Against All Odds

Against All Odds
CH 23 - Perasaan Baru


__ADS_3

Hutan yang mereka masuki adalah lanskap fantasi yang menakjubkan. Pohon-pohon raksasa seperti pohon ek dengan cabangnya yang melengkung hingga menyentuh tanah menjulang tinggi di atas mereka. Lumut dan tumbuhan merambat menjalari setiap batang pohon disana, menciptakan pemandangan hijau yang alami. Cahaya matahari menembus di antara dedaunan yang rapat, menciptakan sinar berkilauan yang jatuh ke tanah dengan gemerlap keemasan.


Hutan itu juga memiliki banyak aliran sungai kecil yang mengalir dengan air jernih menghasilkan suara gemericik yang menenangkan. Sementara itu, jamur-jamur raksasa yang beratapkan lumut, tampak berdiri seperti layaknya penjaga hutan. Beberapa bahkan tampak bercahaya seperti lampu taman dengan warna biru yang indah. Jamur-jamur besar itu telah menciptakan nuansa ajaib yang memikat.


Rumput liar dan lumut hijau menutupi tanah hutan ini, menciptakan landasan yang lembut dan nyaman di bawah kaki mereka. Burung-burung berwarna cerah terbang di atas, mengisi hutan ini dengan nyanyian mereka yang merdu. Semua ini menyatukan hutan ini sebagai tempat yang begitu hidup dan ajaib.


Mereka menelusuri hutan yang lebat dengan pandangan kagum terhadap keindahannya. Dedaunan yang rimbun dan berbagai macam tumbuhan yang menjulang ke atas menciptakan lanskap yang memukau. Setiap langkah yang mereka ambil membawa mereka lebih dalam ke dalam keindahan hutan ini. Namun, belum juga mereka masuk untuk menjelajahi hutan itu lebih dalam, tiba-tiba terdengar suara aneh yang terdengar mirip dengan desis ular berbisa yang sedang marah. Leo yang memimpin mereka dengan berjalan di posisi paling depan memberikan isyarat agar mereka berhenti.


Belladona, dengan rasa ingin tahu, bertanya, "Ada apa, Leo?"


"Aku barusan mendengar sesuatu, seperti suara ular raksasa atau semacamnya." Dengan suara tegang.


Belladona, dengan sikap santainya, meletakkan kedua tangannya di pinggang, "Tenang saja, Leo. Itu bukanlah suara ular, melainkan suara laba-laba raksasa."

__ADS_1


Leo terdiam mematung sejenak, mencoba menahan ketakutannya yang malah semakin membesar. Ekspresinya berubah menjadi konyol saat ia berusaha menutupi rasa takutnya dengan candaan, "Apa? Laba-laba raksasa, ya? Tentu saja, siapa yang takut pada makhluk semacam itu, kan?" Sambil berbicara, ia merentangkan tangannya kecil dan mengepalkan tinjunya seolah bermain-main dengan 'laba-laba' tak kasat mata di udara. Lalu, dengan candaan semacam itu, ia melangkah lebih jauh. Tetapi dalam hati, ia masih merasa waspada terhadap suara aneh tadi. Semuanya terlihat jelas dari gerakan tubuhnya yang gemetar.


Sementara itu, Matilda yang dari tadi melompat di atas jamur-jamur besar terlihat sangat penasaran. Dengan wajah yang imut dan polos, serta tatapan mata penuh keingintahuan, ia bertanya, "Apa itu laba-laba yang dulu pernah aku makan?"


Belladona menjawab singkat karena terfokus dengan buku tebal di tangannya, "Iya, Matilda, itu laba-laba yang sama."


Matilda dengan kepolosannya yang menggemaskan menjawab, "Eh, aku mau makan itu lagi!" Ia bahkan terlihat seperti siap untuk mencari laba-laba raksasa untuk dimakannya lagi.


Sambil terus mengedarkan pandangannya dengan waspada, Leo merapatkan kerudung jubahnya ke wajah dengan gerakan cepat dan agak kikuk, seolah-olah itu akan melindunginya dari laba-laba raksasa yang terus menghantui imajinasinya. Saat Matilda berbicara tentang ingin memakannya lagi, Leo spontan menoleh ke belakang sesaat dengan ekspresi campur aduk, mencoba memproses komentar kocak yang baru saja dia dengar.


Saat Leo menoleh ke belakang, pandangannya terhenti saat mencapai Alisha, yang berdiri di paling belakang mereka. Cahaya matahari yang menyelinap masuk membuat rambut pirang keemasan Alisha terlihat begitu mempesona. Wajahnya yang cantik terpancar dalam cahaya alami. Alisha mendongak, menatap cahaya yang datang dari atas, mata coklatnya terlihat begitu hangat dan penuh pesona.


Leo, yang sebelumnya tak pernah memperhatikan dengan seksama, merasa seakan terpaku pada sosok Alisha yang sedang bermandikan sinar matahari. Meskipun sudah 5 tahun lamanya mereka bersama, Leo baru menyadari perasaan baru yang tumbuh di dalam hatinya saat ini. Kecantikan Alisha yang terpancar dalam cahaya pagi membuat jantungnya berdebar-debar, dan dia merasa seperti sedang melihatnya untuk pertama kalinya lagi.

__ADS_1


Alisha yang terus menatap ke atas dengan pandangan penasaran, menunjuk ke langit dengan tangan kanannya yang terulur keatas. "Apa itu laba-labanya?" tanyanya dengan santai.


Matilda yang selalu polos dan penasaran segera mengikuti pandangan Alisha dan menghampiri rekannya. "Wah, aku mau!" serunya dengan kegirangan seperti anak kecil.


Namun, semangatnya kandas ketika Leo berkata dengan tegas dan keras, "Sekarang bukan waktunya untuk makan, kita harus bergegas sebelum hari mulai gelap."


Leo kemudian berbalik dan mengibaskan jubah tebalnya saat melangkah dengan mantap. Walaupun sedikit tersandung beberapa kali, dia berusaha untuk tetap menjaga kewibawaannya di hadapan teman-temannya yang terlihat sangat penasaran dengan hutan ini khusus laba-laba. Namun, dalam hati, dia berpikir dengan sedikit emosi, 'Siapa bilang menjalani petualangan begini itu mudah? Laba-laba raksasa? Udah gila ya? Sialan jubah ini, hampir saja aku terjatuh karenamu.' Sembari berusaha mempertahankan sikap gagahnya.


Dalam perjalanan mereka di hutan yang luas ini, Belladona memegang peran penting dalam memberikan arahan. Dengan langkahnya yang penuh keyakinan, dia membuka buku tebal yang selalu dia bawa dan dengan jelas menunjukkan arah yang harus diambil oleh kelompok ini. Kadang-kadang, dia juga memberikan penjelasan singkat tentang flora dan fauna yang mereka temui di sepanjang jalan.


Leo, yang berjalan di depan, memimpin dengan berani. Dia membuka jalan dengan menebas beberapa ranting dan akar pohon yang menghalangi jalan mereka, menggunakan sebilah pedang. Meskipun tampak sangat serius dengan tugasnya, sesekali dia melirik ke belakang untuk memastikan teman-temannya baik-baik saja.


Di belakang, Alisha dan Matilda tampak sedang asyik dengan percakapan mereka sendiri. Mereka tertawa dan berbicara dengan semangat, terlihat seperti sahabat baru yang selalu menemukan hal-hal menarik untuk dibahas, bahkan dalam situasi yang penuh petualangan seperti ini. Meskipun terpisah sejenak dalam pembicaraan mereka, mereka selalu menyimpan perhatian terhadap lingkungan sekitar dan mendengarkan instruksi Belladona.

__ADS_1


__ADS_2