
Tavern di Desa Kabut adalah tempat yang tenang dan damai, tempat yang lebih mirip seperti rumah makan daripada sebuah bar. Dindingnya terbuat dari kayu yang dipahat dengan cermat, menghasilkan ukiran yang terkesan indah dan alami. Di bandingkan dengan tavern yang ada di kota, ruangan ini terasa kecil, tetapi nyaman, dengan beberapa meja kayu persegi panjang yang diletakkan dengan rapi dan kursi-kursi kayu sederhana yang mengelilinginya. Pencahayaan yang lembut berasal dari lentera minyak yang tergantung di sepanjang dinding, menciptakan suasana yang hangat dan nyaman.
Di satu sudut ruangan, terdapat papan kayu besar yang digantung di dinding, berfungsi sebagai papan pengumuman. Di sini, daftar pekerjaan tersusun rapi dengan beragam tingkat kesulitan dan bayaran yang bervariasi. Pekerjaan tersebut berkisar dari membersihkan hutan, melindungi karavan, hingga berburu monster atau binatang buas. Papan ini juga memuat informasi tentang keberadaan monster-monster yang berkeliaran di sekitar desa, memberikan peringatan kepada para petualang.
Tersebar di seluruh tavern, kalian akan melihat petualang-petualang dari berbagai kalangan. Mereka mengenakan pakaian yang serba praktis, seringkali dilengkapi dengan berbagai macam senjata, seperti pedang, panah, dan tameng. Beberapa dari mereka duduk di meja, berdiskusi dengan serius mengenai misi yang ingin mereka ambil. Yang lainnya berdiri di dekat loket informasi, mengantri untuk mendapatkan rincian lebih lanjut tentang pekerjaan yang tersedia.
Di loket informasi yang mirip dengan loket tiket bioskop ini, seorang penjaga bertugas untuk memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai misi dan memberikan petunjuk kepada petualang. Mereka adalah perantara antara petualang dan klien yang memerlukan jasa mereka.
Tavern di Desa Kabut adalah pusat kegiatan bagi para petualang, tempat di mana mereka bisa mendapatkan pekerjaan, berdiskusi tentang rencana petualangan, dan berbagi pengalaman mereka. Meskipun tidak ada minuman beralkohol, atmosfer di dalamnya tetap penuh dengan semangat petualangan dan keingintahuan. Suara ramai percakapan dari para petualang yang berbagi kisah-kisah mereka mengisi ruangan, menciptakan lingkungan yang hidup dan penuh energi.
Leo dan teman-temannya berdiri di depan papan informasi dengan penuh perhatian. Mereka tampak serius dan fokus saat melihat daftar misi yang tersedia, matanya teliti memeriksa keterangan tingkat kesulitan dan bayaran yang tertera di setiap kertas misi.
Sementara Leo memutuskan untuk mengambil salah satu misi dengan mengambil selembar kertas yang terpampang di papan, suasana di sekitar mereka mulai memanas. Barla, wanita berkulit coklat berbadan atletis yang bekerja di tavern desa, tengah memarahi seorang petualang yang tampak protes keras karena merasa bayarannya kurang.
"Kau pikir ini pasar? Kami tidak bisa mengendalikan harga misi, itulah yang sudah ditawarkan oleh pengirim misi!" kata Barla dengan suara keras, wajahnya berkerut marah.
Petualang yang protes masih bersikeras, tetapi Barla tidak bersedia mengalah. "Kalau kau tidak suka, cari misi lain yang lebih sesuai dengan selera mu!" teriaknya dengan nada tegas.
__ADS_1
Sementara itu, Leo dan teman-temannya masih mengantri dengan ekspresi campur aduk. Mereka terus menatap ke arah Barla dan petualang yang sedang bertengkar, berusaha agar tidak terlibat dalam keributan tersebut.
Setelah petualang yang tadi protes telah pergi, Leo dan teman-temannya segera menghampiri Barla. Barla yang awalnya marah, seketika ekspresinya berubah saat melihat mereka berempat mendekat. Dia tersenyum lebar dan menyambut mereka dengan semangat.
"Wah, teman-taman! Ada yang bisa aku bantu?" kata Barla dengan suara riang, sambil mencondongkan dirinya ke arah meja, dadanya yang besar menekan meja di depannya.
Karena mereka sudah mengenal satu sama lain selama sebulan di Desa Kabut, mereka tidak lagi terlalu terkejut dengan postur dan kebiasaan Barla yang seperti ini.
Leo menyerahkan kertas misi kepada Barla. Di sebelah Leo, Alisha tampak canggung, sesekali memegang miliknya sendiri seolah-olah merasa iri dengan ukuran Barla yang lebih besar. Dia menyisipkan pandangan mata ke arah Leo, mencoba memastikan bahwa Leo tidak terlalu terpesona dengan apa yang dimiliki Barla. Tapi seperti biasa, Leo, bagaimanapun, tampak sepenuhnya hanya fokus pada tugasnya.
Setelah Belladona mengajukan komentarnya yang humoris, Barla hanya tersenyum lebar dan menggelengkan kepalanya, tak terlihat terganggu sedikit pun. Dia lalu mengambil kertas misi dari Leo dan mulai membacanya dengan serius.
"Baiklah, mari aku lihat apa yang bisa aku temukan," kata Barla sembari membaca deskripsi misi tersebut. Wajahnya berubah menjadi serius, menunjukkan bahwa dia benar-benar memahami betapa pentingnya pekerjaan ini bagi para petualang.
Barla menatap kertas misi tersebut dengan mata terbuka lebar, dan terlihat jelas ada kejutan dalam ekspresinya. Dia lalu menatap Leo dan teman-temannya dengan sorot mata campuran antara kagum dan bingung.
"Apa kalian benar-benar ingin mengambil misi tingkat 10 ini?"
__ADS_1
Leo mengangguk mantap. "Ya benar, tapi apakah bayarannya 100 koin emas?"
Barla menatap Leo dan teman-temannya dengan tatapan yang penuh kekhawatiran. "Bayarannya mungkin memang besar, tapi aku harap, kalian benar-benar memahami apa yang akan kalian hadapi. Desa Goblin bukanlah musuh yang bisa dianggap enteng. Banyak petualang yang tak pernah kembali lagi setelah mencoba misi ini. Ada yang bilang jika desa itu memiliki goblin, troll, bahkan ogre yang bisa menjadi ancaman serius."
Leo dan teman-temannya mendengarkan dengan serius peringatan Barla. Mereka paham bahwa misi ini takkan mudah, tapi mereka telah menghadapi hal semacam ini sebelumnya dan merasa siap menghadapinya lagi. Leo kemudian mengangguk mantap dan berkata dengan penuh keyakinan, "Kami memahami risikonya, Barla, dan kami siap menghadapinya. Kami telah berlatih dan melawan bahaya bersama. Lagipula, kami juga membutuhkan koin emas itu."
"Baiklah, jika kalian yakin, saya akan memproses ini. Tapi, waspadalah, Desa Goblin bukanlah tempat yang aman. Kalian harus benar-benar siap untuk menghadapi segala bentuk bahaya di sana."
Barla mengurus kertas misi dengan cermat. Dia memberikan tanda tangan pertamanya, dan diikuti oleh Leo, Alisha, Belladona serta Matilda.
Matilda dengan candaan ringan berkata, "Tanda tanganku adalah seni terbesar, Barla! Ini wajah goblin yang tersenyum, lihat!" Dia menunjukkan tanda tangannya yang benar-benar mirip dengan gambaran yang dia sebutkan, namun hanya dengan dua titik dan satu garis lengkung.
Barla hanya tersenyum melihat keceriaan teman-temannya, meskipun dia tetap merasa khawatir. "Semoga kalian selamat dan berhasil, teman-teman,"
Barla mencoba memberikan senyuman semampunya, tetapi dia tahu bahwa tidak ada yang bisa dia lakukan untuk mengubah keputusan mereka. Setelah menyerahkan kertas misi kepada Leo, dia menghela napas dalam-dalam, melepaskan beban yang ada di pikirannya.
Meskipun Barla penuh dengan kekhawatiran, dia juga memiliki keyakinan pada kemampuan Leo dan teman-temannya yang telah terbukti dalam pertarungan melawan Mowldark sebelumnya. Dia tahu bahwa mereka memiliki kemampuan yang kuat dan telah berani menghadapi bahaya untuk melindungi desa. Meskipun risiko besar menghadang, Barla tahu bahwa mereka telah memilih dengan bijak dan siap menghadapinya.
__ADS_1