
Kereta kuda itu melaju pelan melalui hutan yang semakin gelap. Suara jangkrik dan kunang-kunang memberi sedikit penerangan pada malam yang mulai mendominasi. Leo, yang masih duduk di kursi pengemudi, merasakan jantungnya berdegup lebih cepat. Hutan ini terasa begitu sunyi, dan terlihat cukup menakutkan.
Benar saja, tiba-tiba dalam kegelapan, terdengar suara yang membuat bulu kuduknya merinding. Suara tangisan wanita yang penuh dengan ketakutan. Suara itu terdengar sayup, seperti angin yang berbisik melalui pepohonan, namun cukup jelas untuk membuatnya merasa gelisah.
Suara tangisan wanita itu terdengar semakin mendekat, membuat atmosfer semakin tegang. Leo merasa kudanya terlihat panik, dan dia tahu pasti ada sesuatu yang tidak beres di sini. Tanpa ragu, dia membaringkan Alisha yang masih tertidur pulas di kereta kuda atau cariole, memastikan dia aman.
Dengan hati-hati, Leo segera turun dari cariole dan mendekati kudanya yang terlihat gelisah. Ia mengelus lembut rambut dan leher kudanya, mencoba menenangkannya. Suara tangisan semakin dekat, dan di balik kabut tipis yang menyelimuti jalan, dia melihat sosok seseorang yang tengah berdiri dengan kepala tertunduk.
Kabut membuat sosok itu terlihat samar, namun Leo merasa ada yang aneh. Sosok itu tidak terlihat seperti manusia biasa. Ia merasa ada hawa yang ganjil di sekitarnya. Leo memegang gagang pedanganya, siap menghadapi apa pun yang akan terjadi.
Dalam ketakutan yang seakan terus melilitnya, Leo mulai merenungi tentang siapa atau apa yang mungkin tengah berdiri di depannya. Pikirannya melompat dari satu kemungkinan ke kemungkinan lain. Kuntilanak, begal, mungkin seseorang yang tersesat atau bahkan yang memerlukan pertolongan. Disaat yang sama tubuhnya terasa kaku, dan bahunya terasa sangat berat karena perasaan cemas dan takut yang semakin tumbuh.
"Sudahlah, jangan terlalu paranoid, mana ada kuntilanak di dunia ini." batin Leo, mencoba menenangkan diri sendiri. Dia mencoba untuk menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian, dan kemudian dengan suara keras, ia berteriak, "Woy!"
__ADS_1
Namun, tidak ada jawaban atau respon apapun dari sosok itu. Leo mencoba berjalan mendekatinya, dengan pedangnya yang sudah siap ditangan. Langkahnya cepat dan mantap, berusaha untuk mengatasi rasa takut yang terus merayap dalam dirinya.
Namun, ketika dia semakin mendekat, Leo merasa sesuatu yang tidak beres. Dia merasa ada sesuatu yang tidak wajar dalam situasi ini. Rasa takutnya semakin kuat, dan langkahnya akhirnya terhenti. Sesuatu yang tidak bisa dia gambarkan, sesuatu yang sangat aneh, membuatnya terdiam, berdiri dengan pandangan tajam terhadap sosok misterius di depannya.
Perasaan cemas dan ketakutan terus menggelayut di dalam diri Leo, seolah menciptakan untaian benang yang merenggang di dalam dadanya. Ia bertanya-tanya mengapa ia merasa sedemikian takut terhadap sosok itu, padahal ia sudah pernah melawan monster yang jauh lebih berbahaya dan menyeramkan. Tangis yang tadi begitu jelas, kini telah terhenti, membuat atmosfer semakin suram.
Dengan hati-hati, Leo mulai melanjutkan langkahnya, meskipun terasa sangat berat.
Suara menginjak ranting kering yang pecah, terdengar dengan suara keras. Leo seketika menghentikan langkahnya dan menunduk untuk melihat apa yang baru saja ia injak. Ternyata benar, dia barusan hanya menginjak sebuah ranting yang berserakan di jalan.
Setelah melihat tidak ada yang aneh, Leo mengembalikan pandanganya ke depan. Namun, sosok itu telah sirna, lenyap dari pengawasannya.
Leo, dengan pedangnya yang masih tegak di tangan, berusaha menjaga kewaspadaannya terhadap sosok misterius yang tiba-tiba saja menghilang. Setiap serat ototnya menegang, dan matanya terus berkeliling ke segala arah, mencoba untuk menangkap setiap petunjuk disekitarnya yang mungkin mengindikasikan bahaya.
__ADS_1
Namun, sumber bahaya itu mungkin telah berpindah tempat. Terdengar suara ranting kering yang hancur dari balik pepohonan di sampingnya. Leo segera memutar pandangannya ke arah asal suara itu. Namun, begitu ia beralih, ia malah merasakan hawa dingin yang tiba-tiba mendera tubuhnya dari sisi yang lain. Sepertinya sesuatu atau seseorang sedang berdiri tepat di sampingnya. Leo mencoba untuk merespons dengan cepat, namun sebelum ia bisa bergerak, ia merasakan dorongan yang kuat yang melemparkannya sejauh enam meter.
Leo terhempas ke tanah, menggelinding beberapa kali sebelum akhirnya bisa berdiri dengan susah payah. Ia merasa rasa sakit di sekujur tubuhnya. Beruntung, pedangnya tidak terlempar saat dia menerima dorongan kuat itu. Armor yang dia pakai di balik jubahnya pun meninggalkan cekungan seperti bekas pukulan yang sangat keras.
Leo, meskipun napasnya tersengal-sengal, tetap tersenyum menghadapi sosok misterius yang kini terlihat dengan jelas dihadapannya. Sosok itu tampak terlihat seperti wanita dewasa, namun tubuhnya sebagian besar telah hancur dan terselimuti oleh asap hitam yang seolah menyatu dengannya. Matanya yang merah menyala memancarkan ancaman yang nyata. Sudah jelas dia bukanlah sosok yang bersahabat.
Tanpa ragu, Leo meluncur menuju sosok itu dengan gerakan yang hampir tak terlihat. Dia mencoba mengejutkan musuhnya dengan serangan mendadak. Namun, dia segera menyadari bahwa sosok itu tidak bisa dipandang sepele.
Sosok misterius itu menangkap setiap gerakan Leo dengan cepat. Bola matanya yang merah melirik dengan tajam, mengikuti setiap langkah Leo. Dalam sekejap, sosok itu menangkis serangan Leo dan menyerang balik dengan cakaran yang mematikan. Leo merasakan cakaran itu merobek jubahnya dan menusuk kulitnya, menimbulkan luka yang dalam di bahunya.
Tubuh Leo terlempar jauh, terjatuh dengan keras di tengah hutan yang semakin gelap. Dia merasakan rasa sakit yang tak terkendali, tetapi juga merasakan semangat yang tumbuh dalam dirinya. Pertarungan ini belum berakhir, dan dia harus menemukan cara untuk menghadapi wanita jelek bermulut lebar ini.
__ADS_1