan beberapa ingatan dari Raja Sullivan. Baginya, segala informasi yang dia miliki saat ini sama sekali belum cukup. Suasana di dalam kariol terasa akrab meskipun malam semakin mendekat.
Keheningan malam mulai menyelimuti kariol yang melaju di dalam hutan. Leo duduk di kursi pengemudi, mengamati pemandangan gelap di dalam hutan. Matahari telah lama tenggelam di ufuk barat, dan digantikan oleh sinar rembulan yang terang benderang.
Matilda yang duduk di belakang Leo telah menguap lebar, hingga napas hangatnya terasa di belakang telinga dan leher Leo. Leo tersenyum tipis mendengar Matilda yang mengantuk. "Tidurlah, Matilda. Aku akan bangunkan kamu jika kita sudah sampai." Matilda hanya mengangguk dan segera pergi tidur.
Sementara itu, di samping Leo, Glint juga tampak kewalahan oleh rasa kantuknya. Dia mengusap mata dan merapikan kacamatanya yang hampir terjatuh. Glint berusaha keras untuk tetap terjaga, tetapi mata dan tubuhnya telah memberontak karena lelah. Leo yang melihatnya mengerti betul rasa kantuk tersebut.
Leo memberikan sentuhan lembut dengan menepuk pundak Glint. Tindakan itu membuat Glint tersadar dan sedikit terkejut. "Tidurlah di dalam, Glint," ujar Leo dengan suara yang santai.
__ADS_1
Glint memandang Leo dengan rasa syukur. "Maafkan aku, Leo. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba begitu ngantuk."
Leo hanya tersenyum tenang, "Itu wajar setelah perjalanan yang panjang. Masuklah, istirahat itu juga penting."
Glint akhirnya mengikuti saran Leo dan memasuki cariole untuk tidur.
Leo duduk sendirian di kursi pengemudi, merasakan sedikit rasa kantuk yang mulai menghampirinya, tetapi dia tahu bahwa perjalanan mereka harus terus berlanjut. Sambil menguap lebar, Leo menutupi mulutnya dengan tangannya, dan matanya mulai berair. Tepat pada saat itu, kereta kuda mereka sedikit berguncang, membuat Leo menengok ke belakang.
Alisha melangkah mendekati Leo melewati kayu pembatas antara bagian belakang dengan kursi pengemudi cariole, kemudian dengan perlahan duduk di sampingnya. Rambut pirangnya yang panjang perlahan dia kuncir, dan Leo memperhatikan setiap gerakan yang dilakukannya. Alisha mengeluarkan selembar kain pendek dan menggigitnya, tanda bahwa dia sedang fokus merapikan rambut panjangnya yang terurai. Tatapan Leo masih mengarah padanya, membuat suasana menjadi hening.
Leo memutuskan untuk membuka obrolan, agar rasa canggung yang tiba-tiba muncul bisa hilang. "Apakah Glint dan Matilda sudah tidur?" tanya Leo sambil menatap alisha.
"Eh, semuanya?" Leo sedikit terkejut. Dia membuka tirai cariole dan melihat teman-temannya yang tertidur pulas. Termasuk Belladona, yang biasanya lebih banyak menghabiskan waktu untuk membaca daripada tidur. Biasanya, dia hanya tidur paling lama 6 jam sehari.
Alisha menguap dan meregangkan kedua tangannya ke atas, terdengar suara krek dari otot-ototnya yang mungkin terasa pegal. Dia menghapus air mata yang keluar saat menguap, lalu menjawab, "Mungkin mereka semua kelelahan. Kamu tidak tidur, Leo. Biar aku menggantikan posisimu."
Leo memukul lembut kepala Alisha dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya tetap memegang erat tali kekang kuda di depannya.
"Aduh!" Alisha memegang kepalanya dengan kedua tangannya, dia menatap Leo dengan mulut membulat terisi udara. "Apakah itu sopan, selalu memukul kepala atasanmu seperti itu?" dengan nada kesal.
__ADS_1
Leo hanya tertawa kecil, lalu mengusap bagian atas kepala Alisha yang tadi dia pukul. "Maafkan aku, sudah membentakmu waktu itu."
Seketika, wajah Alisha memerah. "Itu sama sekali bukan masalah," katanya sambil membuang pandangan. "Lagipula, kamu melakukan itu karena memang aku yang terlalu keras kepala. Aku tidak tahu jika kakakmu juga berada di dunia yang sama dengan kita."
Leo menatap langit yang penuh bintang, lalu mendesah. "Tidak pernah terpikir olehku bahwa semuanya akan berjalan seperti ini." Alisha memahami perasaan Leo. Dia menatap temannya dengan penuh pengertian.
Leo melanjutkan ceritanya, masih tidak percaya dengan bagaimana hidupnya yang dari kecil selalu mengikuti alur kehidupan, seperti ikan mati yang terbawa arus sungai. Dia menceritakan tentang keputusannya untuk mendaftar menjadi polisi, adalah harapannya untuk paling tidak bisa mengurangi rasa sakit yang ia rasakan setelah kepergian kakak perempuannya. Leo tahu bahwa dalam peranannya sebagai polisi akan membantunya mengurangi rasa sakit itu, dia telah menyelidiki berbagai kasus orang hilang, penculikan, dan sebagainya, mencoba membantu orang-orang yang membutuhkan, sekaligus berharap keajaiban datang untuk mempertemukan dia dengan kakaknya.
Dalam ceritanya, Leo juga membagikan bagaimana dia bertemu dengan sahabat-sahabat barunya, Neil dan Alisha. Mereka telah bersama-sama mengalami petualangan luar biasa di dunia lama maupun di dunia yang baru, walaupun Neil sudah tidak ikut bersama mereka. Leo dan Alisha menghadapi berbagai rintangan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Namun, meskipun banyak hal yang belum dia mengerti tentang dunia ini, dia tahu bahwa kekuatan Nythorian telah memilihnya saat di Menhir Bastion, dan dia merasa bertanggung jawab untuk menjalani peran yang diberikan kepadanya.
Saat Leo terus bercerita kesana-kemari, dia melihat Alisha yang sudah tertidur pulas dengan kepala bersandar di bahunya, suaranya seperti seekor babi yang tertidur nyenyak.
Leo tersenyum dan menggeleng pelan. "Tadi katanya mau menggantikan aku jadi kusir..." gumamnya dengan nada pelan, meskipun tahu bahwa Alisha sudah tertidur dan tidak mendengarnya.
Leo melanjutkan perjalanannya di malam yang tenang ini, membawa cerita dan kenangan dalam hatinya. Meskipun masih banyak misteri yang mengelilingi dunia ini, dia yakin bahwa bersama dengan teman-temannya, mereka akan menjawab semua pertanyaan yang menghantui mereka.
Deg
Tiba-tiba jantung Leo mulai berdegup kencang saat mendengar suara tangisan lirih seorang wanita di tengah hutan yang gelap.
__ADS_1