
Mendengar nama Mowldark saja sudah membuat dengkul mereka lemas, wajah mereka memucat seketika, dan keringat dingin mengalir saat angin malam menerpa punggung hingga leher mereka. Perlahan, satu per satu warga desa yang tadinya bersemangat melangkah mundur dengan tubuh mereka yang bergetar hebat.
"Tuan Balf, apa yang akan kita lakukan?" Tanya seorang pemuda dengan garpu tanah di tangannya.
Balfam hanya menggeleng pelan sambil terus memainkan brewok panjangnya.
"Apa kita harus meminta bantuan Kerajaan-"
"Jangan berbicara yang tidak-tidak." Jawaban tegas kepala desa memotong ucapan orang itu.
Jawaban tegas Balfam bukanlah tanpa alasan. Memang pada kenyataannya, Kerajaan Thellidia sudah tidak pernah lagi mengirim bantuan apapun ke desa ini. Seakan dibiarkan mati begitu saja, walaupun desa ini masih berada di dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Thellidia. Mereka tak perlu memikirkan emas, perak, ataupun perunggu yang seharusnya diberikan sebagai upeti. Jasa keamanan seperti saat desa diserang oleh goblin, Kerajaan Thellidia masih enggan mengirim pasukan. Meskipun dulu pernah, sekitar dua tahun yang lalu, itu pun hanya dengan mengirimkan beberapa anak muda yang mereka sebut ksatria.
Tuan Balfam mengangkat tangan kirinya, memberikan isyarat agar semua warga yang gemetar itu berkumpul. Mereka melihat mata kepala desa yang mencoba memberikan semangat.
"Kawan-kawanku!" seru Balfam dengan penuh semangat. "Kita tahu siapa yang datang, dan kita tahu mereka tidak akan mudah dikalahkan. Tapi kita adalah Desa Kabut, kita adalah orang-orang yang gigih, yang selalu bangkit meski dalam kesulitan! Kita tak pernah menyerah, walau tanpa bantuan dari kerajaan manapun!"
Warga desa mulai mendengarkan, mata mereka masih penuh ketakutan, tapi kata-kata Balfam mulai merangsang semangat mereka.
"Kami tidak akan meminta bantuan dari kerajaan yang selama ini hanya memandang kita sebagai tempat pungutan pajak. Kami yang akan melindungi tanah kita sendiri! Bersama-sama, kita akan memberikan perlawanan sehebat yang kita mampu. Kita akan melindungi rumah kita, keluarga kita, dan segala yang kita cintai!"
Semangat tumbuh di mata para warga. Mereka mulai menegakkan punggung, dan bahkan beberapa di antara mereka mulai bersiap dengan peralatan sederhana yang mereka pegang.
__ADS_1
"Ingat, kita bukanlah pengecut! Kita adalah warga Desa Kabut! Saat tanda terompet berbunyi, kita akan menahan serangan mereka! Dan jika ada yang jatuh, kita akan membantu sesama kita! Demi Dewa Talos Yang Agung!"
Setelah mendengar semangat dari Tuan Balfam, warga desa mulai bergerak dengan semangat baru yang membara. Mereka berbondong-bondong pergi ke dinding dan menara desa, membawa segala yang bisa mereka jadikan senjata. Tombak kayu, busur panah, pedang-pedang pendek, dan bahkan garpu tanah menjadi senjata pilihan.
Para pemuda yang sebelumnya meragukan diri mereka sendiri, sekarang memiliki tekad yang kuat. Mereka membentuk barisan pertahanan di sepanjang dinding desa, hingga di gerbang utama desa, mengatur strategi dan merencanakan cara untuk menghadapi Mowldark.
Sebagian warga lainnya, bertugas memasang perangkap di sekitar desa, mencoba untuk memperlambat serangan musuh. Mereka membakar api unggun yang besar di sudut-sudut desa, menciptakan siluet yang mengintimidasi di malam yang gelap.
Tidak hanya itu, wanita dan anak-anak membantu dengan terus mengiringi doa untuk mereka yang berjuang di garis depan. Semangat juang telah merebak di seluruh desa, dan meskipun mereka takut, mereka siap untuk berdiri dan melawan bersama.
Leo dan kelompoknya mendekati Tuan Balfam, menawarkan bantuan selagi yang lain bersiap. Tuan Balfam menepuk pundak Leo dengan hangat, senyum lebarnya memancarkan semangat.
Leo membalasnya dengan tersenyum sebagai jawaban atas sambutan hangat itu. Tak sampai disitu, Barla, yang terlihat kuat dan berotot, memamerkan otot lengan kanannya dengan penuh semangat.
"Tidak perlu ada yang kalian cemaskan. Aku adalah Barla, dan ini adikku, Glint," kata Barla sambil menarik Glint yang tadinya terduduk lesu. "Kami berdua akan melindungi desa ini dari ancaman apapun!"
Tuan Balfam tersenyum bangga. "Dua jempol untuk kalian, Barla, Glint. Kakek sangat bangga dengan kalian berdua. Mari bersiap-siap bersama untuk menghadapi Mowldark! Kita tidak akan membiarkan para monster bodoh itu menghancurkan desa ini tanpa perlawanan!"
Mereka berjalan menuju gerbang desa dengan cepat, di bawah sorotan bulan yang menerangi gelapnya malam. Belladona menoleh ke arah Leo dengan tanda tanya di matanya.
"Apa yang akan kita lakukan, apa kamu sudah punya rencana?" tanyanya dengan nada khawatir.
__ADS_1
Leo menggeleng pelan, ekspresinya tetap tenang meskipun dihadapkan pada ancaman yang tak pasti. "Tidak tahu, Belladona. Apakah ada cara lain selain membunuh mereka?" Leo tersenyum tipis, mencoba melemahkan ketegangan.
Belladona memikirkannya sejenak, kemudian mengangguk. "Aku mengerti."
Matilda, yang semangatnya tidak kendur, langsung menyambut ide itu. "Ya! Benar! Bunuh! Bunuh! Bunuh!"
Sedangkan Alisha dari tadi hanya mengikuti mereka dengan tatapan serius.
Mereka berkumpul di gerbang utama desa, bersama para pemuda yang telah bersiap untuk pertarungan.
Mereka berdiri di dekat gerbang yang terbuka, memandang ke arah perkebunan wortel dan labu yang luas. Di kejauhan, barisan pohon-pohon di tepi hutan berkabut tampak seperti benteng alami yang siap dilewati oleh Mowldark. Angin malam berhembus pelan, membuat dedaunan bergetar dengan lembut.
Pemandangan ini memancarkan atmosfer ketegangan yang luar biasa. Leo dan kelompoknya, ditambah sebagian warga desa bersiap untuk pertarungan yang akan datang. Wajah mereka penuh dengan kecemasan tetapi juga tekad yang kuat untuk melindungi desa ini. Mereka semua merasakan ketegangan di udara, menunggu momen ketika monster hitam yang menakutkan itu akan muncul dari dalam hutan berkabut.
Hingga perlahan-lahan, suara lonceng yang lirih mulai terdengar, menggigit telinga mereka dengan sebuah getaran yang menyeramkan. Pepohonan pinus di hutan itu mulai menampilkan sosok-sosok gelap yang seperti sebuah 'barisan kematian'. Dalam jubah hitam panjang yang menutupi hampir seluruh tubuh mereka, para sosok menyeramkan ini memiliki tinggi mencapai dua meter, menjadikan mereka lebih menakutkan.
Sorot mata mereka yang tidak terlihat dari dalam jubah hitam, memberikan kesan kegelapan yang abadi, meskipun sebenarnya mereka memang tidak memiliki satupun mata di wajahnya. Mereka bergerak dengan langkah pelan, seperti hantu yang datang untuk menghantui. Beberapa di antara mereka membawa lonceng kecil yang bergoyang pelan, menghasilkan suara yang merdu namun juga menyeramkan.
Leo dan kelompoknya menahan nafas mereka, wajah-wajah mereka penuh dengan ketegangan. Bagi sebagian besar warga desa, Ini adalah pertama kalinya mereka menghadapi ancaman sebesar ini. Di tengah hutan berkabut yang terus bergerak diterpa oleh kencangnya angin di malam itu, barisan Mowldark ini semakin mendekat, dan mereka tahu pertarungan akan segera dimulai.
__ADS_1