Against All Odds

Against All Odds
CH 39 - Arne dan Alisha


__ADS_3

Sinar matahari yang hangat menerpa wajah Alisha, membuatnya merasa sedikit terganggu. Ia mengulurkan tangannya di atas kening untuk menutupi cahaya yang menyilaukan, sambil mencoba untuk membuka matanya yang terasa berat. Seperti melalui hibernasi yang panjang, dia merasa sulit untuk bangun dari tidurnya.


Dengan perlahan, Alisha membangunkan badannya dan duduk. Ia merasakan pusing yang menghantui kepalanya, sehingga ia mencoba untuk menyentuhnya dengan tangan. "Aduh, kepalaku, pusing banget," keluhnya sambil mencoba berpikir dengan jelas.


Ketika dia membuka mata perlahan, pandangannya melayang ke sekeliling. Di hadapannya, dia melihat dua makhluk hijau setinggi anak kecil sedang menatapnya dengan tatapan yang penuh keingintahuan. Tapi ada juga satu makhluk yang berwarna hijau kebiruan, yang jelas lebih besar dan gemuk, ikut menatapnya.


Saat Alisha sudah sadar sepenuhnya, teriakannya memenuhi tempat itu. Suaranya melengking, hingga burung-burung yang sedang bertengger di pepohonan terkejut dan berhamburan terbang ke segala arah.


Alisha menuding ke arah makhluk hijau itu. "Si-siapa kalian?!"


Makhluk hijau yang sedikit lebih tinggi dan kurus, mendekati Alisha dengan berjalan pelan dan tangan terangkat untuk menunjukkan bahwa dia tidak bersenjata. "Jangan takut," kata makhluk itu dengan suara yang ramah, meskipun dua taring besar di mulutnya tidak terlihat demikian. "Kami bukan musuh. Saya Zables, dan yang di sebelah saya adalah adik saya, Zaigle," katanya sambil menunjuk pada makhluk hijau lain yang lebih pendek. Kemudian, dia menunjuk pada makhluk hijau yang jauh lebih besar dan gemuk. "Dan yang ini adalah sahabat kami, Hobgoblin bernama Moglosh."


Alisha turun dari kereta kuda dengan langkah perlahan, menghindari setiap batu dan lubang di tanah yang bisa membahayakan langkahnya. Rambut pirangnya tergerai liar, dan ketegangan terlihat jelas dari raut wajahnya. Dengan napas teratur, ia mencoba untuk meredakan detak jantungnya yang semakin cepat lalu memandang tajam ke arah goblin-goblin yang berdiri di depannya. Jaketnya yang agak kusut berkibar oleh hembusan angin yang lembut.


Dengan sigap, ia meraih pistol yang tergantung di pinggangnya, menodongkannya dengan mantap ke arah mereka. "Jangan berani-berani menipuku!" teriaknya dengan suara lantang. "Aku tahu kalian adalah goblin yang selalu merusak hasil perkebunan kami."


Melihat pistol yang dipegang oleh Alisha, ketiga goblin itu saling pandang dengan cemas. Zaigle, goblin yang paling pendek, akhirnya berbicara dengan suara gemetar, "Kakak, apa itu yang dipegang oleh wanita itu?"


"Zaigle, tutup matamu, jangan lihat!" seru Zables sambil menutup mata adiknya dengan erat.


Moglosh, sang goblin yang paling besar, tertawa terbahak-bahak saat melihat pistol yang dipegang oleh Alisha. "Hahaha, itu hanya sebuah keong sungai yang terlihat menakutkan!" ujarnya sambil tertawa.


Mendengar ejekan Moglosh, kedua goblin itu terdiam kemudian saling pandang sejenak, lalu seketika ikut tertawa bersama. "Kamu benar, Moglosh, itu memang terlihat seperti keong sungai!" ujar Zables sambil tetap berusaha menahan tawanya.


Ketiga goblin itu terus tertawa lepas tak terkendali, sampai Alisha tiba-tiba menembakkan pistolnya ke arah pohon yang ada di dekat mereka. Suara tembakan menggema di hutan, dan ketiga goblin itu pun lantas terkejut lalu membungkuk ketakutan.


Mereka mengangkat kepala dan melihat ke arah pohon, di mana bekas peluru sudah terlihat jelas, bersarang pada batang pohon yang besar. Tawa mereka pun berhenti seketika, digantikan dengan rasa takut dan kepanikan.


"Kalian beruntung aku tidak menembakkan pistol ini ke arah kalian," ujar Alisha dengan suara tegas. "Jangan pernah mencoba menipuku lagi, atau kalian akan tahu akibatnya."

__ADS_1


Mendengar ancaman Alisha, ketiga goblin itu berlutut di tanah dan menundukkan kepala mereka, memohon ampun dengan suara gemetar. Mereka berusaha menjelaskan jika mereka telah berkata dengan jujur, dan tidak berbohong sedikitpun. Namun, di saat Zables menjelaskan semuanya dengan panjang lebar, tubuh Zaigle mulai bergetar, dan dia tidak bisa menahan tawanya. Zables tidak tahan melihat adiknya yang tertawa, begitu juga dengan Moglosh yang juga mulai terpancing, dan mereka akhirnya kembali tertawa bersama. Mereka merasa tidak kuat menahan tertawaan mereka setelah ketegangan yang baru saja mereka alami.


Alisha, yang awalnya marah, semakin kesal melihat goblin-goblin itu kembali tertawa. Dia berjalan mendekati mereka dengan langkah mantap, namun tidak menyadari akar pohon yang mengintai di bawahnya. Dia tersandung dan hampir jatuh ke tanah, akan tetapi tiba-tiba ada tangan yang menariknya dari belakang, mencegahnya jatuh.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya seorang pria tampan berambut panjang yang menahan Alisha, hampir jatuh ke tanah. Pandangan mereka begitu dekat sehingga Alisha merasa sedikit gugup, tetapi pria itu menatapnya dengan tatapan teduh.


"Aku tidak apa-apa, terimakasih," ujar Alisha sambil berdiri sedikit menjauh.


Pria itu tersenyum dan mengulurkan tangannya, "Ngomong-ngomong, namaku Arne."


Alisha memandang tangan yang diulurkan kepadanya, namun ragu untuk menyambutnya. "Aku Alisha."


Arne melihat Alisha dengan senyuman lebar, dan merasa terpesona oleh kecantikan wajahnya. "Senang bertemu denganmu, Alisha," ujarnya dengan suara yang lembut.


Alisha merasa sedikit tidak nyaman dengan tatapan Arne yang aneh, namun dia mencoba untuk tetap bersikap sopan. "Senang bertemu denganmu juga, Arne," balasnya dengan senyum tipis.


Arne kemudian menarik tangannya kembali dan melihat sekeliling. "Kamu sedang dalam perjalanan ke mana?" tanyanya, mencoba untuk memulai percakapan.


"Alisha, kamu yakin tidak apa-apa?" Tanya Arne yang cemas melihat Alisha hanya terdiam dan tidak menjawab pertanyaannya.


Alisha terkejut oleh pertanyaan Arne, lalu menjawab dengan cepat, "Oh, aku tidak apa-apa." Dia merasa sedikit tersipu karena kesalahan dalam usahanya untuk mengalihkan pembicaraan.


"Baguslah, kalau begitu. Tetapi jika ada yang membuatmu khawatir, katakan saja. Aku di sini untuk membantumu."


Zables mendekati Arne dengan nada yang sedikit marah, "Kenapa anda mengabaikan kami, Tuan Arne? Kemana saja anda? Dari tadi kami sudah mencarimu kesana-kemari."


Arne sedikit kaget dengan kedatangan Zables dan merasa bersalah. "Maafkan aku, Zables. Aku bukannya mengabaikan kalian bertiga, aku hanya sedang mencemaskan kondisi nona ini." Arne menggaruk rambut belakangnya, sedikit malu. "Lagipula, kau tahu, aku sedang mencari makanan untuk Whann. Kalian bertiga pulanglah lebih dulu, pasti sudah banyak goblin yang sedang membutuhkan obat."


Zables mengangguk mengerti, lalu menarik jubah Arne. Arne yang menyadari maksud Zables segera berjongkok agar bisa mendengar perkataan Zables dengan lebih jelas.

__ADS_1


Zables berbisik di telinganya, "Berhati-hatilah dengan nona itu, mungkin dia wanita yang menarik bagimu, tapi sungguh, dia adalah orang yang berbahaya."


Alisha hanya memperhatikan mereka, tidak terbesit pikiran negatif apapun, dia hanya ingin segera melanjutkan misinya.


Setelah memberi peringatan itu, Zables dan teman-temannya segera pergi meninggalkan Alisha dan Arne. Arne memikirkan pesan Zables dengan serius, tetapi tidak bisa menghilangkan ketertarikannya pada Alisha.


Arne memandang Alisha dengan tatapan yang penuh ketertarikan. Ia merasa bahwa Alisha adalah wanita yang sangat menarik dan memiliki pesona yang sulit untuk diabaikan. Meskipun begitu, Alisha malah merasa tidak nyaman dengan tatapan Arne.


"Mau bertemu dengan teman-temanku?" Ajak Alisha, mencoba merubah suasana.


"Tentu, apa mereka sedang berada di dalam cariole itu?" Arne bertanya sambil tetap memperhatikan Alisha.


Alisha menyimpan kembali pistolnya. "Iya, tapi sepertinya mereka masih tertidur." Lalu, ia berjalan ke bagian belakang cariole atau kereta kudanya dan diikuti oleh Arne.


"Hey bangun, Bella, Barla." Alisha terus menggerak-gerakkan kaki dan tangan teman-temannya. "Ini aneh, mereka sama sekali tidak bangun."


Arne merasa khawatir dengan keadaan teman-teman Alisha yang tidak kunjung bangun. Ia mencoba untuk memeriksa keadaan mereka. Arne segera mengulurkan tangannya ke arah mereka, lalu mengucapkan sebuah mantra dengan nada yang lirih, hampir sama sekali tidak terdengar. Alisha hanya memperhatikannya dengan penuh harapan. Setelah beberapa saat, Arne menghentikan mantra tersebut lalu bertanya, "Sejak kapan mereka tertidur seperti ini?"


Alisha melipat kedua tangannya,"Mereka tertidur sejak kami memasuki hutan di malam hari. Kami semua memutuskan untuk istirahat." Namun, sebelum dia sempat melanjutkan pembicaraannya, Alisha teringat dan menyadari ada yang aneh. "Loh, dimana Leo?" Alisha mulai berkeliling dan memanggil Leo dengan panik, namun tidak ada jawaban.


"Siapa? Leo? Apakah dia juga temanmu?" Tanya Arne yang mulai ikut panik.


Alisha terus mencari Leo, kepanikannya semakin meningkat. Arne mencoba membujuk Alisha untuk tetap tenang, tapi Alisha terlihat tidak mendengarkan, ia hanya fokus untuk mencari Leo.


Ketika Arne mencoba menarik lengan Alisha agar dia berhenti berjalan, Alisha dengan cepat melepaskan tangan Arne. Dia tampak sangat tegang, dan dalam sekejap, pistolnya sudah diarahkan tepat ke kepala Arne.


"Alisha, apa yang kau lakukan?" ucap Arne dengan suara yang gemetar. "Aku tidak bermaksud mengganggumu, aku hanya ingin membantumu."


Alisha tidak merespon dan terus menatap Arne dengan tatapan tajam. Wajahnya penuh dengan ketegangan dan kecemasan.

__ADS_1


Sedangkan Arne mencoba untuk tetap tenang dan berbicara dengan suara yang lembut, takut untuk menyinggung perasaannya. "Aku tahu kau sedang mencari Leo, tapi kau harus tetap tenang dan berpikir dengan jernih," ucap Arne, berusaha untuk membujuk Alisha. "Kita bisa mencari Leo bersama-sama dan menyelesaikan masalah ini dengan baik. Setuju?"


"Pergilah dan tolong jangan dekati aku lagi," ucap Alisha dengan suara yang dingin. "Aku tidak membutuhkan bantuan mu."


__ADS_2