
...[Alisiana Adalloria]...
...[Bumi, Abad 21]...
...[Manusia]...
...[Kekuatan Tingkat 5]...
...[Faksi IIlymeira]...
...-...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Proses di Menhir Bastion telah berakhir, dan Alisha berhasil mengungkap seluruh potensi kekuatannya sebagai seorang Celestial yang baru. Celestial sendiri adalah sebutan untuk manusia atau makhluk lain yang datang dari dunia lain, termasuk Leo dan Alisha. Kini, suasana di tempat itu telah kembali seperti semula, hanya ditemani oleh deretan obor yang tetap berkobar dan cahaya lembut dari bulan yang menerangi sekeliling mereka. Mereka berempat, Leo, Alisha, Belladona, dan Matilda, duduk melingkar saling berhadapan di depan api unggun yang berkobar di atas kayu dan ranting yang mulai memasak hasil buruan mereka.
Kepulan asap dari daging rusa yang dipanggang di atas api itu membawa aroma gurih yang menggoda selera. Suasana yang akrab terasa di antara mereka, saat mereka menikmati hidangan makan malam mereka di bawah langit berbintang.
Alisha terlihat sedikit merenung, matanya terfokus pada api yang berkobar, mungkin memikirkan perjalanannya yang tak terduga ke dunia Erder ini. Leo duduk di sampingnya, memandanginya dengan perasaan hangat dalam hatinya, merasa bersyukur atas kehadiran Alisha yang dapat menemani dirinya di dunia yang baru ini.
Di sisi lain, Belladona mengambil sepotong daging panggang dengan anggun, menikmati rasanya dengan senyum tipis di bibirnya. Matilda, di seberang mereka, makan dengan lahap seperti seekor babi yang lapar, samasekali tak peduli dengan yang namanya sopan santun.
__ADS_1
Meskipun perjalanan mereka telah membawa banyak kejutan dan pertikaian, mereka merasa lebih dekat satu sama lain sekarang, melupakan segala pertempuran yang terjadi diantara mereka. Di bawah langit malam yang tenang dan bintang-bintang yang bersinar terang, mereka merasa seperti satu keluarga yang kuat dan siap menghadapi apa pun yang akan datang.
Alisha duduk di antara Leo dan Belladona, pandangannya penuh dengan keingintahuan. Pertanyaannya tentang Faksi IIlymeira mencerminkan keinginannya untuk memahami lebih dalam tentang kekuatan barunya.
Belladona menjawab dengan pengetahuan yang dalam, senyumnya bersinar penuh kecerahan. Matanya berkilat ketika dia berbicara tentang faksi ini. "IIlymeira adalah faksi yang sangat kuat, diciptakan oleh kaum Elf dan Night Elf. Mereka cenderung menggunakan kekuatan mereka untuk menyelamatkan nyawa dan menjaga keseimbangan alam, daripada menghancurkan lawan. Aku sendiri telah mempelajari beberapa kemampuan dari faksi ini, dan aku percaya bahwa menjadi seorang Celestial dengan kekuatan dari Faksi IIlymeira adalah sesuatu yang bagus."
Alisha masih merasa ragu, "Tapi apakah tingkat 5 sudah cukup?"
Belladona tertawa lembut, menghilangkan keraguan Alisha. "Alisha, aku sendiri memerlukan waktu hingga bertahun-tahun untuk mencapai tingkat 5. Bagi seorang Celestial, mencapai tingkat 5 adalah pencapaian besar pada hari pertama. Kecuali Leo yang langsung mencapai tingkat 10, tapi itupun merupakan hal yang sangat langka."
Alisha memalingkan wajahnya karena malu. "Aku tidak ingin menjadi sekuat Leo, aku hanya ingin bisa melindunginya dengan kekuatanku sendiri." Dia melirik Leo, yang tersenyum padanya dengan penuh pengertian. Leo tahu betul betapa inginnya Alisha untuk dapat melindungi orang yang disayanginya, termasuk dirinya dan sahabat mereka, Neil Hooper. Dia sudah sangat memahami sifat Alisha ini sejak dulu, saat mereka meluangkan waktu bersama sabagai seorang polisi.
Mereka duduk dalam ketenangan sambil berbincang, menghargai setiap momen ini dan membiarkan pengetahuan baru Alisha meresap ke dalam dirinya. Belladona, dengan senyumannya yang hangat, tahu bahwa Alisha akan menjadi seorang Celestial yang luar biasa dengan kekuatan yang dimilikinya.
Belladona memegang tongkat sihirnya, dan dengan ekspresi serius, dia mulai merapalkan sebuah mantra, "delicieusement exquise." Mantra tersebut terdengar ditambah sebuah doa kepada Dewa Talos Yang Agung.
Dan dengan keajaiban yang hanya dimiliki oleh para penyihir terampil, beberapa piring muncul secara ajaib di hadapan mereka, dilengkapi dengan alat makan seperti sendok dan garpu. Beberapa gelas berisi air juga muncul dengan sendirinya. Namun, yang paling menggoda adalah rusa panggang yang terlihat jauh lebih nikmat dari sebelumnya, seolah-olah telah dimasak dengan bumbu yang sangat spesial. Aroma yang keluar dari hidangan itu begitu menggoda, membuat air liur Matilda langsung mengalir.
Matilda melihat rusa panggang yang menggoda dengan mata berbinar-binar, seperti seekor babi yang kelaparan, dan dengan cepat melompat ke arah hidangan tersebut. Namun, sebelum dia bisa meraihnya, tongkat sihir Belladona tiba-tiba berdiri di antara Matilda dan hidangan lezat itu.
"Kamu kan sudah makan banyak, Matilda," kata Belladona dengan nada lucu. "Sekarang giliran Alisha untuk makan."
__ADS_1
Matilda tampak kecewa, namun dia tidak menyerah begitu saja. Dengan semangat anak kecil yang keras kepala, dia terus mendekat, mengabaikan larangan Belladona.
"Kenapa kamu tidak melakukannya dari tadi. Pokoknya aku mau juga!" serunya dengan polos, seperti anak kecil yang tidak bisa menahan godaan makanan yang enak.
Mereka semua tertawa melihat Matilda yang bersikeras. Meskipun Matilda terkadang bisa menjadi cemburu dan konyol, momen seperti ini menambah keceriaan dan keakraban di antara mereka.
...-...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah makan malam yang nikmat, kelelahan akhirnya menghampiri Belladona, Matilda, dan Alisha satu per satu. Mereka pun tertidur pulas di dalam ruangan Menhir Bastion, beralaskan jubah tebal dan selimut tipis yang menghangatkan mereka di malam yang sejuk. Di sekeliling mereka terdapat kantong-kantong kain yang juga Gideon berikan kepada mereka sebelum akhirnya dia kembali ke kerajaannya.
Leo, yang masih terjaga, melihat mereka tertidur dengan damai. Dia akhirnya memutuskan untuk berjalan keluar dari ruangan tempat mereka tidur, sesekali menengok ke belakang untuk memastikan bahwa teman-temannya masih tertidur pulas. Leo memahami jika mereka telah melewati banyak hal hari ini, dan istirahat begitu penting.
Di bawah cahaya rembulan yang bersinar terang, Leo menemukan momen berharga untuk merenung sendirian. Leo duduk bersandar di samping dinding yang jebol, menghadap hutan yang gelap. Pepohonan besar menjulang tinggi, dan suara angin yang sejuk menggoyangkan daun-daun pohon dengan lembut. Semuanya terasa begitu tenang di malam hari.
Leo merenung dalam keheningan malam yang gelap. Dengan perlahan, dia memutuskan untuk mengambil lencana polisinya yang mengkilap. Ia memegangnya lalu mengusapnya dengan lembut, merasakan beratnya simbol itu di tangannya. Lencana itu adalah pengingat akan masa lalunya yang berharga.
Setelah itu, Leo meraih pistolnya yang sudah kosong tanpa peluru. Dia mengamatinya sejenak, meresapi detail-detail kecil pada senjata itu, yang telah menjadi bagian dari hidupnya. Senjata itu seakan menjadi saksi bisu dari banyak peristiwa yang telah dialami oleh Leo.
"Bagaimana aku bisa melindungi orang-orang yang ada di sekitarku jika aku bahkan tidak bisa melindungi satu orang yang sangat berarti bagiku?"
__ADS_1
Leo menatap bulan yang bersinar terang di langit malam dengan ekspresi penuh kesedihan di wajahnya. Dia merenung sejenak sebelum akhirnya berkata dengan suara pelan yang penuh penyesalan, "Maafkan aku, Neil."