
Leo melangkah dengan hati-hati menuju cahaya yang menunggu didepannya. Semakin ia mendekat, semakin menyilaukan cahaya itu, hingga ia terpaksa menutup matanya untuk melindungi penglihatannya. Belladona dan roh yang berjalan di depannya juga terpengaruh oleh kecerahan cahaya tersebut. Mereka seakan tenggelam dalam kilatan keemasan yang memancar dari setiap arah. Cahaya itu membuat batas antara kenyataan dan keajaiban semakin kabur, seolah menghapuskan segala rasa takut dan keraguan. Leo merasakan sensasi aneh mengalir melalui seluruh tubuhnya, seperti energi yang mengalir ke dalam dirinya, itu terasa dingin dan sejuk secara bersamaan.
Saat ia membuka mata, mereka telah berada dalam sebuah dunia yang sepenuhnya berbeda. Cahaya yang menyilaukan telah berubah menjadi sinar matahari yang hangat, menerangi sebuah lanskap yang indah. Mereka berdiri di tengah padang rumput yang luas, dengan bunga-bunga liar yang berwarna-warni bermekaran di sekeliling mereka. Angin sepoi-sepoi berembus lembut, memberikan sensasi kehangatan dan ketenangan.
Leo tidak bisa menahan rasa kagum dan kebingungannya, bercampur jadi satu. Mereka yang barusaja keluar dari kegelapan hotel yang mencekam, tiba-tiba berada di tempat yang begitu damai dan indah. Belladona dan roh yang menemaninya tampaknya tidak terkejut oleh perubahan ini, seolah telah terbiasa dengan hal semacam ini.
Belladona mengulurkan tangannya dengan lembut dan menepuk pelan pundak Leo. "Baiklah. Mari kita segera membantu temanmu. Silakan letakkan dia di atas rumput di sana."
Leo mengangguk, kemudian dengan hati-hati menurunkan tubuh Alisha ke atas rumput. Wajahnya penuh kekhawatiran saat melihat keadaan Alisha yang pucat dan terluka parah. Belladona mengambil posisi di sebelah Alisha dan mulai merapalkan sebuah mantra. Suaranya seperti bisikan angin lembut, yang seolah-olah melibatkan kekuatan kuno yang hanya dimengerti olehnya sendiri. Tangan Belladona menyentuh luka di perut Alisha dengan penuh perhatian.
Leo, yang awalnya cemas, hanya bisa menonton dengan takjub ketika perubahan terjadi. Dia melihat sesuatu yang luar biasa sedang terjadi di hadapannya. Kulit Alisha yang terluka mulai menutup dan sembuh dengan sangat cepat, dan warna sehat kembali memenuhi wajahnya yang sebelumnya pucat.
"Sungguh luar biasa," bisik Leo, hampir tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya.
Belladona mengangguk sambil tersenyum tipis. "Ini hanya sedikit dari kemampuanku. Dia akan baik-baik saja sekarang. Dia hanya perlu istirahat sejenak, mungkin hanya butuh beberapa jam."
Leo merasa lega dan bersyukur. Ia merasa berutang budi kepada wanita misterius ini yang telah menyelamatkan Alisha. "Terima kasih, Belladona. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa membalasnya."
Ekspresi Belladona berubah serius. Dia menatap tajam ke arah Leo, penuh harapan dan ekspektasi. "Leo," katanya, "aku tahu bahwa kamu datang dari abad ke-21. Tapi entah kenapa, aku merasa ada potensi besar dalam dirimu. Semoga kamu tidak mengecewakan seperti para pendahulumu."
Leo terkejut dengan pernyataan Belladona. "Potensi apa yang kamu maksud? Pendahulu? dan bagaimana kamu bisa mengenalku?" berbagai pertanyaan muncul di benaknya bagaikan bendungan yang jebol.
__ADS_1
Belladona berpikir sejenak, lalu berkata, "Aku sudah melihat bagaimana kamu melawan monster - monster itu. Sekarang bawalah Alisha bersamamu dan ikuti aku. Dan juga... maaf jika aku mungkin bicara terlalu kasar padamu sebelumnya."
"Itu bukan masalah, selama kamu dapat membantuku untuk keluar dari masalah ini."
Leo dengan hati-hati menggendong Alisha di punggungnya, memastikan dia aman. Di sampingnya, Belladona berdiri, siap memimpin mereka ke dalam petualangan yang tak terduga.
Mereka telah memasuki wilayah yang sunyi dan dipenuhi oleh reruntuhan. Leo menyadari tempat ini ternyata terletak di balik portal yang baru saja dia lalui, jadi seharusnya disinilah hotel itu berada. Namun semuanya terlihat berbeda, menyadarkan Leo, bahwa dia benar-benar telah berpindah dunia.
Seiring mereka berjalan, bangunan-bangunan kuno yang hancur mulai terlihat di sekeliling mereka, menciptakan gambaran yang menakjubkan sekaligus melankolis. Kastil yang megah, dinding-dinding batu yang pernah menjulang tinggi, kini hanya tinggal puing-puing dan reruntuhan yang terlupakan oleh waktu.
Di antara reruntuhan itu, terlihat banyak sekali benda-benda yang berserakan, seperti saksi bisu dari masa lalu yang dramatis. Pedang-pedang berkarat, tombak-tombak yang terabaikan, dan bahkan tumpukan buku-buku kuno yang telah menguning oleh waktu, semuanya berserakan di sekitar mereka. Sepertinya tempat ini pernah menjadi saksi dari pertempuran epik yang telah terjadi di masa lalu.
Belladona memandang bangunan dan artefak-artefak ini dengan tatapan campuran antara nostalgia dan kecewa. Dia kemudian menoleh kepada Leo dan dengan suara lembutnya, "Leo, kita akan pergi masuk ke dalam kastil ini. Di sinilah potensi dan jawabanmu akan terungkap."
Dalam kegelapan yang menyelimuti lorong kastil kuno, langkah mereka menghasilkan suara gemeretak yang menggetarkan. Lampu-lampu cahaya redup yang menyinari lorong kastil berasal dari cahaya matahari yang menerobos masuk melalui lubang-lubang di atap. Sinar cahaya itu membentuk lingkaran-lingkaran berkilauan saat menembus kegelapan.
Di dinding kastil yang berserak dengan reruntuhan, terpampang lukisan-lukisan besar yang menggambarkan peristiwa-peristiwa bersejarah. Lukisan-lukisan itu telah pudar dan usang, tapi mereka tetap memancarkan pesona dan aura dari zaman yang telah berlalu. Bendera-bendera dengan berbagai macam simbol ditengahnya juga terlihat menggantung di sepanjang lorong, mengenang masa kejayaan yang pernah ada.
Tombak, pedang, dan perisai tergeletak berserakan, mengisahkan cerita perang yang telah lama usai. Di beberapa sudut, nampak bekas-bekas darah yang telah mengering, menyisakan jejak kekejaman masa lalu.
Tikus-tikus berani berkeliaran di lorong yang gelap, menjadi penjaga tak resmi dari warisan yang tersisa. Mereka menyelinap di antara puing-puing, mencari sumber makanan atau barang berharga yang tertinggal.
__ADS_1
Leo mencoba menahan keraguannya seiring dengan bagaimana Belladona dapat mengetahui namanya dan informasi penting lainnya. Dia merasa perlu untuk memahami lebih dalam, jadi dia bertanya dengan hati-hati, "Jadi, Belladona, bagaimana kamu bisa tahu namaku, dan juga Alisha?"
Belladona tersenyum lebar, matanya berbinar-binar di dalam lorong gelap kastil ini. "Tentu saja itu adalah hal yang sangat mudah dilakukan bagi penyihir sepertiku."
Leo tersenyum kecil, mungkin mustahil di benaknya jika di dunianya yang dulu seseorang dapat mengetahui nama orang secara cuma-cuma, dia juga bukan orang yang percaya dengan hal-hal yang berbau magis maupun perdukunan.
Belladona yang berjalan paling depan dengan langkah anggun di lorong kastil yang gelap. Pakaian terbukanya memperlihatkan lekuk tubuhnya yang elegan. Dadanya yang memikat bergerak dengan lembut seiring dengan setiap langkahnya, menciptakan pesona alami yang membuat Leo terkesan.
Leo merasa terpana oleh kecantikan dan kepercayaan diri Belladona, meskipun dalam hatinya ia masih penuh dengan beribu-ribu pertanyaan tentang keadaan mereka. Ia mencoba untuk tetap fokus pada situasi saat ini, meskipun sulit dengan kehadiran Belladona yang begitu mencuri perhatiannya.
Leo juga bukanlah seorang pria yang mesum. Namun, dia tidak terbiasa melihat wanita dengan pakaian seperti ini sebelumnya, Alisha yang selalu bersamanya juga selalu memakai pakaian yang sopan dan rapi.
Leo yang mulai merasa canggung, mencoba bertanya kepada Belladona, "Apakah tidak merasa kedinginan memakai pakaian seperti itu?"
Belladona hanya tersenyum manis, lalu berbisik dengan lembut ke telinga Leo, "Apakah kamu merasa canggung jika dekat dengan seorang wanita sepertiku, Leo?"
Belladona tidak hanya memprovokasi Leo dengan kata-kata. Dia juga memainkan gerakan tubuh yang anggun dan melemparkan pandangan penuh arti yang membuat Leo merasa tidak nyaman.
Roh yang mendampingi mereka mulai merasa khawatir melihat Belladona terus menggoda Leo. Dengan cemas namun sopan, roh tersebut mencoba mengingatkan penyihir itu, "Belladona, tolong jangan bercanda terlalu jauh. Kita punya tugas yang serius."
Namun Belladona malah tertawa kecil, tidak tergoyahkan oleh peringatan roh tersebut. "Aura, janganlah terlalu serius. Aku hanya sedang mencoba menghibur tamu kita yang berharga ini. Apa jangan-jangan... wanita yang tertidur di punggungnya itu adalah kekasihnya ya."
__ADS_1
Baru beberapa langkah kedepan, Belladona justru tiba-tiba bersin dengan keras, membuat Leo memasang wajah poker, mengetahui bahwa penyihir genit itu sebenarnya merasa kedinginan dengan pakaian seperti itu.