Against All Odds

Against All Odds
CH 43 - LUCAS


__ADS_3

Semua lampu di Koloseum menyala satu per satu, mengungkap pemandangan yang luar biasa. Leo membiarkan pandangannya mengelilingi ruangan ini. Lapangan berpasir terbentang luas ditengah arena, permukaannya berkilau dalam sorotan cahaya lampu. Di sekelilingnya, tribun dengan barisan kursi yang terhimpun, menciptakan arena yang begitu besar, tampaknya bisa menampung hingga ribuan penonton. Pintu-pintu besar dengan ornamen kuno dan patung-patung makhluk setengah manusia, setengah monster, berlutut dengan sikap mengagungkan, menghiasi setiap sudut koloseum ini.


"Selamat datang, Leo Demhian! Selamat datang di Hellanders!" sambut Lucas sembari mengangkat kedua tangannya ke samping. Sorak sorai riuh penonton memenuhi ruangan bawah tanah ini.



Leo menatap tajam ke atas, matanya yang sayu dan berkantong tidak memperlihatkan tanda-tanda ketakutan, bahkan dihadapkan pada kerumunan misterius ini.


Barisan orang-orang dengan pakaian serba hitam dan bertopeng itu menatap leo seakan sedang melihat seekor bin*t*ng di sebuah kebun bin*t*ng.


"Apa kau tahu tujuanku membawamu ke sini, Leo Demhian?" Lucas berbicara dengan suara yang penuh dengan keangkuhan dan sombong.


Leo masih tetap diam, matanya menatap tajam ke arah Lucas.


"Apa kau pernah mendengar tentang organisasi Hellanders?" Lucas bertanya lagi.

__ADS_1


Namun, Leo masih belum memberikan jawaban. Penonton di tribun di sekitarnya mulai menjadi gelisah. Mereka bertanya-tanya tentang apa yang akan terjadi selanjutnya, dan beberapa di antara mereka juga merasa gemetar setelah melihat Leo yang begitu berani mengabaikan perkataan Lucas.


Hellanders adalah sebuah organisasi misterius yang beroperasi di bawah tanah Kerajaan Thellidia. Meskipun jumlah pengikut mereka belum diketahui secara pasti, setidaknya ada lima anggota yang dikenal sebagai anggota yang sangat kuat. Salah satunya adalah Lucas, yang berperan sebagai pemimpin dalam organisasi ini. Mereka beroperasi di dalam bayangan dan memiliki tujuan serta agenda yang tidak diketahui oleh masyarakat umum.


Lucas mengeluarkan kotak rokok yang dia simpan di dalam jas hitamnya. Dia membuka kotak itu dan menarik sebatang rokok dengan mantap. Kepalanya agak condong ke depan saat dia memutar roda kecil korek api di tangannya, dan percikan api segera terlihat saat roda itu diputar dengan cepat.


Cahaya dari api yang menyala menerangi wajah Lucas dengan jelas. Begitu korek telah menyala sempurna, Lucas segera membawa ujung batang rokoknya ke api. Dia menghisap asap rokok ke dalam paru-parunya lalu menghembuskan asapnya ke udara.


Lucas memiringkan wajahnya, menekan lehernya dengan tangan hingga berbunyi. Asap rokok mengepul di depan wajahnya, menyembunyikan tatapan tajamnya ke arah Leo.


Leo mengernyitkan dahinya, hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Sebenarnya, dia hampir tertawa karena merasa ucapan Lucas yang terdengar seperti lelucon. Namun, ketika dia melihat ekspresi serius dari orang-orang di sekitarnya, dia menyadari bahwa situasinya memang serius.


"Tidak," jawab Leo, tanpa ragu sedikit pun. Namun, saat kata-kata tersebut keluar dari mulutnya, semuanya berubah.


Seketika, pemandangan di sekelilingnya berubah menjadi sangat gelap. Gelap dan hampa, hanya pencahayaan redup di sekitar tubuhnya, itupun entah bersumber dari mana. Leo mematung dalam kebingungan.

__ADS_1


Dari sisi kanan, terdengar suara langkah kaki mendekat dengan cepat. Refleks, Leo memutar tubuhnya ke arah asal suara itu. Dan di sanalah Lucas, yang sedang berlari dengan cepat, dilengkapi sebilah katana terhunus di tangannya.


Dalam sekejap, mata pedang itu menembus perut Leo. Katana itu dicabut dan kemudian diayunkan lagi, membawa lebih banyak darah segar yang memancur dari tubuh Leo, membasahi seluruh tubuhnya. Mata Leo membelalak, mulutnya terbuka lebar, seperti hendak berteriak, namun suara yang keluar hanyalah cairan merah yang bercucuran. Dalam sekejap, dia terjatuh ke tanah, bertumpu pada kedua lututnya di hadapan Lucas.


Pandangan Leo akhirnya kembali normal, kegelapan yang melingkupinya telah menghilang, dan dia kini melihat ke arah Lucas yang berdiri di hadapannya. Namun, meskipun pandangannya kembali jernih, Leo masih terpaku dalam posisi berlutut, tubuhnya basah oleh keringat, dan ekspresi wajahnya tetap tak berubah. Dia memandang ke arah pedang Lucas yang kini bersih tanpa ada tanda-tanda darah, membuatnya meraba dan memeriksa tubuhnya yang sebelumnya tercabik-cabik. Namun, semua luka yang ada seolah menghilang begitu saja. Seperti tidak ada yang pernah terjadi.


Leo merasa kebingungan dan terkejut. Apa yang baru saja dia alami benar-benar nyata baginya. Dia merasakan rasa sakit yang menusuk, darah yang mengalir, dan kehilangan kesadaran saat pedang itu menembus tubuhnya. Namun, di hadapannya, tubuhnya terlihat tidak terluka sedikit pun. Rasanya seperti dia sedang berada dalam dunia yang tidak masuk akal.


Dalam keadaan bingung, Leo mencoba berbicara, tetapi suaranya tidak keluar. Dia merasakan kekakuan di tenggorokannya, seolah-olah ada sesuatu yang menghalangi kata-katanya untuk keluar. Dia mencoba bergerak, tetapi tubuhnya masih terasa kaku.


Leo melihat ke arah Lucas, mencoba mencari jawaban dari wajahnya yang tetap serius. Namun, Lucas hanya memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Sebenarnya, siapa orang ini? Apakah barusan hanyalah ilusi?"


Lucas melangkah maju dengan langkah mantap dan berjongkok di depan Leo. Dia memasukkan rokok yang hampir habis ke dalam tanah, membiarkan asapnya membelok ke langit. Tatapannya terasa dingin, menusuk ke dalam jiwa Leo yang masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.

__ADS_1


"Kau sudah paham sekarang," kata Lucas dengan nada tegas. Suaranya terdengar seperti angin dingin yang membelai telinga Leo. "Mulai sekarang, tidak perlu membantah perintahku, dan menggonggonglah untukku. Dengan begitu, aku dapat merawatmu dengan lebih baik. Mengerti, Leo Demhian?"


__ADS_2