
Havenston, sebuah kota yang terletak di dalam Kerajaan Nabis, tertidur dalam pelukan musim dingin yang semakin membeku. Alun-alun kota yang biasanya ramai dengan aktivitas, kini terhanyut dalam ketenangan gelap malam. Cahaya gemerlap dari lampu jalan yang tersebar di jalanan kota itu menjadi salah satu sumber cahaya di sana selain dari cahaya bulan.
Di tepi kolam air mancur yang memancarkan getaran tenang, seorang wanita berdiri sendirian. Tubuhnya terbungkus rapat oleh jubah hitam tebal, hanya wajahnya dan ujung jari-jarinya yang tampak mengintip dari balik jubah. Hembusan nafasnya terlihat berubah menjadi asap putih yang ringan, menghilang begitu saja di udara yang dingin.
Wanita itu menatap kolam yang membeku dengan ekspresi yang tak terbaca. Di matanya, terlihat kesedihan yang mendalam, namun juga ada cahaya kecil harapan yang masih menyala. Di tangan kirinya, ia menggenggam erat sebuah koin emas, memutarinya dengan lembut.
Seorang pria berjubah hitam berjalan tenang menuju wanita yang berdiri di dekat kolam. Napasnya membentuk awan asap putih yang terlihat jelas di udara dingin malam itu. Pria itu tidak segera menghampiri wanita itu, melainkan berdiri beberapa langkah di sebelahnya, sepertinya ada keraguan yang mendalam dalam hatinya.
Pria itu memandang lurus ke depan, tanpa memandang wanita yang berdiri di sisinya. Dengan nada lembut yang penuh hormat, dia berbicara, "Maafkan aku, Yang Mulia, jika aku masih belum bisa benar-benar melepaskan kebiasaanku untuk memberikan rasa hormat sepenuhnya kepada Anda." Sementara berbicara, dia menggosok-gosokkan kedua tangannya dan meniupnya, berusaha mengusir dingin yang menusuk tulang.
Wanita itu tetap tenang, matanya tertuju pada kolam air mancur yang berkilauan. Dengan suara lembut, dia bertanya kepada pria disampingnya, "Arne, apakah kamu percaya dengan cerita tentang kolam ini?"
Pria bernama Arne itu tertegun sejenak oleh pertanyaan itu. Ia terus menggosokkan kedua tangannya untuk menghangatkan dirinya sendiri, dan asap putih pun terus keluar dari setiap hembusan napasnya. "Iya, yang mulia," jawabnya hati-hati, "cerita tentang kolam ini telah tersebar luas, tentang kemampuannya untuk mengabulkan permintaan yang tulus."
Wanita itu tersenyum tipis. "Apa kamu pernah mencoba mengabulkan keinginanmu sendiri, Arne?"
"Tidak, Yang Mulia." Menggeleng pelan.
Wanita itu mengamati kolam sejenak, seolah-olah mencari sesuatu di dalam air yang jernih itu. Kemudian, dia berjongkok dengan hati-hati, mengelus tepian kolam yang tersusun dari batu dengan lembut. Arne, berdiri disampingnya, memperhatikannya dengan penuh rasa hormat.
__ADS_1
"Aku tentu punya suatu keinginan," kata wanita itu dengan suara lembut, yang juga penuh ketegasan. "Namun, aku juga tidak mengerti mengapa aku harus memintanya pada kolam ini." Dia berdiri kembali dan menatap Arne. "Tapi kau tahu, Arne, setidaknya seseorang harus melakukan segalanya untuk bisa mewujudkan keinginan mereka, bukan?" Senyumnya yang tulus menghangatkan udara dingin di sekitarnya.
Arne merasa tersentuh oleh kata-kata dan senyum wanita itu. Dia bisa merasakan bahwa di balik jubah yang menutupi seluruh tubuhnya, wanita ini memiliki kekuatan dan keinginan yang besar. "Anda benar sekali, Yang Mulia," katanya dengan penuh hormat. "Aku yakin, tekad dan keinginan Anda akan membimbing Anda, bahkan jika kita tidak selalu mengerti mengapa kita melakukan ini. Tapi saya sangat yakin bahwa Anda pasti akan berhasil."
Wanita itu tersenyum. Dia kemudian berjongkok di tepi kolam, lalu melemparkan koin emasnya ke dalam kolam yang tenang. Suara air yang gemericik memenuhi udara malam. Wanita itu mengungkapkan hasratnya dengan kata-kata yang sederhana namun penuh arti, "Aku hanya ingin bertemu dengan adikku. Itu saja." Dia melihat koin emas itu tenggelam di dalam kolam yang tenang, berharap bahwa keajaiban akan segera terjadi.
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Lebih jauh ke Selatan Benua Winterhedge, terlihat sekelompok petualang sedang berjalan di tengah padang rumput yang luas, sinar matahari yang hangat memancar dari langit biru. Angin sepoi-sepoi menerpa rumput tinggi yang berayun lembut. Di kejauhan, terlihat sebuah perbukitan hingga gunung menjulang tinggi.
Barla, salah satu dari lima orang itu, meletakkan kedua tangannya di belakang kepala sambil berbicara dengan santai. "Jadi, kalian sedang mencari koin emas untuk membeli gulungan teleportasi ya?" tanyanya sambil tersenyum lebar. Suaranya riang, dan dia tampak sangat santai.
Pemuda tampan yang bernama Leo, mengangguk. "Iya, Barla. Seperti yang sudah kau dengar, kami membutuhkan gulungan itu agar kami dapat menjauh dari tempat ini."
Teman-teman mereka yang lain mendengarkan dengan serius. Mereka tahu betapa pentingnya gulungan teleportasi itu untuk misi mereka selanjutnya.
"Jadi, apakah kalian sudah tahu kemana tujuan kalian?" tanya Barla lagi dengan nada penasaran.
__ADS_1
Leo menghentikan langkahnya sejenak, memikirkan jawaban yang tepat. "Mungkin kita akan pergi ke Barat," jawab Leo, sambil memandang ke arah Barat. "Karena di Barat, kita tidak akan menemukan kerajaan besar manapun."
"Di Barat, kita juga bisa menjauh dari pusat keramaian dan politik." Ucap Belladona yang sedang membaca sebuah buku ditangannya.
Barla mengangguk mengerti, namun dia tetap penasaran. "Jadi, kalian tidak ingin bergabung dengan kerajaan manapun ya? Sayang banget lho, padahal kalian punya kekuatan yang hebat."
Leo hanya tersenyum, "kau tahu sendiri kan, Barla, kami lebih suka menjalani petualangan kami sendiri. Tidak terikat dengan kerajaan membuat kami lebih bebas. Bukannya kamu juga begitu?"
Barla, dengan kedua tangannya tetap berada di belakang kepalanya, menjawab, "Begitulah, itulah mengapa aku memilih bergabung bersama kalian. Bekerja di tavern seharian itu lama-lama membosankan."
Alisha, yang sedari tadi hanya menyimak percakapan mereka, tiba-tiba menyuruh mereka untuk diam. Dengan penuh kewaspadaan, Alisha bertanya kepada Belladona apakah dia juga mendengar suara tersebut. Belladona mengangguk pelan, matanya terfokus pada rerumputan yang tinggi di sekeliling mereka.
Suara gemerisik semakin mendekat, dan ketegangan mulai terasa di antara mereka. Leo, dengan sigap, menarik pedang dari sarungnya dengan gesit, membiarkan cahaya dinginnya berkilau di bawah sinar matahari. Matilda mengepalkan kedua tangannya, melihatkan garis kerut pada sarung tangan yang dia peroleh dari Tuan Balfam. Matannya yang sebelumnya tenang, tiba-tiba berubah merah menyala saat menanggapi ancaman yang mendekat.
Di samping Leo, Barla mengeluarkan kapak bermata dua yang cukup besar, dia memegang kuat senjata itu dengan kedua tangannya. Adik Barla, Glint, yang sebelumnya tampak begitu pendiam, cupu dan letoy, mengedarkan keempat matanya dengan ketakutan yang terpancar jelas dari wajahnya yang pucat, semoga petualangan ini dapat memberikannya sedikit keberanian.
Mereka berdiri menghadap ke arah suara gemerisik yang semakin mendekat. Ketegangan memuncak, sesekali mereka saling memandang, mencerminkan kewaspadaan tinggi diantara mereka.
Tiba-tiba sesuatu yang mereka nantikan muncul, hingga mengejutkan mereka.
__ADS_1